Memanusiakan Perpisahan 0

Senin, 23 Jan '12 19:21

"Mengandaikan keterpisahan sebagai sebuah masalah merupakan sikap khas manusia... namun karena itu pula, ruang jadi bermakna" - Georg Simmel

 

Sejak awal, penonton dipaksa maha tahu di film karya sutradara Iran Asghar Farhadi, "A Separation". Film dimulai dengan kamera statis dari sudut pandang mesin fotokopi. Kita menyimak beberapa kartu identitas iran, barangkali serupa KTP dan buku nikah dipindai.

Selanjutnya, dua tokoh utama film ini, Simin (Leila Hatami) dan Nader (Peyman Moadi) duduk di depan hakim pengadilan agama, bagian perceraian. Kamera menyorot mereka berdua, sementara si hakim hadir hanya melalui suara (yang berarti menyamakan posisi penonton sebagai hakim). Keduanya gigih memaparkan alasan mengapa ingin bercerai.

Rupanya, Simin mendaftarkan talak pada sang suami, karena ia membatalkan rencana ke luar negeri - agaknya ke negara barat - agar anak mereka, Termeh (Sarina Farhadi), dapat mengecap pendidikan yang lebih baik. Sebaliknya, Nader bersikukuh bahwa merawat bapaknya yang tengah mengidap Alzheimer lebih penting. Ia ikhlas menerima talak Simin, bila tetap memaksanya ke luar negeri.

"Tapi dia bahkan tak mengenalimu sebagai anaknya" ujar Simin.

"Benar, namun itu tak mengubah kenyataan kalau ia ayahku bukan?" balas Nader.

Menelusuri kompleksitas situasi perceraian pasangan kelas menengah di Teheran sebagai bingkai permulaan kisah, mudah menuntun penonton menarik kesimpulan terburu-buru: bahwa "A Separation" merupakan sebuah drama keluarga dengan lingkup konflik domestik. Memang betul, pada mulanya narasi film ini sangat "domestik", hanya berpusat pada para protagonis yang terlibat urusan perceraian saja.

Sejak debat di adegan pembuka, penonton akan disibukkan pada opsi-opsi membangun simpati terhadap karakter-karakter keluarga kecil kelas menengah tersebut; apakah pada Nader dan pilihan moralnya untuk tetap merawat ayahnya, atau pada Simin yang rasional dan agaknya barat-sentris, namun mewakili perasaan kebanyakan kelas menengah Iran yang gamang bertahan di negara tersebut pasca-Ahmadinejad kembali menang pemilu tahun 2009.

Tapi di narasi film selanjutnya, metafor "perpisahan" seperti termaktub di judul film ini, sama sekali tak diniatkan untuk mengurai sekadar konflik domestik dan eksistensial terkait perpisahan karena cerai semata.

Lebih dari itu, Asghar Farhadi - sang sutradara sekaligus penulis skenario - memanfaatkan konflik di wilayah privat untuk menyingkap tabir tersembunyi yang mengendap di bawah permukaan Iran kontemporer. Hal ini mengemuka, di fragmen cerita saat Nader menyewa jasa pembantu untuk ganti merawat ayahnya selama ia bekerja di bank.

Razieh (Sareh Bayat), seorang muslimah taat beranak satu dan sedang mengandung anak kedua, menerima pekerjaan dari Nader tanpa memberitahu suaminya. Ia juga mengalami dilema berat melakoni pekerjaan tersebut, sebab ia terpaksa menyentuh lelaki yang bukan muhrim, yaitu ayah Nader yang bahkan tak mampu lagi mengganti pakaiannya sendiri.Meski berat, tidak ada yang salah dari hubungan Nader dan Razieh, yang sampai pada sepertiga cerita masih nampak mutualistik.

Hingga pada satu momen, Razieh terpaksa harus pergi memeriksa kandungannya, meninggalkan ayah Nader sendirian di rumah. Satu keputusan fatal ia buat. Mengikat tangan ayah Nader ke ranjang. Nader yang pulang kerja dan menemukan ayahnya hampir meninggal terikat di ranjang, murka.

Konflik pun berujung pada kekerasan yang samar. Sejak itulah, film ini semakin tegas mengubah posisi penonton, dari sebatas voyeur - pengintip -menjadi hakim di sebuah kasus ‘kejahatan' yang serba gamang.

Simin, yang memperkenalkan Razieh pada Nader, mengabarkan bahwa Razieh keguguran. Lebih buruk lagi, Razieh menuduh Nader melakukan kekerasan saat mengusirnya dari rumah, sekaligus jadi penyebab keguguran itu terjadi. Karena janin di kandungan Razieh sudah berusia 4,5 bulan, Nader dituntut penyidik dengan ancaman penjara lima tahun untuk tuduhan pembunuhan tak direncana.

Keadaan diperparah oleh sikap temperamental suami Razieh, Hojjat (diperankan begitu brilian oleh Shahab Hosseini), yang seorang pengangguran dan terjebak utang menggunung setelah dipecat dari pabrik. Ia melontarkan ancaman pada keluarga Nader ketika ia bersumpah atas nama Quran tak akan berhenti mencari "keadilan" atas kematian janin istrinya.

Maka dimulailah deviasi arah konflik yang mulanya mengalir mulus di lingkup domestik. "A Separation" rupanya tidak berencana mengeksploitasi drama perceraian dari kepentingan dan perspektif kelas menengah saja, seperti dalam film "Kramer vs Kramer" misalnya. Perseteruan antara keluarga Nader dan Razieh bergeser jadi gesekan frontal antara kelas menengah dan kelas pekerja. Lebih spesifik lagi, perseteruan antara perwakilan generasi sekuler dan burjuis dengan golongan syiah fanatik namun miskin di Teheran.

Atas perluasan isu yang coba diungkap dalam narasinya, menarik bila kita sedikit membandingkan "A Separation" dan "Carnage" (2011) arahan Roman Polanski. Dari segi genre, tentu keduanya sangat berbeda. Film Asghar menempuh konvensi cara tutur drama realis, sementara Roman Polanski menciptakan aura komedi gelap teatrikal pada "Carnage". Tetapi, pada titik timbulnya konflik, kedua film tersebut mencetuskan gagasan yang mirip. Bagaimana bila dua kelas yang berbeda, yang "terpisah" selama ini, dipertemukan dan dipaksa untuk bersinggungan akibat dari perisitiwa yang melibatkan kekerasan?

Pada "Carnage", masing-masing orang tua yang berbeda status sosial bertemu karena anak mereka terlibat perkelahian. Walhasil, diskusi membahas cara anak mereka rujuk malah menjadi debat absurd yang tak pelak melibatkan konsekuensi status sosial masing-masing dalam memandang permasalahan.

Sementara pada "A Separation", keterpisahan dua keluarga itu awalnya kasat mata (seperti pada penggambaran Nader dan Simin yang memiliki mobil masing-masing, dan sebaliknya Razieh harus menempuh dua jam perjalanan naik bus setiap hari). Tapi, perlahan-lahan, pergerakan kamera menuntun kita pada peleburan dua sisi berlawanan tadi di layar. Seperti saat Nader dan Hojjat saling menuduh dengan sentimen sosio-religi masing-masing di ruang sempit kantor polisi.

"Apakah aku harus bersumpah demi Tuhan kalau aku tidak memukul perempuan itu?" ucap Nader emosi.

"Seperti kau percaya Tuhan saja!" tukas Hojjat.

Pertentangan semacam itu hadir intens dan menambah beban penonton dalam memaknai setiap adegan. Masalahnya, persoalan di film ini mengantarkan kita pada hamparan fakta yang tak bisa ditakar sebagai fakta saja. Namun, dibutuhkan pula intuisi, kepercayaan. Apakah Razieh benar-benar jujur? Atau mungkinkah Nader, mempertimbangkan perangai keras kepalanya, menutupi kejahatan yang ia lakukan secara sadar?

Penata kamera M. Kalari konsisten mengajak penonton melihat semua peristiwa, dari angle-angle intim: ruang tamu berisi buku dan CD, ruang sempit klaustrofobis kantor polisi, atau spion mobil. Karena kosa gambar intim dan maha tahu tersebut, baik dalam memotret karakter dari keluarga Nader maupun Razieh, penonton dipaksa bertumpu pada kepekaan rasa saat memutus siapa yang sebenarnya bersalah dalam konflik antara dua keluarga tadi. Atas pendekatan naratifnya tersebut, Asghar mengingatkan kita pada apa yang pernah diupayakan Kurosawa di mahakaryanya, "Rashomon".

Meski penonton tak mudah menyimpulkan siapa yang "bersalah, dan semua karakter mudah menarik simpati, bahkan Hojjat yang pemarah sekalipun, film ini tetap memiliki celah dipahami. Caranya, menurut saya, bila kita memusatkan perhatian pada Termeh.

Ia berada di luar pusaran konflik, namun dia yang harus menanggung beban berat dilema etis dibanding karakter lainnya: Yaitu memutuskan apakah ia akan percaya pada pengakuan ayahnya bahwa ia tak bersalah, atau memilih ibunya yang sepertinya condong mempersalahkan Nader.

Problem Termeh mewakili apa yang dihadapi setiap penonton "A Separation". Ia harus memilih. Padahal, memilih salah satu pihak, berarti menganggap yang satu lebih benar, dan pihak lainnya keliru. Saat pilihan sudah ditentukan, saat itulah keterpisahan sesungguhnya betul-betul terjadi.

Namun apa daya, sejalan dengan pendapat Simmel saat membahas filosofi ruang: memaknai keterpisahan - dalam kasus "A Separation" berarti karena sebab agama, ideologi, maupun kelas sosial - adalah hal-ihwal yang membuat kita menjadi sepenuh-penuhnya manusia.

 

 

Jodaeiye Nader az Simin (A Separation) | 2011 | Sutradara: Asghar Farhadi | Negara: Iran | Pemain: Peyman Moadi, Leila Hatami, Sarina Farhadi, Sareh Bayat, Shahab Hosseini

 


Tag: Iran, Ashgar Farhadi, keterpisahan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat