Sang Penari : Sang Ronggeng - Cinta, Magis, dan Politik Indonesia. 6

Minggu, 13 Nov '11 23:42

         Sekian lama setelah tidak menulis dan finally akan kembali membuat review mengenai film karya anak bangsa yang begitu mengagumkan. Kapan terakhir kali saya rela buru-buru ke bioskop demi film Indonesia? Ok itu sudah lama sekali. Dan ini terjadi lagi pada saat perilisan Sang Penari 10 November lalu. Honestly saya sampai memasang reminder di handphone saya. Sang Penari sudah lama lalu lalang di timeline twitter saya. Ditambah pada saat gala premiere yang ternyata dihadiri beberapa sutradara dan artis-artis dunia perfilman yang kebetulan saya follow. Joko Anwar salah satunya, and he is my favourite. Yap tanggapan beliau begitu luar biasa seusai menyaksikan film ini. Dan tentu saja saya semakin tertarik untuk menontonnya sampai-sampai memutuskan untuk bolos kelas demi menjadi penonton pertamanya.

            First ada rasa kecewa pada saat sadar bahwa Sang Penari tidak diputar serentak di seluruh 21, XXI, atau Blitz Megaplex. Pemutaran di hari pertama terkesan sangat terbatas. Tapi rasa kecewa itu tidak sampai mengurungkan niat saya. Ok i decided to watched it at Plaza Senayan. Namun ada kejanggalan, ternyata kursi bioskop saat itu justru tidak penuh. Entah karena show time terpagi atau faktor lain. Namun kesimpulan yang saya ambil mungkin karena Sang Penari tidak melakukan promosi besar-besaran di media. Its more like talk less do more! Mungkin karena keyakinan juga bahwa mereka menayangkan sebuah film yang memang layak ditonton.

            Sang penari mengetengahkan konflik cinta 2 insan muda Srintil dan Rasus. Dimana mereka terjebak diantara cinta, impian, obsesi, juga pergolakan politik Indonesia pada masa itu. Semua baik-baik saja, hingga orang tua Srintil tanpa sengaja membunuh si Ronggeng sebelumnya yang diperankan begitu apik oleh Happy Salma, dan Srintil mulai mengagumi dan bermimpi untuk menjadi Ronggeng di desa Dukuh Paruk tersebut. Menjadi seorang ronggeng bukan berarti ia hanya akan menari, menyanyi, melainkan ia memegang harapan seluruh warga desa tersebut. Suatu adat bahwa setiap ronggeng harus menjalani upacara buka kelambu pun harus dijalankan oleh Srintil sebagai resiko yang harus dia ambil demi pengabdiannya kepada desa Dukuh Paruk. Hingga membuat Rasus harus merasakan pahitnya cinta dan memutuskan menjadi tentara. Belum lagi konflik yang muncul dengan kedatangan Bakar (Lukman Sardi) yang ternyata seorang oknum Partai Komunis Indonesia yang memiliki misi me”merah”kan desa Dukuh Paruk yang tidak bisa baca dan tulis tersebut. Inilah perjuangan cinta yang dibalut dengan pergolakan politik pada masa itu.

            Akhirnya kerinduan saya akan film Indonesia berbobot kembali dijawab oleh sang sutradara Ifa Isfansyah. Dengan cemerlangnya beliau memvisualisasikan film yang terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk ini. Cinematography dan Scoring yang indah menambah nilai positif selain unsur cerita yang kuat dalam film ini. Detail music yang digunakan sangatlah menakjubkan. Lalu pengambilan gambar setiap scenenya benar-benar memanjakan mata. Menurut saya basic cerita dan pengkarakteran setiap cast begitu kuat. Konflik cinta antara dua insan yang lugu di sebuah kampung terpencil mungkin akan menjadi sangat biasa saja. Namun dalam film ini ada unsur magis yang ditambahkan melalui si Ronggeng dan unsur politik yang begitu kental melalui sepak terjang oknum partai komunis yang ditolak besar-besaran pada saat itu. Mulai dari kedetailan apa itu Ronggeng, apa saja yang harus dijalani ketika menjadi ronggeng, bahwa menjadi ronggeng harus memiliki indang, dan upacara untuk menjadi seorang ronggeng semua terkesan begitu magis. Benar-benar terasa oleh para penontonnya. Lalu sepak terjang Bakar yang secara perlahan maupun pasti juga memberi kesan tersendiri. Memang rumor sudah banyak yang menyatakan bahwa di dalam Sang Penari akan ada unsur-unsur PKInya, namun saya tersadar saat para tentara mulai was-was. Dan jujur, awalnya saya tidak menyangka bahwa ternyata Bakarlah sang oknum PKI. Upayanya memerahkan desa Dukuh Paruk benar-benar rapi, tanpa cela. Bahkan seisi desa pun tidak menyadarinya (selain karena buta huruf tentunya). Porsi cinta, dan politik yang ada begiu pas. Tidak berat sebelah. Film ini benar-benar epic! Dari tone warna yang dipakai. Semua sempurna! Bahkan keseluruhan setting dan wardrobe yang menyesuaikan zaman pada masa itu semuanya terlihat cantik semua menghipnotis dan mampu membawa kita menerawang kejadian yang akan disampaikan oleh sang sutradara. Detail-detail yang ada benar-benar diperhatikan. AMAZING.

            Dari segi akting pun semuanya benar-benar mengejutkan. Prisia Nasution seorang bintang ftv yang biasa-biasa saja menurut saya. Ok honestly saya gaperna memperhatikan namanya. Mendadak tampil dengan luar biasa, dengan penjiwaan yang menakjubkan di film ini. Ia memerankan Srintil dan benar-benar meyakinkan kita bahwa ia adalah seorang Srintil, gadis jawa lugu yang bermimpi menjadi seorang Ronggeng demi mengabdikan diri ke desa Dukuh Paruk. Dan ia meyakinkan kita secara magis bahwa ia memang memiliki gift atau indang sebagai seorang ronggeng. Yap this is her time, dia menghipnotis keseluruhan penonton melalui aktingnya. Its perfect! Sedangkan Oka Antara , em, ok entah mengapa saya merasa saat awal dimana ia masih lugu semua terlihat dipaksakan. Dia justru tampil memukau saat sudah menjadi tentara. Dia terlihat begitu paa! Pintar. Dan Lukman Sardi, ok beliau memang sudah tidak bisa diragukan lagi. He looks so brilliant. Namun ada satu cast yang mengambil bagian kecil di film ini namun menari perhatian saya. Yap she is Happy Salma. She looks gorgeous there! Andai dia diberi tambahan scene. Dia benar-benar seorang ronggeng! Jadi, Prisia dan Happy Salma benar-benar memegang karakter yang mereka mainkan! Kali ini merekalah bintangnya, inilah tahun mereka.

            Melalui Sang Penari sepertinya perfilman Indonesia akan kembali menari dirumahnya sendiri bahkan mungkin di negeri tetangga. Film  ini bnar-benar merupakan harapan perfilman tanah air kita di masa mendatang. Penggunaan bahasa jawa yang memang bahasa asli Indonesia ditambah penggunaan subtitle Inggris begitu pas. Belum lagi keindahan ibu pertiwi yang dieskpos dan konflik sejarah bangsa Indonesia yang diselipkan dalam film ini akan semakin mengenalkan bangsa Indonesia ke dunia perfilman Internasional. Yah semoga saja melalui film ini , perlahan tapi pasti dunia perfilman kita yang sempat mati suri karena serangan hantu-hantu seksi yang melakukan pembodohan moral itu kembali berkobar lagi. At least, pada FFI tahun ini minimal film ini akan merajai berbagai nominasi, dan saya harap bisa maju menjadi film terbaik! Maju perfilman Indonesia!

 

Regards,

@dnielcarmichael


Tag: review, Sang Penari

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

venus 0 0
aku belum nonton. duh : (

katanya gak rame penonton juga ya? dan kalo seminggu pertama dianggep gak rame, akan segera diturunin filmnya sama si 21.
ray rain 0 0
ini karya ahmad tohari bukan ya?? dlu pas SMP pernah baca novelnya, katanya sih udah sempat diterjemahkan di beberapa negara versi bukunya
sabai 0 0
venus: aku nonton tgl 10 Nov pas persis hari pertama main di 21 cinepleks dan terisi 1/3 tempat duduk di Citos.
semoga film ini ramai penontonnya yaaa biar tayang lama di bioskop. aku suka film ini walaupun dialog dan menarinya Prisia masih kaku, belum terlihat 100% sebagai Srintil : )
danielcarmichael 0 0
wah kalo aku malah ngerasa Prisia amazing banget, ronggengnya dapet. hehe, mungkin alasan aku kagum ma dia karena dia bener-bener lepas dari karakter biasanya di ftv. memang ga sebagus Happy Salma, tapi menurutku Prisialah masa depan perfilman kita : D maju film Indonesia.
sabda mifka 0 0
wah, tulisan yang semakin bikin saya penasaran untuk segera menonton filmnya.
sabai 0 0
danielcarmichael: untunglah aku nggak pernah nonton Prisia di FTV jadi obyektif ngeliat dia main jadi Srintil aja....tanpa perbandingan : )

Ini review keren soal film Sang Penari, bukan gue yg nulis dan gue suka banget: http://blontankpo…ari-lengger/

Silahkan login untuk memberikan pendapat