Sang Penari (2011) 1

Sabtu, 29 Okt '11 13:30

Kebetulan saya sudah membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk yang diadaptasi menjadi film Sang Penari ini, hanya satu buku dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari memang, dan saya juga telah membaca beberapa resensi tentang buku itu melalui internet. Jadi resensi di bawah merupakan resensi seorang penonton yang sudah membaca salah satu bukunya. Menulis tentang film ini (termasuk bukunya) memang harus hati-hati karena menyangkut ideologi dan fakta sejarah yang masih diperdebatkan dan dibicarakan sampai sekarang.

Bercerita tentang desa kecil yang di Jawa. Sebuah desa yang mempunyai nilai sederhana dan tidak mengenal yang ribet-ribet yang penting semua senang, dan salah satu hal utama yang menopang gaya hidup mereka tersebut adalah budaya ronggeng. Gaya hidup mereka kemudian terganggu akibat kurangnya pengetahuan dari warganya yang tidak memiliki pengetahuan yang memadai dan jelas tidak pernah belajar ilmu penanganan pangan di IPB (...), terjadilah bencana 'besar' yang merenggut nyawa beberapa warga di desa yang bernama Dukuh Paruk tersebut yang juga merenggut ronggeng terdahulu Surti (Happy Salma), musibah menggemparkan itu terjadi dikarenakan keracunan tempe bongkrek yang dibuat oleh orang tua Srintil (Ni Made Aurel. kecil -Red).

Beberapa tahun kemudian, Dukuh Paruk kembali menggeliat dengan adanya Srintil (Prisia Nasution) semakin dewasa dan muncul ke permukaan dan diharapkan menjadi Ronggeng baru di desa itu. Sesungguhnya bakat Srintil telah tercium dari kecil oleh kakeknya Sakarya (Landung Simatupang). Sakarya pun yakin bahwa Srintil telah kerasukan indang ronggeng atau arwah ronggeng. Ambisi sang kakek tidak bertepuk sebelah tangan karna Srintil pun mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi ronggeng. Selain memang mempunyai passion untuk njoget (menari) keinginannya menjadi Ronggeng juga dipicu oleh perasaan bersalah karena Ayah dan Ibu nya lah yang membuat tempe bongkrek sumber mala petaka desanya sewaktu ia kecil, baginya meronggeng merupakan wujud darma bakti untuk Dukuh Paruk. Srintil sempat mengalami penolakan oleh dukun ronggeng Kartareja (Slamet Raharjo) yang menganggap ronggeng bukanlah sekedar njoget namun juga ronggeng itu dipilih oleh leluhur Ki Secamenggala yang sejatinya merupakan moyang seluruh warga Dukuh Paruk. Kemudian Rasus, teman sepermainan dari kecil yang saling mempuyai rasa dengan Srintil juga berkeberatan dengan keinginan Srintil menjadi ronggeng dikarenakan sebagai ronggeng Srintil nantinya bukan hanya menjadi miliknya, namun juga menjadi milik bersama. Pun begitu, melihat keinginan Srintil yang kuat, Rasus kemudian memberikan sebuah keris kecil yang diam-diam ia pungut waktu ketika ronggeng sebelumnya wafat. Melihat Srintil tiba-tiba mendapatkan keris tersebut sang dukun ronggeng kemudian percaya bahwa Srintil memang "hyang terpilih" dan pantas menjadi ronggeng.

Namun ini bukan semata-mata film tentang seorang gadis meraih cita-cita seperti film-film musikal atau sejenisnya, cerita tidak berakhir begitu saja. Ketika rasa sakit hati Rasus semakin menjadi melihat Srintil yang sudah menjadi (literally) milik bersama. Rasus kemudian melamar pada angkatan bersenjata setelah sebelumnya sempat dibawa ke markas. Sersan Slamet (Tio Pakusodewo) yang melihat ada potensi besar pada Rasus sejak pertama melihatnya langsung menyetujui. Rasus yang sudah masuk angkatan bersenjata namun buta aksara -seperti halnya masyarakat Dukuh Paruk lainnya- diajari membaca, menulis dan tentu mendapat pendidikan militer seperti pada umumnya. Konflik makin menjadi ketika hampir seluruh warga Dukuh Paruk dicurigai sudah "dimerahkan" oleh ideologi komunis yang dibawa oleh salah satu kader PKI bernama Bakar (Lukman Sardi). Budaya ronggeng yang dipakai sebagai propaganda pihak Partai, kemudian ikut membawa-bawa Srintil terlibat dalam pergerakan komunis.

Secara fisik, berbeda dari novelnya dimana tidak mungkin adegan-adegan sensual yang dalam novelnya dihadirkan dalam karakter berusia 11 dan 14 tahun (salah satu aspek yang membuat novel ini termasuk mind-blowing), dimainkan ketika mereka sudah remaja. Selain itu yang juga agak berbeda, kemudian film Sang Penari seolah menghadirkan Srintil sebagai pihak yang disalahkan dimana ia ngotot menjadi Ronggeng sehingga Rasus harus meninggalkannya.

Sebagai sebuah film yang diadaptasi dari novel, sebenarnya sah-sah saja jika film ini ditambah narasi agar membantu penonton memahami bagian-bagian yang terlompat di hasil akhir. Namun pihak priduksi yang disutradarai Ifa Isfansyah dan skenarionya ditulis oleh Salman Aristo mungkin jenuh dengan film-film Indonesia yang terlalu banyak narasinya. Pihak produksi mencoba mengambil resiko dengan menghadirkan sebuah film adaptasi novel yang hadir tanpa bantuan narasi, hal yang bukan tanpa masalah tentunya. Beberapa kejanggalan ditemukan dalam film ini, salah satunya entah darimana di tengah cerita, ada adegan dimana Srintil mendadak obsesif terhadap seorang bayi. Adegan tersebut terasa janggal dan tidak natural apalagi bagi yang belum membaca novelnya, kemungkinan akan kebingungan karena tidak tahu Srintil memang diceritakan ditengah novel mendambakan seorang bayi dan kemungkinan berasumsi bahwa Srintil hanya kesurupan. Dan beberapa pertanyaan yang timbul menyangkut beberapa yang tidak bisa diterangkan disini karna terlalu spoiler.

Secara ambigu Sang Penari mengangkat orang-orang desa yang tidak tahu apa-apa sebagai korban, ya, korban dari kedua belah pihak yaitu PKI dan Angkatan Bersenjata RI. Dimana pihak PKI merekrut para Petani miskin yang tidak tahu apa-apa apalagi soal ideologi dan mendaftarkan nama mereka. Namun di sisi lain film ini juga membenarkan akan terjadinya pembantaian besar-besaran orang-orang yang terkait PKI oleh Angkatan Bersenjata kita pada waktu itu, sedikit apapun keterkaitannya, walaupun adgan-adegan eksekusi tidak terlalu frontal divisualisasikan di sini seperti halnya adegan penyiksaan oleh PKI dalam film propaganda 'Pemberontakan G-30S'. Dan yang menarik, film ini juga memperlihatkan oknum yang sebenarnya terlibat langsung Partai Komunis, berhasil kabur, bukan hanya kabur malah jadi dekat dengan pihak Angkatan Bersenjata.

Di luar kebingungan yang timbul, Chemistry antara Prisia Nasution yang biasa dikenal sebagai aktris FTV dan model iklan ddengan Oka Antara amat terasa. Berdua, Prisia dan Oka yang bisa dibilang menjalankan double cast peran dari yang awalnya mereka berdua masih sama-sama sangat muda dan polos dan kampungan, menjadi pria dan wanita yang dewasa yang sudah merasakan asam garam hidup, hal yang biasanya menggangu saya pribadi kalau menonton sebuah film, namun di film ini, dengan tata make-up dan akting yang baik justru menghibur walau mungkin terasa agak dibuat-buat. Selain itu film ini bisa dibilang secara garis besar berhasil menyampaikan maksudnya dan apa yang terjadi di masa itu dan kepedihan pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Teknik penceritaan dan sinematografi di film ini yang digunakan secara tepat pun bisa dibilang turut menjadi nilai tambah.

RATTING: 7.5/10

Produser: Marcia Rahardjo
Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis Naskah: Salman Aristo
Pemeran-Pemeran: Prisia Nasution, Oka Antara, Slamet Rahardjo, Landung Simatupang, Lukman Sardi, Happy Salma.


Tag: Indonesia, 2011, Sang Penari

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

hasfiuw 0 0
garis bawahin dong ini siy teteh FTV Prisia Nasution,haha cantik.

Silahkan login untuk memberikan pendapat