Ashes of Time (1994): Sisi Lain dari Kecepatan dan Kerapuhan Pedang 2

Jumat, 11 Nov '11 23:51

Menonton film besutan Wong Kar Wai bertajuk Ashes of Time (1994, versi 'redux' 2008), kita memang bertemu para pendekar pilih tanding yang memiliki hubungan literal dengan buku silat Chin Yung bertajuk Legend of The Condor Heroes dan Return of Condor Heroes.

Selayaknya film silat, kita juga akan melihat adegan-adegan perkelahian, ketangkasan bermain pedang, juga darah yang mengucur. Tapi, keumuman yang bersangkut dengan dunia kang-ouw ini tampil serba minimal, sedang kemelut hati manusia lebih tampil optimal. Film ini, saya kira adalah usaha memandang sosok pendekar dari arah yang lain. Lebih pada kompleks pribadi mereka sebagai manusia wajar yang tak seratus persen mampu melupakan ingatan; yang mungkin masih bisa kita jumpai dalam diri kita sendiri.

Bermula pada musim kering yang melanda daratan Cina, cerita bergulir: Ouyang Feng (diperankan Leslie Chung) bermigrasi dari Gunung Onta Putih menuju padang gurun untuk mencari peruntungan nasib. Di wilayah yang gersang ini, ia membuka penginapan dan menjadi agen bagi para pendekar bayaran. Penginapan ini pun lalu menjadi pusat latar cerita dimana satu demi satu pendekar datang dan pergi; mereka membawa problema hati masing-masing sebelum menuju suatu nasib yang tak dapat ditolak. Dan Ouyang Feng menjadi saksi sekaligus penutur bagi kisah mereka, juga penutur bagi kisahnya sendiri yang dimamah oleh sepi.

***

1.      Cangkir dan masa lalu yang tersingkir 

Pendekar pertama bernama Huang Yaoshi (diperankan Tony Leung Ka-Fai). Ia bermata sendu, rambutnya tergerai sebahu, dan selalu muncul dari arah timur. Pada suatu hari Huang Yaoshi mengunjungi penginapan dengan membawa arak yang konon memiliki kekuatan sihir. Pada sebuah beranda yang berangin, Huang Yoshi bercerita bahwa secangkir arak yang dibawanya mampu untuk menghapus seluruh masa lalu. Ouyang Feng mendengar tanpa ekspresi, untuk sementara ia tak percaya.

Di hari yang sama, pada malam hari di sebuah sudut ruang penginapan yang remang, Huang Yoshi duduk dalam kondisi mabuk. Pada saat itulah Ouyang Feng terbersit niat untuk menguji keampuhan arak yang diminum Huang Yaoshi. Mencoba mengungkit ingatan-ingatan Huang Yaoshi, Ouyang Feng bertanya tentang awal mula mereka bertemu dan kapan pertama kali Huang Yaoshi tiba di penginapannya.  Jawaban yang ia terima pendek saja, Huang Yaoshi tak mengingat apapun. Tapi, ada sesuatu yang tak biasa dalam sikap Huang Yaoshi, ia selalu menatap sangkar burung kosong yang berputar di depannya. Terpancing rasa ingin tahu, Ouyang Feng bertanya lalu Huang Yoshi menjawab karena ia tak merasa asing pada sangkar burung itu. Bertahun-tahun kemudian, Huang Yoshi akan memilih hidup menyendiri bersama seluruh kenangannya di pulau Persik. Dunia kang-ouw lalu mengenalnya sebagai Dewa Timur.

2.      Sangkar burung dan pribadi yang terkurung

Seorang gadis mengalami patah hati, ia berlari tergesa di lorong-lorong penginapan sembari menenteng sangkar burung. Ia meminta bantuan jasa Ouyang Feng untuk membunuh kakak laki-lakinya yang beniat membunuh kekasihnya. Dua saudara yang bertikai itu berasal dari klan Murong, sang kakak bernama Murong Yan dan si adik bernama Murong Yin (kedua-duanya diperankan Brigitte Lin).

Pertikaian kakak beradik itu berpangkal dari janji seorang lelaki yang tak ditepati. Lelaki itu adalah Huang Yaoshi yang berjanji akan menikahi adik Murong Yang. Pada suatu siang yang telah ditentukan, si adik menunggu calon suaminya, tapi yang didapatnya hanyalah kecewa. Melihat kekecewaan Murong Yin, Murong Yan dengan marah meminta jasa Ouyang Feng untuk membunuh Huang Yaoshi, dan sebaliknya Murong Ying meminta jasa Ouyang Feng untuk membunuh Muron Yang yang berniat menghabisi nyawa Huang Yaoshi.

Dua tawaran itu pada akhirnya tak pernah direliasasikan oleh Ouyang Feng, sebab pada akhirnya ia tahu bahwa Murong Yang adalah Murong Yin yang menyamar sebagai laki-laki. Atau lebih tepatnya, keduanya berada dalam satu tubuh sebagai sangkar yang mengurung dua pribadi yang terluka akibat kekecewaan cinta. Pada akhirnya, Murong meninggalkan penginapan dan memilih hidup menyendiri di suatu danau. Bertahun-tahun kemudian ia tersohor sebagai pendekar sakti yang berlatih pedang dengan pantulan bayangannya di air sungai, konon tak ada yang sanggup mengatasi kecepatan pedangnya.

3.      Pedang dan darah yang bersuara

Seorang pendekar yang akan mengalami kebutaan di usianya yang ke 30 tahun (diperankan Tony Leung Chiu-Wai) kehabisan biaya untuk pulang menuju kampung halaman. Ia berniat untuk terakhir kali menatap keindahan musim berkembangnya bunga persik sebelum dunia dipandangnya gelap gulita. Tersebab keinginan itu, sang pendekar menemui Ouyang Feng untuk meminta pekerjaan. Ouyang Feng pun menyetujuinya dan menawarkan jasa memberantas gerombolan bandit yang meresahkan warga di suatu kampung.

Sebelum menjalani tugasnya, pendekar yang nyaris buta ini, meminta Ouyang Feng untuk memanggil jagoan pedang di wilayah terdekat sebagai ujian apakah ia masih tangkas dan cepat bermain pedang. Ouyang Feng lagi-lagi menyetujui dan melihat duel tersebut yang akhirnya dimenangkan pendekar buta dalam sekali tebasan.

Berhari-hari di penginapan menunggu kedatangan gerombolan bandit keduanya terlibat percakapan. Dari perbincangan sore yang berangin dan malam-malam bersama arak, Ouyang Feng tahu bahwa pendekar buta itu memiliki riwayat cinta yang pelik: Istri yang dicintainya dan ditinggalkannya ternyata lebih mencintai sahabat karibnya yang bernama Huang Yaoshi. Singkat cerita, lalu bertarunglah pendekar buta ini dengan ratusan gerombolan bandit. Sayangnya segala harapan tak menemui kenyataan, siang itu menjadi naas baginya. Lehernya tertebas bilah pedang dan saat itulah ia tahu pedang yang menebas dengan cepat menyebabkan darah yang menyembur bersuara, suara yang mungkin sepahit cintanya.

4.      Telur dan kembalinya jati diri manusia

Seorang pendekar muda bernama Hong Qi (diperankan Jacky Cheung) hidup dalam kemiskinan dan lapar saat meninggalkan desanya tapi ia memiliki keunggulan dalam kecepatan bermain pedang. Melihat kekurangan serta kelebihannya ini Ouyang Feng terpikir bahwa Hong Qi bisa menjadi sumber uangnya jika memanfaatkan kelebihannya untuk memberantas kelompok-kelompok bandit yang meresahkan warga.

Dugaan Ouyang Feng benar. Hong Qi selalu berhasil untuk menyelesaikan tugas darinya. Tapai suatu hari diluar pengetahuan Ouyang Feeng, Hong Qi menerima suatu pekerjaan yang tak masuk akal. Ia menyetujui untuk memberantas gerombolan bandit ahli pedang dengan imbalan sekeranjang telur. Hong Qi memang berhasil menjalankan tugasnya namun ia harus menerima nasib kehilangan ibu jari tangan kanannya yang berdampak pada kecepatan ayunan pedangnya.

Ouyang Feng pun kecewa menerima kenyataan ini. Tapi Hong Qi tak ambil peduli, ia memiliki satu alasan kuat mengapa ia menerima pekerjaan yang tak masuk akal itu. Mungkin di satu sisi keahliannya akan berkurang, tapi disisi lain sekeranjang telur itu membuat dirinya serasa hidup kembali, ia menyadari kini ia bertindak demi kebenaran dari niat yang tulus bukan tergoda oleh besarnya imbalan semacam uang. Hong Qi pada akhirnya pergi bersama istrinya meninggalkan penginapan, tiga tahun berselang ia menggabungkan diri bersama partai pengemis dan berhasil menjadi pimpinan partai yang berjuluk Pengemis Utara.

***

Datang dan perginya empat pendekar itu pada akhirnya menyisakan kesendirian yang abadi pada Ouyang Feng. Keempatnya adalah representasi biografi negatif Ouyang Feng yang selama hidupnya ingin disangkalnya. Seperti Huang Yaoshi, ia tak pernah mampu melupakan ingatan, seperti Murong pribadinya terkurung diantara keinginan meninggalkan masa lalu atau kembali meraih masa lalu, seperti si pendekar buta kekasih yang dicintainya pada akhirnya memilih untuk menikahi adik kandungnya dan seperti Hong Qi yang belum tercerahkan ia adalah seseorang yang dingin dimana kebenaran nurani tertutup oleh sikap yang mementingkan keuntungan pribadi. Ouyang Feng mencoba menolak dengan menghapus segala ingatan buruk serta nasib piatunya dengan meneguk arak peninggalan Huang Yaoshi. Tapi pada akhirnya ia tahu, sihir arak itu hanyalah lelucon dan omong kosong. Ia pun kembali menuju kampung halamannya, lalu tersohor sebagai pendekar yang disegani berjuluk Racun Barat.

Kelima pendekar pilih tanding dalam film Ashes of Time ini memang memiliki kerapuhan masing-masing, mungkin kita bisa berkaca dengan menghayati kembali biografi mereka untuk menghayati biografi diri kita sendiri. Tapi saya tak tahu tabahkah kita untuk menengok kerapuhan diri sendiri?

 


Tag: Wong Kar Wai, Romance, review film

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 0 0
Aduhh film favorit saya ini...
Rasjid 0 0
kniwe: bagaimana pandangan pribadi Kniwe terhadap fil ini? salam kenal ya.

Silahkan login untuk memberikan pendapat