I Love Indonesia II : Sebuah Refleksi Akhir Tahun 0

Selasa, 27 Des '11 14:21

 

 

            Ok this is my second article yang membahas perfilman Indonesia secara keseluruhan. Tidak terfokus pada satu film saja. Tidak terasa kita sudah benar-benar dipenghujung tahun. December, and Christmas just passed. Yap kita sudah siap menutup tahun yang luar biasa ini. Membuat resolusi di tahun depan dan berharap semuanya menjadi lebih baik. Meninggalkan hal-hal negatif yang ada, memperbaiki semua yang masih bisa diperbaiki, mempersiapkan hal-hal baru yang membuat semuanya semakin menyenangkan. Yah sekiranya inilah yang akan kita lakukan dipenghujung tahun. A kind of routinity. Tapi bagaimana dengan dunia perfilman kita? Apa-apa saja yang sudah terjadi sepanjang tahun ini? Apa saja persiapan di tahun mendatang?

            Mari kita sedikit flashback. Sepanjang tahun ini ada banyak sekali film Indonesia yang mampir ke layar bioskop. Seakan tidak ingin lahannya diambil oleh film-film hollywood, banyak sineas Indonesia berlomba-lomba menghasilkan karyanya untuk bisa ditonton oleh masyarakat. Apalagi pada saat film hollywood bermasalah masuk ke tanah air. Lomba mencetak film pun semakin menjadi jadi. Namun apakah semuanya memang berupa "film layar lebar"? Emm, inilah satu hal yang harus kita jadikan bahan refleksi di akhir tahun ini. Fenomena "perlombaan" yang sengit ini kembali menegaskan bahwa kuantitas bukan selalu berarti kualitas. Terbukti bukan bahwa layar bioskop kita sempat berbulan-bulan lamanya ditongkrongi oleh puluhan judul film murahan dan menggeser porsi film hollywood yang memang layak ditonton atau bahkan menggeser porsi film-film karya sineas anak bangsa yang diam-diam berpotensi tetapi tertutupi oleh pemberitaan besar-besaran berlebihan mengenai film-film tidak penting lainnya?

            Sebenarnya mampu secara produktif memproduksi film dalam kuantitas yang besar dalam kurun waktu setahun adalah hal yang membanggakan. Bila didukung dengan kualitas yang baik. Sepanjang tahun ini kita terlalu banyak disodori film horror , seks, yang mengandalkan pemain seks, atau bahkan adegan vulgar. Juga sering didukung dengan rekayasa konflik antar pemain untuk menaikkan pamor film tersebut. Bagaimana tidak, berita seperti ini bisa muncul disetiap infotaiment setiap harinya dan bertahan hampir lebih dari sebulan. Entah salah pihak pers yang berlebihan, pemirsa yang percaya, atau memang inilah yang disebut dengan keberhasilan promosi? Sebuah publikasi yang tidak perlu menurut saya. Bandingkan dengan film lain yang berprestasi. Mereka hanya memasang iklan saja di situs-situs yang menampilkan trailer film mereka, memanfaatkan social network seperti facebook dan twitter, atau menayangkan trailernya di televisi. Talk less do more. Sesuatu yang baik namun sepertinya tidak terlalu berhasil di negeri kita ini. 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita yang tidak berbicara banyak di dalam negeri namun ia melalang buana di perfilman internasional. Jangan lupakan film Batas, Euphoria, Badai di Ujung Negeri yang sebenarnya lebih layak diberikan sorotan dibandingkan film macam itu.

            Saya sama sekali tidak mengkambing hitamkan horror Indonesia. Saya adalah penggemar film horror pada awalnya. Kuntilanak (yang berhasil menampilkan sesosok hantu lokal menjadi mahluk mytologi jawa dengan alur cerita yang menarik), Bangku Kosong (kisah hantu disekolah yang digarap tidak berlebihan dengan pengkarakteran yang kuat oleh pemain utamanya) juga menjadi film favourite saya sampai sebelum image film horror mulai dirusak dengan film asal penonton kaget oleh para pembuat film horror. Saya rasa horror adalah genre yang patut diberikan sorotan. Lihat saja Thailand yang berhasil membuat berbagai film horror tanpa harus merusak imagenya sendiri. Aiolah, penonton bosan, dan semakin lama bisa memilih (ini yang saya lihat beberapa bulan terakhir ini) mana film yang layak ditonton atau tidak. Namun yang jelas trend ini tela merusak image film Indonesia. Kepercayaan penikmat film telah rusak dan sangat sulit memulihkannya. Bayangkan saat Sang Penari dan Arisan 2! Muncul hal ini bagaikan menemukan pintu baru bagi saya. Saya mengajak teman secara antusias untuk segera ke bioskop pada hari pertama penayangannya. Namun? Ini bukanlah hal mudah. Tidak seperti mengajak nonton Sherlock Holmes yang jam 3 siang mengajak nonton, jam 7 malam langsung meluncur kebioskop tanpa memperhatikan berapa harga tiket dan mengantrinya menonton pada hari itu.  Mengajak orang menonton film Indonesia sekarang ini bagaikan memaksa orang memasuki ke dalam ruangan gelap yang entah apa isinya. Perlu bujukan seminggu sebelumnya dengan jaminan bahwa film itu bagus, epic, entertaining dan bla, bla, bla lainnya. Saat diajak mereka malah sering berkata : "ngapain buang duit buat nonton film gituan?", "sang penari? Ogah mendingan ini aja", "jauh-jauh bela-belain ke PS Cuma buat sang penari? Hello??" , "arisan 2? Yaelah beberapa bulan lagi juga ada di tv". Huah ini yang terjadi pada faktanya. Capek. But saat itu saya tetep bersikeras. Dan berhasil dan terbukti mereka yang menonton puas. Walaupun tetap saja kursi bioskop banyak yang kosong melompong. Tapi sampai kapan kita harus seperti ini saat mengajak untuk menonton film Indonesia yang bagus? Entah apa yang perlu dilakukan agar kepercayaan penikmat film kembali lagi. Menurut saya, haruslah distop peredaran film murahan yang menurunkan image perfilman kita. Gamungkin menstop langsung, mungkin pihak bioskop bisa menuruni kuantitas dan lebih selektif terhadap film yang akan masuk. Inilah saran saya.

            Namun saya yakin semakin lama perfilman Indonesia akan semakin bisa berbicara besar. Dimulai dari kemunculan Catatan Harian Boy, yang memang layak ditonton. Dan akhir tahun pun ditutup begitu manis. Sang Penari , film peraih piala citra dalam katagori film terbaik yang memang SUPER. Film ini akhirnya mendapat pengakuan yang setimpal. Arisan 2! Drama komedi yang secara blak-blakkan menggambarkan kehidupan metropolis ibu kota. Menyorot kaum gay yang semakin membuka dirinya di Jakarta ini. Namun menurut saya justru ini diselipkan untuk meningkatkan humoris dari film ini. Alur cerita pun bukan sekadar drama biasa yang ada seperti sinetron-sinetron di tv. Semuanya menarik. Segar. Jangan lupakan juga Garuda di Dadaku 2 sebuah sekuel yang juga layak ditonton. Aio penikmat film Indonesia kita beramai-ramai kebioskop mendukung perfilman dalam negeri kita. Dukung kampanya #kamiskebioskop. Dan tahun ini film pendek pun juga mendapat sorotan yang baik. Film pendek yang sebelumnya seperti dianak-tirikan didalam negeri sudah semakin mendapat pengakuan. Dengan adanya kategori ini di FFI. Bermula dari A, Payung Merah, dan lainnya semakin dikenalkan ke masyarakat. Inilah yang kita tunggu. This is our time!

            Dan untuk tahun depan sineas-sineas brilliant pun sedang mempersiapkan banyak suguhan menarik yang layak kita saksikan. Tinggal bagaimana dengan kitanya, maukah kita mendukungnya dengan menonton dibioskop, atau kita akan membiarkan kesalahan di tahun ini kembali terulang? Membiarkan film-film bagus mati termakan oleh waktu? Ada beberapa karya ambisius yang bisa kita tonton. The Raid yang melalang buana mendapat penghargaan tertinggi di ajang Internasional karya sutradara Gareth Evans. Lalu Modus Anomali sebuah film thriller yang disutradarai oleh Joko Anwar yang menyuguhkan kita film Janji Joni, Kala, Pintu Terlarang juga teater musikal Onrop!. Dari karya sebelumnya Joko benar-benar membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing dengan karya sineas asing lainnya. Ada juga Extraordinary Me karya Mouly Surya yang film sebelumnya Fiksi memperoleh piala citra. Dan jangan lupakan Demi Ucok film bergenre drama komedi ringan yang akan dipenuhi humor cerdas. Film ini disutradarai Sammaria Simanjuntak yang membawakan kita film cin(T)a yang dipenuhi dialog cerdas, dengan cerita yang menurut saya luar biasa dan mempelopori munculnya film-film yang mengangkat permasalahan isu agama dan ras. Payung Merah the Movie yang sepertinya masih dalam tahap produksi dan digawangi oleh Edward Gunawan dan Andri Cung director film pendek Payung Merah. Untuk film pendek pun kita juga dijanjikan beberapa film pendek yang menarik di tahun mendatang. Parts of the Heart karya Paul Agusta yang menyutradarai Kado Hari Jadi yang mendapat sambutan luar biasa sebelumnya , Merindu Mantan sebuah supernatural horror yang layak ditunggu. Merindu Mantan digawangi oleh Andri Cung yang secara berani menyuguhkan genre baru kedunia perfilman tanah air. Dan masih banyak lagi pastinya mengingat pengetahuan saya yang terbatas. Jadi sekarang akankah kita hanya duduk diam atau menjadi pendukung perfilman dalam negeri yang semakin membaik ini?

            Sekali lagi, saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah pelajar yang mencintai film dan mendukung penuh perfilman tanah air. Jadi inilah pendapat saya. Maaf bila banyak kesalahan atau menyinggung pihak tertentu. Ini hanyalah pandangan dari seorang amatiran yang begitu mencintai film. Maju perfilman Indonesia!

 

*untuk gambar saya mengambil dari Google, thanks Google :)

 

Regards,

@dnielcarmichael

 

 


Tag: film, Indonesia, opini

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat