Perfume: The Story of a Murderer -- "Wewangian" Yang Kurang "Menghanyutkan" 2
Kamis, 27 Okt '11 14:09
Sutradara: Tom Tykwer
Cast: Ben Whisshaw, Francesc Albiol, Gonzalo Cunill
Rilis: 2006
Film ini diangkat dari sebuah novel best seller dengan judul yang sama. Sebuah fiksi yang cukup unik, berani, dan bagi sebagian orang akan merasa menakutkan. Kisah yang berseting Perancis pada abad ke-18 ini mengusung tema drama triler dengan segala ketidakmasukakalannya walaupun sebenarnya menggunakan penceritaan yang sangat dekat dengan realita.
Sama seperti adikarya kebanyakan yang diangkat dari sebuah novel, film inipun menggunakan narator sebagai pemandu penonton selama film berjalan. Film pun bergerak mulus dengan menggunakan konsep tiga babak pada umumnya, yakni pengenalan tokoh, munculnya masalah, dan penyelesaian masalah. Film dibuka dengan kemunculan sosok pria lusuh dalam sel menanti hukuman, dan beberapa detik kemudian narator akan menarik penonton ke masa silam untuk menceritakan siapa lelaki dalam tahanan itu dan permasalahan apa yang sedang dihadapinya.
Di awal pemutaran, film ini berjalan sangat cepat untuk mengenalkan riwayat lelaki tadi. Dikisahkan Jean Baptiste Grenouille (Ben Whishaw), lahir di tempat pembuangan ikan dari rahim seorang pedagang ikan di sebuah pasar yang jorok dan penat. Si Ibu berniat membuang Jean, namun sebelum maksudnya itu terlaksana para pengunjung dan pedagang pasar lainnya mencium niat busuk perempuan itu, lalu kemudian menghukum gantung dengan kasus pembuangan bayi.
Kehidupan Jean semakin luntang-lantung ketika dijual dari tangan ke tangan, hingga akhirnya dia mengabdi pada lelaki tua peracik parfum ternama. Jean yang sudah dewasa belajar pada pak tua cara meracik parfum, dan dengan modal penciuman yang tajam dia bisa mengkombinasikan bahan-bahan parfume untuk menjadi wewangian luar biasa.
Pengenalan masalah pun muncul ketika Jean bereksperimen meracik parfume dengan caranya sendiri dan menggunakan lemak hewan sebagai medianya. Dari sinilah penonton mulai dikejutkan dengan pemandangan “nyeleneh” dari praktek pembuatan parfum ala Jean hingga menyeretnya pada sebuah candu yang mengerikan.
Film yang diadaptasi dari novel karya Patrick Suskind ini diselesaikan dengan akhir yang sedikit mengecewakan dan mengada-ada. Padahal jika diperhatikan, begitu ”manusiawinya” film ini berjalan dari awal hingga mendekati ending yang didukung dengan sinematografi dan artistik yang luar biasa indahnya, namun justru ditutup dengan ending yang membuat kening mengkerinyit. Bukan hanya itu, film yang mendapat rating R ini bahkan kurang mampu menghadirkan separuh saja dari kengerian penuh terror yang ada di novelnya.
@junpalim

Komentar:
endingnya itu bikin saya gak ngerti maksudnya apa.
Silahkan login untuk memberikan pendapat