Pukulan Telak Untuk Seni Populer Atau Anggap Saja Maunya Begitu 1
Minggu, 8 Mei '11 14:48
sucker punch n: "a sudden surprise punch, esp from behind" (Webster Dictionary)
Apa yang bisa diharapkan dari kondisi perfilman dunia saat ini ketika institusi-institusinya semakin berorientasi melulu pasar? "Sucker Punch" bisa jadi salah satu alternatif jawabannya.
Sutradara muda Zack Snyder yang lebih dikenal sebagai penggarap film-film laga dengan pendekatan artistik khas sebagaimana tampak dalam "300" maupun "Watchmen" kembali ke panggung film dunia tahun ini dengan sebuah film dari naskahnya sendiri, bertajuk "Sucker Punch". Bagi saya pribadi, ia merupakan salah satu sutradara menjanjikan. Sebab, dibandingkan kompatriot-kompatriotnya di Hollywood, ia tak sekadar menciptakan adegan-adegan laga formulaik.
Begitu melimpah film aksi dari Hollywood, namun tampaknya muncul kecenderungan baru lima tahun terakhir. Apabila diniatkan sebagai film aksi, maka yang muncul adalah parade kebodohan dan kemustahilan berbalut efek CGI. Sementara ketika film aksi itu mengejar kualitas pula, adegan aksinya sering jauh dari berkesan (tengok seri "Bourne" atau Batman-nya Nolan).
Film-film Snyder lalu mengisi celah dikotomi tersebut. Ia bekerja dengan intuisi dan pendekatan personal saat mengkreasi adegan-adegannya, hal-hal yang tak lagi banyak diupayakan sineas film akhir-akhir ini.
Apabila Timur Bekmambetov menghadirkan rupa-rupa aksi fantastis, termasuk adegan membelokkan peluru nan musykil di "Wanted", atau Michael Bay yang melulu menjual ledakan di seri "Transformer", Snyder lebih sering menciptakan adegan brutal cenderung hiperbolis dalam suasana kontras, dan anehnya, tetap menyediakan ruang bagi kita merenung. Contoh paling kasat mata tentu adegan tarung antara Comedian dengan si penyerang tanpa nama di pembuka film "Watchmen" - dan uniknya ia sisipi soundtrack "Unforgettable" dari Nat King Cole.
Bahkan, sampai beberapa waktu lalu, saya menganggap ia salah satu dari yang terbaik. Cukup dengan menyaksikan kolase scene pembuka "Watchmen", pendapat saya rasanya tak terlalu salah, minimal, anda akan turut menyepakati bahwa sutradara yang satu ini memang punya talenta tersendiri. Pendapat saya berubah seusai menyaksikan "Sucker Punch".
Maka, sebelum masuk ke urusan menilai film, kita bicarakan dulu visi Snyder seperti yang telah saya paparkan di atas. Dia jelas belum kehilangan sentuhan dalam urusan membuat adegan slow motion dan hiperbolis tanpa terasa artifisial. Beberapa momen dalam "Sucker Punch" menunjukkan kelihaiannya berbicara dalam detail untuk menyulut suasana emosional dan psikologis penonton.
Satu contoh, ketika sang tokoh utama Baby Doll (Emily Browning) hendak dianaya ayah tirinya usai pemakaman ibu tercinta, Snyder memilih untuk menampilkan rangkaian shoot baju yang robek, berlanjut ke sebuah kancing yang terlepas dan jatuh berputar di lantai. Adegan itu brutal tanpa Snyder mengekspos kekerasannya sama sekali. Di suasana berbeda, kita saksikan pula kekhawatiran Baby Doll, akan perlakuan kasar sang ayah, dari sebuah shoot layak kenang: mata birunya mengintip penuh kecemasan melalui sebuah lubang kunci, diiringi remix lagu "Sweet Dreams" milik grup Eurhythmics. Bahkan, walau adegannya tolol sekalipun, seperti saat ia membantai tiga samurai robot di kuil bersalju, slow motion efektif menaikkan tensi, dan memuaikan atmosfir "keren".
Maka efektivitas bahasa gambar, mengobati kita dari luka akibat dunia tiga lapis rekaan Snyder kali ini yang sangat tidak masuk akal. Apabila Guillermo del Toro membawa kita pada persinggungan dunia nyata dan dunia khayalan dalam "Pan's Labyrinth", Snyder menciptakan tiga susun alam kesadaran Baby Doll. Yang pertama, dunia nyata kejam, ketika ia disiksa ayah tiri, tak sengaja membunuh sang adik, dan masuk ke rumah sakit jiwa untuk menanti operasi lobotomi sebagai hukuman.
Dunia kedua sepertinya alam bawah sadarnya, dengan latar RSJ berganti menjadi rumah semi-bordil berisi gadis-gadis cantik dieksploitasi dan dipaksa menari erotis, dipimpin oleh Carla Cugino, yang dalam dunia pertama berperan sebagai kepala RSJ. Dari setting dunia ini, Baby Doll bersua kawan-kawan baru yang ternyata juga merencanakan kabur. Mereka semua memiliki nama-nama dan penampilan yang rasanya bakal memuaskan para fetishish, mulai dari Pea (Abbie Cornish) dan adiknya Rocket (Jena Malone), Blondie (Vanessa Hudgens), serta terakhir Amber (Jamie Chung).
Tak cukup dengan dua alam kesadaran tersebut, Snyder menciptakan lapis ketiga alam bawah sadar berisi petualangan gila Baby Doll dkk, melawan zombie pasukan Nazi, naga raksasa penyembur api, hingga robot-robot penjaga kereta bermuatan nuklir. Lapis ketiga ini dimaksudkan sebagai penggambaran hiperbolis dari aksi nyata Baby Doll di lapis kesadaran pertama yang mencoba kabur dari Rumah Sakit Jiwa. Bagi saya, mulanya, konsep Snyder ini kacau bukan main. Kalau memang lapis dunia dua dan tiga itu diniatkan sebagai gambaran imajinasi Baby Doll, beberapa kali adegan itu muncul tanpa harus dibayangkan oleh Baby Doll. Lantas, mimpi atau imajinasi siapa itu? Siapa pula itu si tua bijak yang memandu Baby Doll, hati nuraninya?
Namun, terlepas dari begitu fatalnya bolong skenario "Sucker Punch", Snyder rasanya punya potensi menyulut polemik kebudayaan pop tahun ini. Mengingat film ini bukan proyek pesanan, dan ia tulis sendiri naskahnya (dibantu Steve Shibuya), saya yakin film ini dibuat secara sadar sepenuhnya. Meskipun kita bisa pula menebak kalau sebetulnya Snyder hanyalah penulis tolol cenderung idiot yang selama ini berlindung di belakang adegan aksi artistik agar terkesan pintar, cukup sulit untuk tak menyebut "Sucker Punch" sebagai film dengan kualitas "Ubermensch"-nya Nietzsche.
Film ini tidak terikat ukuran moral apapun dalam dunia seni. Dengan gagah berani, Snyder menggabungkan video klip berisi aksi-aksi khas game diiringi lagu-lagu pop, tanpa terlihat sedikitpun khawatir orang-orang bakal ramai menghujatnya. Maka, penonton dibuat terombang-ambing dalam posisi ambigu, hendak meludahi atau menyanjung film ini.
Dibalik kekecauan logika cerita, aksi-aksi tanpa makna (walaupun tetap saja keren), kita (paling tidak saya pribadi) tak bisa begitu saja mengutuknya. Film ini bagaikan acungan jari tengah dari Snyder untuk konvensi Hollywood, tentang apa dan bagaimana film aksi seharusnya dibuat. Tanpa ia mau sekalipun, "Sucker Punch" telah menjadi teks yang teramat subversif pada norma dan apapun itu yang disebut "pakem membuat film". Lebih jauh lagi, film ini seperti cibiran bagi segenap penonton yang mengedepankan penilaian artistik saat menikmati sebuah film.
Dengan maraknya medium menonton film, dua dekade terakhir, dapat kita saksikan di hampir semua negara, bermunculan jenis penonton kritis dan cerdas. Rata-rata, mereka sangat menggilai film, tahu luar dalam aspek teknis pembuatan film, bahkan dalam contoh ekstrim mereka bisa dengan jeli menghitung berapa kali kesalahan terjadi di seluruh adegan. Kasus teranyar melibatkan penonton macam ini muncul saat "Inception" ramai dibahas. Ada penonton yang keukeuh menganggap bahwa cerita Nolan itu merupakan manifestasi Injil, sementara yang lain sampai menggambar bagan konseptual susunan logika alam mimpi sesuai penggambaran di filmnya.
"Sucker Punch" mempersetankan itu semua dengan terang-terangan. Bila Nolan seringkali bercerita secara keren, tapi tetap terkesan cerdas, Snyder kali ini betul-betul menjadi anti-tesisnya. Ia becerita dengan keren agar dianggap tolol. Selain itu, ia tak ragu-ragu menampilkan semangat postmodern dalam mengisi ruang-ruang di film terayarnya ini. Hampir semua adegan aksi jelas diinspirasi dari video game, kompleksitas alurnya sangat dipengaruhi film-film David Lynch, sementara penggambaran dunia bordil dan eksploitasi gadis-gadis seksi penghuni rumah sakit jiwa, nyaris mencontek habis film besutan sutradara Perancis Lucile Hadzihalilovic, bertajuk "Innocence".
Bahkan untuk semangat posmodernis itu, ia tetap tak menyerupai Quentin Tarantino. Jika Quentin mengemas film dengan renik-renik pengetahuan bak ensiklopedia, seakan setiap adegan yang ia buat merupakan catatan kaki yang terhubung atau terinspirasi film lain di belahan dunia ini, cara Snyder memproduksi "Sucker Punch" bayangkanlah seperti anak kecil yang mendadak diberi segepok uang dan keleluasaan untuk membikin apapun yang ia mau.
Karena itulah, "Sucker Punch" memuat kenaifan tulus, yang coba saya gambarkan dalam kalimat tanya, "Sejak kapan dan oleh siapa, menggabungkan naga, robot, dan drama psikologis perempuan berpakaian lateks seksi ke dalam satu cerita dilarang?"
Ya sejak kapan semua pakem muncul dan mendapat legitimasi?
Pertanyaan itu sebetulnya klise, tapi tetap berhasil menohok saat momen perenungannya datang. Apakah karena penonton membayar, maka otomatis mereka "harus" mendapat cerita logis? Film ini entah mengapa berhasil menangguhkan jawaban yang biasanya akan cepat melontarkan seruan, "iya!"
Snyder bermain-main dengan konsepsi seni dan penikmatnya. Sekali lagi, terlepas dari ia sadar atau tidak dengan tafsiran saya terhadapnya, film ini bakal memaksa penonton untuk menentukan kembali, siapa seniman, apa itu karya seni, dan siapa penonton. Seperti halnya Warhol menguji kita semua dengan foto-foto sablonnya dahulu. Apakah ia benar-benar membuat karya seni?
Tapi saya akhirnya rileks dengan cara bertuturnya yang kacau, yang bahkan terlalu aneh saat dibuat sinopsisnya. Dalam konteks perenungan tadi, sampailah saya pada kenyataan bahwa Snyder telah mengungkapkan segalanya sejak dari judul. Ya seharusnya kita jeli membaca judulnya sejak awal. "Pukulan tak disangka-sangka" sepatutnya bermakna sesuatu saat ia dipilih sebagai judul sebuah film yang tak ada sangkut-pautnya dengan tinju dan sebagainya.
Saya tidak sedang membela sebuah film jelek dan menambah-nambahinya dengan beberapa pendapat yang menaikkan harkatnya jadi terkesan lebih intelek. Judul itu menggambarkan betapa Snyder tak mengibuli kita. Ia memberi kita hal-hal yang kita mau (mungkin sepertinya kita bakal dapatkan darinya, atau malah yang ia pikir ingin kita saksikan), mengolahnya dalam wujud kumpulan gadis seksi bertarung melawan monster dan segala absurditas, lantas menghujamkannya tepat ke kepala kita. Tepatlah belaka tagline film ini: "You will be unprepared"
Jadi, apa yang bisa diharapkan dari kondisi perfilman dunia saat ini ketika institusi-institusinya semakin berorientasi melulu pasar? "Sucker Punch" bisa jadi salah satu alternatif jawabannya. Bahwa ia representasi sebuah film kacau dan merusak nalar kita (puncak banalitas kebanyakan film masa kini dengan fungsi konsumsi an sich); atau sebuah sarana pemuasan hasrat personal sang sineas menjadi antagonis di mata penonton filmnya sendiri, guna menguji pemahaman dan ketetapan hati kita, dalam menentukan mana yang sampah dan mana yang tidak. Film ini mencakup dua kemungkinan itu sekaligus.
"Sucker Punch" [2011]
Pemain: Emily Browning, Vanessa Hudgens, Jamie Chung, Abbie Cornish.
Penulis Skenario: Zack Snyder & Steve Shibuya
Sutradara: Zack Snyder
Tag: fantasy, pop, Posmodernisme
Terkait:
-
FANTASI BERKECAMUK DENGAN THRILLER DAN HOROR
Jumat, 6 Apr '12 17:53 -
Preview Hugo
Rabu, 8 Feb '12 17:10 -
Conan The Barbarian
Selasa, 18 Okt '11 10:55
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
angrynerdrock: Good Take
-
bickysaja: Good Take
-
kniwe: Box Office
-
Taruma: Good Take

Komentar:
*speechless
Silahkan login untuk memberikan pendapat