Sherlock Holmes II : Every Minutes in Each Scenes Has it Own Clues 0

Selasa, 27 Des '11 12:55

“what are we doing now? We are waiting and I am smoking...”

            Siapa yang enggak kenal sama sosok detektif ini. Sherlock Holmes. Ok bisa dibilang semuanya tahu atau at least pernah mendengar. He is smart, brilliant, and silly. Hahaha, mungkin buat yang bukan penggemarnya hanya tahu sebatas ini. So do I. Saya bukan penggemar Sherlock Holmes sampai saya mulai menonton film pertamanya. Deskripsi diataslah yang saya tahu sebelumnya. Sebatas itu. Tidak banyak. Namun sebelumnya menurut saya dia adalah sosok yang serius. Tetapi Robert Downey Jr membuyarkan semuanya. Sekarang yang ada adalah Holmes yang komikal, tetap smart dan awesome in the same time. Sekarang Holmes kembali hadir di sekuelnya Sherlock Holmes a Games of Shadows.

            Bisa dibilang film keduanya ini tidak terlalu bersambung dengan film sebelumnya. Jadi bagi mereka yang belum sempat menonton film ini tetap bisa menyimak film keduanya ini dengan nyaman. Bisa dibilang film pertama hanya sebatas pengenalan karakter utama, Holmes, Dr Watson, dan Adler. Bagaimana hubungan mereka satu sama lain, kemampuan mereka, kepintaran mereka, yah sebatas itu saja. Tentu dengan adanya musuh di film pertama dan sedikit pengenalan karakter Moriarty. Tidak terlalu menarik benang merah di film kedua ini. Yah semacam Harry Potter saga (kecuali 2 film terakhir , Half Blood Prince dan Deathly Hallows) , semuanya memiliki kisahnya sendiri. Di film kedua ini konflik baru dimulai. Holmes dan Dr Watson diajak untuk memecahkan kasus yang tengah hangat terjadi yaitu pemboman yang terjadi di point-point penting pada saat itu dimana tokoh-tokoh penting menjadi sasaran pada saat itu. Singkat cerita semua bukti tertuju pada Moriarty. Dan duel fisik , trik, taktik pun terjadi antara kedua kubu. Tentu dengan adanya penambahan karakter yaitu si peramal Gipsy dan Mycroff Holmes kakak dari Sherlock Holmes.

            Lagi-lagi sang sineas memadukan dua hal yang terbukti ampuh dalam film ini. Unsur aksi dan unsur komedi yang pas membuatnya nyaman untuk diikuti. Film ini sebenarnya mudah. Namun entah kenapa kita seakan diajak berpikir, memperhatikan setiap scene yang ada, setiap dialog antar karakter karena kita beranggapan bahwa setiap saat selalu terselip clue untuk adegan selanjutnya. Saat melihat holmes memegang obyek pasti sedikit terlintas “pasti barang ini nantinya dipakai untuk,,, bla,, bla,, bla,,”. Inilah yang saya rasakan dan beberapa teman saya yang menonton bersama saya. Dan sayangnya tidak semua bisa ditebak semudah itu. Dan inilah alasan mengapa saya menjadi fans Holmes secara mendadak semenjak film pertamanya. Entah si penulis naskah atau sang sutradaralah yang pintar membuat filmnya seperti ini. Kita seolah olah tidak dibiarkan hanya duduk manis sambil mengunyah popcorn. Kita seperti dipaksa bermain teka-teki silang yang sangat menyenangkan. Penuh tawa, dan harus berpikir walaupun tidak harus berpikir keras. Saya rasa formula seperti inilah harus dipertahankan agar Holmes bisa tetap bertahan di hati penggemarnya. Lalu di film kedua ini porsi aksi sedikit lebih banyak. Dan dibuat semakin wah dengan semakin banyaknya slow motion scenes. Gambar begitu apik dan halus. Semuanya terasa pas dan nyaman dimata. Bahkan dibuat seolah kita menonton film 3Dnya.

            Menonton film ini selain alur ceritanya yang patut diberikan jempol ada hal lain yang menarik. Yah seperti biasa tentu akting pemainnya. Namun ada satu hal lagi yaitu wardrobe. Entah berlebihan atau tidak, semua kostum benar-benar memukau dan berhasil membawa kita ke eropa pada zaman itu. Detail-detailnya begitu menakjubkan. Mulai dari dress, cloak, setelan jas, topi semuanya luar biasa. Dan colour tone yang digunakan juga hebat. Semuanya dibuat dark untuk menunjukkan betapa kelamnya pada masa itu. Benar-benar film yang memperhatikan detail filmnya.

            Dari segi akting tentu Robert Downey Jr dan Jude Law tidak perlu diragukan lagi. Namun kali ini saya sedikit merasa bahwa Jude Law mendapat porsi sedikit lebih banyak dibanding film sebelumnya. Di film sebelumnya dia hanya terlihat seperti complementernya si Holmes. Tapi disini peranannya lebih besar hingga ia menjadi target Moriarty pada saat perjalanan bulan madunya ke Brighton. Dan Jude Law benar-benar menonjol disini. Dia memanfaatkan kesmpatan dengan baik. Thumbs up! Untuk Robert tentu ia berhasil tampil secara komikal dan brilliant. Bisa dibilang dia mampu menggantikan Johnney Deep nanti (bila akan ada reboot Pirates of The Carribean tentunya) hahaa, ok sekali lagi ini sekedar opini saya , jadi tentu boleh setuju dan boleh saja tidak J Bagi yang belum menonton selamat menonton!


Regards,

@dnielcarmichael


Tag: review

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat