[Review Bimo] Capitalism : A Love Story - Kisah Cinta Impian Yang Mungkin Lebih Mirip Dongeng Sebelum Tidur 1

Rabu, 29 Jun '11 01:10

"Damn!!!!....Michael Moore has done it again!!!"....kataku sambil bertepuk tangan ketika film itu selesai.

Ya...Michael Moore, sutradara controversial rusuh yang terkenal dengan film - film dokumenter kontroversialnya seperti Fahrenheit 9/11 dan Bowling for Columbine sukses memukau saya dengan film terbarunya yang berjudul Capitalism : A Love Story yang memotret sisi gelap dari kapitalisme dan efeknya yang mengakibatkan Amerika hampir bangkrut karena krisis ekonomi dan tentu saja menyebabkan krisis ekonomi global yang juga mengancam Indonesia.

Dia sukses membuat saya menggelengkan kepala dan bertepuk tangan atas penyajian karyanya yang penuh permainan. Dia bermain dengan data, dia bermain dengan penyajian, dan dia bermain dengan kenyataan yang kita lihat selama ini. Dia meperlihatkan data - data tersebut dengan sebegitu indahnya sehingga saya kembali merenung.....dan tentu saja terbungkam, tersenyum, menepuk kepala, menggelengkan kepala serta mengeluarkan sumpah serapah pada setiap pemaparannya..."damn! Damn! Damn!...he got the point!"

Oke....Dalam film terbarunya ini, Michael Moore tetap dengan gayanya yang berani, lugas, nakal, jujur, polos dan iseng yang entah kenapa tetap memukau. Berbekal dengan data - data yang nakal dan pertanyaan - pertanyaan polos yang iseng, dia kembali mengupas penyebab kegagalan ekonomi Amerika, mengekspose kelemahan terbesar system Kapitalisme, efek samping negatifnya dan realita - realita yang jarang terekam tentang keadaan Amerika pasca pemerintahan Presiden Bush..... Realita - realita yang dapat dikatakan sangat - sangat pahit.

Michael Moore memulai film ini dengan sebuah peringatan bahwa film documenter ini tidak cocok untuk mereka yang mudah kasihan dan lemah jantung. Dia kemudian melanjutkannya dengan shock terapi, tentang realitas terburuk yang ada yang dilanjutkan dengan factor - faktor penyebab realitas tersebut dan diakhiri dengan kesimpulan bahwa sebenarnya kita bisa mengubahnya....sangat simple...

Sepanjang film, Michael Moore memaparkan bukti - bukti penyelidikannya dengan seiseng mungkin. Alih - alih mendengarkan penjelasan berbelit - belit, Michael Moore mengajak saya untuk berpikir dengan pertanyaan - pertanyaan polosnya, kontradiksi dari setiap pernyataannya, dan data - datanya. Tingkah keisengannya mungkin memang diluar batas karena dia mempertanyakan dan mengkontradiksikan hal - hal kecil yang bagi kita mungkin menjadi hal yang "taken for granted"....suatu hal yang jarang dipertanyakan dan seringkali dianggap tabu untuk dipertanyakan.

Oke, saya sendiri sebenarnya bukan pencinta karya Michael Moore walaupun saya menyukai film - film documenter terutama tentang Perang Dunia ke 2. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa karya beliau menggelitik saya, memancing saya untuk kembali bertanya tentang hal - hal yang jarang saya tanyakan...serta membuka mata saya tentang banyaknya hal yang mungkin telah saya lewatkan dengan percuma.....sebuah tamparan sekaligus tawaran yang sangat menggiurkan jika anda tahu maknanya. Dan sama seperti kisah cinta berakhir tragis....begitulah pula hubungan antara Amerika dengan Kapitalisme

Sisanya, banyak yang mungkin akan mengatakan bahwa film ini [dan sang sutradara] sebagai provokatif. Tapi saya disini akan mengatakan bahwa kata provokatif bukanlah kata yang tepat. Kata persistence atau gigih mungkin akan lebih tepat untuk mendefinisikan film ini dan si sutradara karena dia secara gigih mengejar dan memaparkan bukti yang dia dapat.

Mungkin ada baiknya anda menonton sendiri dan buktikan sendiri....mengingat banyak sekali yang saya dapatkan di film ini cukup relevan dengan keadaan Indonesia saat ini. Dapat dikatakan, Indonesia saat ini sedang asyik - asyiknya bercinta dengan Kapitalisme......dan ibarat cinta, hubungan Indonesia dan Kapitalisme sedang dalam masa - masa indahnya pacaran....pertanyaannya adalah, siapkah kita jika kita putus atau ditinggal pergi?......dalam hal ini Michael Moore memberikan pilihan yang simple tapi rumit...karena yang disinggung tidak lain dan tidak bukan adalah kondisi nyaman kita, batas nyaman kita.

Satu hal yang saya harapkan, agar anda menonton ini dengan pikiran terbuka dan bukan untuk mendebat atau mempersalahkan film ini atau bahkan sutradaranya......lagian dia hanya menyampaikan data realistis yang dia dapatkan

Selamat menonton, tabik dan selalu berkarya

Hosea Aryo Bimo W.N.
[ June 10, 2010 ~ 01:22am ]
[FYI : film ini diputar di Blitz Megaplex]

 


Tag: dokumenter

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Firman Syah 0 0
Mantap banget film ini.. sangat-sangat recommended bagi semua orang terlebih penganut paham kapitalisme dan turunannya...

Silahkan login untuk memberikan pendapat