Confession a.k.a Kokuhaku (2010) review 0

Selasa, 19 Jul '11 12:00

Judul Asli      : Kokuhaku

Tanggal Rilis : 5 Juni 2010 (Jepang)

Sutradara      : Tetsuya Nakashima

Pemain         : Takako Matsu, Yukito Nishii, Kaoru Fujiwara,  Ai Hashimoto

Dengan filmnya yang berjudul Confessions (a.k.a Kokuhaku, 2010), sutradara Tetsuya Nakashima menghadirkan sebuah drama psikologis yang cukup seru. Dan mungkin agak suram karena penerapan sinematografi dengan unsur pencahayaan yang bernada gelap, didominasi warna hitam yang seakan menenggelamkan warna lain. Akan tetapi, lepas dari hal semacam itu, film ini memiliki kekuatan lebih, terutama pada kekayaan deskripsi pengalaman, pikiran, dan perasaan para tokoh dalam film ini yang membuat tingkah laku mereka menjadi meyakinkan secara psikologis.

Confessions menceritakan kisah tragis seorang guru wanita bernama Yuko Moriguchi (Takako Matsu) yang kehilangan putri semata wayangnya yang baru berusia 3 tahun, Manami (Mana Ashida), yang tenggelam di kolam renang di sebuah sekolah tempatnya mengajar. Ia yang tadinya yakin putrinya mati secara "wajar" mulai meyakini ada ketidaberesan dalam kematian putrinya itu, yang kemudian menyeretnya kepada sebuah kesimpulan bahwa putri semata wayangnya itu mati secara tidak wajar, atau lebih tepatnya dibunuh. Akan tetapi jika anda menganggap bahwa film ini merupakan film "biasa", dalam artian bahwa plot-plot yang ada akan menyeret kita kepada pencarian siapa sesungguhnya pelaku pembunuhan Manami, maka anda salah besar.

Alih-alih melakukan hal semacam itu, Nakashima di bagian awal film memilih membeberkan siapa sebenarnya pembunuh yang telah mengakibatkan Moriguchi merasakan kehilangan yang amat besar itu, yakni siswa bernama Naoki Shimamura (Kaoru Fujiwara) dan Shuya Watanabe (Yukito Niishi). Dengan cara yang terkesan "absurd", Moriguchi membeberkan kedua pembunuh itu di depan murid-muridnya, dan membalas dendam kepada keduanya dengan cara menyuntikkan darah yang tercemar HIV ke dalam kotak susu yang diminum kedua anak itu, bahkan memberitahukannya kepada mereka! Meskipun terlihat absurd, namun Nakashima berhasil menceritakannya dengan amat baik sehingga penonton dapat merasakannya sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Pembeberan pelaku pembunuhan memang dilakukan di awal film, namun tidak mengurangi kenikmatan sajian pengalaman psikologis para tokoh sentral dalam film ini.

Semua tokoh yang terlibat dalam cerita tragis tersebut dilukiskan penuh konflik batin, sehingga perbuatan dan perasaan mereka dapat dipahami. Di film ini kita bisa melihat banyak hal-hal yang terkadang tidak masuk akal, sebagai misal, alih-alih membunuh kedua muridnya itu, Moriguchi ingin mengajarkan arti makna hidup, arti penyelamatan (redemption), kepada Naoki dan Shuya di sisa hidup mereka yang kini tidak bisa seperti dulu lagi karena bayangan ketakutan akan penyakit AIDS. Sementara di sisi lain, Shuya yang seorang murid jenius mati-matian mencetak prestasi demi menarik perhatian ibunya yang telah meninggalkan dia sejak kecil, obsesinya terhadap ibu dan kekecewaannya karena tidak kunjung mendapat perhatian dari ibunya membuat ia terobsesi membunuh agar bisa masuk dalam berita koran, dengan harapan ibunya akan menyadari keberadaan dirinya! Lebih jauh lagi, Naoki selalu merasa ingin mati sebelum bertemu dengan Shuya, ia merupakan tokoh pecundang yang tidak pernah mendapat perhatian dari teman sekelasnya, pertemuan dengan Shuya membesarkan hatinya, dan ia dilukiskan terrpaksa melakukan pembunuhan agar tidak dianggap sebagai orang yang tidak berguna.

Meskipun dapat dikategorikan sebagai film psikologis, namun saya merasa bahwa kelakuan para tokoh di dalam Confessions  tidak bisa sepenuhnya dijelaskan lewat ilmu psikologis. Terutama tokoh Mizuki Kitahara (Ai Hashimoto) yang misterius. Miyuki membunuh seluruh anggota keluarga dalam usia yang relatif muda, namun tidak menampakkan penyesalan sedikitpun terhadap dosa semacam itu hingga kita merasa hal itu merupakan sesuatu yang wajar dan tidak perlu dipertanyakan. Lebih jauh lagi, hal itu tidak dapat dengan sepenuhnya menjelaskan mengapa dia sampai melakukan pembunuhan yang luar biasa kejam dan mengerikan itu. Juga, mengapa wanita muda yang pernah membunuh keluarganya dengan sangat kejam bisa mencintai seorang Shuya dengan tulus, bahkan terus melindunginya meskipun pada akhirnya ia mati di tangan Shuya.

Di lain pihak, seorang Naoki merasakan pukulan yang amat menyakitkan ketika mengetahui dirinya akan mati karena HIV yang sengaja ditularkan oleh Moriguchi. Bayangan ketakutan terhadap kematian menghantuinya hingga ia menjadi seorang maniak kebersihan, ia menggosok setiap barang yang disentuhnya karena ketakutan bahwa ia akan menularkan virus itu kepada ibu yang dicintainya. Rasa frustasi membuat dirinya terlihat berantakan, tidak terurus, namun di tengah kondisi chaotic itu, Naoki tetaplah mencintai ibunya. Walaupun, pada akhirnya ia membunuh ibunya sendiri karena sebab sepele, yakni berhalusinasi, karena ibunya menganggapnya tidak berguna!

Di sini, pengakuan masing-masing pihak - sesuai dengan judul film ini - merupakan narasi yang menceritakan kepada kita tentang perasaan masing-masing tokoh ketika berhadapan dengan ibu, dengan pria yang dicintai, dan dengan diri sendiri. Sebagai contoh, Shuya terlihat seperti tidak peduli dengan dirinya, menganggap semua orang disekelilingnya sebagai idiot tidak berguna, sampah yang harus dimusnahkan, bahkan ia sendiri tidak takut dirinya akan mati, asalkan bisa membawa semua orang idiot itu mati bersamanya. Dan Naoki merupakan sisi sebaliknya, seorang anak yang hanya ingin berteman dengan semua orang, namun segalanya berubah menjadi rasa frustasi, bahkan ia sendiri menjadi gila (secara psikologis), setelah tahu bahwa dirinya akan mati. Di sini tidak tampak sedikitpun rasa penyesalan dari diri masing-masing tokoh yang ada, bahkan ketika menyadari bahwa mereka telah membunuh seorang anak manusia, atau bahkan keluarganya sendiri - seperti yang terjadi pada Mizuki. Dalam bentuknya yang lain, pengecualian mungkin terlihat dari seorang Moriguchi yang - walaupun mengalami kejadian tragis - dengan lihai merancang semua "trik" psikologis untuk membuat, baik Naoki maupun Shuya, menderita.

Deskripsi perilaku psikologis para tokoh Confessions membuat kita menyadari betapa  nilai-nilai moral yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata terlalu sederhana, tak memadai untuk menilai kehidupan manusia yang penuh  liku-liku. Misalnya, bagaimana mungkin menjelaskan ketidak-sesalan para tokoh, padahal mungkin kita menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang salah di mata hukum dan moral (terutama agama), dan mungkin sisi ini merupakan hal yang tak terjelaskan dalam hidup seorang manusia? Atau benarkah seorang manusia akan selalu menunjukkan rasa penyesalan di dalam diri mereka (atas dosa-dosa mereka) ketika ia mengetahui saat-saat kematiannya telah dekat, seperti yang kerap kali ditunjukkan kepada kita? Plot yang menunjukkan rumitnya hubungan manusia semacam inilah, menurut saya, merupakan nilai yang dapat membuat penonton mempertanyakan nilai-nilai yang ada dan membuatnya sadar betapa hidup ini tak sehitam-putih yang dibayangkan, dan seringkali pula, tak terjelaskan.

 


Tag: drama, psikologis, Balas dendam

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat