SUSTER KERAMAS 2 VS POCONG MANDI GOYANG PINGGUL : AOI-LIENS VS GREYDATORS 9
Selasa, 3 Mei '11 04:16
SUSTER KERAMAS 2 VS POCONG MANDI GOYANG PINGGUL
Sutradara : Findo Purnomo HW/Yoyok Dumpring, Dumprink, ah, entah siapa
Produksi : Maxima Pictures/ K2K Productions, 2011
"Ketika pasien lebih memilih mati daripada sembuh". "Ketika malam datang.. suara musik terdengar... pocong datang!". "Ketika malam suro datang dan kran air terbuka... pocong juga datang!!". With those taglines, well, everyone, WELCOME TO THE BIGGEST INDONESIAN MOVIE EVENTS OF THE YEAR!. Di kala dua studio berlomba-lomba melakukan spesialisasinya memperkenalkan nama negara kita ke dunia internasional, dengan mengundang dua bintang panas papan atas. Satunya dari Jepang, satunya lagi straight from Hollywood, Los Angeles, United States Of America. Sola Aoi dan Sasha Grey. Dalam waktu edar cuma berbeda seminggu, bioskop kita yang sedang susah-susahnya mencari identitas atas pemblokiran film impor dipenuhi dengan gegap gempita peristiwa besar ini. Saya tak tahu apakah kita harus bersyukur dengan fenomena yang jadi trend ini, atau malah sedih setengah mati. Kita ambil di tengah-tengahnya saja. Ada baiknya, bahwa Indonesia lebih baik dikenal dengan kebiasaannya mengundang bintang bokep ketimbang bom dan pemerintahan yang carut-marut, serta sekaligus membuat sebagian ormas terus kebakaran jenggot mereka yang rata-rata terlalu panjang itu. Sementara jeleknya, seperti seorang Christopher Nolan, Maxima dan KK Dheeraj dengan jeniusnya berhasil menggali nafsu dan selera terendah penonton bahkan lebih kacrut dari film esek-esek tahun 90an yang sekali waktu dulu pernah menghancurleburkan perfilman nasional, dengan berbondong-bondong datang ke bioskop. Atau itu justru nilai positifnya? Ah, terserahlah. Tapi lagi, saya menganggap wajar-wajar saja kalau yang namanya kaum laki-laki kita (termasuk saya, ya, tak usahlah munafik), tertarik menyaksikan pameran itu. Seperti karakter Batman-nya Nolan yang dipaksa mengeluarkan sisi kebinatangannya, kira-kira. Dan KK Dheeraj sebagai sineas (saya menyerah, tak tahu apakah memang pantas ia disebut itu) yang lebih vokal, menyebutkan satu rahasia kepopuleran film-film kacrutnya. "Dimana lagi mau menyaksikan aktris terkenal berbikini kalau bukan di gedung bioskop ?". Mungkin karena dia tahu, minat membaca dan membeli majalah khusus pria yang harganya mahal belum terjangkau seluruh lapisan masyarakat kita. Iyalah, kak KK. Anda memang benar juga. However, ini adalah fenomena. Dan KKD sudah memperjelasnya lagi di prolog filmnya. Bahwa "this film is dedicated to laughter because laughter is the best medicine". Saya benar-benar kagum. Anda "Patch Adams" sekali ya...
So then, ketika Suster Keramas 2 yang tak ada sangkut pautnya dengan Suster Keramas 1 yang juga mengundang serta bintang JAV Rin Sakuragi itu, menggulirkan ceritanya dengan beberapa anak muda (Ricky Harun, Zidni Adam, Marcell Darwin) bersama Sola Aoi terjebak di sebuah rumahsakit selagi para hantu ber-Mardi Gras disana, Pocong Mandi Goyang Pinggul punya tendensi judul lebih twisting lagi. Tolong jangan diartikan sebagai satu kalimat. Itu hanyalah empat kata terpisah yang menjelaskan filmnya. Ada pocong, ada orang mandi, ada orang goyang (ini termasuk bermacam-macam goyang, mulai dari goyang dangdut, goyang house music, goyang striptis sampai goyang di tempat tidur), dan pinggul, jangan ditanya. Hampir semua ukuran rok yang dipakai aktris-aktris di film ini ukurannya memang hanya sepinggul. Disini, seorang anak muda (Chand Kelvin) mengalami amnesia setelah sebuah kecelakaan. Setelah itu, ia lupa-lupa ingat terhadap semua kecuali webcam sexchat-nya dengan seorang bule (Sasha Grey). Kedua plot dari film serupa tapi tak sama yang berbanyol-banyol di komedi horor itu dibalut dengan sebuah (maunya) twist yang, wah! Sungguh-sungguh menggetarkan. Satunya, dari KK Dheeraj, bahkan bisa membuat Anda berlari kencang ke kamar mandi dengan nafsu bersalin yang luarbiasa hebat, bahkan seumur hidup mungkin bakal mual kalau ditawari bakpao atau siomay. Oh ya, dua-duanya juga berisi kolaborasi aktris-aktris seksi alumnus tabloid dan majalah khusus pria kita, yang kalau nama dan pics-nya di-google cukup banyak memberi referensi senada.
Ok, now let's give each of them a review. Kita baiknya mulai dari Suster Keramas 2 saja. Coba kita kembali ke pakem komedi yang sangat Indonesia. Srimulat. Warkop versi layar lebar. Dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan bahwa humor-humor yang dibangun dengan gaya slapstick to the max, dimana pemeran-pemerannya harus siap mengalami kekakuan otot wajah hingga sebulan setelah syuting karena menyenyeh kelewatan, terbukti bisa membuat penontonnya terbahak-bahak sampai sakit perut. Tapi jangan salah, kalau ada stopwatch, ada juga keakuratan waktu untuk itu. Saya tak mengatakan slapstick itu komedi jelek, namun terlambat sepersekian detik saja, tendensi lucu itu bisa hilang seketika. Disini kemampuan sutradara dan editor-nya diuji. Suster Keramas yang datang dari Maxima, agaknya punya kemampuan lebih baik ketimbang saingannya. Tendensi ngebanyol sejak awal itu memang bergulir jadi banyolan, apapun alasannya. Biar sebagian dari kita bisajadi sangat muak hingga tak lagi bisa tertawa, bangunan slapsticknya jauh terasa lebih benar. Tak perlu lagi ada plot, Cuma bergerak di satu set plus hantu-hantuan dengan mock-up seadanya, Findo sudah bisa menyelipkan twist yang diinginkannya. Dan satu lagi, Sola Aoi tak tampil sia-sia disini. Sensualitasnya sebagai salah satu juara bokep itu diekspos cukup maksimal dengan sensor yang longgar. Twist itu memang terasa keluar jalur, sembarangan. Namun coba lihat film-film Thailand atau Korea yang bisa membangun susunan-susunan plot bergenre unlikely-nya dengan akurasi lebih tepat lagi hingga dipuji-puji orang. Oke, usaha itu belum bisa sampai kesana. Tapi sebagai hiburan, Maxima memang tak kelewat salah. Mereka mau sebuah banyolan, dan Suster Keramas 2 tampil sebagai sebuah banyolan.
Pocong/Mandi/Goyang/Pinggul adalah kasus berbeda. Walau KK Dheeraj sudah susah payah menjelaskan maunya dia di prolog awal, seorang Melonys, entah siapa itu, yang juga sering terlihat namanya di deretan film-film K2K Production, malah berusaha menyelipkan skenario dengan bahasa dan kaitan yang benar-benar kacau-balau, bahkan sampai ke dialog bahasa Inggris yang bunyinya 'When you get about her, please to call me', sebagai terjemahan dari 'kalau sudah mendapat info tentang dia, hubungi saya'. Kira-kira begitu. Twistnya boleh-boleh saja disebut twist, tapi bangunan slapsticknya tak didasari keakuratan yang pas, sehingga jatuh ke suasana garing luar biasa. Seperti standing comedian bisu yang tak punya tangan dan kaki. Sasha Grey yang jadi highlight, walaupun plus adegan yang disyut di negara asli dengan segala tetek-bengeknya itu, juga diekspos sembarangan. Cuma duduk, menggosok-gosokkan kaki, sesekali bergoyang dengan ritme kura-kura, dan mengucapkan dialog seperti orang tolol. Yang satu ini, tendensinya ngebanyol, tapi hasilnya, kira-kira satu-dua dengan film-film KK Dheeraj yang lain, lebih seperti obat pencahar yang ingin menguras isi perut Anda cepat-cepat. Tetapi saya jadi heran lagi, ketika menyaksikan sebagian penonton, walaupun tak sebanyak di Suster Keramas 2, bisa tertawa-tawa saat menontonnya. Dan ya, saya menghitungnya dengan keakuratan ekstra, diantara 40an penonton di show saat saya menyaksikannya, paling tidak ada lebih 20 siswi SMU berjilbab di dalam hall yang memutarnya. Ironis dengan protes yang dilayangkan salah satu ormas pada waktu yang sama. Mari mengambil nafas sejenak, dan mengheningkan cipta kalau perlu. Ini seperti Aliens Vs Predators. Whoever Wins, We Lose. Ya seperti Batman-nya Nolan tadi, yang terpaksa harus meninggalkan Gotham dengan kegalauannya. They actually both won, and we lose. (dan)
Tag: Patch Adams, review, suster keramas, Maxima Pictures, KK Dheeraj, Melonys, resensi, Andreano Phillip, Suster Keramas 2, pocong mandi goyang pinggul, aliens vs predators, anissa bahar, aoi-liens, baby margaretha, chand kelvin, findo purnomo hw, greydators, k2k productions, marcell darwin, mpok nori, ricky harun, rin sakuragi, sasha grey, sheza idris, sola aoi, tata dado, tatang gepeng, ucok baba, yoyok dumpring, zidni adam
Terkait:
-
Selimut Berdarah [Indonesia|2010]
Rabu, 28 Jul '10 13:08 -
KENTUT : A KNOCK-OFF SATIRE TO LAUGH AT YOURSELF
Kamis, 2 Jun '11 00:47 -
BATAS : AIN'T NO BOUNDARIES FOR HUMAN'S GOOD WILL
Selasa, 24 Mei '11 04:54
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
I wrote SYN not Tragedies: Good Take
-
Mahasiswa Sibuk: Box Office
-
Taruma: Good Take
-
kniwe: Box Office
-
gioscalv: Good Take
-
sabai: Informatif
-
yufan: Good Take
-
ibhe: Informatif

Komentar:
saya seneng bacanya hehehe fakta yang dipaparkan plus asumsinya masuk akal, dan analogi alien predatornya pas...
fenomena ini sebenernya mirip sama fenomena gunung es, yg keliatan cuma sedikit, sementara masalahnya sebenernya lebih melebar..
""diantara 40an penonton di show saat saya menyaksikannya, paling tidak ada lebih 20 siswi SMU berjilbab di dalam hall yang memutarnya. Ironis dengan protes yang dilayangkan salah satu ormas pada waktu yang sama""
walau ini bukan parameter yang tepat, tapi saya setuju nih, walo gak representatif tapi jelas mewakili inkonsistensi pemerintah, ato ormas ato apalah... yang dilain pihak kenceng bilang haram sambil angkat golok, sensor sana sensor sini, tapi sembunyi2 toh masih manggut2 kalo diawarin mpeg, dat,flv,avi...aiissh
saya cuma mikir, sebegitu gak menarik kah pelem horor indonesia, sampe harus selalu mesti wajib ada pameran paha dan dada nyembul dimana mana, cuma nanya, ga protes kok
trus sebenernya visi dan misi sang pembuat pelem ni apa ya? dan itung2annya gemana? maksudnya, emang udah diperhitungkan dengan tingkat penasaran masyarakat, dikaitkan dengan probabilitas orang2 yang bakal nerusin dari penasaran sampe beli tiket, lalu efek cerita2 di komunitas, lalu menggiring pada penonton lain... blah blah blah..
apa bisa balik modal? dengan mengandalkan durasi tayang yang singkat dan kemungkinan besar penonton cuma nonton sekali (itu juga masi untung klo ga bajakan)..
kalo ternyata emang balik modal bahkan untung...
artinya ya bener...
they win...
we lose...
*nyari bajakannya aahh... film haram kalo dibajak kan jadi halal*
*kabur
@ Rijon : makanya saya protes. Sasha yang officially lebih wah gak diekspos secara layak
kira2 apa kbr film indonesia, klo yg diproduksi gendrenya horor+komedi+sensualitaskuadrat = ???
@ yufan : ya yg sekarang inilah
Silahkan login untuk memberikan pendapat