Vanishing On 7th Street (2010) : Kegelapan Yang Membingungkan 5

Kamis, 7 Jul '11 13:51

Jika anda bertanya, film apa yang paling aneh yang saya tonton belakangan ini? Jawabannya adalah Vanishing On 7th Street. Yeah, film ini memang memiliki rating yang kurang bagus di imdb, tapi saya tetap menontonnya karena awalnya tertarik dengan ide cerita yang saya baca sekilas di beberapa review film; tentang hilangnya seluruh manusia saat kegelapan menyelimuti bumi. Saya berharap bisa mendapatkan sesuatu setelah menonton sendiri. Tapi kemudian, yang saya dapat adalah kerutan alis dan bibir menyeringai : "he? Sudah? Begitu saja?"

Oke, saya memang tidak terbiasa membuat resensi sebuah cerita film. Atau apalagi harus menilai sampai kepada detilnya, semisal karakterisasi, penyutradaraan, sinematografi, plot dan lain sebagainya. Tapi, bayangkan saja begini : sejak awal anda sudah diarahkan terhadap pertanyaan besar mengenai peristiwa maha dahsyat terhadap kemanusiaan, dan tentu semestinya kita digiring kepada babak -babak pencarian jawaban atas pertanyaan tersebut, dan berakhir dengan sebuah -minimal, penjelasan masuk akal kenapa kejadian itu ada. Nah, di Vanishing On 7th Street, sebagaimana jenis cerita post-apocalypse pada umumnya, sayangnya tidak menemukan jawaban apapun. Bahkan para tokohnya sendiri hanya berputar -putar di situ saja tanpa kejadian berarti yang bisa memberikan sedikit penjelasan terhadap situasi sebenarnya.

Cerita berawal dari seorang laki -laki yang bekerja di sebuah bioskop, James (Jacob Latimore) membaca sebuah berita tentang sebuah koloni yang hilang di masa lalu (pada akhirnya, ternyata berita tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkembangan cerita film). Tiba -tiba saat sibuk mengatur pemutaran film di belakang layar, semua lampu mati dan suasana menjadi sunyi senyap seperti di kota mati. James sendiri masih bisa melihat dalam kegelapan karena lampu senter kecil yang terpasang di helm di kepalanya. Saat mencari tahu apa yang terjadi, maka sadarlah James bahwa seluruh orang (bahkan seluruh manusia) telah menghilang dari dalam bioskop. Hanya tersisa pakaian mereka saja yang masih berada ditempatnya semula.

Disusul kemudian dengan adegan seorang dokter perempuan, Rosemary (Thandi Newton) di sebuah rumah sakit yang mengalami hal yang sama. Seluruh manusia menghilang, hanya tinggal dia sendiri.

Prolog yang lumayan menjanjikan kan? Bahkan, saat tokoh utama mulai muncul (Luke, diperankan oleh Hyden Christensen) yang terbangun di pagi hari sambil meniup lilin di kamarnya, film ini masih memiliki daya tarik untuk terus di tonton. Luke tidak menemukan satu orang pun di sekelilingnya, dan di sinilah -jika anda jeli melihat tiap sudut dalam film dengan teliti, akan mulai terlihat adanya bayangan -bayangan dalam gelap yang muncul setiap kamera memperlihatkan sudut -sudut gelap dalam sebuah ruangan. Bahkan kegelapan itu bisa muncul dari tiap benda yang bisa memantulkan bayangan jika terkena cahaya.

Saya kemudian menjadi bingung saat cerita meloncat pada '72 hours later'. Semua ekspektasi saya meleset. Seluruh kejadian misterius di awal itu tidak ada jawabannya bahkan sampai film ini tamat. Bukan hanya para tokoh yang bingung dengan apa yang terjadi, bahkan penonton (misalnya saya) pun tetap bingung. Tidak ada penjelasan kenapa kegelapan muncul dan mengambil roh -roh manusia yang masih hidup. Manusia yang telah lenyap ini pun nantinya akan muncul lagi sebagai roh (tampak dalam bayangan dalam kegelapan) untuk ‘memangsa' manusia lainnya. Setidaknya ‘roh' inilah penjelasan yang masuk akal yang sempat dilontarkan Rosemary saat mereka mati -matian bertahan hidup dalam kegelapan.

