Si Anak Kampoeng : Sebuah (Awal) Trilogi 4

Rabu, 20 Apr '11 13:35

Buya Syafi'i Maarif kecil, 1930 - 1950. Bukit-bukit warna hijau terpantul sempurna di sebuah danau. Tempat Pi'i bercengkrama dengan guru silatnya, Oncu. Pi'i, si anak cerdas dari nagari Sumpur Kudus, di pelosok ranah minang. Ibu kandung telah tiada, bapaknya menikah lagi dan Pi'i tinggal bersama keluarga bibinya.

Tumbuh di lingkungan adat minang, keseharian Pi'i diwarnai dengan aroma Islam Muhammadiyah yang kental. Pi'i menjadi anak yang cerdas di sekolah dan menjadi panutan teman-temannya. Berhasil membuat guru terkesan dan lompat kelas. Namun ketika ia harus pergi ke tempat jauh untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, rupanya gayung tak bersambut. Sang bapak tak memberinya ijin.

Bapak Pi'i ingin anaknya tetap ada di Sumpur Kudus dan menjadi tokoh agama seperti dirinya. Tak patah arang, Pi'i terus menerus membuktikan bahwa dirinya mampu, tak hanya menjadi seperti bapaknya bahkan lebih. Dan hal itu hanya bisa diwujudkan dengan bersekolah lanjutan di rantau.Dukungan guru, sahabat serta ingatan samar ibunya yang telah tiada menjadi pendorong yang tak habis-habisnya bagi Pi'i. Bakti pada orang tua tetap utama, tapi cita-cita tetap harus diperjuangkan. Dilema yang hebat harus digeluti salah satu putra terbaik bangsa ini.

Garing

Garing. Film ini membuat saya tak nyaman. Settingan latar indah betul, alam sumatra dieksplorasi dengan luar biasa. Namun seribu sayang, komponen pendukung yang lain tak begitu berhasil.

Jika kita menutup mata dan hanya mendengar skoring (latar musik) saja, maka kita serasa sedang menonton film-film striping yang belakangan populer di televisi. Tak sesuai dengan latar lokasi dan masanya. Singkatnya, musik yang dihadirkan terlalu "pop" untuk masa tahun 1940-an. 

Penokohan juga terasa hambar dan kurang kuat. Beberapa tokoh bahkan terasa kurang "berkontribusi". Seperti tokoh ibu tiri Pi'i (diperankan oleh Ayu Azhari). Jujur saja saya baru mahfum bahwa beliau berperan sebagai istri kedua bapak Pi'i setelah film berakhir.

Beberapa adega juga terasa kurang matang dan terkesan terlalu ngotot. Seperti adegan wanita berpakaian serba putih menunggang kuda putih pula. Siapa dia? Arwah ibu Pi'i? Hantu? atau orang lewat? Tak jelas. Beberapa bagian terasa seperti kehilangan alur, sehingga beberapa kali akan muncul pertanyaan, "Lho kok bisa begini dan begitu ... ?"

Latar budaya minang yang dihadirkan terasa sangat menggigit. Namun menurut saya kurang matang pengerjaannya. Misalkan saja, tahukah Anda, di minang, bahwa anak yang ditinggal mati ibunya harus tinggal bersama bibinya, meski sang bapak masih ada? Hal ini tak pernah dikomunikasikan dengan penonton sebelumnya. Sehingga kebingunganlah yang terjadi.

Masih banyak yang lain jika Anda cukup jeli. Namun lagi dan lagi, film-film lokal semacam ini harus tetap kita apresiasi dengan baik. Biografi tokoh besar bangsa layaknya tetap diproduksi, anak-anak kita butuh tontonan yang sarat motivasi. 

Poster : 21cineplex.com


Tag: film, Indonesia, review, Biografi, Syafii maarif, damien dematra, sumatra

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 1 suka | 0
wiiih... mas Rujak ini postingnya emang selalu menggigit dan daku tunggu. komplit gitu ulasannya, sampe musik scoringnya sampe adegan2 yg janggalnya bahkan konteks budaya sumatra baratnya pun dia tulis semua.

ibaratnya rujak, buahnya macam2, komplit!! : D
Taruma 0 0
filmnya sukses buat saya pusing...
Rijon 0 0
Kalau ini memang film yang mengangkat tentang budaya? Kenapa harus dibalut se-pop ini? Kalau memang mau bikin film nge-pop, kenapa harus memaksa untuk mengentalkan unsur budayanya? Timpang.
Taruma 0 0
Rijon: ?

Silahkan login untuk memberikan pendapat