Zhou Yu’s Train (2002): Kereta Tak Menunggu Penumpang yang Datang Terlambat 2
Minggu, 6 Nov '11 01:17
Aku melihatmu dalam mimpi
Bagai gelembung-gelembung udara yang bergerak terus
Kau menari santai. Lambat laun menelan diriku
Menelan malam, menelan dirimu
Puisi pendek itu ditulis oleh seorang penyair yang belum tersohor, dalam tempo yang singkat -mungkin tanpa coretan- pada sebuah ruang yang diterangi lampu bulat warna-warni -hijau, kuning, biru, merah- dan diberbagai sudut ruang tampak porselen secoklat tanah liat disusun menumpuk. Nama penyair itu Chen Qing, ia salah satu tokoh imajinatif dalam film Zhou Yu's Train yang diperankan oleh Tony Leung Ka-Fai.
Puisi pendek tanpa judul itu menjadi bagian penting dari sebuah narasi tentang cinta. Di satu sisi puisi mengekspresikan ketertarikan seorang penyair yang terpesona oleh gemulai tarian seorang gadis. Sedang di sisi lain, puisi menimbulkan terbentuknya benih-benih perasaan seorang gadis pelukis persolen yang jatuh hati pada penyair. Nama gadis itu Zhou Yu, ia diperankan oleh Gong Li.
Seperti pada umumnya film yang bertitik berat membicarakan persoalan asmara, cinta antara Chen Qing dan Zhou Yu tak selalu berjalan lempang. Kebahagiaan berada di awal sedang kerinduan mengikuti saat keduanya berpisah, tapi pada sebuah ujung yang dinamakan takdir: cinta dan rindu keduanya berakhir tak sampai. Keduanya dipisahkan oleh jarak sepanjang ratusan kilometer, si gadis tinggal di Sanming dan si penyair tinggal di Chongyang, namun setiap akhir pekan gadis pelukis porselen menyempatkan diri menumpang kereta api untuk mengunjungi si penyair yang tinggal di ruang perpustakaan tua.
Dalam ruang domestik Chen Qing yang dipenuh buku itu, perasaan cinta keduanya bertemu secara privatif dalam adegan-adegan yang sentimentil dan erotis. Kadang Chen Qing akan membacakan puisinya dengan keras-keras sambil berdiri di atas meja menghadap pada Zhou Yu, kadang keduanya tak perlu bahasa lagi sebab pelukan dan ciuman menyempurnakan kerinduan.
Sedang pada perjalanan dalam kereta api yang merupakan ruang transportasi publik, perasaan kerinduan berada dikehibukan komunikasi publik, pada ruang inilah kemungkinan-kemungkinan dapat terjadi. Dalam gerbong kereta, Zhou Yu akan bertemu dengan Zhang Qiang, seorang dokter hewan yang diperankan Sun Honglei. Pertemuan dan komunikasi keduanya lambat laun akan mengakibatkan dilema pada diri Zhou Yu, sedang bagi film pertemuan ini mengembangkan narasi yang berbicara tentang cinta segitiga.
Dalam Film Zhou Yu's Train ini, tampaknya puisi yang ditulis Chen Qing difungsikan sebagai titik alur kronologis. Hal ini ditandakan dalam kerja pengutipan puisi bertajuk "Danau Malaikat" yang mengalami repetisi secara massif pada bagian pembuka (awal mula tokoh Zhou Yu diperkenalkan), bagian tengah (awal mula Zhan Qiang bertemu dengan Zhou Yu), dan ending film (akhir hidup Zhou Yu). Jika kerja repetisi ini diasumsikan untuk mempertegas adanya sesuatu yang penting, saya kira letak kepentingan itu berada pada peran puisi yang mendeksripsikan identifikasi diri, konflik, dan perubahan dinamika psikologis tiga tokoh utama. Sebelum kita berbicara lebih jauh, simak kutipan puisi "Danau Malaikat" yang saya maksud di atas:
Agar kau mau mendengarku, terkadang
Suaraku menjadi sangat lembut
Angin sepoi membelah retak-retak lapisan es
Danau Malaikat, porselen yang memabukkan
Menjadi selembut kulitmu dalam genggamanmu
Bagi Chen Qing, sudah jelas bahwa puisi mengidentifikasikan dirinya pada sosok seorang penyair yang memfungsikan puisi sebagai media ekspresi bagaimana ia membahasakan perasaan cintanya pada Zhou Yu. Sebagai ruang ekspresi, puisi ternyata menimbulkan bias, yaitu konflik batin dimana Chen Qing tak mengerti lagi apakah Zhou Yu lebih mencintai puisinya atau mencintai dirinya. Sedang sebagai penyair, dalam film ini puisi tampaknya diyakini sebagai kerja kreatif yang jauh dari keuntungan ekonomi dimana secara tragik dalam bagian adegan peluncuran buku Chen Qing yang diterbitkan dari hasil penjualan warisan porselen kelarga Zhou Yu ternyata tak dihadiri oleh satu orangpun, sehingga Chen Qing merasa frustasi dan nantinya memilih tawaran untuk bekerja sebagai guru di daerah Tibet.
Bagi Zhou Yu, puisi adalah dokumentasi perasaan Chen Qing pada dirinya yang tak mudah lepas dan terus mengikuti walau ia telah menjalin hubungan cinta tersembunyi dengan laki-laki lain. Puisi-puisi Chen Qing yang selalu ia ingat menimbulkan konflik batin yaitu perasaan tak tentram sebab telah berkhianat. Sedang bagi Zhan Qiang, puisi Chen Qing adalah pusat kecemburuan, sehingga ia kerap kali ingin merealisasikan imajinasi Chen Qing untuk menarik simpati Zhou Yu. Tapi niat Zhan Qiang tak pernah berhasil, dalam salah satu adegan semisal ia mengundang Zhou Yu untuk menghadiri pesta yang bertempat di sebuah danau buatan untuk menyindir bahwa berada di tengah danau (kenyataan) lebih indah daripada terlena oleh sebuah khayalan tentang danau yang ditulis Chen Qing dalam puisi "Danau Malaikat".
Pada akhirnya, ending cerita ditutup dengan ujung perpisahan selamanya. Chen Qing menetap di Tibet dan tak ingin kembali untuk tinggal di Chongyang. Sedang Zhou You memilih meninggalkan Zhan Qiang dan melakukan perjalanan menuju Tianshui, rute terjauh yang ditempuh kereta api.
Sayangnya, nasib malang tak dapat ditolak: Zhou You ketinggalan kereta sehingga ia beralih menumpang bus menuju Tianshui. Dalam perjalanan ini ia mengalami kecelakaan yang mengantarkannya pada rute terakhir perjalanan manusia. Andai Zhou You datang tepat saat jam pemberangkatan kereta, mungkin perpisahan juga kematian tak semestinya ada, tapi kita tahu kereta tak menunggu penumpang yang datang terlambat.
Tag: Gong Li, Romance, Tony Leung Ka-Fai
Terkait:
-
A Lot Like Love (2005)
Senin, 19 Des '11 09:48 -
Ashes of Time (1994): Sisi Lain dari Kecepatan dan Kerapuhan Pedang
Jumat, 11 Nov '11 23:51 -
You've Got Mail (1998)
Kamis, 27 Okt '11 06:24

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat