INAFFF 2011: FISFIC 6 VOL. 1 3
Jumat, 2 Des '11 10:57
Pembuka
Tidak banyak film di INAFFF yang saya tonton tahun lalu, mungkin hanya satu atau dua. Namun dari yang sedikit itu ada yang istimewa ketika saya menonton "Monsters" film yang dipilih menjadi opening INAFFF 2010 dimana Rusly Edy atau akrab disapa Sly sang otak di balik INAFFF mengutarakan kekecewaannya ketika tidak ada film Indonesia yang tampil di INAFFF pada saat itu, ketika itulah ide tentang kompetisi ini diutarakan di depan umum. FISFIC (Fantastic Indonesian Short Film) merupakan kompetisi film pendek khusus genre fantasi (Horror, Thriller, Sci-Fi, Fantasy) diprakarsai oleh sineas dan aktivis perfilman, selain Sly sendiri ada Sheila Timothy, Joko Anwar, The Mo Brothers, Gareth Evans dan Ekky Imanjaya. Ketika menyambut INAFFF 2011, saya pribadi sangat antusias dengan FISFIC ini mengingat sinopsis-sinopsis yang saya baca, idenya keren-keren banget. Namun bagaimanakah hasil eksekusinya? Idealnya sih tulisan ini dipublish sebelum pengumuman pemenang untuk menghindari bias penilaian subjektif pribadi terhadap yang sudah terpilih menang, namun dikarenakan satu dan lain hal maka baru jadi sekarang :p.
The Review
_________________________________________________________
Meal Time | Director: Ian Salim, Writer: Ian Salim dan Elvira Kusno.
Bercerita tentang Sutisna, Andre, dan Aziz (ya, mengingatkan kita pada tayangan lawak tertentu bukan? :D ) para pentugas yang sedang ditugaskan menjaga sebuah rumah tahanan sementara beserta bus tahanan yang baru datang, dan satu persatu beberapa tahanan dan petugas terbantai secara misterius. Well, ini merupakan film pertama yang tampil di omnibus ini. Di awal-awal, film ini menyajikan intro yang baik, dengan dialog-dialog awal yang jenaka dengan alur lambat namun tampak menjanjikan, dilanjutkan dengan situasi yang cukup mencekam. Pun begitu bantuan akting Abimana Aryasatya yang di film sebelumnya tampil sangat baik sebagai Andi di "Catatan Harian Si Boy" tidak terlalu banyak menolong dikarenakan ide yang sederhana, plot yang cukup mudah ditebak dan twist yang biasa saja di ending-nya. "Meal Time" pun hadir sebagai pembuka yang tidak mampu menggebrak penonton FISFIC.
60
_________________________________________________________
Rengasdengklok | Director: Dion Widhi Putra. Writer: Yonathan Lim. Producer: Abdul R. Hermas Sudibya.
Bercerita tentang "Presiden dari suatu negara" dengan dikawal beberapa prajurit, bersiap memproklamasikan kemerdekaan suatu negara namun di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh sesuatu yang mengerikan yang tidak pernah diceritakan sampai saat ini (paling nggak, sampai filmnya diputar). Secara tanggung, film ini berusaha mengaburkan latar, seperti di intro-nya menggunakan sebutan "suatu negara" tanpa menyebutkan "merk" dari negara itu dan juga penyebutan "Bapak Presiden" bagi karakter sang proklamator -suatu pengaburan yang digunakan film "Kala" yang menggunakan sebutan "Republik ini" dan "Presiden pertama"-. Pengaburan-pengaburan tersebut maksudnya baik sebenarnya jika dilakukan secara konsisten untuk mencegah (baca: ngeles) dari kemungkinan gugatan-gugatan para "polisi sejarah", tinggal jawab "Lhaa kan filmnya gak nyebut 'Indonesia' anggep aja cerita tentang negara lain". Tapi, mari kita sejenak kembali ke judulnya dan.. ya, film ini sudah terlanjur dengan spesifik menggunakan nama daerah di Karawang, Indonesia dan pada animasi yang digunakan dalam awal intro secara jelas menggunakan animasi berupa peta negara Indonesia dan selanjutnya secara tidak konsisten secara jelas sudah menyebut kata "Tentara Jepang" setelah sebelumnya berusaha mengaburkan nama negara Indonesia. Ditambah dengan akting dan dialog yanglebay dan dibuat-buat yang mungkin saja disengaja untuk menambah bumbu kejenakaan namun malah membuat yang menonton selain tertawa juga menaikan alis mata sebelah, dan memerosotkan posisi duduk. Film ini menjadi film yang idenya sungguh juara dan berhasil membuat banyak orang penasaran, terlebih sudah berani bermain dengan sejarah namun sayang kurangnya dalam pengeksekusian sehingga ketidaktahuan saya pribadi yang sebelumnya terhadap masalah utama di film ini pun tidak mampu mengangkat "Rengasdengklok".
52
_________________________________________________________
Reckoning | Director: Zavero Idris dan Katharina Vassar. Writer: Katharina Vassar
Suatu rutinitas yang biasa bagi suami istri di suatu rumah (err.. bukan rutinitas yang itu ya..) ketika sepasang suami istri berbincang di kamar, tiba-tiba datang sekawanan tidak dikenal datang ke rumah mereka membawa rahasia kelam dari masa lalu sang suami dan pada akhirnya membawa tumbal. Ketegangan dibangun dengan baik dari mulai kejar-kejaran di dalam rumah, dialog beradu watak, tumpahan darah dan juga dibumbui drama. Film yang sebelumnya diberi judul "Goblin" ini cukup bawel memang ketika banyak dialog yang membuat bingung ketika sang pemimpin gerombolan berbicara campur dengan bahasa Inggris yang celakanya disertai efek suara tertentu yang membuat dialog menjadi semakin tidak jelas yang sayangnya tidak disediakan subtitle di bagian tersebut. Namun set yang baik, drama dibumbui gore yang cukup disturbing "Reckoning" sebagai film ketiga dalam omnibus telah membangkitkan optimisme bagi penonton FISFIC setelah dua film pendek sebelumnya terasa kurang.
73
_________________________________________________________
Rumah Babi | Director: Alim Sudio. Writer: Harry Setiawan
Tema dan judul 'rumah-rumahan' (hmm ada gak nama tema macam begini? :p ) seolah tidak bisa lepas dari dunia horor/thriller setelah Rumah Dara di tahun 2009, Dream Home di INAFFF 2010 sebagai surprise movie, belakangan ada film Indonesia berjudul "The Perfect House",dan masih banyak lagi, tema 'rumah-rumahan' pun turut hadir di FISFIC vol. 1 ini, yaitu melalui "Rumah Babi". Bercerita tentang seorang pembuat film dokumenter yang harus melakukan wawancara langsung untuk melengkapi materi film dokumenternya pada korban penyerbuan di rumah keluarga keturunan Cina yang juga merupakan rumah ternak dan pemotongan babi, dan di sanalah kengerian yang terjadi pada keluarga terebut berulang pada sesuatu yang disebut karma. Selama ini banyak pendapat yang beranggapan film horror yang setannya "banci tampil" itu ganggu dan malah bikin penontonnya tidak takut lagi, nggak kelas dan lain lain. Entah teori tersebut tidak berlaku pada film pendek, namun film ini telah meruntuhkan hal itu dengan penampakan yang sering terjadi namun tetap meneror. Film ini dengan singkatnya mampu menggambarkan teror yang sempat terjadi pada keluarga keturunan Cina pada waktu itu, dan di akhir secara eksplisit dan tidak dibuat-buat memberikan pesan moral dalam sebuah twist yang mengesankan. Walaupun jika kita melihat trailer dari FISFIC 6.1 pada potongan paling akhir terdapat bagian yang dapat membuat kita mengerenyitkan mata, ya itulah salah satu potongan adegan yang diambil dari "Rumah Babi" dari situ kita mengerti bahwa sebenarnya film ini memiliki kekurangan dari segi make-up. Pun begitu "Rumah Babi" mendapat tempat di hati penonton dan mendapat special mention pada INAFFF FISFIC 6.1 ini. Film yang begitu mencolok membuat saya tidak ragu berniat menepokan tangan ketika film akan selesai (walaupun ternyata bukan saya saja yang berpikiran demikian karena ada yang duluan di belakang saya sih :| #infopenting).
88
_________________________________________________________
Effect | Director: Adriano Rudiman. Writer: Leila Safira dan Adriano Rudiman
Eva seorang karyawati yang sangat membutuhkan promosi merasa frustasi pada atasannya yang terus menghalangi karirnya. Pada suatu kesempatan Eva menemukan suatu situs yang menanyakan siapa yang ingin ia sakiti dan secara iseng ia pun memasukan nama atasannya itu, dengan selang waktu tertentu, dimulai dari hal-hal kecil yang sequential akan berujung pada kematian sasaran. "Effect", lagi, juga merupakan salah satu judul yang mencuri perhatian saya. Disutradarai Adiano Rudiman, komikus "Komik Kambing Jantan" yang terbilang aktif mereview film di twitter atau kadang melalui ilustrasi menarik di blognya. Sayangnya "Effect" yang memiliki tema yang menarik walaupun tidak bisa dibilang benar-bnar orisinil, memiliki cela di bagian yang harusnya menjadi hal yang dapat ditonjolkan yaitu dibagian sequence kematian yang terlalu sederhana mengarah mengada-ada, dan juga akibat akhir dari kematian yang terlalu cetek. Memang sih, di akhir film ini memberi bumbu thriller-nya sendiri namun dari temanya dan sinopsis, sebenarnya bukan itu yang diinginkan dari film ini untuk ditonjolkan. Pun begitu dari teknik pemilihan casting dan akting, tetap harus mendapat pujian karena telah menghidupkan suasana khas perkantoran dengan orang-orang dengan masa krisis dan menyebalkan di dalamnya #bukanCurcol.
70
_________________________________________________________
Taxi | Director: Arianjie AZ dan Nadia Yuliani. Writer: Arianjie AZ dan Nadia Yuliani
Suatu malam yang sepi, ketika seorang karyawati -yang entah benar atau tidak kemudian mengaku bernama Fina/Vina- pulang dari lembur panjangnya. Setelah menunggu lama (ntah menunggu dijemput atau menunggu taxi Blue Bird #bukapostberbayar) akhirnya memutuskan mengambil sebuah "Taxi tidak jelas" yang menghampirinya. Di tengah perjalanan "penghuni" taxi pun bertambah, memulai sebuah teror yang akan terjadi di dalamnya. "Taxi" hadir sebagai horror bertema sederhana yang berhasil memuaskan penontonnya, termasuk para juri ketika memutuskan memenangkan "Taxi" sebagai pemenang utama di FISFIC 6.1 ini. Dimulai dengan rangkaian adegan yang lambat, dan berputar-putar, sama seperti jalur yang dilalui si Taxi sebelum mengalami teror tersebut yang membuat penonton-penonton sok tahu seperti saya menebak-nebak yang akan terjadi selanjutnya. Ditambah lagi dengan sedikit "service" yang diolah dengan pintar namun tidak dibuat vulgar murahan dan diakhiri suatu hal yang masih menjadi misteri dan dapat diperdebatkan oleh para movie-buffs yang menonton. Dari casting dan make-up "Taxi" juga terbilang mantab, dimulai dari si pemeran taxi bertampang dan bersuara 'ganggu', bantuan akting dari Shareefa Daanish sebagai dara polos panikan, dan efek make-up keren membuat film ini menjadi akhir yang keren sekaligus menyenangkan di FISFIC edisi 6.1 ini.
82
_________________________________________________________
Penutup
Meragukan memang jika enam film di atas benar-benar enam film terbaik diantara 25 atau malah ratusan naskah yang dikumpulkan. Namun pasti juri-juri yang tidak bisa lagi diragukan kompetensinya itu memiliki pertimbangan sendiri ketika memilih film di atas, diantaranya pembagian tema yang berbeda-beda, seperti tema zombie-zombiean, horror hantu, dan lainnya yang dipilih dengan cerdik di FISFIC 6.1 ini. Seperti halnya memilih 11 pemain untuk diturunkan untuk sebuah pertandingan sepak bola sebenarnya bukan 11 terbaik yang dipilih, namun menyesuaikan kebutuhan. Selamat bagi para pemenang yang sudah mendapat kesempatan mewujudkan filmnya di layar INAFFF dan DVD nya dijual di pasaran. Dapat dimengerti dari awal memang jika para peserta merupakan filmmaker pemula yang dengan budget yang amat terbatas harus membuat film yang nantinya akan diputar di kalangan penonton INAFFF yang di antaranya merupakan orang-orang bawel banyak komentar adalah suatu yang sangat menyulitkan. Namun boleh lah, sebagai penonton kita mengharap FISFIC di tahun depan (jika ada) atau karya-karya mereka selanjutnya bisa lebih baik lagi nantinya.
Dipublikasikan pertama kali di: http://nonethe.posterous.com/inafff-2011-fisfic-61
Tag: Indonesia, inafff, omnibus, iNAFFF 2011
Terkait:
-
Lomba Cipta Video Klip Garuda Pancasila 2012
Sabtu, 5 Mei '12 23:53 -
Hi5teria (2012): Sekedar Histeria Omnibus
Rabu, 2 Mei '12 23:24 -
Cartoon Network Hadir dalam Format HD
Senin, 23 Apr '12 22:49

Komentar:
Hmmm.... *ngaca*
btw setelah ngobrol2, orang-orang punya peringkat sendiri2 ya. boleh lhoo dishare di sini
Silahkan login untuk memberikan pendapat