Review: Harry Potter vs Transformers 11
Selasa, 9 Agu '11 17:46
Kedua film diatas sedang booming-boomingnya di negara kita tercinta ini. Kehadirannya pun sangat dinantitkan karena masuknya dua buah film Hollywood ini ke Indonesia hingga kini masih dianggap kontroversi. Lupakan tentang sang mentri yang merasa jadi pahlawan atau bagaimana film ini masuk. Yang jelas film ini sekarang sudah bisa dinikmati dengan mudah tanpa perlu ke negara tetangga.
Lalu sepadankah "perjuangan" pemerintah dengan kualitas kedua film ini?
Harry Potter and The Deathly Hallows Part B, dari judulnya yang cukup panjang ini jadi film pertama yang diedarkan di Indonesia. Jujur saja saya sangat menantikan kehadiran film ini dan sempat kecewa ketika muncul berita bahwa film ini tidak akan beredar di Indonesia. Dan saat film ini ternyata jadi keluar saya langsung buru-buru ngibrit di sela-sela KKN. Secara keseluruhan saya anggap part A lebih seru! Entah kenapa saya merasa part B ini berasa kurang greget.
Pada part A saya tidak mau berharap banyak tapi ternyata part A lebih mampu membuat saya tidak sabar ingin menonton film berikutnya. Dengan modal ekspektasi besar saya pulang dengan kekecewaan yang cukup besar. Apalagi adegan 19 tahun kemudian yang bikin saya berkata "Apa-apaan ini?" terlalu maksa. Ditambah pertarungan Voldemort dan Harry Potter yang berlangsung biasa. Tidak spektakuler, padahal ini kan final battle kenapa cuman perang sinar dan selesai. Kalau hanya begitu kenapa harus menunggu bertahun-tahun. Jangan paksa saya untuk menjelaskan tentang bagaimana matinya Bellatrix Lestrange.
Bagaimana dengan Tranformers Dark Of The Moon. Judulnya mencuri perhatian saya. Terkesan kelam, dan penuh ketegangan. Hasilnya? Ceritanya tidak berisi dan tanggung. Saya merasa transformers selalu tanggung memposisikan diri sebagai film. Mau dijadikan film anak-anak tapi banyak konten-konten dewasa mau dijadikan film dewasa ceritanya terlalu gampangan dan dibuat rumit dengan teori-teori dan istilah yang muncul padahal ceritanya tidak serumit itu. Satu yang sering membuat kecewa dari Transformers adalah pertarungan terakhir di film yang selalu aneh (baca:mudah) yap, akhirnya selalu ada si robot besar yang mendadak hidup dengan semangat muncul diakhir dan menang.
Jadi masih layakah film ini diperjuangkan se-lebay itu?
Tag: review
Terkait:
-
MEN IN BLACK 3 : ALIENS, TIME TRAVEL, FRIENDSHIP AND HIP!
14 jam yang lalu -
KAHAANI : A REAL TREAT FOR TWIST-SUCKERS
Sabtu, 19 Mei '12 01:24 -
Modus Anomali : This is a Roller Coaster!
Kamis, 17 Mei '12 16:27
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take
-
bowolucius: Good Take
-
AndriaGutama: Good Take
-
purisuka: Good Take
-
sabai: Good Take

Komentar:
ceritanya hancur..
kalo tf 3, ngantuk terutama bagian tengah2-nya. heran deh michael bay suka banget bikin film ledak-ledakan begini durasinya 2 setengah jam. udah gitu ada "formula" yang hampir sama lagi kayak tf 2, ketika ada yang dikira udah mati gak tahunya idup. yaelahhh
kan yang bikin lama dan nunggu bertahun2 itu nyari horcrux-nya kaaak, ngebunuh voldemort itu sebenernya emang gampang asal semua horcruxnya ancur *sotoy* btw bellatrix di bukunya kan emang kayak gitu matinya. jadi saya sih gak mau nyalahin filmnya
well, kalo saya sih puas2 aja sama harry potter yg terakhir ini. paling sih cuma ngerasa agak nanggung aja karena dibagi jadi dua film. kalo Transformer sih, itu saya nontonnya sampe ketiduran. adegan ledakan2 dan pertarungan robot2nya itu pun lebih bikin saya capek daripada kagum. jadi menjawab pertanyaan akhir, buat harry potter: layak (karena udah ditayangin dari 10 tahun yang lalu, masa penutupnya gak ditayangin sih?). Kalo Transformer: nggak.
Kalau disuruh milih antara "Potter" dan "Transformer": Apa sih bagusnya "Transformer"?
saya nunggu kelanjutan film ini ah...
TRANS-POTTER...
*berasa pelemnya jason statham*
dalam bentuk transjakarta..
Transformer? Hmm... bosen! Adegan yg bagus hanyalah adegan awal ketika Rosie lagi jalan dan si kamera yg pinter ini ngeshoot dari belakang
Apa salahnya dengan cerita klasik? Duh, maaf saja ya, saya sih bukan tipikal penonton yang mendewa-dewakan spesial efek, hamburan CGI, dan budget super besar. Sorry, I'm seeking more than that.
Silahkan login untuk memberikan pendapat