THE IDES OF MARCH : INTENSE LIKE A THRILLER 4
Senin, 13 Feb '12 04:37
THE IDES OF MARCH
Sutradara : George Clooney
Produksi : Smokehouse Pictures, Appian Way Productions, Columbia Pictures, 2012
If you ever read Julius Caesar story, then you'll know what's 'The Ides Of March'. Datang dari bahasa Latin, 'idus', Ides Of March adalah hari ke-15 bulan Maret di penanggalan Romawi, saat mereka memperingati pemujaan terhadap Dewa Mars. Ini menjadi hari terkenal dalam legenda itu, dimana Julius Caesar dibunuh di depan senat Romawi oleh sebuah konspirasi dari pengikut-pengikutnya sendiri, termasuk Brutus sebagai orang kepercayaannya. Itulah yang menjadi metafora ke judul thriller (atau drama?) politik yang dibesut George Clooney dari drama panggung tahun 2008 berjudul 'Farragut North', dimana ia bersama penulis aslinya, Beau Willimon ikut menulis skenario adaptasinya bersama Grant Heslov. Willimon yang mengaku mendapat inspirasinya dari perjalanan politik Howard Dean, salah satu kandidat presiden dari demokrat tahun 2004, memang mendukung sekali niat Clooney yang keukeuh mempertahankan judul metafora ini meskipun petinggi Sony/Columbia awalnya hendak maju dengan judul asli drama panggungnya. Sempat digadang-gadang menjadi salah satu kandidat Oscar namun akhirnya kalah pamor dengan film Clooney lainnya, 'The Descendants', sementara Ryan Gosling yang banyak dijagokan, justru tak memperoleh satupun nominasi. However, skenario Clooney-Heslov-Willimon tetap masuk ke dalam list nominee-nya. Dan di kursi eksekutif produser, ada pula nama Leonardo DiCaprio, yang tetap memilih berada di belakang layar.
Sebagai deputi kampanye Mike Morris (George Clooney), gubernur Pennsylvania sekaligus kandidat presiden dari demokrat, Stephen Meyers (Ryan Gosling) merupakan sosok idealis yang langsung mengundang perhatian saingannya dari partai republik, Tom Duffy (Paul Giamatti). Namun seteguh apapun Meyers mempercayai perjuangan Morris, idealismenya mulai jatuh ketika Duffy mulai mengajaknya ke politik kampanye kotor partai republik. Kenyataan bahwa Duffy telah menyuap senator Franklin Thompson (Jeffrey Wright) yang memegang kontrol terhadap 356 delegasi dengan janji jabatan Menlu untuk memenangkan kandidat mereka, Ted Pullman (Michael Mantell), semakin membuat Meyers goyah, apalagi Meyers menganggap atasannya, Paul Zara (Phillip Seymour Hoffman), tak berterus terang padanya. Begitupun, Meyers tetap menolak ajakan Duffy untuk menyeberang ke republik hingga hubungannya dengan Molly Stearns (Evan Rachel Wood), petugas kampanye Morris sekaligus putri seorang chairman partai demokrat, membuka sebuah skandal tak terduga. Sekarang Meyers berada di tengah-tengah Zara yang memecatnya karena menganggap ia tak loyal, kasus Molly yang bunuh diri karena takut skandalnya terbuka, sementara Duffy pun menolaknya dengan sebuah nasehat untuk menjauh dari permainan politik. Mau tak mau, Meyers pun menggunakan kartu As-nya dalam kasus Molly untuk kembali memimpin permainan. Namun melepas idealismenya sebagai manusia yang punya hati pun tak bisa semudah itu.
Meski punya plot yang sudah tergolong klise di genre-genre sejenis, dari idealisme karakter utamanya, intrik politik kampanye yang rata-rata sama hingga ke skandal seks menjadi puncak konfliknya, 'The Ides Of March' tak lantas jadi lemah dalam penampilannya. Susunan cast yang penuh dengan nama-nama berkelas itu tak muncul dengan sia-sia. Semuanya tampil dengan powerhouse act yang sama sekali tak sembarangan, dan walaupun sepanjang filmnya penuh dengan dialog-dialog berat yang memaparkan intrik politik kampanye penuh sarkasme yang mungkin tak bisa dilewatkan sambil santai, adalah Gosling sebagai kartu As yang membawa intensitas thrillingnya begitu menyeruak ke permukaan. Turnover karakter Meyers yang diawali sosok boyscout naif diterjemahkan Gosling dengan ekspresi dan bahasa tubuh luarbiasa untuk menyatu pada setiap naik turun konflik karakternya. Giamatti dan Seymour Hoffman juga tampil menarik sebagai pimpinan kampanye yang berseteru dari jarak jauh mengapit karakter Gosling. Skor dari Alexander Desplat dan sinematografi besutan Phedon Papamichael pun kian menambah kelasnya. Namun sedikit diatas powerful cast itu, pemenang utama dalam 'The Ides Of March' adalah skenario yang kembali menyajikan kolaborasi Clooney dengan Grant Heslov, yang sudah kita saksikan kekuatannya dalam 'Good Night And Good Luck' tempo hari. Dialog penuh paparan politik kotor serta sindir-sindiran itu memang membuat tampilannya lebih mirip sebuah studi karakter ketimbang thriller politik. Tak ada karakterisasi hitam putih, hanya sekumpulan orang yang bermain dalam cara berbeda demi memperoleh tujuannya. Tak ada juga atribut thriller seperti kejar-kejaran atau satu dua tampilan senjata. But once you get into it, ketegangan yang terbangun dari konfliknya tak ubahnya sebuah thriller penuh adegan seru menuju open ending ke metafora yang dipilih Clooney dalam titelnya. You might consider it as a drama, but this is intense like a thriller. Gripping, with its powerhouse performances. A straight A's. (dan)
danieldokter.wordpress.com
Tag: review, Paul Giamatti, ryan gosling, jeffrey wright, George Clooney, The Ides Of March, Grant Heslov, Beau Willimon, Alexander Desplat, Phedon Papamichael, Phillip Seymour Hoffman, Evan Rachel Wood, Marissa Tomei
Terkait:
-
DRIVE : A VIOLENT ROMANTICISM
Selasa, 13 Des '11 21:45 -
THE HANGOVER PART 2 : GET STONED ONCE AGAIN!
Minggu, 18 Sep '11 22:28 -
SOURCE CODE : QUANTUM PHYSICS AIN'T NEVER MISSED!
Kamis, 12 Mei '11 04:36

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat