33 Film Indonesia Terpenting (periode) 2000-2009 | Sebuah Catatan Kecil 11
Kamis, 2 Feb '12 20:19
"Sudah tak lagi masanya kita masih ada dalam suasana perasaan 'bangkitnya film Indonesia pasca-Reformasi'. Suasana yang penuh harapan, juga pemakluman. Suasana euforia takjub terhadap capaian-capaian teknis 'anak negeri' atau perolehan penonton terbanyak. Bahkan sangat tak perlu kita merayakan sebuah film 'hanya' karena ia dibuat dengan biaya termahal. Itu norak."
Begitu paragraf awal pada pengantar 33 Film Indonesia Terpenting (periode) 2000-2009 pilihan Rumahfilm.org - ditulis oleh Hikmat Darmawan, ketua dewan juri FFI 2011 juga salah seorang redaktur situs yang berdedikasi pada kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia (dan dunia). List ini - seperti judulnya - menjadi penting untuk ditelaah, atau sekedar dibincangkan karena ia lahir dari Rumah Film, diredakturi oleh Eric Sasono, Hikmat Darmawan, Krisnadi Yulawan, Ekky Imanjaya, dan Asmayani Kusrini - favorit saya. Ada pemenang Piala Citra untuk Kritik Film Terbaik, kritikus paling berpengaruh di negeri ini, editor pada sejumlah media, comic geek, penulis sejumlah buku tentang kajian dan studi film, dan juga ada pemerhati budaya pop. Kombinasi inilah yang memilah sejumlah film Indonesia dari periode 2000-2009 lalu mengurutkannya, menyisakan hanya 33 film dari periode tersebut untuk kemudian dilabeli sebagai Film Indonesia Terpenting. Penting dalam hal representasi zaman, isu yang di-visual-suarakan (sungguh, lema ini tiba-tiba saja tereka - tanpa bermaksud untuk terdengar akademis), terobosan dalam cara bertutur, capaian estetika tertentu, pengalaman sinematis, dan hal-hal penting lainnya dari pelbagai sudut pandang mereka.
Mengapa terpenting, bukan terbaik? Dan saya tak tertarik untuk membahas persoalan tersebut. Itu norak. Saya lebih tertarik untuk dapat mengerti alasan-alasan tertentu dibalik kepentingan film-film yang terpilih masuk daftar tersebut. Beberapa alasan itu telah terlontar langsung dari para redaktur Rumah Film minus Eric Sasono dan Asmayani Kusrini pada diskusi yang sempat diselenggarakan di Binus International JWC Campus beberapa waktu lalu, dihadiri oleh segelintir orang yang mengaku sebagai para pecinta film yang hampir semuanya berdomsili di Jakarta, alasan-alasan, argumentasi yang terlontar tak cukup memuaskan para hadirin dan hadirot yang antusias untuk datang dan berdiskusi, walau tak semua ikut berdiskusi atau sekedar melontarkan pertanyaan - sebagian kedapatan tengah asik ber-twitter, mungkin tengah berbagi atau memberikan kultwit ber-hashtag #33FilmIndoTerpenting, lalu dengan amat terburu-buru, tanpa twist, tak ada angin tak ada hujan, sesi diskusi berakhir sudah, meninggalkan sisa tanya dan kecewa seperti di akhir sebuah film buruk ber-ending gantung. "Segini aja?" Celoteh seorang teman.
"Bete gue disejajarin sama 'Maaf Saya Menghamili Istri Anda' !" Begitu komentar seorang sutradara muda yang filmnya juga masuk ke dalam daftar film terpenting ini lewat text messenger, protes dan curcol, agak keberatan dengan pilihan film yang masuk daftar. "Maaf Saya Menghamili Istri Anda" karya Monty Tiwa ini berada di urutan ke-32. Menarik untuk dicatat bahwa Eric Sasono menganggap film ini penting, karena menurutnya film ini adalah sebuah ajakan bahwa bangsa ini seharusnya tetap mempertahankan selera humornya ketimbang marah-marah ketika melihat kelemahan diri sendiri. Lantas, selera humor yang mana? Selera humor siapa? Mengapa film ini begitu penting dengan selera humornya? Pertanyaan-pertanyaan ini tak kalah penting untuk didedahkan, hanya saja sang penedah berhalangan hadir, dan kita hanya dapat berharap agar dedahannya segera dimuat di situs Rumah Film beserta dedahan-dedahan dari film lainnya - seperti yang dijanjikan oleh Ekky Imanjaya bahwa ke-33 film Indonesia terpenting ini akan dimuat di situs Rumah Film lengkap dengan ulasan dari masing-masing redaktur, dan masing-masing dari mereka memiliki kata pengantarnya sendiri yang pastinya tak kalah penting dari tiap film yang didedahkan.
Saya sendiri tak sepakat dengan masuknya "Kambing Jantan" arahan Rudy Soedjarwo di peringkat ke-28, apapun alasannya, sampai kapan pun tak kan terdengar masuk akal bagi saya. Lalu ada "Legenda Sundel Bolong" karya Hanung Bramantyo di urutan ke-24 yang dianggap penting karena film ini bukan sekedar menakut-nakuti, tapi memang seram! Dan saya tak merasakan keseraman itu. Alih-alih memancing perdebatan, saya malah tergelitik pada kenyataan bahwa satu film yang kita tonton ternyata dapat memberikan pengalaman sinematis yang amat berbeda, dan kadang perbedaan itu sampai dapat membuat kita "tak habis pikir"!
Inilah daftar 33 Film Indonesia Terpenting 2000-2009 Pilihan Rumahfilm.org
1. Opera Jawa (2006, Garin Nugroho)
2. Kantata Takwa (2008, Gotot Prakosa dan Eros Djarot)
3. Teak Leaves On The Temple (2008, Garin Nugroho)
4. Impian Kemarau (2004, Ravi Bharwani)
5. Eliana Eliana (2002, Riri Riza)
6. Pachinko, And Everyone's Happy (2000, Harry 'Dagoe' Suharyadi)
7. Jermal (2009, Ravi Bharwani, Rayya Makarim, Orlow Seunke)
8. Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008, Edwin)
9. Rindu Kami Pada-Mu (2005, Garin Nugroho)
10. Lukas' Moment (2006, Aryo Danusiri)
11. Marsinah (2000, Slamet Rahardjo)
12. 3 Doa 3 Cinta (2008, Nurman Hakim)
13. May (2008, Viva Westy)
14. Romeo Juliet (2009, Andibachtiar Yusuf)
15. 98:08 (2008, Anggun Priambodo, Ariani Darmawan, Edwin, Hafiz, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi, Otty Widasari, Ucu Agustin, Steve Pillar Setiabudi, Wisnu Suryapratama)
16. King (2009, Ari Sihasale)
17. Saia (2009, Djenar Maesa Ayu)
18. Pintu Terlarang (2009, Joko Anwar)
19. Mereka Bilang Saya Monyet (2007, Djenar Maesa Ayu)
20. Ada Apa Dengan Cinta? (2002, Rudy Soedjarwo)
21. Janji Joni (2005, Joko Anwar)
22. Ketika (2004, Dedi Mizwar)
23. Laskar Pelangi (2008, Riri Riza)
24. Legenda Sundel Bolong (2007, Hanung Bramantyo)
25. 6:30 (2006, Rinaldi Puspoyo)
26. Catatan Akhir Sekolah (2004, Hanung Bramantyo)
27. fiksi. (2008, Mouly Surya)
28. Kambing Jantan (2009, Rudy Soedjarwo)
29. Identitas (2009, Aria Kusumadewa)
30. Arisan! (2003, Nia Dinata)
31. Keramat (2009, Monty Tiwa)
32. Maaf Saya Menghamili Istri Anda (2007, Monty Tiwa)
33. Pocong 2 (2006, Rudy Soedjarwo)
Melihat daftar itu, tentu saja kita, selain mendebat dan menghujat tetap memberikan respek atas pilihan dan sikap yang dibuat para redakturnya, sebuah pilihan yang sulit, namun toh mereka mau juga berpayah-payah menyusunnya.
Kita pun tentu punya daftar film Indonesia terpenting versi sendiri, terlepas penting atau tidaknya kita buatkan ke dalam satu daftar berlabel "terbaik","terkeren", "ter-unyu", ter-apa pun. Saya hampir sepakat dengan pilihan film-film di urutan sepuluh besar, kecuali untuk "Rindu Kami Pada-Mu" arahan Garin Nugroho yang menurut saya tak sebegitu penting hingga masuk di urutan ke-9. Entahlah. Oh, dan saya geregetan karena daftar 33 Film Indonesia Terpenting ini mentok sampai di tahun 2009, karena di tahun 2010 ada "At The Very Bottom Of Everything" (2010, Paul Agusta). Film ini premiere pertama kali di International Festival Film Rotterdam (IFFR) pada 2010, dan beberapa kali sempat diputar untuk kalangan terbatas pada tahun 2009! Paul Agusta dengan tuturan dan pendekatan estetika yang ia terapkan pada film-filmnya, amatlah lebih mewakili generasi saya dan anda yang berusia twenty-something ketimbang Garin Nugroho dengan segala estetika dan capaian-capaian teknis filmnya. Dalam hal keterwakilan ini, At The Very Bottom Of Everything menjadi penting untuk dicatat, karena ketika anda saat ini berusia dua puluh - tiga puluhan, akan lebih otentik bila anda menggemari band Lady Antebellum ketimbang Aerosmith! Atau Coldplay ketimbang Genesis. Ah sudahlah, saya mulai ngalor ngidul. Saya cukup berharap saja film ini nantinya tercatat di daftar 33 Film Indonesia Terpenting 2010-2019, itu pun jika soal urut-urutan film ini masih penting untuk dicatat.
"Jadi lo suka gak Babi Buta Yang Ingin Terbang?" Tanya seorang filmmaker handal pada satu kesempatan, alisnya agak terangkat ketika pertanyaan itu terlontar dari dirinya, sambil menanti jawaban saya - ia mengusap rambutnya yang baru saja dicatok, khas gaya laki-laki metrosexual (dan ia selalu memplesetkannya menjadi "matresexual"!). "Suka! Gue suka." Timpal saya sambil agak cengengesan. "Ah lo cuma pengen dianggap keren aja kan suka tu film!" Dan alasan di balik itu tak cukup penting untuk saya bagi, karena ketimbang menceritakan pengalaman menonton, akan lebih asik bila anda mengalaminya sendiri. Buat saya sih, kadang saya hanya suka, mencintainya begitu saja, tanpa alasan.
@shandygasella, Film enthusiast
Tag: Film Indonesia, kritik, artikel, Film chart
Terkait:
-
Cinta Di Saku Celana, Film Kedua Fajar Nugros
Senin, 14 Mei '12 20:20 -
Hi5teria (2012): Sekedar Histeria Omnibus
Rabu, 2 Mei '12 23:24 -
Postcard From The Zoo (2012): 4 Babak Hidup Manusia versi Kebun Binatang
Selasa, 1 Mei '12 23:39

Komentar:
Apa itu artinya setelah tahun 2009 sampai detik ini nggak ada lagi film Indonesia yg penting?
To tell you the truth, saya sih gak sreg sama pilihan-pilihan filmnya
Kalo Sundel Bolong, dari sudut pandang Hikmat Darmawan, kurang lebih alasannya ya karena "setting" , ceritanya bukan urban legend, dan alasan-alasan lain sampai ke capaian teknis.
Versi gw... Not now
Soal Sundel Bolong, mgkn mereka ngeliat pencapaiannya mirip2 Nang Nak. as for me, samalah, dua2nya belum pantas masuk daftar 'penting'.
sabai : ada tuh koran kuning movie. hahaha. Jakarta Undercover dan Xia Ai Mei. NB : cerita yg isinya sama ama koran kuning
coba list nya dibikin ulang *maksa*
http://id.wikiped…o_%28film%29
Kita buat versi masing-masing aja
btw, salam kenal ya teman2 semua. ane newbie nih
Silahkan login untuk memberikan pendapat