AYAH, MENGAPA AKU BERBEDA? : WELCOME TO THE INDONESIAN DRAMAXPLOITATION 7
Minggu, 20 Nov '11 20:21
AYAH, MENGAPA AKU BERBEDA?
Sutradara : Findo Purwono HW
Produksi : Rapi Films, 2011
So, genre exploitation ternyata tak hanya jadi milik film aksi, horor, seks sampai fantasi. Di tanah Indonesia yang serba ajaib ini, drama juga punya exploitation-nya, let's now call it 'Indonesian Dramaxploitation' yang dari dulu sudah jadi trademark tersendiri buat film-filmnya. Anda bakal disarankan membawa ember untuk menampung tak hanya airmata penonton, tapi juga airmata para pemerannya yang yakinlah, jumlahnya bahkan lebih banyak, demi mengharap kelatahan penonton ('tertentu') ikut menangis. Terasa tak aneh? Oh, think again. Berbeda dengan film-film Asia yang memang terkenal melodramanya, ada satu bangunan yang beda dengan gaya khas kita. Selagi film India atau film Asia lain, sekarang yang pastinya tak kalah bermain-main di airmata, Korea, mengeksploitasi dramanya dari hubungan personal para karakter dan kalaupun ada penderitaan cuma satu-dua yang dibahas sampai ke ujungnya sehingga terlihat wajar dan sulit untuk dikritik, kita membuat sesuatu yang spesial. Lain dari yang lain. Adalah nasib buruk yang dieksploitasi jauh lebih ketimbang yang lain, makanya aktor dan aktris ini harus punya kemampuan spesial buat menangis. Ya iyalah, saat Anda jatuh ketabrak mobil kemudian ketimpa tangga lantas kecebur di got yang di dasarnya bom, pasti satu-satunya yang bisa Anda lakukan adalah menangis. Begitu bertubi-tubinya penulis-penulis kita ini mengeksploitasi penderitaan itu sampai keseluruhan ceritanya, akhirnya, membuat penonton-penonton yang belum kehilangan hubungan sosial ke dunia luar (baca=waras), malah ketawa terbahak-bahak. Jadi mungkin sebagian besar bangsa Indonesia itu memang suka diajak menangis, ya mungkin-mungkin saja. Ini adalah eksploitasi tapi kalau ditanya selalu berlindung dibalik pesan. Berharga memang, uplifting, tapi pesannya bisa diulang-ulang sebanyak satu bundel buku yang setahun pun yang tak akan habis dibacakan.
Nah, baru saja yang namanya 'Surat Kecil Untuk Tuhan' tempo hari jadi film terlaris di negerinya sendiri, sampai-sampai dalam waktu dekat kita akan menyaksikan extended version yang mungkin semakin lagi menambah satu dua penderitaan terjatuh dan ketimpa tambahan itu (sementara 'L 4 Lupus' untungnya tak jadi beredar luas karena terkena penyakitnya sendiri), muncul lagi 'Ayah, Mengapa Aku Berbeda?' yang diangkat dari karya sama besutan novelis yang sama juga genre eksploitasinya, Agnes Davonar. Menceritakan penderitaan seorang gadis tuna rungu bernama Angel yang lagi-lagi diperankan orang yang sama dengan 'Surat Kecil Untuk Tuhan', Dinda Hauw, yang punya kemampuan ekstra mengeluarkan airmata dan raut wajah se-sendu Faradilla Sandy yang dulu jadi ikon di 5 franchise Dramexploitation Indonesia paling terkenal, 'Ratapan Anak Tiri'. Polanya kurang lebih sama juga, ya yang itu tadi. Ketabrak mobil, ketimpa tangga, kecebur got. Dasar got-nya? Dari paku kecil sampai bom, ada.
Plotnya tentang perjuangan hidup gadis tuna rungu itu. Sejak kecil, Angel (Dinda Hauw) sudah dilahirkan dengan kekurangan indera tersebut. Ibunya pun meninggal karena melahirkan dia. Namun kemampuan akademisnya yang menonjol membuat gurunya di SLB menyarankan sang ayah (Surya Saputra) untuk memasukkannya ke sekolah biasa dengan kepindahan mereka ke Jakarta untuk mengurus toko roti nenek Angel (Rima Melati). Disinilah baru Angel menyadari dirinya berbeda karena sebagian teman-temannya menertawakan dan mengejek problem fisiknya. Angel pun menjadi korban bully oleh sekumpulan siswi populer yang dipimpin Agnes (Kiki Azhari). Bertubi-tubi. Berdarah-darah. Masih belum klise? Muncullah sang sahabat sejati, yang fisiknya meski tak kekurangan indera apapun, merupakan murid geek berbadan gendut dan berwajah aneh yang juga sering dibully. Masih kurang klise? Oh ya, sang ayah yang selalu jadi pegangan Angel ternyata memiliki problem jantung yang diekspos secara berlebihan, dan dari awal kita sudah tahu kemana nasibnya akan berakhir. Belum cukup lagi? Seorang pelayan café yang sekaligus vokalis band (Indra P. Sinaga/Naga Lyla) yang kecantol dengan bakat Angel yang piawai bermain piano, pun dijatuhi eksploitasi penderitaan lain setelah kita hampir yakin kompetisi piano atas dorongan guru musik (Rheina Maryana) sudah akan mengakhiri penderitaannya. Dalam durasinya sebagai sebuah film, ini bagaikan kutukan yang terus-menerus datang ke kehidupan Angel, yang terus mencoba tegar menghadapi semuanya. Pesannya memang mengajarkan bahwa cacat fisik tak menjadi halangan untuk pemberian lain yang harus dipandang serba adil dari Yang DiAtas. Tapi percayalah. This is an exploitation. Real exploitation.
