Holiday In The Middle of Working Day 3
Senin, 5 Des '11 12:04
Kalimat pada judul diatas, mungkin adalah salah satu yang memorable dari banyak celotehan lebay dalam film ini. Arisan! 2, kembali hadir ditahun ini setelah berselang cukup lama dari film pertma pada 2003 lalu.
Masih menceritakan bagaimana persahabatan antara Sakti (Tora Sudiro), Meimei (Cut Mini), Andien (Aida Nurmala), dan Lita (Rachel Maryam) yang sebelummnya pernah dijodohkan oleh orang tua Sakti, hingga Nino (Surya Saputra) yang kini sudah lebih dekat dengan mereka. Setelah 8 tahun dari event dalam film pertama, Arisan! 2 melanjutkan kehidupan para sahabat ini yang sekarang masing-masing sudah berusia menjelang 40 tahun. Sudah tidak muda lagi. Banyak perubahan yang terjadi. Meimei yang ditinggal pergi suaminya kini mengidap penyakit kanker dan ia menyembunyikan itu dari sahabat-sahabatnya. Lita sudah menetap di Jakarta dan ia sedang bersiap menjadi calon legislatif. Andien kini seorang single mother karna suaminya sudah meninggal. Sakti tidak menjalin 'hubungan' lagi dengan Nino, skarang ia menjadi kekasih 'simpanan' yang lebih tua, Om Gerry (Pong Harjatmo) seorang bapak yang sudah berkeluarga. Dan Nino memiliki Okta (Rio Dewanto), pacar barunya yang lebih muda dan eksis dijejaring sosial.
Layaknya sebuah sekuel, selalu ditambahkan karakter-karakter baru yang akan turut memeriahkan film. Arisan! 2 pun juga demikian, kini muncul geng baru ibu-ibu metropolitan yang tidak kalah fabulous. Adalah Dr.Joy (Sarah Sechan) ahli bedah plastik, dengan ahli finace nya Ara (Atiqah Hasiholan), dan seorang penulis biografi, Yayuk Asmara (Ria Irawan). Juga ada Tom (Edward Gunawan), seorang dokter terapi bagi penyakit kanker Meimei, dan bartender Molly (Adinia Wirasti) yang memiliki free-spirit dalam menjalani hidup.
Walau semakin banyak karakter, namun konflik dalam film ini dirasa tidak lebih pelik daripada film pertama. Sesuai dengan tagline filmnya, 'delapan tahun sudah berlalu dan sekarang apa yang mereka cari?', Arisan! 2 hadir dengan penggarapan yang lebih matang dan dewasa. Seiring dengan usia sang sutradara, produser, sekaligus penulis naskah film ini, Nia Dinata yang juga menjelang berkepala empat. Lalu, apa yang mereka cari? Tentunya bukan lagi sebuah pengejaran prestise, status sosial, relationship, dan hura-hura kehidupan kota seperti yang mereka geluti di film sebelumnya.
Dalam Arisan! 2, semua itu memang masih menjadi aktifitas utama para ibu-ibu socialite, dan Nia mengemasnya dengan aksen berlebihan layaknya parodi gaya hidup masyarakat kota dan kritik sosial. Hingga pada ahirnya penonton diajak untuk merenungi apa arti kehidupan itu sendiri. Mensyukuri apa yang sudah kita miliki dan meningkatkan cinta kasih pada oranga-orang disekitar. Namun untuk mencapai semua itu, menonton film ini harus dengan pikiran terbuka karna banyak realita 'penyakit masyarakat' dan hubungan absurd yang terjalin antar karakter disepanjang film. Walau sang sutradara menggarapnya dengan tidak terlalu ekplisit tapi dengan bahasa isyarat, gerak tubuh, dan sorotan kamera yang seolah menyentil penonton.
Sejak dari adegan pertama dalam ruangan Dr.Joy, film ini banyak menampilkan palet warna hitam pekat dan coklat, mirip dengan karya-karya Davcid Fincher. Menjadikannya berkesan glamour terutama saat adegan para wanita sedang berpakaian modis, sekaligus warna ini sesuai dengan karakter-karakter dalam film yang sudah tidak muda lagi.
Mengambil setting di Gili Trawangan, tempat dimana Meimei menjalani meditasi, lokasi yang eksotis ini tentunya menabah kenikmatan menonton. Keindahan Gili Trawangan memang sudah terkenal, tapi ironisnya dikenal lebih dahulu oleh kalangan internasional, bukan didalam negri. Semoga saja setelah ini akan lebih banyak masyarakat Indonesia lebih gemar mengeksplorasi negri sendiri untuk berwisata, khususnya masyarakat ibu kota, tidak melulu berahir pekan di Bandung atau libur tahunan di Bali.
Menonton film yang banyak memunculkan cameo ini sungguh mengasyikkan. Saya dibuat tertawa ketika apa yang biasa dilakukan sehari-hari mereka juga menampilkannya disini, dizaman globalisasi ini. Mungkin mereka yang sudah dewasa sejak delapan tahun lalu merasa heran dengan generasi sekarang yang gemar berfoto, walau sendirinya juga tidak bisa mengelak betapa asyiknya stalking orang dengan menelusiri akun jejaring sosial. Selain itu Nia Dinata juga kembali memasukkan event aktual seperti pro-kontra penyelenggaraan festival film yang mengangkat tema LGBT. Dan, sutradara ini memang menggarap filmnya hingga hal yang mendetil. Di penghujung film, sebelum credit title muncul, perhatikan lukisan yang sedang dibuat anak Dr.Joy dengan warna-warna depressed seperti hitam dan kelabu, mendeskripsikan orang yang ia lukis sungguh tidak bahagia dengan kehidupan yang hampa. Sebuah sisipan parodi yang pintar.
Dari jajaran cast, semua karakter disini sudah dibawakan dengan baik oleh pemeran yang tepat. selain pemain lama yang tampil lebih meyakinkan -- terutama sisi kemayu oleh Tora Sudiro, juga beberapa karakter baru yang mencuri perhatian. Sarah Sechan yang gerak-gerik dan ucapannya begitu 'fashionable' membuatnya pantas menjadi 'ketua geng' ibu-ibu arisan. Adinia Wirasti, walau tampil sebentar namun karakternya kuat dan aksen daerahnya begitu berkesan. Belum lagi penampilan meyakinkan oleh Rio Dewanto sebagai pemuda sissy dan manja. Karakternya dsini juga hanya sebagai tempelan, tapi setiap kemunculannya selalu memancarkan berbagai 'citarasa' dan reaksi beragam dari penonton -- you know what I mean. Menariknya Rio juga ikut menyanyikan lagu untuk salah satu soundtrack film ini, melengkapi lagu soundtrack terbaik lain yang sudah dipilih dengan tepat.
Meskipun film ini minim konflik, namun masih ada beberapa pertanyaan yang tidak diberikan penjelasan hingga diahir film. Seperti bagaimana status hubungan Nino dan Okta, lalu hubungan 'threesome' antara Meimei, Tom, dan Molly, dan siapa ayah dari Talu juga tidak dijelaskan. Jika itu bukan sebagai plot-hole, apakah ini berarti Nia sengaja menyimpan pertanyaan itu untuk dijawab dalam sekuel kedua? Boleh saja. Asalkan,.. please teteh Nia, jangan lagi terlalu banyak pria ngodek... I beg You.
Arisan! 2: 4/5
Tag: beautiful, inspiring, Adorable, Complicated, Cute, Extraordinary, Fun, Glamour, Living, Lovely
Terkait:
-
Eat Pray Love (2010), Inspiring!
Rabu, 13 Okt '10 22:22 -
Life Is Beautiful: A Beautiful Movie!
Senin, 5 Apr '10 13:24 -
Great Woman, Great Movie.
Jumat, 30 Okt '09 21:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take
-
oksbangs: Mencekam
-
Rushed: Good Take
-
sabai: Good Take
-
Algitya Pratomo: Box Office

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat