I Love Indonesia : Indonesia dan Film 4

Sabtu, 1 Okt '11 20:20

            Kali ini saya tidak akan memberikan review mengenai sebuah film. Mungkin akan lebih ke pengungkapan pendapat saya mengenai perfilman Indonesia sekarang ini. Bisa dibilang ini hanyalah opini saja bukan kritik (yah tapi kalau ada yang menganggap kritik dan bisa dijadikan refleksi oleh pihak yang bersangkutan serta mampu membangun menjadi lebih baik kenapa tidak?

            Saya adalah pencinta film yang lahir justru dari film Indonesia. Pertama kali saya ke bioskop film yang pertama saya tonton adalah Petualangan Sherina. Yap saat itu saya masih sd, 10 tahun yang lalu kurang lebih saat saya berusia 9tahun. Film yang benar-benar menghibur, dan cerita yang diambil pun ringan, namun bisa disajikan dengan sangat apik. Film musikal pertama yang saya tonton dengan scoring yang luar biasa menurut saya. Semenjak itu saya terus menonton film Indonesia. Namun tidak banyak judul yang saya ingat. Beberapa yang saya ingat adalah Ada Apa Dengan Cinta, Janji Joni, Gie, Arisan, Heart, First Love, dan beberapa film lainnya. Saat itu sebagian besar film bergenre drama. Drama-drama ringan yang mampu mengundang tawa, decak kagum, memancing keluarnya air mata, pokoknya berhasil memainkan emosi kita.

Selain itu, horror juga sempat mencapai masa-masa keemasannya sebelum dirusak dengan unsur-unsur seks tidak penting sekarang ini. Horror Indonesia yang menjadi favourit saya adalah Kuntilanak trilogy. Sebetulnya hanya dua yang saya suka. Menurut saya inilah horror paling berbobot pada masa sekarang (walaupun kalah bila dibandingkan dengan horror-horror klasik yang memasang alm Suzzana sebagai bintangnya). Julie Estelle yang terpilih menjadi cast utama pun semakin menanjak karirnya. Rizal Mantovani sang sutradara pun benar-benar memukau penikmat horror tanah air. Menjadikan sosok Kuntilanak sebagai mahluk mitos di Indonesia merupakan ide brilliant dan tidak sedikitpun dianggap berlebihan. Hingga installment keduanya film ini masih luar biasa menurut saya. Selain ini mungkin horror yang menurut saya sukses dalam segi kualitas adalah Mirror, Bangku Kosong, dan Jelangkung. Yah masa-masa keemasan horror yang masi mengutamakan kualitas.

Sayangnya masa keemasan itu tidak mampu dijaga mutunya. Karena banyaknya permintaan masyarakat , justru membuat banyak sineas mengambil jalan pintas. Memproduksi film sebanyak-banyaknya setiap tahun untuk merauk keuntungan tanpa menjaga kualitas. Jadinya kita seakan disuguhkan junk food sebagai makanan sehari-hari kita. Yap terlalu banyak film sampah beredar hingga sekarang. Tidak tertutup untuk genre horror saja. Contohnya ada satu film drama yang disutradarai oleh seorang sutradara kawakan Indonesia (tidak bijak menyebutkan namanya) yang menyajikan film ke layar bioskop dimana film tersebut adalah jiplakan film Fly Me To Polarist (Film Asia yang benar-benar mengundang air mata) . Semuanya sama, hanya saja versi Indonesianya ini agak sedikit lebih sederhana. Saya bukan ingin mencerca, tapi saya sungguh kecewa. Kenapa seorang sutradara seperti beliau harus menjiplak film luar? Beda cerita kalau dicantumkan “Inspired By ...”. Ini tidak sama sekali. Lalu sineas lain yang mulai meracuni horror tanah air dengan seks-seks yang tidak penting. Di luar film horror dimasukkan unsur seperti ini hanya sebagai pemanis film. Di Indonesia? Hal ini over expose dan justru malah membuat kita agak “jijik” menontonnya. Cukup memasang artis dalam atau luar negeri yang siap muncul topless, berdada besar, ikhlas memakai bikini, PLEK, jadilah sebuah proyek “ambisius” yang mengutamakan publikasi yang cenderung lebay dibandung kualitas.

Namun penikmat film sekarang bukanlah lagi orang bodoh yang menerima apapun yang disuguhkan. Kami selektif. Terbukti dengan semakin menurunnya produksi film-film murah sejenis sekarang ini (meskipun masi ada pihak yang keras kepala memproduksi film semacam ini demi kantong mereka). Kini semakin banyak masyarakat yang menghindari film-film murah ini. Mereka memilih menonton film asing dibandingkan menonton film pembodohan ini. Dan saya sangat setuju dengan tindakan ini. Buat apa kita menonton film bodoh seperti itu? Menonton sama artinya dengan mendukung. Apakah kita mau selama-lamanya disajikan film sejenis yang tidak edukatif sama sekali?

Tapi bagi penikmat film dalam negeri tidak perlu lagi khawatir sekarang. Karena sudah semakin banyak film dalam negeri yang semakin mengutamakan kualitas. Jagi bagi kita yang menginginkan variasi menonton bisa kembali lagi menengok film anak bangsa. Sebut saja The Raid proyek ambisius yang menorehkan banyak prestasi di kancah Internasional. Atau Modus Anomali karya sineas Joko Anwar (otak dibalik Kala dan Pintu Terlarang, dua buah film Indonesia yang wajib ditonton!). Modus Anomali sebelum memasuki masa produksi pun sudah membuat prestasi yang membanggakan. Kalau untuk drama mungkin Simfoni Luar Biasa bisa mejadi pilihan. Lalu belum lagi Desember ini akan dirilis Arisan 2! Minimal kita bisa bernafas lega untuk sesaat. Dan ada banyak alasan bagi kita untuk menikmati film-film lokal. Selain itu festival film pendek pun sudah semakin banyak digelar yang turut memancing kreatifitas anak bangsa yang memiliki latar belakang perfilman maupun tidak untuk berkarya sebaik mungkin yang mereka bisa melalui karyanya.

Indonesia benar-benar merindukan film-film luar biasa yang menghibur seperti Fiksi, Arisan!, Cin(T)a, Kala, Pintu Terlarang, Rumah Dara, Minggu Pagi di Victoria, 7 hati 7 cinta 7 wanita dan masih banyak lagi. Ayo kita kembali menonton film bermutu Indonesia. Kita dukung agar kita kembali disuguhkan film berkualitas setiap minggunya.  Jadi setiap ke bioskop kita memiliki berbagai alternatif dalam menonton. Jadi jangan hanya berharap, ayo kita bertindak :D

Regards,

@dnielcarmichael


Tag: film, Indonesia, opini

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
Keren! I heart you.... Coba deh nonton film-film Indonesia yang dibuat sebelum abad ke-21, banyak yang bagus2 lho!!

I can say that 1980s was sort of golden years for Indonesian cinema : )
cakyoh 0 0
Setuju film2 80an produksi dalam negri bagus loh, sarat pesan moral dan hidup yg realistis.
cakyoh 0 0
eh aku follow di twitter follow back ya.. kalo situ nulis yg keren2 aku bantu blast biar di baca banyak orang, ... thanks.
danielcarmichael 0 0
thanks a bunch semuanya : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat