Bioskop Yang Mirip Bioskop 2

Jumat, 27 Mei '11 09:39

Cuma sekedar ingin bernostalgila sedikit, melihat kondisi perfilman sekarang nyaris kembali ke beberapa tahun yang lalu di kampung saya.  Ya saya katakan mirip, soalnya kalo sekarang pilihan filmnya yang terbatas, kalo dulu justru tempat nontonnya yang terbatas.

Tempat pertama yang saya inget adalah sebuah tempat nonton yang akrab disebut dengan bioskop Kamaratih.  Tempat nonton itu berupa layar lebar di depan, dalam sebuah ruangan beratapkan langit, beralaskan bumi, dalam artian harfiah.  Mungkin nama lainnya bisa di katakan sebagai misbar rada elit.

Dengan bermodal limaratus rupiah saja *bayangin aja tuh taun berapa haha* sudah cukup untuk membeli karcis *iya karcis, bukan tiket* seharga tiga ratus perak.  Seratusnya buat beli selembar koran sebagai alas duduk, sisanya cukup buat sebatang rokok, buat ngusir nyamuk :D

Syukurnya saya ga pernah ngalamin ujan yang tiba saat film ditayangkan, dan kala itu rata-rata film yang tayang adalah film Indonesia dan film dari daratan China, macam film-film yang dilakoni idola saya : Stephen Chow.

Lalu rada mundur dikit, saat saya masih kecil, pernah juga nonton film gratisan, dengan sponsor sebuah perusahaan, ini dengan format  nobar kalo jaman sekarang, cuma beneran pake proyektor, areanya di halaman perusahaan sang sponsor.

Di lain waktu, pernah juga nonton misbar (lagi) di saat musim kemarau, nontonnyadi lapangan yang sebelumnya adalah areal persawahan yang diratakan seadanya.  Karcisnya juga waktu itu masih tiga ratus perak, dan saya masih inget judulnya : Dendam si Anak Haram, *buset film taun berapa tuh udah nonton film dengan judul macam gitu* :))

Kemudian pernah juga nonton film horror, tentang hantu yang harus dipaku kepalanya gitu, itu saja sih adegan satu-satunya yang saya inget, nontonnya pas lagi ada acara pengumpulan dana buat kompetisi sepakbola antar kampung, tayangnya juga di sawah penduduk yang disulap menjadi lapangan bola, juga saat musim kemarau, karena kalo  musim hujan ga ada lapangan yang layak untuk dipakai tampaknya.

Saat kuliah, pernah sempat ada jaringan 21 di ibukota provinsi, sempat menikmati jadwal tayang film-film hollywood, sebelum terjadi kerusuhan pada bulan Mei yang berimbas semua bioskop di bakar massa ga jelas :|

Akhirnya kembali lagi nonton ke bioskop yang tersisa, bioskop kelas kuda, yang menayangkan film-film produksi dalam negeri dengan tema ga jauh-jauh dari adegan percintaan absurd yang ujung-ujungnya pasti nayangin adegan intim antara insan berbeda jenis yang sayaangnya nanggung, baru keliatan kaki bertautan, tau-tau sudah masuk adegan di pagi hari.

Bioskop terakhir itu lumayan keren, di tengah-tengah tayangan kadang ada selingan, berupa adegan lari makhluk lain semacam tikus di sekitar lantai bioskop, sungguh menakjubkan.  Belum lagi kok bisa-bisanya beberapa anak kecil  hadir di deretan kursi paling depan , kapan mereka masuknya coba ? :((

Jadi, mungkin segityu saja pengalaman nonton jaman baheula, yang ternyata masih ga berubah juga kondisinya dengan masa sekarang ya, ya terutama terkait dengan tema film produksi negeri ini.

demikianlah :D


Tag: nonton

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

FikryAyubRaka 0 0
bearti kalo mau menonton bioskop jaman 2 dolo harus merelakan uang kita buat beli koran dan sebatang rokok : D buat usir nyamuk : D

ketimbang jaman skr serba mantap dan ok !

tapi mengapa isi filmnya aneh2 smua !!
warm 0 0
FikryAyubRaka: ehehe namanya juga di kampung nan jauh dipedalaman mas, ndak ada bioskop beneran waktu itu : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat