SuckSeed (Thai, 2011) 3
Kamis, 12 Mei '11 12:43
Tak ada rotan, akar pun jadi. Penggambaran yang mungkin tepat untuk kondisi perfilman di Indonesia. Perfilman di sini mencakup dua hal; film-film karya sineas dalam negeri, dan film-film impor yang tayang di bioskop lokal.
Sejak permasalahan pajak film impor yang belum ada titik terang juga hingga sekarang, masyarakat kita harus menikmati film Hollywood kelas 2 atau basi (remake My Sassy Girl, anyone??). Mencoba film dalam negeri pun sama saja, jika tidak boleh dibilang lebih parah. Serbuan makhluk halus dan tubuh sensual bintang film dewasa luar negeri dalam satu paket, sepertinya sudah menjadi template film nasional belakangan ini.
Blitz Megaplex menjadi pihak yang "sedikit" berada di depan untuk masalah ini. Komitmen dan konsistensinya untuk menayangkan film-film Asia sungguh terbukti menjadi setetes air di padang pasir. Jika sebelumnya kita mengenal perfilman Thailand dengan horror yang tidak kalah dengan Jepang, misalnya Shutter, Coming Soon, dwilogi Phobia, dan Alone, tahun 2011 ini sepertinya angin berhembus ke drama komedi romantis. Hello Stranger, A Little Thing Called Love (ALTCL), dan kini SuckSeed, mencoba mengikuti jejak Bangkok Traffic Love Story di genre ini.
Masyarakat sudah jatuh cinta dengan Hello Stranger dan ALTCL, lalu bagaimana dengan SuckSeed? Bagi yang sudah menonton ALTCL, rasanya pasti setuju kalau kekuatan utama film tersebut justru dari kesederhanaan cerita (bahkan predictable) dan kejujuran untuk menunjukkan budaya Thailand apa adanya. Sesuatu yang, maaf saja, belum bisa ditemukan di kebanyakan film Indonesia belakangan ini.
SuckSeed pun mengusung prinsip yang sama: plot sederhana dan budaya khas Thai. Adalah Ped, seorang anak laki-laki yang pemalu dan, berdasarkan pembukaan film, pengecut. Ketika SD, ia jatuh cinta dengan Ern, gadis manis yang sangat mencintai musik dan bercita-cita menjadi penyanyi. Bahkan, keluarganya memiliki toko kaset dan CD. Sayangnya, akibat kebodohan Ped sendiri, terjadi kesalahpahaman di hari terakhir Ped sebelum pindah ke Bangkok. Kesalahpahaman tersebut melibatkan sahabat Ped yang bernama Koong, seorang cowok plin plan yang punya saudara kembar bernama Kay. Masalah tersebut pun tidak terselesaikan hingga kepindahan Ern.
6 tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali saat SMA. Ped tetap seorang yang pemalu, Koong masih plin plan, dan kini berada di bawah bayang-bayang saudara kembarnya, Kay, yang populer dan memiliki band idola remaja. Terdorong tekad untuk mengalahkan kembarannya (dan supaya disukai cewek-cewek), Koong mengajak Ped untuk membentuk sebuah band. Di saat itulah, Ern pulang dari Bangkok, dan kembali membuat Ped jatuh cinta lagi, sekaligus merasa bersalah karena permasalahan yang belum selesai di masa kecil mereka.
Ern, yang kini telah jago bermain gitar, diajak bergabung oleh Koong, bersamaan dengan Ex, seorang cowok yang "jago basket", sebagai drummer. Mereka secara blak-blakan menantang band Kay untuk bersaing di HotWave, sebuah kompetisi band sekolah berhadiah rekaman album profesional. Tentunya dengan keterbatasan setiap personil (kecuali Ern), jalan mereka tidak semulus yang diumbar Koong. Masa lalu, konflik persahabatan, dan tentu saja, percintaan, menjadi batu kerikil dalam ambisi Koong dkk.
Sekali lihat, premis cerita SuckSeed tidak memiliki keistimewaan. Kisah remaja yang mencari jati diri, cinta pertama, persaingan dengan rekan sebaya, semuanya bukan hal baru. Yang harus dicatat adalah, pengolahan semua itu menjadi satu kemasan yang segar dan menghibur. Unsur komedi sangat kental dalam SuckSeed. Hampir setiap scene diselipi humor, dan kadang, setelah tertawa, penonton langsung diajak terjun bebas ketika cerita berubah menjadi serius.
Genre musikal pun tidak setengah-setengah diusung. SuckSeed penuh dengan musik yang beraneka ragam. Setiap karakter (terutama Ped) yang tengah mengalami sebuah perasaan (sedih, bahagia, jatuh cinta), akan muncul satu lagu, yang, uniknya, disertai cameo oleh grup/penyanyi yang membawakan lagu tersebut. Hal ini tampak lucu dan "lebay" pada awalnya, namun, seiring cerita berjalan, penonton akan mengerti maksud sebenarnya. Begitu juga dengan sebuah animasi unik tentang penjelasan nama SuckSeed, sedikit mengingatkan pada Scott Pilgrim atau Diary of Wimpy Kid. In a good way, of course.
Dengan durasi +/- 130 menit, yang cukup standar untuk film drama Thailand, sebenarnya SuckSeed bisa lebih dipadatkan lagi. Terutama jika penonton sudah mulai hafal dengan humor yang akan muncul. Namun, rasanya itu hanya minor flaw yang tidak terlalu mengganggu. Secara keseluruhan, SuckSeed sangat Succeed dalam memberikan hiburan, dan memberi pelajaran berharga bagi sineas lokal: tidak perlu plot yang rumit atau bintang porno untuk menyajikan film berkualitas bagi penonton.
8/10.
Terkait:
-
HOW I MET YOUR MOTHER
Kamis, 2 Feb '12 15:31 -
Sunny (2011)
Sabtu, 17 Des '11 05:20 -
The Change Up (2011)
Sabtu, 12 Nov '11 19:48

Komentar:
"tidak perlu plot yang rumit atau bintang porno untuk menyajikan film berkualitas bagi penonton."...
Silahkan login untuk memberikan pendapat