Membahas "?" 0
Senin, 18 Apr '11 16:52
Kisah mereka terjadi di atas tanah Semarang. Tan Kat Sun (Hengky Solaiman) dan Lim Giok Lie (Edmay) yang memiliki sikap toleransi tinggi, sedang tersiksa melihat putra mereka, Hendra (Rio Dewanto), yang berlaku sesukanya tanpa peduli perasaan mereka. Hendra pun tampak tidak tertarik meneruskan usaha restoran orang tua mereka. Konflik lain pun hadir karena Hendra menyimpan rasa sakit hati kepada seorang karyawan restoran ayahnya, yaitu seorang gadis berjilbab bernama Menuk (Revalina S. Temat). Sakit hati itu muncul karena Menuk lebih memilih menikah dengan Soleh yang seiman. Sementara itu, Soleh sendiri merasa dipecundangi oleh dunia karena nasibnya yang tak kunjung membawanya pada satu pekerjaan pun.
Sahabat Menuk yang juga menjadi pelanggan restoran Tan Kat Sun, Rika (Endhita), juga sedang bermasalah dalam menjaga kehidupannya dengan anaknya berada pada kedamaian. Ia sedang berada dalam masa transisi dari Islam menuju Katholik dan dari status istri menjadi janda. Di toko buku peninggalan mantan suaminya, Ia berusaha membangun hidupnya yang baru. Seorang aktor yang kariernya terjebak dalam peran figuran dan penjahat, Surya (Agus Kuncoro), mulai tertarik dengan Rika di saat hidupnya sedang berada di ujung tanduk setelah diusir dari kos. Hubungan itu pun membawanya kepada transisi yang "menggelitik".
Saat film Hanung Bramantyo yang berhubungan dengan religi muncul, masyarakat luas akan penasaran dan mempertanyakan kandungannya. Selain itu, cara filmnya bertutur tentang maknanya pun turut dipermasalahkan. Hal-hal yang biasa dikeluhkan adalah mengenai tingkat dramatisasi adegan yang sering kali berlebihan dan juga pesan yang disampaikan oleh dialog secara lugas sehingga membuat alis mata naik sebelah. Sedangkan masyarakat yang terlalu sensitif akan tema religi, biasanya menganggap kandungan dari film-film Hanung Bramantyo tidak sesuai dengan pandangan Islam. Betapa uniknya melihat dua kelompok masyarakat berada di dua tingkat yang berbeda dalam membahas sebuah karya seni. Yang pertama tampak sangat tak nyaman dengan sebuah penyajian yang kelewat melodramatis dan terlalu transparan. Sementara itu, yang kedua tampak terlalu terjebak dengan permukaan film dan mencampurkan pandangan pribadi terhadap adegan-adegan yang ada, tanpa melihat latar belakang, kedalaman, dan keseluruhannya.
Dari keseluruhan film Hanung Bramantyo, sudah ada "Ayat-Ayat Cinta", "Perempuan Berkalung Sorban", "Sang Pencerah", dan "?" yang menyelam ke dalam dunia religi. Dari semua itu, saya hanya belum pernah menonton "Perempuan Berkalung Sorban". Apa yang saya lihat dari sisa-sisa film-film sisanya adalah penggunaan teropong yang berbeda untuk melihat topik religi. Dalam "Ayat-Ayat Cinta", teropong yang digunakan adalah teropong cinta. Sayangnya, "Ayat-Ayat Cinta" terasa terlalu seperti sinetron. Hanya ada 2 perbedaannya. yaitu (1) balutan religi yang baru dan berani, lalu (2) segi teknis yang tentu di atas sinetron. Dalam "Sang Pencerah", religi dipandang dari biografi seorang pemuka religi itu sendiri. Di sini, yang menjadi kekuatan dari filmnya adalah bagaimana kesimpulan di akhir film membentuk opini kontra terhadap perjuangan tokoh protagonis dan antagonisnya, tapi membentuk sebuah keadilan yang seimbang dan unik.
Kali ini, Hanung Bramantyo menggunakan teropong pluralisme. Dalam penggunaannya, berbagai transisi dari satu agama ke agama lain yang terjadi sepanjang film berjalan bersama-sama dengan perubahan kadar sifat toleransi dari beberapa karakter. Perubahan ekstrem yang terjadi tidaklah disodokkan ke arah toleransi seolah-olah mempengaruhi penonton untuk bisa seekstrem mereka, melainkan lahir dari dorongan primitif, seperti uang, impian, cinta, dan lain-lain. Sebuah penafsiran pribadi saya terhadap perjalanannya tersebut kurang lebih berbunyi : "hati dan adat keluarga serta lingkungan adalah pengaruh besar dalam hidup seorang manusia". Terkadang keduanya bertemu, tapi seirng pula kita menemukan salah satunya lebih mendominasi yang lainnya. Saat orang mengatakan agama adalah pedoman hidup, mungkin Ia tidak menyadari bahwa setiap manusia tetap akan menggunakan kedua hal di atas untuk menentukan apakah Ia akan mengikuti agama tertentu, ajaran apa saja yang akan Ia terapkan dalam hidupnya, dan sejauh apa yang Ia akan menerapkannya. Kandungan dari "?" inilah yang saya sukai.
Memilih ide cerita yang menarik dan segar untuk kemudian dieksekusi dalam penyajian yang disesuaikan selera masyarakat Indonesia adalah ciri yang saya perhatikan selalu muncul dalam film-film Hanung Bramantyo. Berbagai penyesuaian dilakukan untuk memungkinkan target penonton dari filmnya merasa dipuaskan. Tujuan lainnya adalah agar biaya tidak jauh lebih membengkak dan para investor, yang merupakan pelaku bisnis, bisa meraih keuntungan dari penghasilan filmnya. Akibatnya, terkadang kita tidak bisa menyukai sepenuhnya eksekusi film-film Hanung Bramantyo. Selalu ada sesuatu yang terasa kurang. Mungkin ini karena memuaskan semua pihak adalah hal yang terkesan mustahil.
Untuk kelemahan dari "?", saya melihat ada ketidaktepatan dalam kasting pemerannya. Endhita sebagai Rika tidak terlihat mampu membawakan karakternya dengan baik. Ia hanya terlihat meluapkan emosi dalam setiap adegan, tanpa terlihat mengembangkan karakternya dalam satu adegan ke adegan lainnya. Gestur dan ekspresinya tidak mencerminkan perjalanan hidup yang Ia alami. Dialoglah yang menjadi satu-satunya senjata untuk menyampaikan emosi karakternya.
Penampilan Endhita adalah jenis penampilan yang menyesaki "Ayat-Ayat Cinta". Tapi, ternyata ada sebuah karakter yang pola dasarnya jauh berbeda dengan karakter Rika. Adalah Lim Giok Lie, sang istri dari Tan Kat Sun, yang diperlihatkan begitu pasif. Segala kejadian yang terjadi hanya Ia renungi. Hanya pertanyaan, harapan, dan satu kalimat nasehat yang keluar dari mulutnya dari awal hingga hingga akhr film. Edmay memainkan karakter ini dengan sangat baik. Bukanlah kekakuan ketika kita melihat dirinya hanya berdiam dan menunduk melihat problema rumah tangga dan restorannya, melainkan sebuah bentuk kepasifan istri di antara suami dan anak dengan ego besar. Saat matanya melihat, karakternya bisa berbicara lebih dalam dibandingkan seluruh dialognya.
Klimaks "?" pun tampaknya menarik untuk dibahas. Di satu sisi, klimaks ini justru terasa bodoh karena karakter yang terlibat terlihat bodoh untuk bisa melakukan hal tersebut. Sebuah lonjakan tinggi antara motivasi yang tergambar dengan cepat dan reaksi yang dihasilkan mengundang banyak pertanyaan mengenai logika klimaks itu. Namun, melihat bagaimana latar belakang sang karakter yang saya enggan sebutkan namanya itu, maka terlihatlah bagaimana Ia memang tidak memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, dan ketenangan yang memadai untuk bisa berpikir logis. Akhir film yang menunjukkan betapa sosoknya kemudian dikenang dengan cara yang luar biasa justru menjadi ironi tersendiri.
Eksekusi Hanung Bramantyo yang menunjukkan banyak penyesuaian dengan selera masyarakat Indonesia itu sendiri mengingatkan saya akan tulisan JB Kristanto yang berjudul "Kritik Film, Suatu Pengalaman". Dalam tulisan tersebut, beliau menceritakan tentang bagaimana film-film dari sutradara seperti Sjuman Djaya, Ami Priyono, Teguh Karya, Nya Abbas Akup ternyata berada di luar kaidah yang disebut beliau sebagai "aturan Barat". Ternyata film-film para sutradara tersebut direspon dengan sangat baik oleh masyarakat kita.
Hanung Bramantyo, yang pernah mengatakan bahwa Ia ingin membuat film drama seperti film-film Teguh Karya, pun sepertinya memiliki tingkat pemahaman tersendiri terhadap penonton Indonesia. Ia tahu area mana yang bisa Ia jadikan sebagai tempat untuk memuaskan nvestor, para pekerja film yang bekerja bersamanya, penonton, dan dirinya sendiri. Emosi dan filosofi film yang Ia arahkan pun akhirnya masih dapat diresapi oleh banyak orang. Para penonton yang jumlahnya tidak sedikit ini, tampaknya mengambil makna film ke dalam hati.
Sungguh bukan hal yang mudah untuk bisa berhasil dalam menyampaikan secuil idealisme pribadinya dalam film yang dieksekusi dengan komersil. Apalagi ketika penempatannya adalah pada kesimpulan film yang menjadi salah satu penentu utama terhadap penafsiran makna film. Melalui "?", Hanung Bramantyo bisa dianggap berhasil untuk kembali menekankan mengenai hati yang memilih cara spiritualisme setiap individu. Plot yang simplistik dan dialog yang vulgar dalam menyampaikan maknanya bisa tergantikan dengan pemahamannya terhadap medium film itu sendiri dan makna yang Ia ingin sampaikan.
Tag: review, Hanung Bramantyo
Terkait:
-
? : A JOURNEY OF GRACE
Minggu, 10 Apr '11 04:50 -
Sang Pencerah Yang Tidak Cerah
Sabtu, 11 Sep '10 09:11 -
MEN IN BLACK 3 : ALIENS, TIME TRAVEL, FRIENDSHIP AND HIP!
3 jam yang lalu
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Box Office
-
toRa: Box Office
-
kniwe: Box Office
-
Mikhael Tarigan: Informatif
-
doniagustan: Good Take
-
Taruma: Good Take

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat