Final Destination 5 : The Unfinal Franchise 3
Senin, 3 Okt '11 20:33
Apa yang akan anda lakukan bila anda bisa membuat suatu “jiplakan” dan ternyata tetap digemari dan dapat mengisi kocek anda dengan cepat? Tentu saja terus melakukannya bukan? Yah kurang lebih hal inilah yang dilakukan oleh para otak dibalik franchise Final Destination. Cukup mengulang formula yang sama maka anda dapat menghasilkan film yang laris manis dipasaran. Namun hal serupa bukan hanya terjadi dalam franchise ini saja. Di Indonesia fenomena menjiplak pun marak dilakukan. Misalnya beberapa sutradara yang terang-terang menjiplak karya sineas asing. Atau saat horror digemari, semuapun berlomba-lomba menghasilkan film sejenis yang lambat laun membuat kita muak sendiri (em, kebetulan sudah saya bahas di artikel saya sebelumnya).
Mungkin sangat terlambat bila saya baru membicarakan film ini ditengah maraknya Pirates Carribean atau Columbia. Namun saya baru sempat menonton film yang banyak dibicarakan ini, maklum jadwal kuliah semester ini sangat sulit diajak kompromi. Sedangkan untuk Pirates sendiri saya sudah menontonnya dan mungkin akan saya jadikan bahan artikel selanjutnya.
Awalnya saya enggan kembali ke bioskop untuk menyaksikan film ini. Yang padahal saya sendiri merupakan penggemar berat film ini. Namun saya merasa bahwa film ini sudah berakhir pada saat mencapai installment ketiganya. Yah film Final Destination terbaik menurut saya dimana semuanya tidak dipaksakan. Dan berhasil membuat saya parno sesaat setelah menontonnya (Bagaimana tidak, saya yang saat itu sangat gemar ke Dufan bermain permainan ekstrim secara tiba-tiba disuguhkan suatu keadaan bahwa saya bisa mati kapan saja pada saat tertawa lepas diatas suatu permainan). Jeda 3 tahun kemudian dirilislah The Final Destination. Tentu saja saya dengan semangat menuju bioskop dan rela mengantri. Namun hasilnya? Kekaguman pada hari pertama menonton, dan beberapa hari kemudian saya menyadari this fourth movie really suck! Mungkin karena enggan mengalami hal serupa, inilah yang membuat langkah saya semakin berat untuk menontonnya di bioskop. Namun berbagai cuap-cuap dari twitter, dari teman pada saat nongkrong, juga dari bbm atau sms , semua mengambil kesimpulan bahwa ini adalah Final Destination terbaik sepanjang masa. Respon saya? OK saya harus kebioskop! Dan baru tercapai setelah iseng mengajak teman saya hari ini dan yap dia rela menonton dua kali demi film ini.
So lets we start. Sebelumnya saya sempat menyinggung mengenai penggunaan formula yang sama. Apakah formula yang sama yang ada disetiap franchise teranyar ini?
1. 1. Memasang pemain yang tampan atau cantik sepertinya cukup.
2. 2. Menghabisi seluruh cast utama yang ada didalam film dengan cara yang berbeda.
3. 3. Someone have a vision about what will happend next (OK its the main idea).
4. 4. Cerita tidak perlu komplek, cukup mengenai hal yang dekat dengan kehidupan kita.
5. 5. Sometimes a water can move by it own.
6. 6. Teman karakter utama yang tidak bisa menerima keadaan , akhirnya menjadi si antagonis yang terobsesi membunuh temannya sendiri.
Kurang lebih 6 resep inilah yang dipakai dan bisa dibilang yah yang diulang ulang. Tergantung bagaimana sang sutradara meng-“kreatif”kannya. Penghuni kursi director selalu berganti kecuali Final Destination 1 dan 3 yang sama-sama diduduki oleh James Wong. James Wong. Yap dia adalah salah satu alasan mengapa saya mengganggap franchise ini hanya berakhir sampai film ketiganya saja. Yap, dia hanya terlibat sampai film ke3. Kecuali film kedua memang. Dia tidak terlibat sama sekali. Namun kita yang gemar menyaksikannya masih merasakan ada satu hal yang sama (bisa dibilang jiwa dari film ini) masih tertanam didalam Final Destination ini. Memasuki film keempatnya semua makin blurr. Film ini terkesan menjadi cukup membunuh semua karakternya saja . titik. Kembali ke resep-resep yang diolah, Final Destination 5 ini semakin menunjukkan bahwa anda tidak akan menemukan something new kecuali dalam adegan pembunuhannya. Misalnya point ke 6. Kali ini karakter Peterlah yang tidak menerima kenyataan. Dari kematian Candice dengan mudahnya terlontar dari mulut saya : “Pasti dia jadi jahat, mau ngebunuh Sam ama pacarnya”. Teman saya : “Lah kog tahu?”. Saya : “hahaha, as always”. Mungkin bukan saya saja yang berpendapat demikian, saya jamin banyak penonton diluar sana yang berbicara hal yang sama di adegan yang sama pula.
Saya tidak akan berbicara mengenai jalan cerita installment ke-5nya karena sudah pasti semuanya tahu. Namun saya akan mengutarakan opini saya mengenai film ini. Cara pembunuhan karakter memang kreatif dan mampu membuat kita semua ngilu. Urutan kematian pun lebih menarik diikuti dibandingkan installment sebelumnya yang agak memaksa (di sirkuit). Pemasukan artis-artis seksi dan cantik sebagai pemanis pun saya rasa pas pada porsinya. Namun, sayangnya alur dibuat terlalu cepat dan berkejar-kejaran. Yap seakan-akan film ini mau cepat-cepat menunaikan tugasnya dalam waktu 92 menit untuk menghabisi semua. Urutan kematian pun semakin absurd. Tidak seperti film ketiga semua diselami apa yang akan terjadi melalui foto-foto, pada film pertama justru lebih menarik lagi kita seakan dibuat berpikir. Di film kali ini kita cenderung wajib menerima mentah-mentah bahwa si itulah yang akan mati. Di film ini kita seperti disodorkan berbagai kejadian kematian spektakuler, yang yap memang berhasil membuat kita berdecak kagum. Tapi saya tetap beranggapan ini cara yang murah. Namun film ini kembali menarik kita di endingnya. Yang menghubungkan kepada film pertama. Cara cerdas yang belum digunakan oleh sutradara sebelumnya. Juga yang mampu membuat kita berspekulasi bahwa ini adalah akhir dari franchise teranyar ini.
Namun apakah ini sungguh sebuah akhir? Apakah pihak-pihak terkait rela membuang sumber pemasukan yang mudah untuk diolah? Mungkin hal tersebut adalah pertanyaan yang akan muncul bila muncul statement bahwa franchise ini akhirnya akan berakhir. Tapi dari fanbesenya sendiri pun pasti akan muncul berbagai protes karna untuk film seperti ini mungkin yang memiliki pamor tinggi hanyalah Saw. Sedangkan saw cenderung terlalu berat untuk ditonton saat mengisi waktu luang. Mungkin sebagian dari kita berharap film ini akan berakhir, namun dari dalam hati kita pasti muncul pertanyaan : apakah kita rela tidak menonton film penuh pembunuhan spektakuler ini lagi? Sebuah dilemma yang akan muncul ke permukaan. Namun menurut opini saya, melihat kesuksesan Final Destination 5 (yang menurut saya kedua terbaik dari series lainnya), mungkin franchise ini akan tetap diproduksi 1 atau 2 series lagi. Hingga animo penonton menurun bila kualitasnya tidak dijaga. Produksi film akan berhenti. Dan beberapa lama kemudian akan muncul remake dari franchise ini yang akan kembali digemari karena kerinduan akan film seperti ini. Begitu dan seterusnya.
Namun sekali lagi ini hanya opini saya sebagai penonton setia Final Destination. Namun saya ingin mensuggest bagi pencinta film yang menyukai film berdarah ringan seperti ini. Cobalah menonton karya dari negara tetangga kita atau mungkin film dalam negeri. Yap ada banyak film Asia yang menurut saya layak ditonton, bahkan beberapa patut diberikan sorotan. Terutama Confessions yang bukan sekedar thriller bunuh-bunuhan ecek-ecek, melainkan thriller psikologis yang memiliki plot sangat menarik. Mereka adalah :
1. 1. Battle Royale 1 (Jepang, 2000)
2. 2. Death Bell 1 (Korea, 2008)
3. 3. Fiksi. (Indonesia, 2008)
4. 4. Macabre / Rumah Darah (Indonesia, 2009)
5. 5. Confession (Jepang, 2010)
Regards,
@dnielcarmichael
Terkait:
-
MEN IN BLACK 3 : ALIENS, TIME TRAVEL, FRIENDSHIP AND HIP!
15 jam yang lalu -
KAHAANI : A REAL TREAT FOR TWIST-SUCKERS
Sabtu, 19 Mei '12 01:24 -
Modus Anomali : This is a Roller Coaster!
Kamis, 17 Mei '12 16:27
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
AndriaGutama: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
oksbangs: Good Take
Komentar:
selesai, tidak perlu maksa diteruskan..
Silahkan login untuk memberikan pendapat