KOKUHAKU (CONFESSIONS) : THE BIGGEST BULLY IS ONE IN YOUR MIND 2

Rabu, 18 Mei '11 04:34

 

KOKUHAKU (CONFESSIONS) : THE BIGGEST BULLY IS ONE IN YOUR MIND

Sutradara : Tetsuya Nakashima

Produksi :  Toho Company, Hakuhodo DY Media Partners, 2010

 

         Ah, Jepang memang hebat dalam hal-hal yang berbau trendsetter. Kemajuan pesat mereka tak pernah mentok, dan always moving forwards.  Kiprah perfilman mereka dalam genre horror, tak usah lagi disebut. Tapi saya masih ingat rasa takjub ketika menyaksikan 'Battle Royale' atas kegilaan yang mengalir dalam idenya yang juga dibungkus dengan isu generation gap yang menyeruak di kehidupan bangsa mereka. Oke, diantaranya bukan tak ada yang bagus. Ju-On, Death Note, dan banyak lagi, merupakan inovasi-inovasi yang luarbiasa. Namun Kokuhaku (Confessions) adalah sebuah film lagi dari mereka yang membuat saya kembali merasakan ketakjuban saat pertama kali menyaksikan 'Battle Royale'. Namun yang satu ini jauh lebih dahsyat. Dan begitulah, dimanapun, silahkan start googling your pc dan Anda akan bisa melihat impact perdebatan filmis hingga psikologis yang seru dari masterpiece  yang disertakan ke perhelatan Oscar barusan sebagai official selection dari perfilman mereka.

         Lahir dari sebuah novel bestseller debut seorang Kanae Minato, di tangan sutradara Tetsuya Nakashima, yang tak juga punya catatan terlalu remarkable dalam karirnya, mostly internationals, Confessions memang menawarkan wrapping lengkap dari sebuah thriller psikologis berdasar sebuah plot balas dendam. Namun ini bukan yang biasa. Tetap berdarah tapi tak lantas menjadi sajian gory biasanya, penuh twist seperti kue lapis yang tak bakal habis-habis disantap, dan yang paling menarik, Confessions menyajikan ceritanya bak seorang aktifis yang bicara tentang isu-isu kehidupan remaja di Jepang, mulai dari sistem edukasi dan carut-marut formil-nonformil di dalamnya, perilaku bully, bunuh diri, dan pelarian ego atas perlakuan orangtua,  kesehatan, teknologi hingga hukum juvenile law yang meliputi psikologi kaum itu secara benar-benar detil. Penuh protes dan sindiran halus sampai kasar, namun penyampaiannya dirangkai lewat puzzle psikologis yang luarbiasa menakjubkan.

         Semua berawal dari dendam Yuko Moriguchi (Takako Matsu), guru SMP yang baru saja kehilangan putrinya yang dipercayanya dibunuh oleh dua siswa kelasnya. Shuya (Yukito Nishii) dan Naoki (Kaoru Fujiwara), dua bocah dengan latar belakang trauma keluarga yang bertolak belakang itu kemudian dijebaknya dengan sebuah pengakuan bahwa susu kotak yang mereka minum telah dikontaminasi darah sang suami yang penderita HIV. Anda-anda yang tahu seluk-beluk tentang penularan HIV bisajadi terhenyak dengan penuturan tak masuk akal ini, namun jangan buru-buru protes. Cukup sampai disitu, ini hanyalah sebuah awal dari mindgames yang yang akan membuat mata Anda tak bergeming dari layar mengikuti rangkaian puzzle penelusuran psikologisnya. The rest is all twists. Twist lagi dan lagi. Dan terus hingga kredit akhir film bergulir. You'll be twisted to your mind and soul.

         Oke. Saya tak akan menampik kalau Confessions nyata-nyata bukan sebuah film pop yang mudah buat dinikmati. Harus ada minat dan kemauan spesial untuk bisa mengikuti puzzle demi puzzle itu sampai selesai atas style filmis yang dihadirkan Tetsuya Nakashima. But once you're in, akan sangat sulit untuk memindahkan mata dari layar. Suasana muram, shot-shot artistik yang bergerak sangat lamban, bangunan karakter dengan latarbelakang kuat yang berinteraksi menjalin benang merah plotnya, kekuatan dialog yang wajib dicerna satu-persatu buat merangkai clue terhadap twist-twistnya, sampai score dan soundtrack (termasuk Last Flowers-nya Radiohead) yang serba depresif itu, buat sebagian terutama penonton serius, jelas adalah sebuah visual sinematis yang luarbiasa cantiknya, namun buat penonton awam ini seperti sebuah nightmare yang tak kunjung berakhir. Akting para pendukungnya juga menghadirkan gestur dan ekspresi yang luarbiasa mantap, especially Takako Matsu yang menggerakan semua bagian organ wajahnya dengan coldly creepy tanpa harus memasang ekspresi menakutkan. Menyematkan satu lagi karakter siswi Mizuki Kitahara (Ai Hashimoto) juga justru membuat benang merah twistnya semakin efektif. 

       So it's segmental in its every sides, namun menyerap keseluruhan plotnya akan menggedor hati Anda untuk berpikir kembali akan isu-isu sosial yang ada di dalamnya, betapapun Jepang mungkin sebuah negara yang berbeda, namun satu-dua bahkan lebih juga ada di kehidupan kita, dimana perdebatan dan jalan keluar bijak terhadap semua eksekusinya tak akan pernah habis-habis. I don't know if it's just me, tapi bagi saya, ini adalah sebuah masterpiece yang dibangun dari ide-ide jenius dalam otak para pembuatnya, dan berhasil tertuang pula dengan sama jeniusnya. Sebuah mindbending thriller yang sangat, sangat menggedor dengan kekuatan ekstra, dan belum tentu bisa didapat kapan saja dari sebuah karya bernama film. (dan)

 

 


Tag: oscar, review, Academy Awards, Japan, death note, resensi, kokuhaku, 83rd Academy Awards, confessions, movie reviews, ai hashimoto, battle royale, hakuhodo DY media partners, HIV, ju-on, kanae minato, kaoru fujiwara, kokuhaku confessions, last flowers, official entry, radiohead, takako matsu, tetsuya nakashima, toho company, yukito nishii

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

bitterjoy 0 0
idenya sama pesan2nya bagus,tapi stylenya terlalu le...err,terlalu video klip, : D
elian 0 0
wah saya pikir justru cara pengambilan gambarnya justru sangat keren tuh. benar benar membangun atmosfer yang gelap dan muram. sinematografinya bagus banget kalo kata saya sih : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat