ABDUCTION : A LESSON TO LEARN 3
Selasa, 4 Okt '11 05:31
ABDUCTION
Sutradara : John Singleton
Produksi : Vertigo Entertainment, Quick Six Entertainment & Lionsgate, 2011
Let's talk about Taylor Lautner. He's one of the highest paid teenage actor in Hollywood now. Mengawali karir sebagai bintang cilik diantaranya dalam 'Cheaper By The Dozen' (oh yes, look at that dvd cover again and you'll find him) dan 'The Adventures of Sharkboy and Lavagirl'-nya Robert Rodriguez, Lautner meraih puncak ketenarannya sebagai werewolf hunk, Jacob Black, dalam Twilight Saga. Sebagian boleh-boleh saja menganggapnya overrated dengan tampang eksotis dan postur sixpack penuh otot yang diperjuangkannya demi mempertahankan peran Jacob dalam 'New Moon', di luar sejarah dirinya yang juga pernah jadi juara turnamen karate anak-anak. Namun kenyataannya, tak perduli seberapa kesalnya Lautner-haters itu, filmnya selalu dipenuhi teriakan histeris para penonton cewek-cewek belia. Sejumlah award berbasis viewers' choices pun diraihnya dengan cepat, belum lagi gelar-gelar 'most amazing bodies' dari majalah People dan beberapa list sexiest man. So when you gained that level of popularities, body bagus dan punya kemampuan martial arts yang tak sekedar baru coba-coba, there are no better reasons than to push it to the top. Tahun ini, Lautner bersama ayahnya, Dan Lautner, juga mendirikan Tailor Made Entertainment, sebuah rumah produksi miliknya yang turut memproduksi debutnya sebagai calon bintang aksi baru. The young Bourne, some said. Kritik pedas yang menenggelamkannya ke rating terendah situs-situs film internasional? Ah, rasanya mereka tak bakal perduli. Penonton-penonton cewek itu tetap histeris melihat tampilan Lautner di depan layar, dan itu berarti kans besar bagi sebuah perolehan box office. Let's bet. Selain dwilogi akhir Twilight yang masih bakal muncul dalam waktu dekat, tak perduli dengan pukulan kritikus ke film ini, Lautner pasti bakal terus muncul lagi dalam sejumlah film aksi atau bahkan franchise-franchise superhero. 'X-Men:First Class' awalnya sudah mengkastingnya biarpun akhirnya batal. Ain't it right?
Abduction pun dibuka dengan hingar-bingar dunia remaja menuju sebuah pesta. One of those boys, Nathan Harper (Lautner) lantas ditonjolkan ke depan mata kita sebagai karakter utamanya. Ia punya ayah, Kevin (Jason Isaacs), yang kerap melatihnya beladiri dengan full contact, serta ibunya, Mara (Maria Bello) yang selalu jadi penengah. Then comes the oh. Nathan ternyata kerap berkonsultasi dengan psikiater dr. Geraldine Bennett (Sigourney Weaver) atas mimpi-mimpi buruknya yang berulang dengan visi sama, seorang wanita yang dibunuh lelaki bertopeng. Comes another oh, Nathan's highschool crush, Karen Murphy (Lily Collins ; daughter of Phil Collins), yang suka ribut dengan pacarnya dipasangkan gurunya dengan Nathan dalam sebuah tugas kelompok, dan oh lagi, ternyata Karen adalah tetangga Nathan sejak kecil. Pengerjaan tugas itu lantas mengantarkan lagi oh lainnya, sebuah website anak hilang dimana mereka membuka sebuah gambar yang oh, mirip dengan Nathan kecil. Bocah itu bernama Steven Price. Nathan kemudian menyadari bahwa Steven dan dirinya memang sama oleh oh-oh yang lain, sebuah kaos bernoda yang oh, masih disimpan di basement rumahnya, dan Kevin dan Mara bukan orangtua kandungnya. Tepat saat ia meminta pengakuan, sekelompok teroris Rusia menyambangi rumahnya. Kevin dan Mara dibunuh, dan oh, Karen ternyata baru hendak memasuki rumah yang kemudian meledak. Nathan pun segera melarikan diri bersama Karen dibantu dr. Bennett yang menyadarkannya dengan oh-oh yang lain, sementara pimpinan teroris Rusia, Viktor Kozlow (Michael Nyqvist) serta agen-agen CIA dibawah komando Frank Burton (Alfred Molina) terus melacak jejak mereka. And another oh keeps coming their way.
Tentu tak ada yang salah dalam premis missing identity dalam sebuah film action. Ratusan bahkan ribuan film sudah berhasil menggunakan formula ini. Namun 'Abduction', oh, mind me for that sort of (might be) spoilers tapi trailernya yang terus terang, cukup seru itu, sudah membeberkan lebih dari 50% isi filmnya. Yang kemudian kita saksikan dari skenario karya seorang frontman band Stellastarr, Shawn Christensen, yang kabarnya dibeli dengan harga mahal oleh pihak produksi, adalah kisah dengan plothole lumayan berantakan di sana-sini. Sekilas tampak sebuah puzzle yang menarik, namun caranya membeberkan hint seperti pendongeng yang seketika membuka oh-oh dan ternyata-ternyata-nya dengan ketololan tingkat tinggi lebih ke penggalan-penggalan dialog ketimbang gelaran adegan penuh twist yang membiarkan penontonnya menyusun satu demi satu potongan. Dan tak hanya itu, beberapa karakter yang muncul di sela oh-oh tadi pun suka pupus entah kemana. Entah mengapa produser-produsernya termasuk sutradara yang sudah punya nama besar John Singleton bisa terlihat percaya sekali dengan kekuatannya sampai merencanakan Abduction menjadi sebuah trilogi ala Bourne dengan gembar-gembor mereka di beberapa press release. So it's broken already, masih ada faktor jualan yang lain.
Of course it's Lautner's persona of an upcoming Hollywood's action hero. Sayang ini juga hadir dengan ketololan cukup tinggi. Otot gede dan tampilan Lautner yang ngotot melakukan banyak stunt-nya sendirian memang cukup meyakinkan, termasuk koreografi aksi pertarungan yang bagus. Tapi ia tak punya ekspresi yang salahnya paling dibutuhkan dalam film-film berfondasi twist seperti ini. Boro-boro mau menyaingi Matt Damon atau Daniel Craig yang menomorsatukan akting dalam membangun intensitas imej mereka secara seimbang sebagai action hero, bahkan action hero lain yang lebih menonjolkan otot tanpa akting bagus, apa yang kita lihat kemudian jauh lebih parah dari itu. Lautner terus muncul seperti seorang coverboy yang tengah berpose merem-melek untuk tak sekalipun kelihatan jelek difoto. Oh ya, Lautner mungkin tahu sekali saja ia membuka kancing lebih, berbaju super ketat sampai bertelanjang dada seperti senjatanya dalam Twilight, semuanya sudah beres. But he's wrong. Bahkan soundtrack serba emo yang mengesankan ini adalah film remaja tak bisa kelihatan sinergis dengan style mati-nya itu. Lily Collins pun kurang lebih sama. Ketimbang mencoba menyamai karakter yang sebenarnya digelar dengan potensi lebih, ia lebih memilih jadi boneka barbie yang seakan terus berekspresi 'what?', 'what?', di sepanjang durasinya. Komponen antagonisnya yang terlihat seseram instalmen 'Die Hard' pun ikut tersisih jadi terlihat tak penting. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Abduction, meski tak terlalu banyak, justru adalah banyaknya bintang senior yang mau-maunya tampil disini. Dari Jason Isaacs, Maria Bello, Alfred Molina, Sigourney Weaver sampai Michael Niqvist, aktor Swedia yang tampaknya bakal menyaingi Stellan Skarsgard atas kesukesan fenomenal 'The Millenium Trilogy' itu, plus Dermot Mulroney, yang meski hanya tampil sekilas dengan shot sebagian wajah, ekspresi dan intonasi dialognya benar-benar bagai langit dan bumi dengan Lautner. Ya begitulah. Bak-bik-buk-nya cukup lumayan walau klimaksnya tak dibesut lebih eksplosif. Tapi selebihnya, well, this might works for some young ladies, tapi harusnya mereka sadar, bahwa lebih dari 50% pemirsa film aksi bukan datang dari fanbase Twilight. A lesson to learn. (dan)
danieldokter.wordpress.com
Tag: review, Alfred Molina, sigourney weaver, lily collins, Abduction, John Singleton, Shawn Christensen, Taylor Lautner, Michael Niqvist, Jason Isaacs, Maria Bello, Dermot Mulroney
Terkait:
-
THE COLD LIGHT OF DAY : A NOT SO BAD PUBLIC FRAUD
Rabu, 25 Apr '12 04:09 -
MIRROR MIRROR : AN UNDENIABLY CHARMING STRAIGHT FAIRYTALE
Senin, 23 Apr '12 02:53 -
THE GREY : SYSTEM OF SURVIVAL
Jumat, 24 Feb '12 03:25
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
AndriaGutama: Informatif
-
kniwe: Good Take

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat