Flying Swords of Dragon Gate dan sedikit latar belakang sejarah 0

Jumat, 13 Jan '12 01:50

Kolaborasi sutradara/produser Tsui Hark dan bintang laga Jet Li sudah cukup dikenal oleh para pecinta film martial arts lewat seri Wong Fei-hung era 1990-an. Kali ini Tsui Hark kembali mengajak Jet Li dalam pembuatan karya terbarunya yang dilabeli oleh Tsui Hark sebagai re-imagine film produksi tahun 1992 New Dragon Gate Inn yang diproduseri oleh Tsui. New Dragon Gate Inn sendiri merupakan remake film Dragon Gate Inn produksi 1967 yang diisutradarai oleh sutradara legendaris Taiwan, King Hu. Kalau melihat setting film Flying Swords of Dragon Gate yang diambil 3 tahun setelah peristiwa terbakarnya Penginapan Gerbang Naga pada ending New Dragon Inn, film ini lebih cocok disebut sebagai sequel tak langsung dari New Dragon Inn daripada sebutan re-imagining.

Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud memaparkan tentang filmnya melainkan menjelaskan sedikit latar belakang sejarah setting kisah film ini berlangsung.
Sebenarnya plot film ini bisa saja berdiri sendiri tanpa mengkaitkan dengan sejarah China, tepatnya pada masa dinasti Ming jaman pemerintahan kaisar Chenghua. Akan tetapi menurutku, latar sejarah film ini terlalu menarik jika tidak dipaparkan bagi yang penonton yang kurang faham dengan sejarah Tiongkok kuno. Dengan sendirinya, dengan mengetahui latar sejarahnya akan membuat film ini semakin nikmat ditonton.

Kaisar Chenghua memiliki 2 istri dan puluhan selir yang menghuni kaputren dinasti Ming. Diantara sekian banyak selir, kaisar Chenghua dikenal sangat menyayangi seorang selir yang bernama selir Wan. Selir Wan ini berambisi ingin menempatkan anaknya sebagai putra mahkota yang kelak akan naik sebagai kaisar penerus Chenghua. Sayangnya anak hasil hubungan kaisar Chenghua dan selir Wan mati ketika masih kecil. Sejak itu selir Wan dan para kasim bawahannya mulai gentayangan mengaborsi paksa, meracuni, hingga membunuh selir-selir lain yang mengandung anak hasil hubungan dengan kaisar Chenghua. Untungnya salah satu selir berhasil melahirkan anaknya dengan selamat. Dibantu permaisuri Wu (istri pertama kaisar Chenghua), anak yang kelaknya akan menjadi kaisar Hongzhi ini berhasil lolos dari maut.

Dilain pihak, secara politik kekaisaran Ming pada masa kaisar Chenghua didominasi kekuasaan yang dipegang pembesar kebiri atau biasanya disebut kasim (eunuch). Sejak awal berdirinya dinasti Ming, kaisar pertama Hongwu (Zhu Yuanzhang) membentuk biro pengawal merangkap polisi rahasia (semacam gestapo NAZI atau Kempetai Jepang) bernama Jinyi Wei (pengawal berseragam tembaga). Jinyi Wei bertindak bukan hanya sebagai mata-mata pasif melainkan juga memiliki kekuasaan aktif untuk menghukum langsung orang-orang yang dicurigai sebagai pemberontak tanpa pengadilan. Banyak para pejabat dan orang awam yang ditangkap dan dieksekusi langsung oleh Jinyi Wei, walaupun pada kenyataannya kebanyakan dari mereka tidak bersalah. Hal ini menyebabkan nama Jinyi Wei sangat ditakuti. Maklumlah, kaisar Hongwu dikenal sebagai pribadi paranoid terhadap pemberontakan bawahannya, sehingga banyak jenderal-jenderal yang pernah membantu Hongwu menumbangkan kekuasaan kekaisaran Mongol yang tewas dihukum Hongwu lewat tangan Jinyi Wei.

Pada zaman kaisar Yongle (anak Hongwu) berkuasa, Yongle membentuk sebuah biro khusus mirip Jinyi Wei yang anggotanya terdiri dari para kasim bernama Dong Chang (Biro Timur). Dong Chang dibentuk Yongle dengan pertimbangan bahwa kasim bisa menyelusup ke daerah-daerah dimana anggota Jinyi Wei kurang leluasa bergerak. Awalnya Dong Chang hanya sekedar biro mata-mata biasa yang bergerak pasif mengumpulkan data dan informasi, Dong Chang mengandalkan Jinyi Wei untuk melaksanakan gerakan aktif sebagai agen lapangan untuk menghukum orang-orang yang dicurigai. Makin lama kekuasaan Dong Chang semakin kuat hingga pada akhirnya mereka mulai melakukan gerakan aktif sendiri dengan merekrut field agent dalam Dong Chang tanpa melibatkan Jinyi Wei. Soal kekejaman, Dong Chang malah lebih menakutkan dibanding Jinyi Wei karena kekejaman Jinyi Wei semata-mata dilakukan demi kepentingan kaisar. Dong Chang banyak melakukan eksekusi mati demi melanggengkan kekuasaan dan korupsi yang dilakukan para kasim penguasa.

Cucu buyut Yongle yang bernama kaisar Chenghua ternyata malah semakin besar memberikan kekuasaan kepada kaum kasim dengan pembentukan Xi Chang (Biro Barat) yang berdiri terpisah dari Dong Chang. Eksistensi Xi Chang memang tak terlalu lama karena Chenghua sendiri yang akhirnya menutup Biro Barat setelah berjalan tak sampai setahun. Awalnyanya Xi Chang dibentuk untuk mengawasi Dong Chang yang semakin menancapkan kuku kekuasaannya, walau pada akhirnya justru Xi Chang tak jauh beda dibanding pendahulunya Dong Chang yang lebih dulu eksis. Petinggi Xi Chang sama-sama korup dan haus kekuasaan, juga sama kejamnya dengan Dong Chang. Namun Xi Chang berkembang jauh lebih pesat dibandingkan Dong Chang pada masa Yongle, karena mereka langsung merekrut agen lapangan dan bergerak aktif. Xi Chang banyak melakukan teror, penangkapan dan eksekusi hanya dalam waktu beberapa bulan, sehingga kaisar Chenghua sendiri merasa khawatir dengan eksistensi Xi Chang dan memutuskan membubarkan Biro Barat.

Jaman kaisar Hongzhi (anak Chenghua), kekuasaan para kasim Biro Timur dapat ditekan walau tak bisa hilang. Setelah Hongzhi wafat dan digantikan anaknya Zhengde, Dong Chang kembali menguat dan kekuasaan para kasim semakin membuat dinasti Ming melemah.

Kaitan karakter dalam film:
- Selir yang memerintahkan pembunuhan terhadap wanita yang dihamili kaisar diawal film adalah selir Wan.
- Kasim pertama (diperankan aktor senior Gordon Liu) yang dibunuh Zhou Huai'an (Jet Li) diawal film, adalah kasim pembesar Dong Chang.
- Yu Huatian (Chen Kun) adalah kasim pembesar Xi Chang

 


Tag: jet li

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat