ARISAN! 2 : A PASSIONATELY FASCINATING GETAWAY 1

Rabu, 30 Nov '11 17:27

ARISAN! 2 

Sutradara : Nia Dinata

Produksi : Kalyana Shira Films, 2011

         1, 2 atau 3 tahun, itu sekuel. Nah kalau 8 tahun dengan barisan cast utama yang sama, itu namanya reuni. So what will you do in a reunion? A lot of chats, itu pasti. Mulai dari pengalaman pribadi sampai isu-isu sosial yang lagi 'happening' di sekitar Anda. And when you're come from a jetset society, pastinya, tempat akan jadi satu hal yang sangat layak dipertimbangkan. You won't choose an old buildings, your old school or college, tapi pasti situs-situs liburan dengan panorama indah.  A total getaway dimana Anda memang tak harus memikirkan tetek bengek kerjaan dan lainnya. Kalau bisa, problema hidup yang ada pun dicari sisi pelariannya. Dan semua bakal diwarnai old feelings yang masih 'bumped in' satu sama lain, oh yes. So this is it. Arisan 2, yang awalnya digagas sebagai proyek seorang Nia Dinata untuk merayakan 'life begins at 40s'nya, is a celebration of life. Waktu dimana Anda memulai guliran usia itu dengan sebuah getaway demi bersantai sesenang mungkin, if you could, with your loved ones. Oh ya, teman-teman baru yang dibawa teman Anda, mungkin? Kecuali kelasnya layak untuk dilihat, lupakan latarnya. Realita. Itu juga mungkin yang jadi alasan kenapa Nia tak lagi memerlukan pendalaman konflik dan karakterisasi seperti yang digelar Joko Anwar secara sangat, sangat, menyeruak di film pertamanya. This is Nia's own passion seperti yang dilukiskan di sepenggal kalimat akhir di epilognya. Sebuah pagelaran yang sangat personal, dan percayalah, kita semua bisa merasakannya. It's deeply passionate!

         8 tahun berlalu, dan banyak yang sudah berubah. Sakti (Tora Sudiro) yang sudah menemukan jatidirinya sebagai seorang gay kini tak lagi pacaran dengan Nino (Surya Saputra). Sakti kini dekat dengan Om Gerry (Pong Hardjatmo), pria paruhbaya yang belakangan diketahuinya adalah suami dari dr. Joy (Sarah Sechan), dokter kulit (yup, bukan bedah plastik ya. Itu beda.) pribadi Sakti, sementara Nino yang sibuk menjadi penggagas festival film, berhubungan dengan Octa (Rio Dewanto) yang masih berondong. Andien (Aida Nurmala) meneruskan hidup setelah ditinggal suaminya dan masih sibuk berkutat dengan bisnis EO-nya. Meimei (Cut Mini) harus berurusan dengan penyakitnya di bawah rawatan dokter herbal/tradisional Tom (Edward Gunawan) dan menyepi di pedalaman kepulauan Gili, Lombok. Lita (Rachel Maryam), pariban Sakti dari Medan kini sudah menetap di Jakarta dan menjadi single mother bagi putranya, Talu (Keiko Marwan). Sebagian ibu-ibu arisan itu juga masih berkumpul bersama penulis Yayuk Asmara (Ria Irawan) dan rekan dr. Joy, Ara (Atiqah Hasiholan). Sekilas semua penuh kepalsuan. Namun dibalik hingar-bingar sosialita dengan asesoris-asesoris mahal, suntikan botox dan chemical peeling untuk mengatasi ketakutan mereka menempuh umur yang menua bersama batasan-batasan berbeda di diri masing-masing, sahabat tetaplah sahabat yang sekali waktu masih perlu menghidupkan api di gairah-gairah yang hampir mati.

         Seperti sebuah reuni, di depannya, ini memang hanya gambaran penuh gegap gempita kesenangan. Riuh seperti film pertamanya. But look deeper. Ini tak jauh berbeda dengan pendalaman konflik dan karakterisasi dalam pengenalan karakter-karakter yang dulu dibesut Joko Anwar dalam skenarionya. Setiap konflik yang sekilas terasa superfisial itu, Nia sekaligus menyentuh ketakutan manusia dibalik sosialita, usia, kecemburuan hati dan batasan keinginan orang-orangnya. Termasuk beberapa isu sosial dan sindiran terhadap hal-hal yang sedang jadi trend di sekitar kita. Mau dari soal gay, lesbian, hal-hal seksual lain, social networking sampai ke masalah gorengan, kebanyakan dari sindiran itu kini malah tak lagi terasa segmental bagi makhluk luar kehidupan metropolitan. Dan Nia, memilih menyampaikannya kegelisahan itu dengan keindahan landscape dan sinematografi yang luarbiasa cantik, secantik bintang-bintang dengan konsep tampilan mulai dari kostum hingga set-set yang dipilihnya. Kita bisa tertawa, terhibur menyaksikan situs-situs getaway yang tampil sebagus brosur travel, tapi sekaligus balik melihat ke belakang atas konflik-konflik yang sama. Semua pendukungnya masih menghadirkan akting yang sangat konsisten ke film pertama yang sudah berjarak 8 tahun itu. Cut Mini yang sangat 'full of passion' di seluruh gestur dan ekspresinya, Tora Sudiro yang kembali menyadarkan kita akan potensinya setelah tercemar film-film komedi tanpa juntrungan dengan chemistry yang tetap super bersama Surya Saputra, Rachel Maryam dengan logat Batak meski tetap tak bisa pas di lafal 'kau'nya, Pong Hardjatmo yang menunjukkan ke-senior-annya meski sedikit tipikal dengan perannya di 'Babi Buta Yang Ingin Terbang', sampai Rio Dewanto dan Edward Gunawan sebagai ensembel baru. Jauh bertolak belakang dengan debut fenomenalnya di '?' yang temperamen, Rio Dewanto sangat juara memerankan Octa dengan segala atribut gay berondong-nya, bersama Edward Gunawan, aktor sekaligus sineas baru asal Medan (film pendeknya, 'Payung Merah', masuk dalam nominasi FFI tahun ini) yang tampil sekalem karakter mereka sebagai dua penebar pesona terbesar di film ini. Oh ya, jangan lupa juga tampilan singkat Adinia Wirasti sebagai bartender Molly dengan dialek Bali yang tak lari sedikit pun dalam menyampaikan atmosfer full of passion itu. Score dan pilihan soundtracknya juga sama juara mengantarkan sinematografi panoramik yang serba cantik tadi. After all, life is all about passion, and this is a show of beauty that simply landscaped our hearts. Tak hanya sebuah sekuel aji mumpung yang serba kosong, namun sebuah passionate getaway yang sangat, sangat, mempesona di semua sisinya. (dan)

danieldokter.wordpress.com

 

 


Tag: Tora Sudiro, Sarah Sechan, Ria Irawan, rio dewanto, Nia Dinata, arisan 2, pong hardjatmo, atiqah hasiholan, Cut Mini, Rachel Maryam, Surya Saputra, Edward Gunawan, Aida Nurmala

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 0 0
Kalo buat gw, juaranya Tora Sudiro, Aida Nurmala, Adinia Wirasti dan Rio Dewanto.... Penilaian gw secara umum terhadap film ini agak bertolak belakang sih dengan rebiew ini hehehe. Tapi sebagai sesama penonton, sama-sama bebas berinterpretasi kan...

Silahkan login untuk memberikan pendapat