SOURCE CODE : QUANTUM PHYSICS AIN'T NEVER MISSED! 5

Kamis, 12 Mei '11 04:36

 

SOURCE CODE

Sutradara : Duncan Jones

Produksi : The Mark Gordon Company, Vendome Pictures & Summit Ent, 2011

 

         No, it's not the 'source code' as in programming terms. Source Code disini adalah sebuah proyek yang dirancang untuk mencegah kekacauan di masa depan, berdasar visi mekanika kuantum untuk menemukan targetnya. Now let's talk about movies based on these unique theories. Quantum Physics, Quantum Mechanics, Linear Algebra, Parabolic Calculus, atau apapun itu, yang pengimplementasiannya beragam mulai dari gambaran multidimensional, alternate universe, butterfly effect hingga time travel, adalah basis yang sangat menarik untuk sebuah sci-fi dalam berbagai subgenre. Ada banyak celah fantasi serta emosi yang bisa digali dari sini. Mulai dari Groundhog Day yang bergenre romcom, Frequency sebagai sci-fi thriller yang sangat pop, Butterfly Effect yang sedikit berhorror-horror, trilogi Back To The Future yang legendaris hingga A Sound Of Thunder yang ambisius tapi kurang bujet itu sekalipun, semuanya menyajikan kombinasi yang serbamenarik, baik dari visual efek maupun penelusuran plot yang unik. Dan tak jarang, hampir selalu ada satu sisi menyentuh dalam kaitan komunikatif sebuah karya sinematis dimana penonton yang menempatkan diri mereka pada karakter utama memicu suatu pengharapan atas kegagalan dalam memori mereka.

            And so, seorang Duncan Jones, known as the only son of famous singer, David Bowie, yang sukses membesut sebuah sci-fi kecil dengan kejeniusan tinggi sehingga menjadi film segmental yang dipenuhi fanatisme penggemar sci-fi, 'Moon', cerdik sekali membaca ini. Film keduanya, Source Code, dari skenario besutan Ben Ripley yang baru punya catatan karir di dua sekuel straight-to-vidz 'Species' dan Billy Ray dari 'Shattered Glass' dan 'Breach' (uncredited), sudah mengumpulkan resepsi kredit yang mengagumkan sejak peredarannya. Summer movie wars mungkin baru saja bergulir, tapi kita agaknya sudah punya kandidat 'Inception' tahun ini. Sebuah sci-fi mindbending penuh twist, yang tangguh di semua sisi sinematisnya.

         Seorang pilot US Army, Kapten Colter Stevens (Jake Gyllenhall), seketika mendapati dirinya terbangun di sebuah keretaapi menuju Chicago dengan visi dejavu yang sangat kuat. Di depannya, duduk seorang wanita bernama Christina Warren (Michelle Monaghan) yang seolah kenal dekat dan memanggilnya dengan nama Sean Fentress dengan profesi guru. Stevens yang kebingungan mendapati identitas ID nya bernama Fentress dan penglihatan berbeda di kaca lantas mulai menelusuri misteri ini hingga sebuah ledakan mengantarkannya ke ruang simulasi terisolasi dibawah komando Kapten Goodwin (Vera Farmiga) dari US Air Force bersama seorang ilmuwan, Dr. Rutledge (Jeffrey Wright). Dari sini, Stevens kemudian menemukan kenyataan mengerikan yang terus mengembalikannya ke peristiwa 8 menit sebelum ledakan itu, dan berusaha keluar hidup-hidup adalah satu-satunya pilihan sambil pelan-pelan menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidupnya.

         Sejak awal, Jones sudah mengeksekusi plot penuh twist ini dengan benar-benar rapat dan membawa penontonnya ke rasa keingintahuan penuh mengikuti tiap adegan yang digelarnya. Ketegangan yang terbangun secara intens dengan sendirinya pun dipenuhi dialog-dialog yang dengan rapi menyimpan dan membuka satu-persatu twist demi twistnya. Tanpa perlu menggeber visual efek berlebihan, Jones sudah mampu menampilkan nafas sci-fi yang luarbiasa kuat dari puzzling plot tadi, dan seperti 'Moon' juga, keunggulan khasnya terlihat semakin teruji disini. Dengan dua list film di karirnya, Jones sudah menunjukkan dirinya sebagai sineas yang sangat memperhatikan detil hingga ke selera personalnya, termasuk penggunaan lagu kesayangannya lagi-lagi disini, The One And Only-nya Chesney Hawkes yang bakal dikenal oleh pemirsa yang merasakan pop-culture di tahun 90an, namun tak lantas keluar jalur menjadi sajian yang segmental.

            Jake Gyllenhall bermain intens sebagai Stevens, dengan chemistry yang juga sama baik dengan dua primadonanya, Monaghan dan Farmiga. Penampilan Jeffrey Wright, aktor berpotensi besar yang tak kebagian porsi kelewat banyak pun cukup mendukung bangunan twist tadi. Rasanya tak perlu lagi membahas kelewat banyak secara 'Source Code' memang ada di kotak genre film-film 'the less you know, the more you enjoy' yang akan membuat Anda terhenyak mengikuti adegan demi adegan dimana pikiran terus menerus digedor dengan twist berlapis hingga ke bagian paling akhir. Dan Anda lagi-lagi akan terkecoh kalau menyangka Jones akan menyimpulkan endingnya dengan sebuah pesan berharga yang begitu menyentuh dimensi kehidupan kita. Tak tahu nanti, tapi hingga dua debut fenomenalnya ini, Jones himself is a sci-fi, dan ia dengan setia terus bergerak lebih jauh menjajal otak kita dengan konsep itu. Source Code adalah sebuah very well-crafted sci-fi yang sangat wajib masuk ke dalam daftar tontonan Anda. Bukan hanya untuk melepas kerinduan ke bioskop karena penonton Indonesia sudah dua bulan tak disuguhi blockbuster impor yang kaya segalanya akibat kebodohan pemerintahnya, namun karena ini memang film bagus. Quantum physics ain't never missed. The rest is how your brains create the equations, and then, BANG !! (dan)

 

 


Tag: moon, review, Inception, movie review, resensi, Duncan Jones, Summit Entertainment, breach, source code, a sound of thunder, alternate universe, back to the future, ben ripley, billy ray, butterlfy effects, chesney hawkes, fisika kuantum, frequency, groundhog day, jake gyllenhall, jeffrey wright, linear algebra, mekanika kuantum, michelle monaghan, next, parabolic calculus, parallel universe, quantum mechanics, quantum physics, shattered glass, species 3, species 4, the deaths of ian stone, the one and only, time machine, time travel, vera farmiga, david bowie

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

yufan 0 0
salah satu hollywood yg ditunggu, untg masuk indonesia..hahay : )
venus 0 0
paling nungguin film ini ditengah film film bioskop sekarang yg gak jelas
danieldokter 0 0
yup. mudah2an sehabis ini, paling nggak yg di luar MPA, udah bisa diputar seperti biasa. tp utk pembuka, Source Code ini memang dahsyat feelnya.
Taruma 0 0
sekarang, bacanya jadi lebih enak. : )
bnugroho 0 0
baru kelar nonton kemarin...
film yang keren... bagus... terasa sangat berkualitas karena selain filmnya sendiri ok, film lain sebagai kompetitor di bioskop cuma film yang gak jauh dari genre horor plus seks etc.

Silahkan login untuk memberikan pendapat