Stuck (2007) 0

Jumat, 8 Apr '11 21:16

Tahun 2001 kemaren telah terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan seorang wanita mabuk dan seorang pria gelandangan di Fort Worth, Texas, USA. Pada 2007, Stuart Gordon bikin film berdasar kejadian tersebut dengan ide cerita baru yang mengubah hampir semua yang sebenernya terjadi. Film itu dikasih judul Stuck. Entah ada hubungannya atau engga, saya juga stuck banget waktu nulis review ini karena susah bahas film ini tanpa berspoiler ria. Akhirnya dengan kemampuan menulis yang terbatas dan setelah bermalam-malam nyicil, jadi juga review ini.  Sebelum kita mulai, engga lupa : It may contains spoiler! 

Bardo adalah seorang mantan manajer yang bangkrut. Dia baru aja di usir - atau lebih tepatnya kabur - dari tempat tinggalnya, soalnya dia engga bisa bayar uang sewa. Sementara engga punya tempat tinggal, Bardo membawa barang-barangnya yang hanya beberapa helai pakaian kemanapun dia pergi termasuk waktu wawancara kerja dan waktu terpaksa harus tidur di bangku taman cuma untuk kemudian diusir oleh polisi yang patroli. Sementara itu, Brandi seorang perawat di sebuah panti jompo baru aja dapetin kabar gembira dari pimpinannya bahwa ada kemungkinan dia dipromosiin. Malem harinya sepulang kerja seperti biasa Brandi dan rekan sekerjanya, Tanya, nongkrong di sebuah bar langganan mereka sekaligus buat ketemu dengan Rashid, kekasih Brandi. Udah puas minum-minum dan nelen ekstasi, Brandi berkendara pulang. 

Malam yang sial, dua manusia yang berada dalam kondisi yang amat bertolak belakang itu dipertemukan dengan cara yang tragis. Bardo tertabrak mobil Bardi! dan bukannya tergeletak di jalan, Bardo nyangkut di kaca depan. Situasinya pas itu engga ada seorangpun yang lihat kecelakaan tersebut, jadi Brandi yang bingung dan takut memutuskan untuk terus menyetir. Engga punya keberanian buat bawa Bardo ke rumah sakit, Brandi memilih pulang ke rumah dan memasukkan mobilnya ke garasi dengan Bardo masih nyangkut di kaca depan. Berhubung film ini punya judul Stuck, maka saya engga merasa sedang berspoiler dengan bilang bahwa masalah terbesar buat mbak perawat ini adalah orang yang dia tabrak ternyata masih hidup. Soalnya kalo udah mati gampang aja kan mayatnya tinggal dibuang kemana gitu, gara-gara Bardo masih hidup ini Brandi jadi tambah pusing dan engga tau harus berbuat apa. Trus gimana nasibnya Bardo? Liat aja film ini.  

Well, sejak pertengahan film saya udah langsung bisa nebak endingnya akan seperti apa. Buat yang udah nonton mungkin merasakan hal yang sama dengan saya bahwa Stuck punya alur yang ngingetin sama beberapa film lawas. Kalau udah jelas kayak gitu, sekarang masalahnya tinggal bagaimana sebuah film dengan tema ini menghadirkan adegan-adegan yang mampu melibatkan emosi penontonnya untuk bersimpati dan berempati pada penderitaan tokoh utama (atau mungkin pada orang jahatnya, terserah juga kan ya?). Buat saya, Stuck berhasil. Film ini punya banyak sekali "geregetan moments" (istilah apa itu?) yang membuat perasaan saya kacau balau. 

Misal, sialnya Bardo waktu ditolak wawancara karena pegawai kantor engga nemuin namanya di database, padahal dia merasa udah pernah ngirim surat lamaran. Kita tau sebenernya itu kesalahan administrasi bagian entry data, soalnya sebelumnya, resepsionis kantor manggil Bardo dengan Mr. Brado. Ada pula satu saat setelah kecelakaan, Brandi sempat hampir bawa Bardo ke rumah sakit, tapi engga jadi masuk atau ngasih tau petugas. Dia berubah pikiran tepat di gerbang rumah sakit. Kasihan si Bardo. Terus, siapa coba yang engga jengkel, sebel, dan marah setiap kali Brandi teriak-teriak "It wasn't my fault... it wasn't my fault!" ?  Rasanya pengen saya penggal aja tuh kepalanya Mena Suvari. Itu baru tiga momen, masih banyak lainnya yang lebih baik engga saya tulis biar engga semakin berspoiler. Saya jamin deh, pasti geregetan nonton film ini. 

Stuck bukan sekedar drama thriller biasa yang menceritakan orang baik versus orang jahat. Jujur saja sebenernya saya awalnya engga tau mana yang orang baik mana yang orang jahat, mereka berdua keliatan sangat normal. Bahkan, sampai film ini selesai pun saya masih bingung. 

Brandi jahat bukan karena dia emang niat jahat seperti berandalan-berandalan lokal yang nge-gangbang Jennifer di I Spit on Your Grave misalnya. Tetep aja sih Brandi itu jahat karena dia engga merasa bersalah udah nabrak Brado, engga mau bertanggung jawab, sekedar menolong Bardo dengan manggil bantuan pun engga dia lakukan. Cuman kita tau saat itu Brandi juga dalam posisi yang sulit, dia panik, dia bingung seperti semua orang yang baru aja nabrak orang tanpa sengaja. Belum lagi dia dalam pengaruh drugs dan dia tadi paginya baru aja dapat kabar gembira ada kemungkinan mau dapet promosi. Setau saya, orang yang dapet kesusahan setelah sebelumnya amat gembira akan merasakan kesusahan itu semakin berlipat, persis seperti yang dialami Brandi, dan dalam kondisi seperti itu orang kadang hilang akal.

Saya makin bingung waktu di ending. *SPOILER*  Sebelumnya selama nyangkut Bardo berkali-kali dapet harapan akan diselamatkan tapi ternyata engga ada yang dateng, engga dapet pertolongan sama sekali dari Brandi, malah dianggep sebagai pihak yang salah oleh penabraknya, dan bahkan justru berkali-kali berusaha dibunuh. Ketika Bardo akhirnya bisa lepas dari kaca mobil dia memutuskan untuk engga membalas dendam atas kesengsaraan yang dia alami sebelumnya dan bahkan justru memaafkan Brandi! Kalaupun dia akhirnya membunuh Rashid itu sih cuma membela diri dan Brandi pun  mati karena kesalahan dia sendiri, bukan Bardo yang bales dendam. Emang sih dia juga mungkin engga punya kekuatan buat balas dendam mengingat kondisinya saat itu sangat lemah, tapi tetep aja sikap dia aneh. Bagus sih, tapi aneh.*SPOILER* 

Bingung. Kejadian aslinya aja udah bikin kita bertanya soal masih ada atau engganya moral pelakunya. Stuck bikin saya tambah bertanya-tanya lagi, emang seharusnya manusia itu kaya gimana? Yakin apa yang saya anggep bener bisa saya lakukan? Seandainya saya dalam posisi Brandi apa saya akan melakukan hal yang sama? Yakin nih? 

Bagusnya lagi, dengan "ide mulia"-nya tentang  moral, Gordon engga lupa bikin filmnya tetep enak ditonton. Dengan kisah - soal orang ditabrak dan nyangkut di kaca depan tapi masih hidup - seperti itu, saya dapetin apa yang saya harap dengan nonton film ini. Rangkaian adegannya bikin saya terus ngikutin sampai akhir buat tau gimana nasib Bardo pada akhirnya. Sensasi thrilling-nya dapet. Lalu karena ini ceritanya soal tabrakan, tentu saya pengen adegan-adegan yang berlumuran darah, itu tersedia. Gory scenes-nya emang engga banyak sih, engga istimewa juga karena engga ada yang baru, tapi lumayan lah bikin saya otomatis menyeringai.  Bagaimana Gordon dengan pas dan berimbang menempatkan humor - humor gelap dan adegan-adegan serius secara bergantian, bikin film ini - seperti udah saya bilang - membuat perasaan kacau balau, menggusarkan pikiran. Hasilnya, buat saya sih Stuck keliatan sebagai film yang menertawakan absurditas sifat manusia dengan cara yang amat menyakitkan.


Tag: drama, thriller, comedy, stuart gordon, mena suvari, 2007, stuck

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat