[Resensi] 5 Days of War : Tragedi Kemanusiaan Di Georgia Dari Sudut Pandang Jurnalis 1
Senin, 2 Jan '12 11:04
Perang adalah sesuatu yang tidak akan diharapkan oleh manusia di belahan dunia manapun. Sejak cerita epik Yunani, Romawi, Mahabharata, hingga ke perang dalam skala lebih kecil, misalkan konflik Ambon, semuanya memiliki dampak yang besar terhadap kemanusiaan.
Banyak anak kehilangan orang tua, orang tua kehilangan anak, saudara dan kerabat karena perang yang sebagian besar disebabkan oleh arogansi dan keegoisan para pemimpinnya.
Itulah yang dikatakan karakter Dutchman ( Val Kilmer) dalam film perang garapan Renny Harlin ( Die Hard 2, Cliffhanger, Deep Blue Sea), 5 Days of War.
Dalam film yang mengangkat tragedi kemanusiaan yang terjadi di negara pecahan Uni Sovyet, Georgia tersebut, karakter Dutchman mengatakan " War is like a toothless old whore - disgusting, mainly, but every once in a while she gives it to you like nobody's business,".
Perang memang egois dan tidak memikirkan hak orang lain.
5 Days of War diawali dengan kisah jurnalis koresponden lepas, Thomas Anders ( Rupert Friend) dan juru kameranya, Sebastian Ganz ( Richard Coyle).
Mereka berdua mengunjungi perang Irak melawan Amerika Serikat di tahun 2002. Anders juga ditemani oleh tunangannya, Miriam ( ditampilkan lewat cameo Heather Graham). Sayang, Miriam kemudian tewas akibat berondongan peluru separatis Irak ke mobil yang mereka tumpangi.
Di situlah Anders dan Ganz bertemu dengan pimpinan pasukan koalisi perdamaian perwakilan Georgia, Kapten Rezo Avaliani ( Johnathon Schaech), yang menyelamatkan mereka.
Kisah kemudian berlanjut ke masa enam tahun paska tragedi tersebut, di mana Anders melakukan percakapan via Skype dengan Dutchman yang mengajaknya untuk meliput konflik Georgia-Rusia.
Dan singkat kata sampailah Anders dan Ganz di Georgia, tepatnya di desa Viziana. Dan di sana mereka bertemu dengan Tatiana ( Emmanuelle Chriqui - dari serial Entourage), di sebuah pesta pernikahan ala Georgia.
Malangnya, desa itu kemudian dibombardir oleh sejumlah pesawat Sukhoi Rusia dan desa pun menjadi porak poranda. Boleh.com
Home
News
Trailer
Preview
Review
Film
Coming Soon
Gallery
Cinema News
Senin, 02 Januari 2012 10:39
[Resensi] 5 Days of War : Tragedi Kemanusiaan Di Georgia Dari Sudut Pandang Jurnalis
5 Days of War
Perang adalah sesuatu yang tidak akan diharapkan oleh manusia di belahan dunia manapun. Sejak cerita epik Yunani, Romawi, Mahabharata, hingga ke perang dalam skala lebih kecil, misalkan konflik Ambon, semuanya memiliki dampak yang besar terhadap kemanusiaan.
Banyak anak kehilangan orang tua, orang tua kehilangan anak, saudara dan kerabat karena perang yang sebagian besar disebabkan oleh arogansi dan keegoisan para pemimpinnya.
Itulah yang dikatakan karakter Dutchman ( Val Kilmer) dalam film perang garapan Renny Harlin ( Die Hard 2, Cliffhanger, Deep Blue Sea), 5 Days of War.
Dalam film yang mengangkat tragedi kemanusiaan yang terjadi di negara pecahan Uni Sovyet, Georgia tersebut, karakter Dutchman mengatakan " War is like a toothless old whore - disgusting, mainly, but every once in a while she gives it to you like nobody's business,".
Perang memang egois dan tidak memikirkan hak orang lain.
5 Days of War diawali dengan kisah jurnalis koresponden lepas, Thomas Anders ( Rupert Friend) dan juru kameranya, Sebastian Ganz ( Richard Coyle).
Mereka berdua mengunjungi perang Irak melawan Amerika Serikat di tahun 2002. Anders juga ditemani oleh tunangannya, Miriam ( ditampilkan lewat cameo Heather Graham). Sayang, Miriam kemudian tewas akibat berondongan peluru separatis Irak ke mobil yang mereka tumpangi.
Di situlah Anders dan Ganz bertemu dengan pimpinan pasukan koalisi perdamaian perwakilan Georgia, Kapten Rezo Avaliani ( Johnathon Schaech), yang menyelamatkan mereka.
Kisah kemudian berlanjut ke masa enam tahun paska tragedi tersebut, di mana Anders melakukan percakapan via Skype dengan Dutchman yang mengajaknya untuk meliput konflik Georgia-Rusia.
Dan singkat kata sampailah Anders dan Ganz di Georgia, tepatnya di desa Viziana. Dan di sana mereka bertemu dengan Tatiana ( Emmanuelle Chriqui - dari serial Entourage), di sebuah pesta pernikahan ala Georgia.
Malangnya, desa itu kemudian dibombardir oleh sejumlah pesawat Sukhoi Rusia dan desa pun menjadi porak poranda.
Ganz dan Anders kemudian bersama dengan Tatiana mencari kerabatnya yang terpisah karena gempuran tersebut. Perjalanan tersebut kemudian membawa mereka menjadi saksi pembantaian massal yang dilakukan kelompok separatis Ossetia Selatan dan Abkhazia, yang didukung oleh pemerintah Rusia.
MEMBERIKAN GAMBARAN TENTANG PERANG, NAMUN TERLALU BANYAK SENTUHAN FILMIS ALA HOLLYWOOD
Penulis kemudian bertanya adakah yang mengetahui di tahun 2008 ada tragedi kemanusiaan di Georgia?
Tahun tersebut dunia disibukkan oleh pemberitaan kemenangan Barrack Obama menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat dan gegap gempita perhelatan Olimpiade Beijing.
Sangat sedikit yang tahu mengenai peristiwa Georgia.
5 Days of War kemudian memberitahu kita semua bahwa ada kejadian tersebut. Hal ini juga disinggung dalam film yang naskahnya ditulis oleh Mikko Alane dan David Battle.
Dalam satu adegan digambarkan bagaimana Anders dan Ganz yang berhasil menangkap momentum bombardir pesawat Sukhoi Rusia, kemudian mereka berusaha mempublikasikan rekaman mereka ke salah satu redaktur stasiun televisi, namun sayangnya ditolak. Alasannya? Materi mereka kalah komersial jika dibanding tayangan Olimpiade Beijing ( digambarkan Presiden Rusia, Vladimir Putin, sedang berpidato di ajang tersebut).
Naskah Mikko Alane dan David Battle mengupas secara terperinci kronologi kejadian perang di Georgia tersebut. Naskah mereka memang berdasarkan rangkuman kisah dari orang-orang Jadi meski berdasarkan kejadian nyata, 5 Days of War bukanlah dokumenter ataupun docudrama.
Digambarkan tentara Rusia dan separatis Ossetia membantai, menyembelih dan menyiksa warga Georgia. Tidak ada ampun bagi mereka meskipun mereka anak-anak atau wanita.
Naskah mereka dipenuhi dialog-dialog yang terkadang menjadikan perang sebagai lelucon yang satir. Seperti kutipan dialog Dutchman ( Val Kilmer) di atas.
Mikko dan David dengan piawai menyambungkan tragedi yang dialami Sanders di Irak dengan kejadian di Georgia, sehingga pembangunan karakter Sanders memiliki pondasi emosi yang kuat ketika menyaksikan pembantai massal di Georgia.
Pun dialog ketika Anders bertemu dengan pimpinan pasukan Rusia yang kejam, Kolonel Alexandr Demidov ( Rade Serbedzija), dalam sebuah dialog tentang masa lalu masing-masing. Sebuah dialog yang bisa dikatakan sebagai puncak film ini.
Naskah juga dengan cerdas menyorot sisi pemerintahan Georgia. Presiden Mikheil Saakashvili ( diperankan oleh aktor Andy Garcia). Presiden Saakashvili digambarkan sebagai pemimpin yang resah dengan situasi politik yang dihadapinya.
Namun, pertanyaan terbesar dari 5 Days of War adalah film ini sekali lagi menjadikan Amerika sebagai pahlawan. Meskipun diwakili oleh dua orang jurnalis lepas, terasa film ini mengangkat tema kepahlawanan ala Hollywood yang dipenuhi oleh drama dan kejadian secara kebetulan.
Memang dimaklumi cerita film ini diberi sentuhan dramatisasi klise ala Hollywood untuk memberi sentuhan filmis, namun bila dibandingkan dengan film perang dari kisah nyata seperti Apocalypse Now atau Schlinder's List, unsur fiksinya sangat terasa.
Untungnya , sinematografi arahan Checco Varese ( The Aura, Their Eyes Were Watching God) mampu menangkap setiap momen kepedihan akibat perang. Warna film yang menonjolkan keindahan alam Georgia, mampu dikontraskan dengan suasana perang yang kelabu dan porak poranda. Gambar yang ditampilkan mampu menimbulkan simpati dan kegeraman akan rusaknya alam Georgia yang indah dan damai oleh ulah pasukan Rusia.
Dalam salah satu adegan, kamera menyorot keindahan desa Viziana. Peternakan, rumput yang hijau, dan kesegaran buah apel merah yang dihiasi embun pagi. Namun, selang beberapa saat layar bergetar tatkala pasukan Rusia memasuki desa tersebut. Juga kemudian kamera menyorot ekspresi kecemasan, rasa letih dan ketakutan warga akan bahaya yang mengintai.
Miris.
Film ini juga dibantu oleh musik besutan Trevor Rabin ( National Treasure, Remember The Titans), yang secara lincah membangun atmosfer yang tepat di setiap adegan. Terdengar megah saat perang berlangsung, namun di sisi lain menyayat hati.
PENAMPILAN MEYAKINKAN ANDY GARCIA SEBAGAI PRESIDEN MIKHEL SAAKASHVILI.
Andi Garcia secara mengejutkan tampil berwibawa sebagai Presiden Mikhel Saakashvili. Aksennya meyakinkan dan Garcia mampu tampil gelisah, rapuh, emosional dan akhirnya seluruh emosi membuncah saat ia mengkritik Uni Eropa yang selalu mengundang rapat, sementara rakyatnya dari hari ke hari terus dibantai. Ada rasa bangga di hati Penulis saat menyaksikan sosok presiden yang dihidupkan oleh Andy Garcia. Andai presiden kita seperti itu.
Sementara, barisan pemain utama Rupert Friend, Richard Coyle, Emmanuelle Chriqui dan Johnathon Schaech, bermain sesuai kapasitasnya. Tidak istimewa memang, tapi pas.
Val Kilmer meskipun hanya bermain dalam beberapa scene, tetap menunjukkan kelasnya. Sosok Dutchman yang seorang jurnalis senior pemabuk dan cenderung flamboyan ditampilkannya dengan atraktif.
Sementara sosok penjahat perang Kolonel Alexandr Demidov, diperankan oleh Rade Serbedzija secara kuat. Sosok Rade mampu menimbulkan kebencian dan juga perasaan intimidasi kepada penonton.
THE FIRST CASUALTY OF WAR IS TRUTH. JURNALIS MENJADI PAHLAWAN DI FILM INI
5 Days of War adalah film tentang perang dari sudut pandang jurnalistik. Dalam film ini selain mengupas tentang kekejaman perang, juga membahas bahwa peran seorang jurnalis dalam mengangkat isu-isu minor ( yang terlupakan) adalah sebuah tugas yang penuh marabahaya.
Di sini digambarkan jurnalis terkadang harus beradu argumen dengan redakturnya mengenai materi yang layak ditayangkan. Jurnalis sebagai pihak yang berada di lapangan, tentunya bersinggungan langsung secara emosional. Namun, pihak redaktur terkadang hanya memikirkan rating ataupun jumlah penonton. Semacam persinggungan antara idealisme dan komersialisme.
Jurnalis menjadi pahlawan dalam film ini. Jurnalis juga ditampilkan sebagai profesi yang terkadang narsis ( di suatu adegan digambarkan para jurnalis berfoto bersama dengan latar bangunan porak poranda sebelum meliput). Tetapi, mereka sejatinya adalah pahlawan yang menghantarkan berita yang harus diketahui semua orang.
Pihak Rusia digambarkan sebagai penjahat di sini. Ada sedikit nuansa tendesius, karena cerita hanya diulik dari sisi Georgia. Kita tidak tahu persis, apakah Georgia juga punya andil dalam perang tersebut atau tidak.
Namun, terlepas dari siapa pihak yang salah atau benar, perang tidak akan menimbulkan manfaat apapun, kecuali kerusakan. Dan yang jadi korban akhirnya rakyat kecil yang tidak tahu apapun tentang konflik yang terjadi di tingkat penentu kebijakan.
Mereka kemudian hanya bisa meratap, menangis dan berduka atas bekas peperangan. Seperti yang ditampilkan di akhir film sebelum credit title. Sejumlah warga Georgia melakukan testimoni sembari membawa potret keluarga mereka yang dibantai.
Mereka tidak tahu apa-apa. Dan perang adalah bentuk keegoisan pemerintah terhadap rakyatnya.
Seperti yang ditampilkan dalam adegan pembuka film ini. Kutipan pernyataan seorang senator Partai Republik di Amerika Serikat asal California, Hiram Johnson. Dalam pernyataan yang dibuatnya tahun 1918 itu berbunyi, " The first casualty of war is truth".
Truth atau kebenaran itulah yang diselamatkan dalam film ini. Bahwa pernah terjadi pembantaian massal penduduk Georgia oleh pemerintah Rusia di tahun 2008.
Penilaian secara total 3/5
Tag: 5 Days of War
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Informatif
-
sabai: Good Take
-
Deli Putra: Good Take

Komentar:
Produksi : ANCHOR BAY FILMS
Sutradara : Renny Harlin
Silahkan login untuk memberikan pendapat