Les Roseaux sauvages (1994) 15
Kamis, 21 Jul '11 20:12
Sutradara: André Téchiné
Pemain: Élodie Bouchez, Gaël Morel, Stéphane Rideau, Frédéric Gorny, Michèle Moretti, Jacques Nolot, Eric Kreikenmayer, Nathalie Vignes, Michel Ruhl, Fatia Maite
Judul Internasional: Wild Reeds
Perancis di ujung gejolak revolusi Aljazair. Di tengah-tengah memanasnya Perang Aljazair. Mungkin keadaan pokoknya sedang mendidih tak terkira. Tengah bergejolak begitu rupa. Antara yang komunis dan yang anti-komunis. Antara kaum Perancis dan kaula Perancis-Aljazair. Antara tentara yang sedang bertumpahdarah dengan orang-orang yang menanti nun jauh di Perancis sana. Di saat yang bersamaan, bagi empat orang muda-mudi di sebuah pelosok Perancis, alam seksualitas mereka turut menyala-nyala pula.
François (Gaël Morel) dan Maïté (Élodie Bouchez) adalah muda-mudi yang sudah bersahabat erat. (Mungkin idiom mudanya: teman tapi mesra.) François pemalu. Ia tak pernah menunjukkan gairah pejantan pada Maïté. Sekalipun Maïté jelas sekali terang-terangan terlihat menaruh hati, François cuma menghabiskan waktu membicarakan film atau sastra bersamanya. Maïté adalah seorang komunis, sebab ibunya penganut komunis. Dan ibunya Maïté tiada lain adalah guru di sekolah asrama tempat François belajar.

Di sekolah itu François dirayu oleh seorang pemuda yang lebih liar dan lebih agresif, Serge (Stephane Rideau). Termakan rayuan, Serge dan François membuncahkan renjana pada satu malam binal yang kelak tak akan terlupakan di pucuk tilam asrama. Serupa dengan Maïté, Serge juga tak lepas dari latar politik. Serge berkakak seorang serdadu Perancis yang kelak tewas demi negara nun jauh di Aljazair sana.
Sialnya Serge malah satu kamar dengan Henri (Frédéric Gorny), pemuda Perancis-Aljazair (berdarah Perancis yang lahir di Aljazair) yang menentang habis-habisan segala kebijakan Perancis atas Aljazair. Kacamata politiknya yang lebih radikal mengombang-ambing isi sekolahan, terutama ibu Maïté yang notabene komunis, juga Serge yang jelas-jelas kakaknya tewas nun jauh di sana. Sebuah percekcokan sengit antara Serge dan Henri di kamar mandi membuat François memutuskan untuk bertukar kamar dengan Serge. Di kamar itu juga François merasakan berahi atas Henri.
André Téchiné memang cukup tersohor tersebab kemampuannya membawakan pokok-pokok seputar pertalian antar manusia yang sensitif-emosional dengan cara yang tak melankoli atau sentimental. Dalam Les Roseaux sauvages, Téchiné menampilkan ketajaman, baik urusan entitas maupun persoalan kontestasi. Dari sekian banyak film bertajuk homoseksualitas, mungkin Les Roseaux sauvages adalah salah satu dari segelintir yang berhasil menyajikan karakter rancap, interesan, dan sejati; tak hanya sekedar dari sisi syahwat belaka. Para pemain, terutama keempat pemain utama, sungguh berhasil menyajikan penampilan yang sebegitu melulum dan menjerap.

Persoalan karakter hanya satu dari sekian yang membuat film ini jauh dari ranah film-film mainstream Amerika. Antap tapi mujarab, Téchiné menyajikan serentetan kontestasi renjana dan pusa dengan bahasa visual yang kuat. Adegan ketika François bersitatap dengan cerminannya sambil meneriakkan kata "Saya Homo!" adalah salah satu yang paling memorabel. Sensibilitas lainnya bisa dilihat pada banjaran adegan tepi sungai di penghujung film, sebagai penutup yang luar biasa. Segala renjana ditampilkan secara patut pada tempatnya, tanpa perlu bermelankoli atau bersentimentil secara kesangatan.
Penghujung film itu pun menegaskan bahwa Téchiné tak sedang berusaha menyimpulkan, melainkan memberikan gambaran bahwasannya peta pendewasaan, sama halnya dengan seksualitas, adalah sebuah ketakpastian dan ketaktentuan. Sejalur dengan akhir yang ditampilkan, penonton tak diberikan kesimpulan pasti tentang nasib keempatnya, melainkan sebuah ketakpastian dan ketaktentuan yang membuat saya bertanya-tanya apa sebetulnya yang ada di lubuk empat sosok tersebut. Tak banyak film bertajuk homoseksual yang mampu menyeret pikiran saya seputar tokohnya ketika kredit sudah berjalur (secara mendalam tentunya, tak hanya sebatas perihal seronoknya). Sebagian justru terjebak pada perihal kismat seorang homoseksual. Les Roseaux sauvages salah satu yang berhasil melakukan.
Tag: politik, perancis, Seksualitas, Homoseksual, Komunisme
Terkait:
-
This Special Friendship (1964)
Selasa, 12 Jul '11 14:47 -
Micmacs à tire-larigot
Selasa, 27 Des '11 09:37 -
Kompetisi Film Pendek & Lomba Esai STOS 2012
Senin, 17 Okt '11 15:08

Komentar:
tp susah ya nyari film prancis...
yay, review - nya keren, seperti biasa. Cara pak rijon (bapak kan?
saya baru sekali nonton jenis film homoseksual (bahkan Brokeback Mountain pun belum nonton
Nah, yang film tentang homoseksual itu saya ga ingat sama sekali. Cuma ingat bagian dua orang tokoh utama yang saling jotos sampai babak belur. Tokoh utama pria -nya mempertahankan diri dari perkosaan seorang pria lainnya...ya gitu deh. Barangkali pak Rijon tau itu adegan film apa ya?
owya, rasa -rasanya (karena saya sering membaca review anda) pak rijon ini sering sekali mereview film tentang homoseksual ya..
Dan kalau yang ditanya persoalan paling disuka, sebetulnya nggak ada yang paling, tapi aku cukup suka film-film seputar coming of age, seksualitas, historikal (terutama periodikal era-era kuno-non-aksi, medieval, sampai pertengahan), surreal, juga yang berbau filosofis (asal tak menggurui). Film seputar homoseksual kan jatuhnya ke seputar seksualitas. Sebetulnya gak cuma homoseksual semata kok, ada inses (misal: "Mon fils a moi"--reviewnya ada di Bicarafilm), sampai ikhwal renjana juga sudah masuk ranah seksualitas. Untuk persoalan homoseksual, sayangnya, memang film seputar "gay" tampaknya lebih banyak ketimbang "lesbian." Kalau lesbian, aku cukup suka "Les Voleurs."
Mengenai filmmu itu, bisa dispesifikasikan lagi? Asia? Eropa? Atau apanya?
betul juga. saya malah belum pernah meihat film bertema yuri/lesbian. Kalo dalam bentuk anime jepang sih sering nemu (walau males nonton) . Bahkan, yaoi-nya pun bertebaran (damn, Yami no Matsuei itu artwork nya keren).
klo saya, tidak bisa mengatakan bahwa saya menyukai jenis genre/tema film tertentu. karena tema dan genre apapun bisa saya suka, tergantung isi filmnya. satu yang pasti, saya suka cerita -cerita yang berakhir sad atau menggantung, itu saja
[Mengenai filmmu itu, bisa dispesifikasikan lagi?]
hm, sepertinya itu buatan amerika. sepertinya sih. sayangnya, saya cuma ingat adegan jotos -jotosan di malam hari itu.
Btw, klo film The Three Seasons punya ga? itu chinese punya, menang dlm suatu penghargaan. Ceritanya menjadi 3 bagian yang terpisah. salahsatunya tentang tukang ricksaw yang jatuh cinta sama pelacur (dan itu yang paling saya suka). Klo pernah nemu, kasih kabar ya...
"Les Voleurs," "Attenberg," dan "Those Who Love Me Can Take the Train" termasuk film tentang lesbian yang Ok. Kalau mau yang Hollywood punya, mungkin "Notes on a Scandal" ada mengangkat isu lesbian (Judi Dench jadi lesbian yang diam-diam naksir Cate Blanchett).
"Three Seasons" itu bukan Cina tapi Vietnam. (Beda lo ya.) Itu film puitis, yang kurang lebihnya, tentang moderenisasi budaya (dalam film itu khususya kota). Ya, persoalan cinta di situ, sepemahamanku, dijadikan setir buat menyampaikan argumen-argumen seputar serbuan moderenisme, kapitalisme, dan sejenisnya. Aku cukup suka filmnya. Kalau Vietnam, mungkin beberapa yang aku sangat suka: "Heremias," "The Scent of Green Papaya," "When the Tenth Month Comes." Belum terlalu dalam nyimak sinema Vietnam sih.
walah, film Vietnam toh...saya pikir film chinnese
ya, mungkin nanti saya coba donlod jenis film non-heteroseksual. saya suka agak grogi liatnya soalnya
btw, klo Boys Dont Cry dan Eclipse (bukan yang trilogi twilight itu lho ya), termasuk non hetero ga sih?
btw (lagi), punya link donlod The Three Seasons ga, jadinya? saya gugling kok ga nemu. nyari ditempat langganan pun (alias ngebajak di piratebay
Aku punya linknya, tapi gak enak ngepost di bicarafilm.
halah. yo wis via jejaring sosial aja. sudah connect kan?
sekalian nemu yang asik juga di situ *sampe gemetaran gini tangan*
Silahkan login untuk memberikan pendapat