Cin(T)a : Apakah Perbedaan Selalu Berarti Masalah? 1

Rabu, 28 Sep '11 13:34

Bagaimana anda bisa mengetahui film yang akan ditayangkan? Dari iklan di televisi? Review majalah film? Atau dari kontroversial “murahan” yang lalu lalang di infotaiment? Tapi apakah ini menjamin kualitas film tersebut? Yap, kali ini saya akan sedikit membahas mengenai suatu karya anak negeri yang luar biasa menurut saya. Tanpa publikasi yang besar-besaran, memasang iklan di televisi ataupun billboard-billboard sepanjang ibu kota, ternyata film ini mampu menarik mata para pencinta film untuk menyaksikannya. Saya bukanlah seorang pengamat film , saya hanyalah pencinta film. Ya saya menonton banyak film and I really have a crush with this movies things! Jadi saya merasa bahwa film ini perlu diberikan sorotan yang positif.

Saya mengetahui keberadaan film ini dari youtube dan agak terlambat mungkin. Tanpa sengaja saya melihat trailer berjudul cin(T)a (dibaca : Cinta Cina). Awalnya saya berpikir ini pastilah drama-drama biasa yang mengetengahkan cinta sebagai main topicnya. Namun karena saya tertarik dengan judulnya, saya iseng menontonnya. And what? Dari trailernya terlihat sinematografi yang begitu apik. Pemainan kata dalam dialog antar cast yang mengundang pertanyaan. Dan langsunglah saya bertanya-tanya. Barulah saya mengetahui bahwa film ini ternyata hanya diputar di Blitzmegaplex, dan ternyata sudah habis waktu tayangnya. Langsung saja saya mendatangi toko-toko DVD di mall-mall dan ternnyata justru belum ada. Kemudian saya kerumah teman saya, and lucky me! He have this movie! Saya pinjam dan segera saya tonton.

Untuk pencinta film, khususnya pencinta dalam negeri pasti sudah menonton film ini. Namun banyak juga yang belum karena publikasi film ini sendiri tidak terlalu heboh dibesar-besarkan. Untuk yang belum menonton saya hanya ingin memberi gambaran kecil. Film ini mengisahkan kisah cinta Anissa (yang berarti wanita) dan Cina (yang namanya muncul karena misscomm antara ayah dan petugas yang mencatat akta lahirnya Cina). Mereka memiliki latar belakang yang sangat berbeda, mulai dari agama, suku, dan ras. Perbedaan inilah yang kemudia menjadi konflik utama dalam film ini.

Pengambilan masalah agama dan suku yang memang menjadi masalah diantara masyarakat kita ini begitu pintar menurut saya. Digambarkan dengan ringan tanpa hal yang berlebihan. Mungkin masalah intinya yaitu Cinta sudah menjadi makanan sehari-hari kita pencinta film, namun yang perlu kita berikan apresiasi adalah adanya banyak celotehan ringan yang berbobot. Baik dialog sehari hari maupun selipan jokes-jokes yang ada. Beberapa diantaranya adalah :

“Kenapa Allah ciptain kita beda-beda kalau Allah hanya ingin disembah dengan satu cara? Makanya Allah nyiptain cinta biar yang beda-beda bisa nyatu.” – Sebuah dialog yang menurut saya menjadi inti dari keseluruhan film ini. Dialog cerdas yang mungkin sedikit mengubah sudut pandang kita mengenai perbedaan agama.

“Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama, dan kami sembah dengan berbagai cara. Terima kasih atas berkat yang kau berikan dan jauhkanlah kami dari segala percobaan. Amin” – suatu doa yang ringan yang diucapkan saat Anissa dan Cina akan makan. Kalau kita dengar sekilas mungkin terkesan biasa saja. Namun justru ini juga merupakan dialog cerdas yang akan menarik perhatian kita.

Sepanjang film kita disuguhkan gambar-gambar lembut yang sangat memanjakan mata. Setiap detailnya mulai dari hujan, dan scheme atau tone warna yang digunakan begitu menarik. Dialog antar tokoh begitu pintar. Dan scoring. Menurut saya, ini salah satu film Indonesia dengan scoring terbaik (untuk genre drama, karena kalau film musikal beda lagi pertimbangannya). Musik-musik ringan membalut adegan per adegan dengan sangat pas. Untuk segi pemain sendiri, film ini tidak menjanjikan pemain besar yang sudah sering lalu lalang dilayar bioskop. Bisa dibilang semuanya pemain baru yang menyuguhkan kita akting yang luar biasa dan natural. Hal ini mampu membuktikan bahwa sebuah nama besar tidak selalu bisa menjadi jaminan akan kualitas suatu film. Baik aktor, aktris, atau crew-crew yang terlibat.  Dan jangan lupakan berbagai icon orisinil yang jadi icon film ini seperi menggambar wajah di jari, semua terlihat begitu pas.

Jadi, menurut saya inilah film anak negeri yang totally amazing! Film ini juga menjadi bahan pembelajaran oleh seorang dosen matakuliah Multikulturalisme di Universitas saya. Film yang intinya agar kita mengetahui bahwa kita semua ini berbeda. Dan kita harus mampu menerima perbedaan itu, bukan menolaknya, atau memaksa orang lain untuk menghapus perbedaan itu sendiri. Film yang mengajari kita untuk mengkritisi perbedaan dengan cara yang lebih intelektual bukan dengan menyerang perbedaan itu sendiri, melainkan menerimanya dalam bentuk toleransi. Ada satu kalimat yang terus saya ingat saat saya merekomendasikan film ini ke teman saya : “Niel, sampai kapanpun hitam dan putih gabakalan bersatu, just make it real!” . Iap memang kalimat ini gada salahnya. But we can just try to be united, then we can make a big change!

 

regards,

@dnielcarmichael


Tag: review, cin T a

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
film ini gambar2nya cukup menjanjikan, meskipun keliatan berusaha terlalu keras untuk menyampaikan pesan melalui dialognya...

Silahkan login untuk memberikan pendapat