The Tree of Life: Sebuah Surat Cinta Untuk Tuhan 0

Minggu, 27 Nov '11 11:15

Nov 26 - Terrence Malick adalah rare bird di dunia film. Hampir 50 tahun rentang waktu, dan baru lima film yang dihasilkannya. Film ke-2 dan ke-3 terpisah jeda sebesar 20 tahun. Selain itu, dia terkenal pemalu dan tak pernah mau mengekspos dirinya di muka publik, namun karya-karyanya berbicara banyak. Mayoritas filmnya adalah sebuah perwujudan lukisan indah. Setiap framenya tak hanya mengandung esensi keindahan tapi juga bercerita walau tanpa kata.

The Tree of Life merupakan feature film ke-5 Malick setelah terakhir dia berkarya pada tahun 2005 melalui The New World. The Tree Of Life dapat dikatakan merupakan sebuah passion project Malick yang dikembangkannya sejak tahun 1970an saat mengerjakan Days of Heaven. Proyek yang berjudul Q, semula akan bercerita tentang penciptaan alam semesta. Walau pada akhirnya Malick tidak meneruskan proyek ini, The Tree of Life memuat elemen-elemen yang semula akan dimasukkan ke dalam Q. Pengambilan gambar film ini sudah dilakukan sejak tahun 2008, dan direncanakan rilis pada musim dingin tahun 2009. Namun film belum selesai melalui proses post-production saat itu, dan akhirnya dijadwalkan untuk rilis saat Festival Film Cannes 2010. Kembali Malick menyatakan, filmnya belum siap. Sampai pada akhirnya The Tree of Life baru bisa ditayangkan pada tahun 2011 ini dengan premiere di Festival Film Cannes. Film ini direncanakan nantinya memiliki spin-off berupa sebuah dokumenter berjudul The Voyage of Time yang merupakan pengembangan fragmen moment of creation yang ditampilkan pada The Tree of Life.

The Tree of Life bercerita tentang sebuah keluarga di Texas pada dekade 50an. Berfokus kepada perjalanan hidup dari putra tertua keluarga O'Brien, Jack (Hunter McCracken), mulai dari masa kanak-kanak sampai tahun-tahun penuh kekecewaan seorang dewasa. Dia mencoba untuk berdamai dengan dirinya sendiri dan hubungannya yang rumit dengan ayahnya (Brad Pitt). Jack dewasa (Sean Penn) pada akhirnya tak lebih dari jiwa yang tersesat di dunia modern, mencari jawaban atas masalahnya, dan juga asal-usul dan makna dari kehidupan sementara mempertanyakan keberadaan Tuhan.

The Tree of Life merupakan sebuah surat cinta dari Malick untuk Tuhan. Ini adalah wujud rasa kebersyukuran Malick kepada-Nya. Apa yang termuat di dalamnya adalah pujian, pengakuan dosa, dan juga kepasrahan akan kekuasaan-Nya. Malick sendiri banyak mengambil referensi dari Injil. Namun walau memuat banyak referensi dari injil, filmnya sendiri terasa sangat universal. Sehingga efek yang dihasilkan bukanlah religiusitas, tetapi spiritualitas. Bagaimana tidak spiritual? Film ini memuat tentang kelahiran, tentang kehidupan, tentang kematian. Ini tentang kebahagiaan, tentang kesedihan, tentang penerimaan, tentang rasa syukur. Ini tentang hubungan manusia dengan manusia, tentang hubungan manusia dengan alam, tenatng hubungan manusia dengan Tuhan. Ini tentang segala yang ada di dunia. Dengan hal-hal tersebut, film ini memang terasa berat dalam tema, namun jika mau bersabar dan melihat lebih dalam, kita akan menemukan bahwa film ini kontemplatif dan merupakan perenungan akan kehidupan.

Terkait dengan sifatnya yang kontemplatif itulah, saya sering menyebut bahwa film-film Malick bagaikan puisi dalam bentuk gambar. Dan film ini makin menguatkan hal tersebut. Sinematografi yang sangat luar biasa oleh Emmanuel Lubezki semakin mempertajam kesan "puisi dalam bentuk gambar" tersebut. Hal ini juga memperkuat faktor kebersyukuran Malick kepada Tuhan, seolah dengan menangkap gambar-gambar dengan detail yang sangat bagus, ia ingin mengucapkan terima kasih atas hal-hal yang dia tangkap melalui kamera. Selain gambar-gambar indah tersebut, kesan puitis pun tertangkap dalam narasi yang diucapkan oleh Jessica Chastain hampir sepanjang film. Indah, penuh makna.