Sebegitu bersemangatnya sepertinya seluruh penggagas film ini termasuk sang sutradara, Findo Purwono HW, untuk mengeksploitasi nasib buruk itu sampai-sampai melupakan penggarapan cermat sebagaimana film-film kita yang lain. Apalagi ini juga melibatkan deskripsi medis yang tak pernah muncul dengan akurat. Sejak awal film ini sudah tersandung di flashback adegan kematian ibu Angel pada saat melahirkan. Begitu nafasnya terhenti di tengah persalinan, dokter dan susternya hanya diam di tempat tanpa memperlihatkan prosedur seharusnya yang ada. Cuma ada si ayah yang langsung memeluk dan teriak-teriak. Belum lagi di gambaran penyumbatan jantung yang diderita karakter ayah. Entah memang malas berkonsultasi atau seperti biasa, penulisnya (oh ya, ini Titien Watimena lagi) mengandalkan google dan sok pintar, Findo mengarahkan Surya secara berlebihan setelah karakternya divonis gangguan jantung. Walau tak punya uang untuk tindakan sekali pun, tak ada itu namanya penderita jantung koroner yang langsung berbicaranya jadi putus-putus dan satu-satu seperti orang ngos-ngosan, langsung bersyal kemana-mana dengan celak mata yang sengaja ditebal-tebalkan di bawah matanya. Namun lagi seperti biasa, aktor kita , termasuk Surya yang sebenarnya bukan aktor dengan kemampuan akting jelek, seperti berusaha mendapatkan Oscar menggambarkan problem secara tak masuk akal ini. Tak hanya menangis dan menangis terus di sepanjang film, mengucapkan dialog saja semua karakter utamanya seakan sudah ditimpa beban seberat ribuan ton.
Oke, sesekali Findo bersama bintang-bintang ini termasuk Rima Melati memang bisa menangkap momen melankolisnya. Vokalis band Lyla yang tengah naik daun, Naga, juga muncul dengan wajar di tengah akting santainya. Dinda, ya begitulah, tak jauh beda dengan 'Surat Kecil Untuk Tuhan', ia memang mengandalkan rengekan demi rengekan dibalik tampang melankolisnya. Score yang seperti mau mengadopsi gaya David Foster dengan thrill-thrill pianonya itu juga bekerja dengan baik di beberapa bagian meskipun tak dimaksimalkan di sinkronisasi adegan permainan piano Dinda. Tapi semuanya memang sudah rusak dari premisnya yang penuh eksploitasi keterlaluan itu dan terus dipanjang-panjangkan hingga tak lagi kelihatan wajar. Klimaks adegan kompetisinya pun gagal, bahkan ternyata masih berlanjut lagi dengan eksploitasi lain yang dilanjutkan ke sebuah twist (whatttt??) yang tak lagi jadi berarti hanya dengan menampilkan karakter yang diperankan Fendy Chow hanya sekelebat-sekelebat. Bahkan muncul pula sebuah closeup wajah cowok manis baru yang entah darimana datangnya di pengumuman lulus-lulusan yang membuat saya makin yakin jangan-jangan mereka sudah menyiapkan extended versionnya kalau film ini laku. Kalaulah airmata-airmata itu cairan semen, berarti 'Ayah, Mengapa Aku Berbeda ?' sudah membuat kurang lebih 500 M sel spermatozoa di dalamnya terbuang percuma. Sama seperti waktu kita. (dan)
danieldokter.wordpress.com
Tag: Rima Melati, surat kecil untuk Tuhan, Dinda Hauw, Ayah Mengapa Aku Berbeda, Agnes Davonar, Findo Purwono HW, Surya Saputra, Rheina Maryana, Dramaxploitation, Faradilla Sandy, Indra P Sinaga, Ratapan Anak Tiri
Terkait:
-
MODUS ANOMALI : LET THE GAMES PLAY ON!
Jumat, 27 Apr '12 03:28 -
MALAIKAT TANPA SAYAP : TAK CEMERLANG, TAPI RUPAWAN
Jumat, 10 Feb '12 05:51 -
ARISAN! 2 : A PASSIONATELY FASCINATING GETAWAY
Rabu, 30 Nov '11 17:27

Komentar:
* malah mikir yg ngga2 liat pemeran2 wanitanya *ups.. hehe
* mengernyit karena elemen penting di novelnya ga ditampilkan, misal kenapa nenek tidak setuju saat angel akan pindah ke sekolah umum
* gank ce bullynya bikin malu..mereka sendiri. bahkan kalau aku jadi anggota geng itu aku juga langsung hengkang
*geng ce smp sudah seperti itu?kok ketuaan rasanya..
* setuju.. penderitaan tiada akhir kayak film jaman 80an aja
* oh iya..ada iklan asuransi loh
* bingung sebenarnya..kok bisa angel pintar bermain piano..
* smp nya angel hebat...bayangkan..cuma test soal matematika tentang lingkaran aja bisa masuk skul..dan main piano dikit di ruang musik bisa masuk club musik
*tag line ter 'hahahaha':
"aku bantuin kamu ya..gini2 ip ku 3,sekian loh" (sombong kali kau..)
* fendy chow..ngapain kamu disitu? jadi emergency exit ya..
sebenarnya masih ada..tapi duh udahlah.. yang penting novel naratif yang sebenarnya punya premis bagus ini jadi menye2(mendayu2) yang terlalu over di filmnya..sayang banget..
maaf kalau tidak berkenan..
jadi, trailernya aj jelek gitu gimana filmnya? ternyata review ini menjawab itu.
Silahkan login untuk memberikan pendapat