KENTUT : A KNOCK-OFF SATIRE TO LAUGH AT YOURSELF 7
Kamis, 2 Jun '11 00:47
KENTUT
Sutradara : Aria Kusumadewa
Produksi : Citra Sinema, 2011
Di tengah pro dan kontra dihentikannya film impor studio besar kesini, seorang Deddy Mizwar pernah menyampaikan opininya tentang itu, dimana kita tak butuh film impor dan ada banyak film alternatif yang bisa menjadi pilihan. Sebagai salah satu tokoh senior yang banyak dijadikan patokan, mungkin Deddy terlalu bangga dengan harga diri bangsa ini. Namun kiprahnya belakangan, justru menunjukkan bahwa ia adalah salah satu sineas yang suka tampil vokal dalam karya-karya bernada sindiran terhadap carut-marut negeri ini. Okelah, mungkin Deddy tak terlibat dalam penulisan skenario ’Kentut’, begitu juga ’Bebek Belur’ dimana dirinya tampil sekelebat dan tak kalah vokal, namun kiprahnya bersama Musfar Yasin dalam ’Ketika’ dan ’(Alangkah Lucunya) Negeri Ini’ sudah menunjukkan itu. Dibalik nafas ulama yang kuat di setiap penampilannya, bagi saya ini adalah suatu kontradiksi. Bagaimana Deddy bisa menyindir dan menertawakan kehidupan (ah, saya segan juga menyebutnya begitu) bangsa ini begitu keras namun sekaligus menjunjung harga diri bangsanya sedemikian tinggi? You decide for yourself. Tapi bagi saya, kualitas keaktoran Deddy Mizwar yang luarbiasa itu jauh lebih asyik disaksikan seperti dalam iklan salah satu produk sosis kemasan, Ramadhan atau Nagabonar. Lepas, bebas, dan jauh dari kemunafikan dibalik gelar H di depan namanya.
Anyway, film berjudul singkat sekaligus kurangajar karena padanan kata yang dipilih buat ’buang angin’ yang terdengar jauh lebih sopan itu, rasanya jadi proyek yang personal sekali dari seorang Aria Kusumadewa. Ini tak seperti ’Identitas’, dan jauh dari ’Beth’ atau ’Novel Tanpa Huruf R’ yang surealis dan penuh simbol. Simbol Aria disini dituangkannya melalui satir yang kerasnya tak kepalang lewat dialog-dialog dan bangunan karakternya, dan apapun itu caranya, selalu terasa menarik menyaksikan sebuah protes yang bernada jenaka ketimbang anarkis, walau sering berarti menertawakan diri sendiri. ’Kentut’ pun hadir sebagai sebuah metafora gambaran kontradiktif terhadap kemunafikan yang seharusnya bisa disadari sebagai anugerah pemberian Tuhan, tapi nyatanya sering dipandang tabu. Kira-kira begitu.
Persaingan calon Bupati dalam pilkada di Kabupaten Kuncup Mekar sejak awal sudah berlangsung panas. Dari dua calon yang muncul ke depan, Patiwa (Keke Suryo), yang menawarkan kesejahteraan bagi pertanian secara lurus, sementara Jasmera (Deddy Mizwar), secara kontras justru ingin melegalkan judi dan pelacuran demi melawan kemunafikan. Dengan warna seragam merah mencolok dan menggaet bintang dangdut seksi Delarosa (Iis Dahlia), Jasmera berkampanye tak kalah nyeleneh. Saat Patiwa tertembak, masalah pun merebak. Pasalnya, tim sukses Patiwa yang dipimpin seorang perempuan cerdas bernama Irma (Ira Wibowo) terus berusaha agar keadaan tak sampai ditunggangi oleh Jasmera di putaran kedua karena Patiwa tak kunjung kentut setelah tindakan operasinya. Rumahsakit tempat Patiwa dirawat, dengan pimpinannya dr. Ferry (Cok Simbara) pun menjadi kacau balau saat sekelompok umat beragama dari beragam kalangan datang bersama untuk mendoakan, tapi sekaligus mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saat semua kepentingan berubah menjadi ajang politik, hanya ada satu solusi. Kentut.
Plot simpel dalam penggambaran metafora yang luarbiasa mengena itu sebenarnya sejak awal sudah dimulai dengan sangat baik oleh Aria. Kelucuan demi kelucuan yang digelarnya dari dialog, penggambaran karakter sampai kostum-kostum yang dipilih juga terbangun cukup rapi, seolah ini jadi wadah tak berbatas tempat Aria menyampaikan unek-uneknya, kalau perlu sambil memaki keras sekali pun.Namun saat eksplorasinya berkembang lagi lebih jauh hingga ke isu-isu kesehatan, arogansi anak-anak bangsa ini, kontradiksi kaum kecil tanpa seragam dengan kaum kecil berseragam hingga borok lain termasuk ulah manusia yang mencari keuntungan atas nama agama, penyampaiannya terasa sedikit overloaded dan memblurkan metafora tadi. Untung tak sampai ada anak-anak jalanan lagi. Namun mungkin ini adalah pilihan Aria untuk tak membiarkan penontonnya memihak secara hitam putih, dimana di tengah kekacau-balauan yang tak kalah dengan negeri yang sedang dilanda perang itu, terkadang sebuah opini bisa tampil sangat beragam. Informasi medisnya mungkin hadir sedikit nyeleneh, tapi sah saja dalam tendensi sebenar-benarnya. Soal akting, ada banyak aktor senior disini yang tampil sesuai porsinya, juga para pendukung yang rata-rata tampil baik, termasuk Cok Simbara dan Hengky Tarnando yang sudah jarang-jarang kelihatan di layar lebar. Dan itu juga yang lantas mendorong eksekusi penyelesaiannya dibuat seperti itu, agar semakin menegaskan, bahwa ini adalah sebuah satir. Protes terhadap masalah yang belum tentu berabad-abad lagi bisa terselesaikan dari sebuah negara bernama Indonesia. Dan Aria tengah mengajak kita semua untuk larut di dalamnya dengan tawa. Menertawakan diri, oops, sorry, bangsa sendiri, maksudnya, di saat-saat seperti ini, itu jauh lebih bagus daripada merepet kesana-kemari tanpa arah jelas. (dan)
Tag: review, bebek belur, Deddy Mizwar, alangkah lucunya negeri ini, Ira Wibowo, resensi, movie reviews, Identitas, anwar fuady, aria kusumadewa, beth, cok simbara, hengky tarnando, iis dahlia, keke suryo, kentut, ketika, musfar yasin, novel tanpa huruf r, rahman yakob, tuhan berikan aku kentut
Terkait:
-
KOKUHAKU (CONFESSIONS) : THE BIGGEST BULLY IS ONE IN YOUR MIND
Rabu, 18 Mei '11 04:34 -
HIKAYAT MERONG MAHAWANGSA : THE HISTORICAL MALAYSIAN SINBAD
Sabtu, 30 Apr '11 04:45 -
CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE : MAGIC EVERYWHERE!
Jumat, 1 Apr '11 01:13

Komentar:
Film Kentut .......................................... buruk.
Sekian.
=====
klo menurut saya, sindirannya terlalu berlebihan dan terlalu mengada-ada bahkan dibuat sejelek mungkin yang ada.
Kurasa tak masalah dengan plot yang komikal, hanya saja Aria Kusumadewa terlalu telanjang dan sangat tak halus dalam menyajikannya. Terutama menyangkut urusan sindirannya.
Satir, atau black comedy, atau dark comedy, memang bukan barang baru. Coen brothers pernah bikin trilogi idiot (walau saya gak terlalu suka), di mana tokoh-tokohnya bertingkah idiot. Tapi saya, sebagai penonton, setidaknya dibuat mengalur saja dengan keidiotan itu.
Cekoslovakia, di era sosialis realis (ketika perfilmannya masih dikuasi oleh aturan-aturan komunis) juga sarat dengan satir dan black comedy. Salah satu dampaknya, banyak sutradara Cekoslovakia (yang sekarang terpecah jadi Ceska dan Slovakia) yang diusir dari tanah airnya itu: salah satunya Milos Forman (sutradara Amadeus dan One Flow Over the Chucko Nest). Satir-satir Cekoslovakia begitu halus (walau akhirnya ketahuan juga, karena badan sensor komunis tentu tak bodoh) dan begitu renyah dinikmati. Tak menggebu-gebu, tak terburu-buru, tak segampangan, apalagi telanjang seperti "Kentut" ini.
Rijon & Taruma:
mungkin penulis cerita/sutradara sudah cukup muak dengan realita yang menjadi ide film dan hampir putus asa untuk melakukan eksekusi dengan halus.
Mirip Ketika, yang kayaknya justru penonton yang tidak siap melihat visualisasi kebobrokan yang mudah ditemui sehari-hari.
Di Nagabonar v2, karena idenya tidak terlalu ekstrim, barangkali bisa lebih baik mengeksekusi sehingga lebih sukses.
idenya sudah berbobot kan untuk kritik sosial. eksekusinya yg gak enak ditonton. lumayan lah buat pembelajaran aria.
btw jaman kebablasan gini yg kritik sosial udah pada pensiun lho. gak ada lagi jeritan lagu iwan fals, gak ada lagi diskusi intelek parodi ala republik bbm. yang tersisa cuman serpihan2 dagelan yang (mau distempel) subversif
Silahkan login untuk memberikan pendapat