Okelah, Vanishing On 7th Street memang tipikal film post apocalypse sejenis I am Legend, The Mist, atau The Road. Tentang beberapa manusia yang selamat dari wabah internasional dan berusaha bertahan hidup. Dan bisa dipastikan satu persatu dari mereka akan mati. Tapi, menurut saya, The Mist saja lebih mending daripada film ini. Setidaknya ada alasan kenapa muncul monster -monster di The Mist dan ketegangannya pun lebih lumayan. Usaha untuk bertahan hidup itulah yang biasanya menjadikan film sejenis ini penuh ketegangan.

Saya sampai bingung mengkategorikan film ini sebagai film jenis apa, karena bahkan usaha pertahanan hidup pun sama sekali tidak heroik atau apalagi menegangkan. Drama yang dibangun pun malah terkesan dipaksakan. Tidak ada ikatan emosi yang bisa dibangun, semua jadi serba tampak dipaksakan. Pokoknya, secara keseluruhannya ini adalah film terparah yang pernah saya tonton. Serba tidak jelas. Pertanyaan mendasar tentang "mengapa hanya kita yang tersisa, dan ada apa dibalik selamatnya kita?" pun tidak jelas. Belum lagi tokoh anak kecil aneh yang tiba -tiba muncul dan tidak dijelaskan kaitannya dengan kejadian di film, atau yang paling mengecewakan adalah pada akhirnya film ini berkaitan dengan agama; seorang tokohnya selamat hanya dengan sebatang lilin yang tersisa di sebuah gereja.

Keheranan saya bertumpuk saat berpikir, bagaimana mungkin mereka begitu bodohnya tidak bisa bertahan hidup setelah 3 hari karena kehabisan cahaya di malam hari? Toh, walaupun listrik di seluruh kota mati, kota modern pasti menyimpan banyak tenaga lain sebagai sumber cahaya : misal bensin, minyak, lilin, lampu tempel, obor, dan lain -lain lah. Kalau lompatan cerita sampai puluhan tahun sejak listrik mati dan dunia gelap total, mungkin masih masuk akal. Karena membayangkan kehidupan menjadi primitif lagi tanpa listrik.

Well, kekecewaan saya sedikit terobati dengan muka Hyden Christensen. Haha.

(gambar dari sini)


Tag: film, horor, post apocalypse

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
uwoooow... jadi pengin nonton film ini... menarik!
Chrysalis 0 0
hoho.. synopsisnya bikin ga tertarik kak Sabai. Tapi, memang the Mist bagus si. : ) akhirnya jg bikin sedih.. beda ama novelnya
eMina 0 0
sabai:

haha. untuk bisa membuktikan review saya ataupun menyanggah atau memberikan opini tentang ini, anda memang harus menontonnya dulu : D
ide film ini sangat menarik, sebenarnya. tapi karena resensi film itu sangat subjektif, jadi saya juga ingin tau kesan anda setelah menonton film vanishing ini. Ditunggu ya!

Chrysalis:

Hehe. mau membuktikan? : p
sebenarnya The Mist juga biasa -biasa saja sih, utk ukuran film thriller atau post apocalypse. Apalagi endingnya, bukannya bikin sedih buat saya mah, tapi malah jadi kasihan banget sama kebodohan tokoh utamanya : ))
bitterjoy 0 0
wah,ini film yang bikin saya takut..
sayang eksekusi menjelang endingnya melempem
nice share : D
eMina 0 0
lha kok tulisan ini blm tenggelam ternyata : ))

bitterjoy: oya, bikin takut ? ya saya juga takut sih, soale emang penakut. ini film horor yang berani sy tonton. sejenis insidous atau yang lain ga mau dan ga berani nonton : D
endingnya melempem? betuuuuul bangets.

tapi saya kaget juga ternyata masih coming soon di bioskop indonesia ya...

Silahkan login untuk memberikan pendapat