SANG PENARI : AN OUTSTANDING ACHIEVEMENT IN OUR CINEMATIC HISTORY 6

Kamis, 1 Des '11 22:10

SANG PENARI

Sutradara : Ifa Isfansyah

Produksi : Salto Films, 2011

            "Dramatisasi film ini lebih berani dari novel saya. Ini akan jadi dokumentasi visual penting jaman itu. Saya menangis. Saya datang sebagai penonton dan saya terhanyut.". (Ahmad Tohari's comment on 'Sang Penari'). Tak ada yang lebih menyisakan rasa penasaran saya ketika menyadari bahwa 'Sang Penari' yang merupakan adaptasi novel karya Ahmad Tohari, 'Ronggeng Dukuh Paruk', memiliki source yang sama dengan sebuah film Indonesia '80an yang pernah saya tonton, berjudul 'Darah dan Mahkota Ronggeng', yang disutradarai Yazman Yazid dan dibintangi Ray Sahetapy - Enny Beatrice di saat namanya bersinar di sejumlah film-film beratmosfer sensualitas dulu. Tak banyak memang yang saya ingat akan film itu kecuali sensualisme Enny dan aksi karate-karatean ala film kita di era '80an. Yang jelas, film itu memang bukan film bagus. Namun saya juga membaca beberapa berita bahwa Ahmad Tohari kecewa dengan adaptasi pertamanya dulu. And so, yes, I googled what he thought about this movie, yang baru saja melepas rasa kagum begitu besar ke sebuah pencapaian film kita.

            'Ronggeng Dukuh Paruk' (1982), yang awalnya digagas sebagai sebuah trilogi bersama 'Lintang Kemukus Dini Hari' (1984) dan 'Jantera Bianglala' (1985) namun belakangan dipublished menjadi satu novel saja, memang merupakan sebuah karya sastra yang unik atas temanya yang vulgar dan kontroversial. Vulgar karena mengangkat lembaran gelap kesenian yang berlindung dibalik istilah 'nilai kearifan lokal' atau 'seni pertunjukan rakyat' berliput adat istiadat satu daerah, dalam hal ini 'ronggeng' yang memang kerap dijadikan topeng prostitusi namun sering juga jadi bagian dari upacara adat baik di Jawa maupun Melayu Sumatra yang juga mengenal bentuk keseniannya dengan nama sama, dan kontroversial atas penggambaran gejolak politik dari ideologi komunis di tahun '60an. Dua-duanya sebenarnya berdiri solid sebagai fondasi dalam membangun kisah 'kasih tak sampai' dua karakter utamanya, Srintil dan Rasus, secara timbal balik. Itu tergantung apresiasi Anda, yang bisa saja berbeda dari kemauan si penulis. Namun yang jelas, 'Ronggeng Dukuh Paruk' memang tak hanya mau bernakal-nakal dibalik pengungkapan prostitusi semi-primitif itu. Ahmad Tohari malah berbicara lantang dalam bentuk protesnya terhadap keterkungkungan ideologi yang masih banyak tergelar di kehidupan bangsa ini. As he said, salah satu tradisi yang tergambar di novelnya, 'Bukak Klambu', bukanlah temanya semata, namun mungkin salah persepsi oleh otak-otak kotor pembacanya. Sesuatu yang disalahterjemahkan oleh Yazman Yazid dan penulis skenarionya dalam 'Darah dan Mahkota Ronggeng' dulunya.

            Now look back to the history of our cinema. Betapa tema-tema prostitusi, pelacur, perek atau apalah Anda menyebutnya, bersama sekumpulan lain dengan nada sama, mulai dari perkosaan, hamil di luar nikah, aborsi sampai narkoba yang hampir selalu dikaitkan dengan seks, bertaburan dan belum bisa dilepaskan dalam membangun ideologi penonton di negeri ini. Bahkan, beberapa karya seni yang mengatasnamakan feminisme pun menggali karakter utamanya dari warna-warni tipikal ini seolah dasar feminisme itu hanya soal ranjang belaka. Saya tak mau menyebutnya salah, tapi ada cara penyampaian yang relevan sejauh tak hanya sebagai topeng atau buat senang-senang saja dibalik nama hiburan. 'Sang Penari' adalah satu dari segelintir karya yang menempatkan tema-tema itu dalam relevansi jelas, sama seperti sumber adaptasinya. Ini bukan film seks dibalik sinematografi indah, se-vulgar apapun deskripsi yang digambarkan disini. Ia hanya menjadi senjata untuk penyampaian tema lain yang lebih besar dibalik keterkungkungan ideologi dalam sebuah lapisan masyarakat. Penuh protes dan mengajak semua pemirsanya ke sebuah perenungan panjang tentang hidup itu sendiri.

Dan adalah Shanty Harmayn, produser yang kita kenal sebagai pelopor JIFFest bersama penulis skenario Salman Aristo dan sutradara Ifa Isfansyah ('Garuda Di Dadaku') yang menerjemahkan semuanya dengan sangat baik. Seperti gagasan Ahmad Tohari, naskah keroyokan ketiganya hadir dengan nilai informatif yang jarang-jarang kita dapatkan dalam sebuah film Indonesia. Betapa saya yakin terutama orang-orang di luar Jawa, tak akan banyak yang mengetahui sejarah ronggeng ini dalam adat masa lalu di luar sekedar masalah topeng prostitusi dan sawer-saweran yang masih lekat hingga sekarang, bagaimana awal sebuah kampanye ideologis dikawinkan dengan hiburan rakyat, serta sepenggal sejarah gelap negara ini. Dan mereka tak sedang main-main dengan penggarapannya yang nyaris sempurna di segala sisi, mulai dari production values hingga pemilihan castingnya. Hadir dengan atmosfer yang mirip dengan 'Rembulan dan Matahari' , film arahan Slamet Rahardjo yang memperoleh nominasi film terbaik FFI 1979, yang juga banyak bicara di konflik adat, semua sisi penggarapannya berhasil melampaui karya klasik itu. Pilihan castingnya juara. Selain Slamet Rahardjo yang juga ikut berperan sebagai dukun ronggeng bersama Dewi Irawan, Happy Salma yang dulu pernah memerankan Srintil dalam sebuah pertunjukan monolog, dua peran utamanya, Oka Antara dan Prisia Nasution, menampilkan akting dan chemistry luar biasa.

Di sebuah desa, Dukuh Paruk, tahun '50an, Ronggeng yang merupakan ritual pemujaan terhadap Dewi Sri/Dewi Kesuburan yang harus terus dilaksanakan untuk mencegah paceklik dan kesialan di desanya, berkembang menjadi tradisi yang juga bertujuan menjaga makam leluhur mereka. Sang Ronggeng yang dianggap dipilih oleh leluhur itu juga dianggap jadi lambang kesuburan bagi para pria-nya. Para istri pun merasa bangga bila suaminya berhasil memerawani dan meniduri Sang Ronggeng lewat tradisi 'Bukak Klambu' dimana keperawanannya dilelang bagi penawar tertinggi. Saat Sang Ronggeng Dukuh Paruk (Happy Salma) menemui ajalnya bersama sebagian penduduk desa akibat keracunan tempe bongkrek, desa itu pun kehilangan semangatnya. Adat yang ada membuat mereka pasrah dengan kesialan yang siap menimpa mereka sewaktu-waktu. Pasangan suami istri pembuat tempe bongkrek itu pun meninggal di depan putrinya, Srintil. Sepuluh tahun kemudian, cinta Srintil dewasa (Prisia Nasution) yang sudah bersahabat sejak kecil dengan Rasus (Oka Antara) terhalang dengan tradisi ini. Pasalnya, Srintil yang punya kemampuan menari merasa harus menyerahkan dirinya untuk menjadi ronggeng atas dorongan sang kakek (Landung Simatupang) demi menyelamatkan desa sekaligus membersihkan nama keluarganya. Rasus awalnya tak rela, namun akhirnya ia menyerahkan juga sebuah keris peninggalan ronggeng lama yang sempat dipungutnya demi meyakinkan dukun ronggeng Kartareja (Slamet Rahardjo) dan istrinya (Dewi Irawan) bahwa Srintil adalah titisan ronggeng. Srintil pun menjadi milik seluruh warga Dukuh Paruk. Rasus yang kecewa lantas bergabung menjadi tentara dibawah Sersan Binsar (Tio Pakusadewo). Hubungan dan konflik cintanya terhadap Srintil tak pernah berakhir hingga akhirnya seorang mantan warga Dukuh Paruk, Bakar (Lukman Sardi) mengobarkan paham komunisme disana. Gejolak politik ke pemberontakan tahun 1965 membuat semuanya terpecah, dan Srintil yang lama-lama menyadari keterpurukan nasibnya ikut menjadi korban penculikan militer. Dari pertemuannya dengan Sakum (Hendro Djarot), pemain gendang kesenian ronggeng, sebagai satu-satunya warga Dukuh Paruk yang tersisa, Rasus pun menelusuri jejak Srintil.

Menerjemahkan novel dengan rentang puluhan tahun ke dalam film walaupun berdurasi hampir 2 jam penuh memang bukan masalah gampang. Namun sejak awal, trio Shanty Harmayn-Salman Aristo-Ifa Isfansyah sudah merangkai penuturannya untuk bisa diikuti dengan sangat mengalir. Sinematografi Yadi Sugandi yang menggambarkan atmosfer semu dan muram dibalik shot-shot panoramiknya menyatu dengan pengaturan set, kostum hingga make-up yang cermat. Adegan-adegannya tak dibiarkan tersia-sia oleh editing Cesa David Luckmansyah tapi bicara begitu lancar dari gambar-gambar yang tergelar tanpa kompromi untuk memaparkan penderitaan serta konflik para karakternya termasuk Srintil. Berani, vulgar namun tak pernah lari dari koridornya. Skor dengan style tradisional yang kental namun menyayat itu juga sukses sekali dibesut pasangan Aksan-Titi Sjuman. Dan tak hanya di departemen teknis produksinya, seluruh pendukungnya sama hebat dibalik dialek Banyumas yang kental hingga dialek Batak dalam pengucapan dialog-dialognya yang sempurna. Bahkan figuran yang numpang lewat pun terhandle dengan baik oleh Ifa. Para barisan aktor senior dan jagoan-jagoan teaternya tampil remarkable, terutama Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Tio Pakusadewo dan Lukman Sardi. Namun yang paling patut mendapat kredit adalah dua pemeran kuncinya, Oka Antara dan Prisia Nasution. Hadir dengan chemistry yang semakin memberi penekanan pada part lovestory Rasus dan Srintil yang serba pahit, mereka bermain penuh magis. Kadang menghanyutkan, kadang penuh nafsu dan emosi di ekspresi dan sorot matanya. Lihat turnover karakter Rasus dari pemuda ndeso menjadi tentara teguh yang dibangun Oka dengan tahapan-tahapan yang wajar dan believable, serta gestur, intonasi dan ekspresi eksotis Prisia saat harus berhadapan dengan tarian, kesedihan serta emosi dan tangisan yang tertahan. Untuk sebuah debut  layar lebar dari kiprahnya sebagai presenter dan beberapa FTV, ini lebih dari sekedar bagus. Now I'm gonna make it simple. Saat mereka meninggalkan kita dengan ending hurtful yang secara puitis merobek-robek hati setiap pemirsanya, you'll know then. This is an outstanding achievement in our cinematic history. Luar Biasa! (dan)

danieldokter.wordpress.com

 

 


Tag: review, Tio Pakusadewo, Slamet Rahardjo, Titi Sjuman, yadi sugandi, lukman sardi, ifa isfansyah, Happy Salma, Salman Aristo, t rifnu wikana, Sang Penari, Oka Antara, Prisia nasution, dewi irawan, shanty harmayn, landung simatupang, Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, Cesa David Luckmansyah, Aksan Sjuman

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 1 suka | 0
Aku setuju bahwa film ini bagus banget. Plus dua aktornya yang tampil paling cemerlang: Oka Antara dan Landung Simatupang.
Pia sebagai Srintil kadang dialognya kurang kejaga, tapi terlepas dari itu, overal Pia bermain bagus juga.

Slamet Rahardjo juga bagus sebagaimana biasa, hanya saja agak aneh melihatnya bertubuh subur di masa susah pangan seperti setting film ini : ) : D
jim96 0 0
sabai: ya scene slamet rahardjo ini sudah mengganggu di laskar pelangi dengan perut buncit yg agak berlebihan bagi seorang guru PNS (meskipun cukup makmur) dan seragamnya yang terlalu kinclong setara jas dpr (ups!). syukurlah ikranegara berhasil diet : D
danieldokter 0 0
haha. i see. but in some metabolic ways, seperti orang kurus yg bisa aja kadar kolesterolnya tinggi, karakter gemuk di desa paceklik jg wajar2 aja kok, kan mereka pacekliknya beras bukan di makanan lain : ). kita kan bicara soal Indonesia, bkn Afrika. sesusah2nya jaman G30S PKI dulu, biarpun ada yg mengais2 nasi, bukannya ga ada yg badannya tambun kok : ). Guru PNS gendut? itu juga banyak : ), sama kaya PNS2 lain dan polantas yg tinggalnya cuma di asrama polisi tapi rata2 buncit semua : )
Rijon 0 0
Suka novelnya. Dan filmnya cukup suka. Tapi, personally, aku nggak bakal menganggap ini sebagai "outstanding achievement." Achievement? Perhaps. Kalau dinilai berdasarkan kondisi perfilman lokal sekarang. Outstanding. I don't think so. Aku yakin film ini bisa lebih tajam dan lebih telanjang. : )

Terlepas dari itu, dan sejauh yang sudah kutonton, bolehlah ini dibilang film Indonesia paling oke tahun ini (berhubung kuantitas film lokal yang kutonton tahun ini seutil-util, boleh diragukan validitasnya : D). Seenggaknya film ini nggak sok self-righteous dan preachy ala film "itu-tuh."
jim96 0 0
Rijon: cukuplah rijon menyukai saja. karena masih butuh effort lebih besar untuk membuat rijon tersenyum puas ...

yg begini aja udah bikin mas sutradara keabisan energi hehehe ... mungkin mas rijon perlu bantu mijetin.
Rijon 0 0
jim96: Film ini lebih matang daripada bikinan sutradara "H." Which is not preachy. Gak berusaha mendiktekan, bahkan memaksakan, sugesti bahkan gagasannya ke penontonnya secara blak-blakan. Tapi cukup dengan bercerita. Which is right, dan memang yang paling mendasar yang harus dipahami. Yang artinya si pembuat film sudah berhasil memahami dan memanfaatkan salah satu kelebihan dari film sebagai medium seni: yaitu bercerita. Bukan berceramah. Poin paling mendasar, selain kekuatan visualnya.

Kurasa "Sang Penari" ini boleh-lah dibilang pengekornya Casablanca (tentu dalam artian yang baik ya). Atau "casablanca"-isme, sejalur dengan "Indochine," "Il giardino dei Finzi-Contini," dan judul-judul lain. Memanfaatkan kebombabay-bombayan kisah asmaranya sebagai medium untuk menyampaikan "sesuatu"--entah duka perangnya, politiknya, tetek-bengeknya. Untuk ranah sejenis, gak ada yang baru dari polanya, memang, entah dari segi naratif, gaya visual, atau apapunya. But, ya, apapun itu, Ifa Isfansyah cukup berhasil menyampaikan maksud novelnya dengan baik (berhubung aku juga sudah baca novelnya--tapi gak akan membandingkan). Yah, bolehlah, dibilang ini "Casablanca"-nya Indonesia. Tapi untuk sampai disebut outstanding achievement, kurasa di era krisis semacam ini, Indonesia perlu lebih dari ini.

Ifa Isfansyah itu sutradara film pendek, sebelum terkenal di "Sang Pencerah" dan akhirnya FFI. Aku baru nonton satu film pendeknya, yang bagian dari "Belkibolang." Judulnya, "Chit Chat." Menurutku itu lebih outstanding dari ini.

Silahkan login untuk memberikan pendapat