Secara teknis, film ini memang sama luar biasanya dengan kisah yang disajikannya. Selain visual indah hasil kerja Emmanuel Lubezki, terdapat nama Douglas Trumbull pada divisi visual effect. Trumbull adalah orang yang bertanggung jawab atas visual effect 2001: A Space Odyssey, dan ini merupakan karya pertamanya dalam 29 tahun setelah terakhir kali di Blade Runner. Malick yang tidak puas akan visual effect hasil CGI meminta Trumbull untuk menghasilkan efek visual menggunakan practical effects dan efek optis ‘kuno'. Hasilnya? Luar biasa. Visual effect yang sangat menakjubkan, terutama pada momen penciptaan dunia (sebuah bagian yang tidak terkait langsung dengan sub-plot keluarga O'Brien, namun relevan terhadap kisah keseluruhan); indah dan powerful. Selain itu ada nama komposer Alexandre Desplat yang musiknya memperkuat nyawa film ini, dan juga 5 orang editor (Hank Corwin, Jay Rabinowitz, Daniel Rezende, Billy Weber, dan Mark Yoshikawa) yang membantu Malick dalam menyusun kisah maju-mundur The Tree of Life. Sebagai catatan, ini adalah film Malick yang pertama setelah Badlands yang memuat adegan sesuai dengan waktu saat film dirilis. Film-film sebelumnya selalu bersetting pada periode waktu tertentu seperti Amerika awal 1900an (Days of Heaven, 1978), Perang Dunia II (The Thin Red Line, 1998), dan masa kolonialisasi bangsa Eropa (The New World, 2005).

Di lini akting, bisa dikatakan, ini adalah penampilan terbaik Pitt. Selain itu, film ini juga merupakan ajang pertunjukkan bakat Hollywood's-next-best-thing, Jessica Chastain. Namun yang menjadi perhatian di film ini adalah Hunter McCracken sebagai Jack muda. Akting dan transformasi karakternya sangatlah luar biasa. Kepedihan yang dialaminya terasa nyata. Dan menakjubkan bagaimana dia bisa mengaduk emosi penontonnya, membuat dia dari semula karakter yang disukai, menjadi karakter yang menyebalkan namun patut dikasihani.

Film ini adalah love-or-hate-it movie. Penggemar Malick akan menemukan sebuah film yang sangat memuaskan mereka, sebaliknya penonton awam akan melihat film ini sebagai sesuatu yang membingungkan. Gaya penceritaan yang Malick gunakan memang seringkali inkonvensional. Momen demi momen saling tumpang tindih tidak berurutan dan seperti tidak berkaitan. Bahkan jika dibandingkan dengan 21 Grams milik Alejandro González Iñárritu, The Tree of Life jauh lebih abstrak dalam bercerita. Jika ada yang membingungkan dalam segi narasi (dan memang seperti itu), itu karena film ini memang tidak ingin terfokus pada satu hal. Film ini mencakup keseluruhan alam semesta, dan sub-plot keluarga O'Brien dan konflik hubungan Jack dengan Mr. O'Brien hanyalah satu fragmen sangat kecil dalam besarnya alam semesta untuk mewakili kisah manusia di dunia. Bahasa simbol yang kuat pun makin memperkuat kesan abstrak film ini. Ada karakter Chastain sebagai perwakilan keanggunan alam, lalu karakter Brad Pitt sebagai perwakilan kekuatan alam yang kadang tidak terkontrol. Selain itu, referensi kepada kisah Nabi Ayub (Job) melalui karakter Jack dan kisah hidupnya pun sangat kuat dikaitkan dengan fragmen kisah keluarga O'Brien. Oleh karena itu, butuh pemahaman lebih dalam menyaksikan film ini.

Ya, film ini mungkin adalah film yang bisa dibilang too artsy, too experimental, too personal, too Malick. Tapi itu tidak menutup fakta bahwa ini adalah sebuah masterpiece. (abn)

 

 


Tag: movie, review, terrence malick, The Tree of Life

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat