Ikigami (2008) Review: Kematian Untuk Tujuan Politis 0

Selasa, 5 Jul '11 09:17

Negara ini memiliki Undang-Undang pemeliharaan kemakmuran negara yang membuat sebagian anak muda mati tujuannya agar para warga negara kembali menghargai kehidupan. Setiap anak yang masuk SD di seluruh negeri akan diberikan vaksin pencegahan untuk kemakmuran negara. Di antara 1000 suntikan terdapat nano kapsul khusus. Kapsul tersebut akan meledak dan merenggut nyawa anak-anak di hari yang sudah ditentukan, saat mereka berumur antara 18 sampai 24 tahun. Tetapi, para anak muda itu baru akan mengetahui takdir mereka 24 jam sebelum waktu kematian mereka tiba. Dan sejak menerima surat pemberitahuan kematian atau Ikigami, hari terakhir mereka dimulai.

Directed by : Tomoyuki Takimoto
Written by : Motorô Mase, Motorô Mase
Genre : Drama
Also known as : Ikigami: The Ultimate Limit
Runtime : 133 min
Country : Japan
Language : Japanese
Cast :
Shota Matsuda, Kôji Tsukamoto, Riko Narumi, Takayuki Yamada, Akira Emoto, Jun Fubuki, Hitori Gekidan, Haruka Igawa, Yuta Kanai, Kazuma Sano, Takashi Sasano, Sansei Shiomi

 

Bagi saya, ada dua jenis kepastian dalam hidup, yang satu kelahiran dan satu lagi kematian. Keduanya sama-sama pasti namun tidak bisa diketahui oleh manusia. Kapan sebuah kehidupan lahir, dan kapan sebuah kehidupan berakhir, pada kenyataannya, tidak seorang pun yang mampu mengetahuinya. Akan tetapi bagaimana bila pemerintah bisa menetapkan waktu kematian hingga itu menjadi sesuatu yang pasti diketahui? Hal ini tentu mengerikan. Pemerintah bisa saja mengontrol - namun tidak bisa memastikan - kelahiran (melalui program KB misalnya), namun menetapkan tanggal kematian bagi warga negaranya? Selain kematian itu sendiri yang menakutkan, kemampuan untuk mengontrol kematian tentu akan sangat mengerikan.

Jika anda mengetahui bahwa kematian akan menghampiri anda dalam waktu 24 jam, apa yang akan anda lakukan di sisa waktu itu? Pertanyaan itulah yang terus menerus diulang dalam film Ikigami: The Ultimate Limit (2008) besutan sutradara Tomoyuki Takimoto. Sebelumnya saya mesti mengakui bahwa saya membaca versi komiknya - yang di Indonesia ini diterjemahkan dengan judul Death Notice (pertama kali diterbitkan pada 2009) - sebelum menonton filmnya. Dan saya pikir formula yang bisa didapatkan di versi filmnya tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di versi komik, dalam artian bahwa plot dan cerita yang ada memiliki dua lapisan yang saling dihubungkan oleh selembar Ikigami (surat pemberitahuan kematian): yang satu berfokus pada kondisi psikologis orang-orang yang mendapatkan Ikigami, sementara yang satunya berfokus pada kondisi psikologis seorang petugas pengantar Ikigami bernama Fujimoto yang dalam versi komik di-metafor-kan sebagai dewa kematian.

Berbicara mengenai tema yang diusung, film ini memiliki kesamaan tema dengan Death Note yang versi komiknya ditulis oleh Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata, sedangkan dua versi filmnya disutradarai oleh Shûsuke Kaneko (Death Note [2006] dan Death Note: the last name [2006]). Baik Ikigami maupun Death Note mengusung tema sama, yakni orang biasa yang mampu mengatur kematian seseorang. Bedanya jika yang pertama dilakukan oleh pemerintah dengan dukungan teknologi nano kapsul yang akan meledak di dalam arteri jantung anak muda yang berumur di antara 18-24 tahun; maka yang kedua dibantu oleh dewa kematian yang dalam kepercayaan orang-orang Jepang disebut Shinigami. Perbedaan yang kedua adalah satu kenyataan bahwa cerita kematian dalam Ikigami lebih bersifat politis - saya masih akan membicarakan ini di bawah. Sedangkan dalam Death Note, kematian memiliki kaitan langsung dengan ambisi pribadi Light Yagami untuk membuat dunia menjadi lebih baik, dan lagipula yang terakhir ini penuh intrik serta adu strategi layaknya komik-komik detektif.

Di film Ikigami, kematian menjadi bagian dari kebijakan politik dimana produk Undang-Undang Kemakmuran Negara yang bertujuan untuk mengajarkan arti dan makna kehidupan kepada warga negaranya, dijadikan alat yang dibungkus kata-kata indah: bahwa kematian seorang warga negara karena UU tersebut telah menempatkan seseorang dalam posisi yang lebih terhormat. Singkatnya, orang-orang yang mati karena nano kapsul didoktrin untuk merasa bangga atas kematiannya, tanpa disadari secara logis bahwa mereka itu sebenarnya dibunuh oleh negara dan pembunuhan itu sendiri disahkan secara hukum oleh pembuat kebijakan! Para pegawai kantor pusat kemakmuran negara dalam film ini digambarkan seperti robot dengan wajah kaku yang selalu bertindak menurut naskah yang telah diprogram oleh sang majikan. Bagian ini tidak menarik karena para pegawai bertindak menurut struktur dan tidak bisa memberontak untuk merubah aturan main dalam struktur tersebut, meskipun di film ini tokoh utama Kengo Fujimoto (Shota Matsuda) - yang juga seorang pegawai kantor kemakmuran negara - menjadi satu pengecualian. Lebih jauh lagi, yang menarik bagi saya adalah kondisi psikologis orang-orang yang menerima Ikigami 24 jam sebelum waktu kematiannya tiba.

Jika ditarik benang merahnya, plot-plot dalam film ini dibangun berdasarkan 3 setting berbeda, yakni kematian Satoshi Izuka, Tsubasa Tanabe, dan Naoki Takizawa. Masing-masing kematian memiliki kisahnya sendiri-sendiri dimana Fujimoto dan Ikigami menjadi penghubung yang merangkai jalinan cerita dalam keseluruhan film itu. Bagi saya, kelebihan dalam film ini adalah apa dan bagaimana perilaku serta tindakan ketiga tokoh itu ketika menghadapi saat-saat terakhir hidup mereka. Ini satu poin yang menarik sebab dalam kehidupan nyata, kematian itu seringkali datang secara tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan, dan kiranya sulit dibayangkan apabila ternyata kita mampu untuk mengetahui kapan kita mati, dan kalau pun kita mampu mengetahuinya bahkan 24 jam sebelum kematian itu menjemput, apa yang bisa kita perbuat? Bagaimana perasaan kita ketika menghadapinya? Akankah kita melakukan sesuatu yang berarti, yang bahkan belum sempat dilakukan selama kita hidup, atau malah kita akan, misalnya, berusaha membunuh ibu kandung yang merepresi kita, seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Naoki.

Kemungkinan-kemungkinan kondisi psikologis atau berbagai tindakan yang dilakukan oleh seorang manusia yang tahu saat-saat kematiannya telah mendekat itulah yang menjadi inti cerita dalam Ikigami. Film ini memperlihatkan kepada penonton bahwa kematian itu secara psikologis menakutkan, namun di baliknya, serangkaian adegan menunjukkan bahwa kematian itu sendiri mampu disulap menjadi sesuatu yang mengharukan. Akan tetapi kata "menakutkan" menjadi sesuatu yang disangkal oleh Naoki. Bagi Naoki, kematian merupakan kesempatan baginya untuk lepas dari penderitaan yang disebabkan oleh ketidakpedulian ibunya terhadap apa yang terjadi kepadanya. Kematian, bagi Naoki, merupakan kesempatan untuk lepas dari penderitaan yang selama ini dialaminya, dan ia menghadapi hal tersebut dengan rasa senang. Dalam rangkaian struktur pengisahan yang disajikan oleh Ikigami, apa yang dirasakan oleh Naoki merupakan anomali dibandingkan dengan dua kematian yang dialami oleh Tanabe maupun Satoshi. Dua tokoh yang disebut terakhir ini merasakan putus asa, ketakutan, dan bahkan Tanabe mempertanyakan mengapa ia harus dibunuh demi kemakmuran negara. Hal-hal yang - tentu saja - tidak dirasakan oleh Naoki. Namun pada intinya, melalui Tanabe dan Satoshi, penonton ditunjukkan bahwa kematian itu sendiri tidak menjadi sia-sia apabila kita mampu berbuat sesuatu yang berarti bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.

Maka saya katakan: kematian - walaupun itu menjadi alat untuk mencapai kepentingan politik - menjadi sesuatu yang indah di film ini. Beberapa orang mungkin tidak terbiasa menghadapi ide semacam ini karena sudah menjadi suatu kewajaran apabila kematian itu sendiri memang dianggap menakutkan, namun kenyataannya hal itulah yang berusaha disampaikan oleh Ikigami. Yang menarik justru perkembangan karakter Fujimoto itu sendiri yang, karena dipaksa melihat cara mati ketiga tokoh di atas, menumbuhkan keraguan di dalam dirinya mengenai pentingnya UU kemakmuran negara. Namun sayang, bibit keraguan yang telah disemai tidak kunjung tumbuh membesar, melainkan dihentikan di tengah jalan. Durasi film yang cukup panjang tidak lantas memberikan kesempatan bagi Fujimoto untuk berbuat sesuatu, misalnya, memberikan perlawanan kepada produk UU tersebut.

Ikigami memberikan kita kesempatan untuk melihat represi negara dalam tingkatan yang mengerikan. Kamera-kamera pengintai disebar oleh aparat di setiap sudut kota untuk mengawasi segala tindakan warga negaranya, dengan maksud untuk mengawasi mereka supaya tidak bertindak subversif. Namun di balik kengerian tersebut, saya sebagai penonton merasakan kegetiran dan rasa haru dari sebuah kematian, sebuah nilai yang juga berulang kali disodorkan oleh versi komiknya. Lagu berjudul michishirube yang dimainkan oleh Tanabe di film tersebut merupakan salah satu elemen yang membuat kematian itu sendiri menjadi begitu indah, walaupun tentu saja dalam bingkai Ikigami, hal itu menjadi sesuatu yang politis, tidak alamiah.

 


Tag: politik, psikologis, Ikigami, kebijakan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat