Insidious (2011) 3
Senin, 2 Mei '11 13:31
Elise Reiner: ” It’s not the house that is haunted. It’s your son “
Pasangan suami istri, Josh (Patrick Wilson) dan Renai Lambert (Rose Byrne) beserta ketiga anaknya baru saja menempati rumah mereka yang baru. Suatu hari, putra pertama mereka Dalton (Ty Simpkins) terjatuh dari tangga, meskipun tidak mengalami luka berarti, hanya sedikit lecet pada kaki dan memar pada kepalanya , namun anehnya keesokan harinya Josh menemukan putranya itu tidak dapat dibangunkan. Dilanda rasa panik, keduanya lalu membawa Dalton ke rumah sakit dan mendapati bahwa Dalton ternyata mengalami koma yang tidak dapat dijelaskan secara medis.
3 bulan kemudian, Renai dan Josh memutuskan untuk merawat Dalton yang masih koma di rumah. Tidak lama, ekskalasi suprantural di rumah itu pun mulai sedikit demi sedikit meningkat . Renai, sebagai ibu rumah tangga yang hari-harinya di habiskan dirumah tentu adalah orang yang paling merasakan dampaknya. Suara-suara bisikan yang tertangkap baby monitor, benda-benda yang bergerak sendiri, bahkan sampai munculnya penampakan sosok misterius yang menyerangnya membuat Renai tertekan, dan meminta Josh untuk segera pindah dari rumah yang dipercayanya berhantu itu. Josh sebenarnya tidak terlalu percaya dengan apa yang terjadi di rumah mereka, namun karena kasihan melihat sang istri, ia memutuskan untuk pindah rumah lagi. Masalahnya baik Josh maupun Renai tidak pernah menyangka bahwa selama ini bukan rumah mereka yang menjadi penyebab segala teror mengerikan itu, tapi putra mereka, Dalton.
Menarik memang melihat nama-nama dibalik kemuculan Insidious, ada nama James Wan disini selaku sutradara yang diberikan mandat oleh Oran Peli sutradara mockumentary fenomenal, Paranormal Activity yang bertindak sebagai salah satu produser disini untuk dapat memvisualisasikan naskah yang sudah ditulis Leigh Whannell, aktor sekaligus screenwriter yang pernah bekerja sama dengan Wan menelurkan franchise Saw. Dan dalam Insidious, kolaborasi keduanya tentu diharapkan dapat kembali memberikan sebuah sajian horror berkualitas yang dapat memanjakan para fansnya.

Harus saya bilang dalam Insidious Wan rupanya sudah banyak belajar dari kekurang berhasilannya di saat menggarap Dead Silence 2007 lalu yang notabene sama-sama mengangakat genre horror supranatural. Dengan berpondasikan tema klasik haunted house horror alias horror rumah berhantu, kolaborasi Wan dan Whannell masih terbukti efektif untuk meneror mental para penontonnya, dan hebatnya kali ini Wan tidak perlu menghadirkan berliter-liter darah ataupun jebakan-jebakan maut nan sadis untuk dapat menghadirkan sensasi menakutkan itu. Memang, seperti kebanyakan formula horror haunted house , Wan masih setia menggunakan pakem usang dan cheesy tersebut untuk dapat meneror penontonnya, ambil contoh seperti kehadiran suara-suara misterius, benda-benda bergerak sendiri, sampai penampakan-penampakan mahkluk halus berbalut warna-warna gelap mengerikan yang mendominasi paruh pertama film berbudget 1,5 juta Dollar ini.
Poltergeist, horror klasik garapan Steven Spielberg sertinya sudah memberikan pengaruh besar kepada Insidious, terutama terlihat pada paruh kedua, ketika fakta tentang apa yang sebenarnya terjadi mulai terkuak dari mulut seorang cenayang bernama Elise Reiner (Lin Shaye). Ya, terlihat sekali konflik yang dihadirkan memang sedikit banyak mirip dengan horror produksi 1982 itu, namun bedanya disini, Wan telah memolesnya jauh lebih gelap dan lebih menakutkan, terlebih lagi minim dengan parade spesial efek yang menghasilkan kesan lebih realistis. Endingnya sendiri mungkin dengan mudah tertebak, namun saya tetap menyukai ketika Wan memilih untuk mengakhirinya dengan pilihan twist seperti itu.
Insidious jelas jauh lebih dari yang saya harapkan, apalagi untuk ukuran sebuah horror berlebel PG-13. Sebuah formula klasik haunted house horror yang akhir-akhir ini sudah jarang di temui. Simple namun efektif memberikan sebuah sensasi kengerian yang menghibur, cepat dan tidak bertele-tele dalam menghadirkan konfliknya, menjadikan 100 menit serasa berlalu begitu cepatnya. Sekali lagi kolaborasi James Wan dan Leigh Whannell berhasil memberikan sebuah tontonan horror yang berkulitas dan menghibur.
Tag: horror, james wan, Patrick Wilson, Rose Byrne
Terkait:
-
INSIDIOUS : OLD FASHIONED WAYS TO BEWITCH YOUR SOUL
Kamis, 23 Jun '11 01:30 -
The Innkeepers (2011) - Sebuah Petualangan Horor Yang Tanggung
Sabtu, 24 Mar '12 13:35 -
Review : Carrie (1976)
Senin, 28 Nov '11 21:17
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
I wrote SYN not Tragedies: Good Take
-
Taruma: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
sabai: Good Take
-
rohanisyawaliah: Good Take

Komentar:
saya juga bosan liat2 darah...
soalnya horror yang intelek itu malah kadang lebih nampol dibandingin horor berdarah2 atau tereak tereak
apalagi kalo setingannya ternyata rumah hantu, kastil hantu, kereta hantu atau tempat2 yang sebenernya nyaman dan cozy tapi punya banyak history
ah kangen ngeliat Filmnya Nicole Kidman The Others yang walo ga sepenuhnya tentang Rumah Hantu tapi ceritanya bagus hehehe
Lalu Silent Hill, yang diadaptasi dari Game, walau settingannya lebih ke kota dan jauh lebih asikan gamenya, tapi lumayan lah buat horor dengan efek yang bagus
lalu skeleton key, the village, amityville horror, aahhh dan banyak felm horor lainnyaaa....
kayaknya nggak memantau film ini di lapak dvd deh, pa lagi di bioskop
Silahkan login untuk memberikan pendapat