Nothing But The Truth : Tentang Memegang Teguh Prinsip 0
Minggu, 26 Jun '11 21:55
Untuk sebuah prinsip, seberapa keras kita bisa berjuang untuk mempertahankannya?
Film produksi tahun 2008 ini membuat saya belajar tentang hal tersebut. Berawal dari penembakan Presiden AS yang kemudian membuat negara tersebut melakukan operasi militer terhadap Venezuela sebagai bentuk pembalasan atas penembakan terhadap Presiden mereka.
Kemudian, seorang reporter harian Capital Sun-Times Rachel Arsmtrong (Kate Beckinsale), menulis sebuah artikel terkait peristiwa operasi militer AS di Venezuela, artikel tersebut mengungkapkan bahwa seorang wanita bernama Erica Van Doren (Vera Farmiga), istri dari Oscar Van Doren, Duta Besar AS untuk Venezuela adalah agen CIA. Identitas Erica yang sebenarnya rahasia ini diungkap dalam artikel tulisan Rachel Armstrong, dengan narasumber utama yang memastikan identitas Erica ini namun narasumber ini dirahasiakan namanya. Sehari sebelum artikel ini dimuat Rachel dan Erica bertemu dimana kebetulan kedua anak mereka rupanya bersekolah di tempat yang sama, Erica membantah pernyataan bahwa dirinya agen CIA, dan dari sinilah perjuangan Rachel Armstrong ini dimulai...
Identitas agen CIA yang bocor kepada publik, menjadi masalah serius bagi CIA maupun pemerintah AS sendiri, sehingga tuntutan untuk membocorkan nama narasumber tersebut. Namun tentu saja Rachel menolak memberitahukan siapa nama narasumber yang memberikan informasi penting tersebut dengan berpegang pada The First Amendment of the U.S. Constitution provides for the Freedom of Religion, Press, and Expression. Namun perbuatannya mengungkapkan identitas ganda Erica Van Doren ini membawanya kepada masalah hukum, dimana pemerintah AS menganggap bocornya identitas salah satu agen CIA berarti ada pengkhianat, dan ini merupakan masalah keamanan nasional, penolakan memberitahukan nama narasumber artikel kontrobversial itu juga termasuk perbuatan contempt of court (penghinaan terhadap persidangan) perbuatan membocorkan identitas agen CIA sendiri termasuk tindak pidana berdasarkan U.S. Code 50, Section 421 tentang Protection of identities of certain United States undercover intelligence officers, agents, informants, and sources, yang membuat Rachel harus menghadapi tuntutan hukum dari Jaksa Khusus Federal Patton Dubois (Matt Dillon).
Film dengan atmosfir jurnalis dan politik termasuk salah satu jenis film yang saya sukai, namun dibandingkan dengan film-film yang memiliki tema serupa, film ini jauh lebih bisa dinikmati. Kemasan dan penyampaian kisah di dalamnya cenderung "ringan". Film ini sendiri terinspirasi dari kisah nyata jurnalis bernama Judith Miller yang mengungkap identitas Valerie Plame Wilson sebagai agen CIA yang melakukan investigasi di Niger, yang kemudian membuat Judith Miller dipenjara pada tahun 2005 atas penolakannya mengungkap narasumber yang membocorkan identitas Valerie Plame Wilson. Kisah nyata ini sendiri juga sudah difilmkan pada tahun 2010 lalu lewat "Fair Game" yang berfokus dari sudut pandang Valerie Plame Wilson, sosok yang diungkap rahasianya sebagai agen CIA, Peristiwa ini sendiri kemudian disebut Plame Affair.
Menarik melihat Rachel yang begitu ngotot mempertahankan prinsipnya untuk melindungi nama narasumber, padahal kasus yang menyeretnya sudah menjadi masalah keamanan nasional, dan keteguhannya tersebut membuat dirinya harus dipenjara selama 1 tahun lebih, kehilangan kontak dengan putranya yang masih berumur 7 tahun, termasuk stres dan tekanan terhadapnya selama di penjara. Ada sedikit rasa gemas yang muncul sekaligus heran, apakah sebegitu penting dan berbahaya untuk mengungkap nama narasumbernya? Rachel sang jurnalis, sosok yang mewakili publik, dalam profesi jurnalis mereka membawa kepentingan publik, kepentingan publik untuk berhak tahu dan mendapatkan fakta yang benar, sementara pemerintah yang diwakili Patton Dubois juga membawa kepentingannya sendiri, tentang perlindungan keamanan nasional AS.
Mungkin karena film ini terlalu fokus dengan kisah Rachel Armstrong, asal mula konflik yaitu penembakan Presiden AS yang kemudian menyebabkan adanya Operasi Militer AS di Venezuela hanya digambarkan sekilas di opening film, padahal kalau merujuk pada peristiwa aslinya, Duta Besar Joseph C. Wilson ( atau yang dalam film ini adalah Oscar Van Doren) memiliki peranan penting karena setelah hasil investigasinya, tidak ditemukan bukti yang kuat untuk melakukan penyerangan yang kemudian dituliskannya dalam artikel "What I Didn't Find In Niger". Namun pada akhirnya saya sendiri bisa memaklumi karena memang sudut pandang yang diambil adalah dari sang jurnalis, tapi ya itu tadi penyampaian sebab-musababnya terlalu singkat buat saya.
Rachel sendiri dipenjara selama 1 tahun lebih, namun dirinya tetap berprinsip pada kerahasiaan sang narasumber, sebuah prinsip yang setelah saya menonton ending-nya membuat saya mengerti kenapa ia rela mengorbankan banyak hal demi kerahasiaan sang narasumber, saya tersenyum saat melihat ending film ini, cukup menyentuh ketika kita tahu apa yang sebenarnya ada di ending film ini.
Tag: film jurnalis, Plame Affair
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat