Review: "?" ("Tanda Tanya") 136

Kamis, 7 Apr '11 20:17

...

Film lokal pertama tahun ini yang membuat saya berani mengatakan "Saya puas menontonnya"
Setelah nonton film ini, pokoknya baru ngerasain puasnya nonton film lokal. Yah, bisa dibilang, materi film ini masih dibuat gampang, jelas sih, toh ratingnya ditujukan tuk remaja. Jadi, kalau filmnya kurang kritis, wajari saja. :) Langsung saja penilaian menurut mata & telinga saya. 
~ Cerita: MENARIK! Serius menarik, saya tidak mau membeberkan satu bagan cerita sedikit pun. faktanya, meskipun saya belum membaca sinopsis film, saya masih bisa menikmati dengan hanya melihat trailernya. :) Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini, walaupun bagi saya sih, pelajaran tersebut dah bosen saya dengerinnya. haha. Dua kata untuk ceritanya, menarik dan berani! :)
~ Naskah: Keseluruhan tidak membosankan, tapi masih saja memiliki momen bosannya. momen bosan yang saya pilih yaitu waktu bagian anak pemilik restoran. bosan sekali. sudah kelihatan karakter labilnya kok. haha. Kekurangan lainnya? Yah, masih banyak detail-detail yang belum diakhiri dengan baik. seperti bagaimana nasib kedua orang "berpacaran" itu, dll. Tapi, hal tersebut tidak cukup mengganggu untuk makna filmnya. Filmnya tidak secara gamblang menjawab "tanda tanya", tapi memperlihatkan dengan adegan yang menurut saya sudah cukup mewakili sebuah toleransi agama. Good job screenwriter! :) Sayang, masih banyak dialog yang menggunakan bahasa daerah yang saya tidak mengerti, awal-awal pakai teks, kebelakangnya kok dah gak ada. Walau, saya masih bisa menerka apa yang dibilang sih tapi saya lebih suka kalau menggunakan bahasa indonesia. Tapi, membawa bahasa daerah ke dialog, saya suka.
~ Pemain: Aktingnya bagus, konsisten. setidaknya, tidak ada akting yang terlalu mengganggu, saya suka akting dari Reza rahadian. Sukses memunculkan karakternya! :)
~ Audio: Keyennn! Pemilihan lagu yang mewakili berbagai agama pun baik. Pengiringnya juga oke, gak kedengeran kayak suara komputer. haha. Mixingnya juga bagus, semua percakapan jelas.
~ Visual: ini nih, yang membuat film ini kurang sempurna, visualnya. Memang sekilas gambarnya tajam dan rapih. sayang, pencahayaannya kurang, bahkan saya harus fokus lebih tajam agar bisa menikmati gambarnya. Tapi, dari artistiknya sih oke, enak dilihat, cuman masalah di pencahayaannya ajah, kurang terang, jadinya capek mata lihatnya. 
~ Overall: Film ini layak tonton. Kenapa? Ceritanya menarik, naskahnya juga menarik. Memang ada beberapa bagian yang harusnya lebih dalem, semisal keputusan "anak pemilik restoran" untuk memilih agamanya. Kok tiba-tiba ajah begitu, apa alasannya, seakan-akan dengan membaca buku tersebut bisa mengubah orang membuat keputusan. ingat loh, orang tidak bisa berubah hanya dengan membaca, tapi dengan cara berpikirnya, sayangnya, di film tidak diperlihatkan bagaimana dia menanggapi sebuah agama dimatanya. Tapi, kekurangan itu ditutupi oleh kisah-kisah pendek yang ada difilm semisal pemberian hadiah natal ke anak yang sakit (mungkin, kisah ini dibuat lagi filmnya, mungkin Surat Kecil Untuk Tuhan). Akhir kata, film ini masih bisa saya nikmati walaupun saya sempat kesulitan menikmati visualnya yang terlalu gelap. Saya lebih nyaman kalau cuacanya pagi, lebih terang dan lebih mudah dilihatnya. 
~ Saya rate : 4/5. Film layak tonton. Walau ada kekurangan seperti lighting dan kekritisan film, saya rasa film ini layak tonton. dan tidak ada salahnya untuk dijadikan daftar film lokal yang ditonton tahun ini. Film ini bagus dijadikan sebuah refleksi kehidupan. :)
~ Layak tonton di Bioskop? rating 4/5 sudah menjelaskan kenapa film ini layak. :)

"Film lokal pertama untuk tahun ini yang membuat saya berani mengatakan "Saya puas menontonnya""

ALERT! POSITIVE REVIEW! and SPOILER ALERT!

 

 

 

Setelah nonton film ini, pokoknya baru ngerasain puasnya nonton film lokal. Yah, bisa dibilang, materi film ini masih dibuat gampang, jelas sih, toh ratingnya ditujukan tuk remaja. Jadi, kalau filmnya kurang kritis, wajari saja. :) Langsung saja penilaian menurut mata & telinga saya. 

~ Cerita: MENARIK! Serius menarik, saya tidak mau membeberkan satu bagan cerita sedikit pun. faktanya, meskipun saya belum membaca sinopsis film, saya masih bisa menikmati dengan hanya melihat trailernya. :) Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini, walaupun bagi saya sih, pelajaran tersebut dah bosen saya dengerinnya. haha. Dua kata untuk ceritanya, menarik dan berani! :)

~ Naskah: Keseluruhan tidak membosankan, tapi masih saja memiliki momen bosannya. momen bosan yang saya pilih yaitu waktu bagian anak pemilik restoran. bosan sekali. sudah kelihatan karakter labilnya kok. haha. Kekurangan lainnya? Yah, masih banyak detail-detail yang belum diakhiri dengan baik. seperti bagaimana nasib kedua orang "berpacaran" itu, dll. Tapi, hal tersebut tidak cukup mengganggu untuk makna filmnya. Filmnya tidak secara gamblang menjawab "tanda tanya", tapi memperlihatkan dengan adegan yang menurut saya sudah cukup mewakili sebuah toleransi agama. Good job screenwriter! :) Sayang, masih banyak dialog yang menggunakan bahasa daerah yang saya tidak mengerti, awal-awal pakai teks, kebelakangnya kok dah gak ada. Walau, saya masih bisa menerka apa yang dibilang sih tapi saya lebih suka kalau menggunakan bahasa indonesia. Tapi, membawa bahasa daerah ke dialog, saya suka.

~ Pemain: Aktingnya bagus, konsisten. setidaknya, tidak ada akting yang terlalu mengganggu, saya suka akting dari Reza Rahardian. Sukses memunculkan karakternya! :)

~ Audio: Keyennn! Pemilihan lagu yang mewakili berbagai agama pun baik. Pengiringnya juga oke, gak kedengeran kayak suara komputer. haha. Mixingnya juga bagus, semua percakapan jelas.

~ Visual: ini nih, yang membuat film ini kurang sempurna, visualnya. Memang sekilas gambarnya tajam dan rapih. sayang, pencahayaannya kurang, bahkan saya harus fokus lebih tajam agar bisa menikmati gambarnya. Tapi, dari artistiknya sih oke, enak dilihat, cuman masalah di pencahayaannya ajah, kurang terang, jadinya capek mata lihatnya. 

~ Overall: Film ini layak tonton. Kenapa? Ceritanya menarik, naskahnya juga menarik. Memang ada beberapa bagian yang harusnya lebih dalem, semisal keputusan "anak pemilik restoran" untuk memilih agamanya. Kok tiba-tiba ajah begitu, apa alasannya, seakan-akan dengan membaca buku tersebut bisa mengubah orang membuat keputusan. ingat loh, orang tidak bisa berubah hanya dengan membaca, tapi dengan cara berpikirnya, sayangnya, di film tidak diperlihatkan bagaimana dia menanggapi sebuah agama dimatanya. Tapi, kekurangan itu ditutupi oleh kisah-kisah pendek yang ada difilm semisal pemberian hadiah natal ke anak yang sakit (mungkin, kisah ini dibuat lagi filmnya, mungkin Surat Kecil Untuk Tuhan). Akhir kata, film ini masih bisa saya nikmati walaupun saya sempat kesulitan menikmati visualnya yang terlalu gelap. Saya lebih nyaman kalau cuacanya pagi, lebih terang dan lebih mudah dilihatnya. 

~ Saya rate : 4/5. Film layak tonton. Walau ada kekurangan seperti lighting dan kekritisan film, saya rasa film ini layak tonton. dan tidak ada salahnya untuk dijadikan daftar film lokal yang ditonton tahun ini. Film ini bagus dijadikan sebuah refleksi kehidupan. :)

~ Layak tonton di Bioskop? rating 4/5 sudah menjelaskan kenapa film ini layak tonton di bioskop. :)

Sinopsis Film (gak usah dibaca, biar lebih surprais, nonton trailernya ajah):

Kisah film berputar di sekitar keluarga yang tinggal di sebuah wilayah tua kota di Jawa Tengah bila mendengar logat yang dipakai. Tan Kat Sun (Henky Solaiman), pemeluk Konghucu/Buddha dan pemilik restoran masakan Cina yang sudah sakit-sakitan, sangat sadar lingkungan, hingga cara masak dan peralatan masak dipisah secara tajam antara yang halal dan haram. Ia bermasalah dengan anaknya, Ping Hen alias Hendra (Rio Dewanto), yang memiliki visi tersendiri dalam bisnis.

Soleh (Reza Rahadian), Islam dan pengangguran yang rajin menjalankan ibadah, selalu gundah akan keadaan dirinya, sementara istrinya, Menuk (Revalina S Temat), yang berjilbab bekerja di restoran Tan Kat Sun. Menuk yang praktis menjadi tiang keluarga, tampil sebagai istri teladan.

Rika (Endhita), janda berputra tunggal, meneruskan usaha keluarga: toko buku. Atas pilihannya sendiri, ia belajar agama Katolik dan ingin dibaptis, sementara mendorong putranya untuk memperdalam agama Islam di mesjid setempat. Ia juga bersahabat dengan Surya (Agus Kuncoro), yang bercita-cita menjadi aktor hebat tapi bernasib masih mendapat kesempatan peran-peran kecil. Saking tidak punya uang, ia menginap di mesjid.

Kisah yang berputar pada permasalahan masing-masing keluarga dan perorangan tadi, berkelindan dengan masalah sosial masyarakat: kebencian antaretnis/agama, radikalisme agama dalam bentuk peristiwa penusukan pastor dan bom di gereja, perusakan restoran, juga usaha-usaha untuk menengahinya.

~filmindonesia.or.id


Tag: film, review, 2011, tanda tanya, Positive

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

john907 0 0
Yup, kecuali sedikit kekurangan di lighting dan fotografi, film ini secara teknis sangat baik dan temanya sangat aktual dgn kondisi Indonesia saat ini.

Kekurangan lain khususnya untuk ending bisa dimaklumi, mungkin supaya durasinya pas dan kita disuruh menyimpulkan sendiri kenapa endingnya begitu : )
Taruma 0 0
john907: endingnya gak begitu mengganggu. saya dah puas dengan ilmu toleransi yang diajarkan di film ini.

PUAS pokoknya.. : )

Yang paling saya suka adalah posternya yang asik dilihat dan menarik...
Fu2 0 0
Jadi bikin penasaran aja, sedihnya lagi nggak bisa nonton film2 Indonesia T_T
Taruma 0 0
Fu2: yah, sayangg, film ini kan layak tonton, bahkan wajib tuk beberapa kalangan. : ) sangat disayangkan kalau dilewatkan. : p
Fu2 0 0
Taruma: Pengen sebenarnya, tapi berhubung lagi nggak di Indonesia, jadi nahan diri dulu, walau penasaran banget.

Btw, Source Code ama Lincoln Lawyer mau tayang di 21, koq cuma sebagian2 aja yang masuk yah, secara dua film itu kan juga baru tayang di Hollywwod, apakah nggak semua film produksi hollywood nurutin larangan AMPAS?
Taruma 0 0
Fu2: yah, sayang... : ) filmnya menarik, topiknya juga fresh.

Source Code & Lincoln Lawyer liat di RT bagus ratingnya, pengen nonton. tapi, dari kemarin, ditunda terus penayangannya. : p

soal masalah perpajakan sih, katanya dah beres. tapi, gak tau juga sih. gak terlalu mikirin.
bitterjoy 0 0
saya si ga terlalu suka ama tipe film beginian,tp bolelah kalo buat diliat doang : )
Taruma 0 0
bitterjoy: wah kenapa nih? kan rame. : )
bickysaja 0 0
Ah tidak. Gagal nonton premierenya karna banyak liputan T_T
Rijon 0 0
EMOSI dah nonton film "Tanda Tanya" nya Hanung Brahmantyo. Ini film apa ceramah sih?


Nggak suka tipikal film seperti ini. Bulat-bulat menyuapi. Tipis sekali yang bisa aku pelajari dari film "Tanda Tanya" ini sebagai penoton. Karena memang semuanya sudah disuapi. Didiktekan oleh sutradaranya. Mbok ya kalau mau kirim p...esen tinggal SMS, gak perlu repot-repot bikin film.

Dan dari segi pesannya agaknya timpang. Kaum non-muslim (Kristen dan Tionghoa) hanya digambarkan sebagai korban. Menurut saya, porsi mereka gak sebanding dengan kaum muslim yang di awal film sebagai "bandit" jadi "pahlawan." Kompensasi menampilkan kaum muslim menikam pastur, ya si Soleh dijadikan korban jihad (patriotisme). Entah ya, ambisus sekali. Sayangnya sangat tendensius. Sangat preachy, bok!

Ada beberapa poin juga yang too good to be true. Dan si Soleh, serta kroco-kroconya, yang main hakim sendiri itu. Kok bisa gak ditindaklanjuti oleh pihak berwajib? Kok mau-maunya pakai orang muslim untuk memerankan Yesus? Maksudku, emang dari sekian banyak umat Katolik di kota itu ndak ada aktor mapan buat meranin Yesus? Come on!

Aku juga muslim kok. Mending nonton filmnya Yasmin Ahmad (dari Malingsia).

Secara keseluruhan sih filmnya timpang. Kerasa sekali pingin berkontroversi-biar-dikata-berani (film "pinter" gituh); keliatan dari muslim memerankan Yesus, murtad, penikaman pastur, restoran babi, dll. Tapi pingin pula beceramah-ceramah ria (biar serasa relujius). Bukannya padu-padan, malah saling tabrak. Hasilnya ya itu, malah jadi film yang menggampangkan.
Rijon 0 0
Ratting dariku: "E" sajah.
Taruma 0 0
bickysaja: premiere? reguler saja.

Rijon: saya juga sempat mikirin kayak begituan loh. tapi, saya sih gak aneh toh, film ini ditujukan untuk mindset yang lebih simpel (remaja). Makanya, banyak beberapa detail film ini yang miss. yah, salah satunya yang disebut. tapi, yang bikin saya males yah, cuman pas bagian "memilih agama". sumpah, tuh bikin males, seakan-akan, tinggal baca buku langsung berubah. haha.

lalu kenapa saya rating bagus, yah dari awal saya memang bilang film ini ditujukan tuk remaja indonesia. kurang kritis. untungnya sejak awal saya tidak berekspetasi tinggi terhadap filmnya jadinya yah, gak buat saya kecewa setidaknya.

Film ini bertipikal menyuapi, karena yah remaja memang harus disuapi, jangan sampai-sampai salah menafsirkan film. gak aneh kok film indo kayak gini (menyuapi), toh kenyataan banyak orang yang suka salah menafsirkan tindakan orang lain.

memang saya juga aneh dengan adegan patriotisme Soleh, kok gak ngomong dulu kali yah, kok gak lapor dulu kali yah. tapi, hal tersebut tak mengganggu saya, jujur, saya sih dah bete pas bagian patriotisme itu. ntar malah menginspirasi kayak kasus bom meledak kemarin-kemarin.

tapi semua kekurangan diatas film ini tidak membuat film ini menjadi tidak layak tonton. film ini tetap layak tonton.

kalo pertanyaan yang diajukan sih, itu bisa jadi refleksi di Indonesia (mungkin loh). Gak ada yang ngelapor. kalo urusan muslim jadi Yesus, yah mungkin, yang menang audisi yang muslim, toh waktu audisi gak mungkin ditanya agamanya apa kan?

tapi, dari yang dibilang Rijon gak ada yang salah kok, bener semua. : )
bagas yudho 0 0
kok keliatannya serius ya..."apakah hanya sikap patriotisme saja???,,apa sebenarnya yang diinginkan sang sutradara??? atau film ini nantinya banyak mengundang kontroversi di kemudian hari??"...ini hanya film dari dunia perfilman,,tapi dilihat dari comen"nya banyak yang nggak suka sama yang suka,,,sorry nih sebelumnya ane blom nonton,,hehehe... : )
Taruma 0 0
bagas yudho: gak apa-apa kok, bagus dijadikan bahan diskusi. toh kalau kita membuat pertanyaan terhadap film ini berarti sang sutradara sudah sukses membuat filmnya karena tujuannya kan untuk "dipertanyakan". makanya judulnya tanda tanya. hahaha. : )

overall, menurut saya, film ini masih layak tonton. : )

gak usah dibawa serius, dibawa fun ajah, namanya juga film, salah satu hiburan. : )
Rijon 0 0
Wah kok aku nggak nangkep ya kalau film ini buat remaja? Emang di poster/filmnya ada ratting: Remaja? Atau Hanung sendiri pernah bilang untuk remaja?

Aku remaja lo? Suer dah!! : )

Maaf saja deh, sebagai seorang remaja saya tersinggung (dalam artian "satir") kalau dibilang:

[ .... karena yah remaja memang harus disuapi ..... ]

Apa remaja Indonesia sebodoh itu ya, sampai-sampai nggak punya "otak" yang cukup untuk memaknai sendiri sebuah film?
Rijon 0 0
Buatku, film ini "gak layak" tonton buat: [1] yang gak suka diceramahi oleh hiburan, [2] yang gak suka dianggap bodoh oleh sebuah karya seni, [3] yang gak suka disuapi makanan padahal sudah besar.
Taruma 0 0
Rijon: setiap beli tiket, di jadwalnya kan ada ratingnya.

Tanda Tanya ...? (R) = Remaja
The Social Network (D) = Dewasa

ahh, saya juga remaja kok. aduh, rentangnya remaja maksud saya yah smp. dan saya waktu dulu, kalau smp dikasih film sekelas ini lebih suka dibanding film sekelas the illusionist (yang gak disuapin).

maksud saya remaja adalah MINDSETnya BUKAN UMUR (saya sudah bilang sejak awal loh). Yang bisa menjawab seperti apa itu pikiran remaja, yah nonton ajah film virgin 3, nah itu baru remaja (salah satu contohnya). saya kan dah bilang mindset yang lebih simpel (salah satu contohnya yaitu dengan hanya menerima). : )

bagi, saya yang benar-benar menyuapi sih film Cin(T)a. dan film ini (menurut saya) lebih layak tonton. dialog yang muncul di film ini wajar-wajar saja.

Rijon:

yah, bebas lah, berasumsi film ini layak untuk siapa dan kenapa. mungkin film barat yang gak menyuapi, kayak 2001: A Space Odyssey kali yah (baru nonton lagi tadi). haha. : )
bitterjoy 0 0
Taruma: karena isinya pasti tendensius..tapi sebaiknya saya nonton dulu sebelum komentar banyak,hahaha
Rijon 0 0
Taruma: Saya 19 tahun? Sudah bisa disebut dewasa? Remaja? Or something in between?

Kalau yang jadi acuan adalah "mindset," bukan "umur." Agaknya rancu menggunakan istilah "remaja." Gunakan istilah lain yang lebih tepat dong Om, penonton yang gak mau mikir kek, penonton yang mau disuapi kek, atau apalah--I'm not really good at it. Pardon.

Wah, kalau saya sih, maaf saja ya kalau disuruh jadi penonton yang cuma "menerima." Sorry sorry aje lah ye. No way.

Sama aja menyuruh saya jadi penonton bodoh, goblok, dan gak ada otak.

"cin(T)a" dan "Tanda Tanya" sama saja menyuapi. Dan takaran menyuapi gak cuma sekedar dialog.

Suka "2001: A Space Odyssey," tapi bukan science fiction terbagus buatku. Masih ada "Solyaris" bikinan Andrei Tarkovsky (film Uni Soviet). Film asing (gak cuma barat--Eropah dan sekitarnya) yang gak menyuapi kok. Tapi ada juga yang menyuapi.
Taruma 0 0
Rijon: faktanya, kita seumur loh. yup, kita bisa dibilang remaja secara umur. tapi, karena dah kuliahan, harus dibuang-buang jauh pikiran disuapi, misal, belajar yah belajar sendiri (baca buku sendiri), beda kalo waktu sekolah, materi diberikan semua, kita hanya menerima. yahh, mungkin kata saya juga salah sih, menggunakan remaja sebagai pemikiran yang simpel (maafkan saya untuk hal ini). jadi, jangan aneh kalo anak kuliahan disuruh tonton film ini dan berpikir "kok kurang ini-itu", mungkin dah terbiasa berpikir kritis.

baguslah, kalau gak mau menerima saja, harus kritis. tapi, saya gak setuju kalo saya bisa dicap suka disuapin atau apalah, karena jika diambil logika negasi dari pernyataan anda sebelumnya, bisa disebutkan yang menyebutkan layak malah dibilang suka disuapin atau apalah. memang tidak bisa diambil logika seperti itu, tapi bisa saja ada yang salah menafsirkannya bukan? tapi, saya sih gak begitu peduli masalah beginian.

yah, saya sih mikirnya film yah hiburan. bagi saya, gak ada tujuan film membodohi, menggobloki, atau menyampahi. tujuan utama film yah menghibur. kalau ada orang yang merasa digobloki, sih itu masalah pribadi, jangan bawa-bawa orang lain. kalau film dokumenter baru beda tujuannya.

terserah anda, anda mau bilang Cin(T)a dan Tanda Tanya sama saja. bagi saya, tidak sama. Cin(T)a lebih menyuapi dibanding tanda tanya. saya bisa bilang bahwa Tanda Tanya juga cukup masuk akal saja (kalau ditambah detail dari imajinasi saya).

Yah, intinya sih, kalau menurut film ini menurut anda jelek, yah gak apa-apa. Toh, dimata saya film ini tetap layak tonton kok. terlepas penonton digobloki atau enggak.

kan saya dah bilang, film ini cocok untuk dijadikan "refleksi kehidupan". jadi, kisahnya gak jauh beda dengan fakta yg ada di indo. : )

Saya jadi tertarik menanti review anda tentang film ini. ditunggu loh...

*makan martabak manis dulu yahhhh*
bagas yudho 1 suka | 0
Taruma: kenapa judulnya "tanda tanya",,menurut anda apa??,,mungkin pada akhir film kita dibuat bertanya-tanya??..karena kata pepatah : "malu bertanya sesat dijalan".. : D
Taruma 0 0
bagas yudho: banyak asumsinya. yang jelas, sang pemberi judul memang sengaja memberi judul tanda tanya. : ) biar lebih banyak nanya dan membiarkan penonton memberi judulnya masing-masing,

gak sih, saya gak sampai bertanya-tanya. bagi, saya masih tahap wajar dan biasa. makanya saya bilang kurang kritis. bagi saya loh.
aibii 0 0
komen ah baru nonton apalagi udah lama gak mampir ke BF....

filmnya preacy banget.. terutama scene si ustadz tuh. kayaknya nggak perlu gitu-gitu amat

Rijon: gue sih oke-oke aja yah. selama nggak keterlaluan banget dalam segi penyampaiannya. tapi yang agak aneh kok soal mempluralkan agama terlihat terlalu menye dan segampang itu ya?

kalo soal suap-menyuapi rasanya wajar aja, karena gini aja orang2 udah heboh #asumsi gue sih bagian dari viral marketing#. coba kalo dibikin biar penonton disuruh menentukan sendiri, rasanya akan tampak terlalu berat untuk sajian keluarga dan tidak pada tempatnya.
Rijon 0 0
Taruma: Wah. Kok aku nggak bisa menjadikan fim ini sebagai refleksi kehidupan? Karena gak ada yang kupelajari tentang hidup di film ini. Memang gak ada. Karena semuanya sudah didiktekan oleh sutradaranya.

Hiburan sih hiburan. Tapi bukan berarti harus dibodohi juga oleh hiburan. Yah, bukan berarti harus disuapi mentah-mentah juga. Dan yang saya maksud membodohi itu ya cara sutradaranya menyampaikan doktrinnya, seolah-olah memosisikan dirinya sebagai yang lebih pintar. Dan penonton diposisikan sebagai kambing congek yang siap ditusuk-tusuk lubang hidungnya.
toRa 0 0
Rijon: Sometimes it's better to sounds preachy than not speaking after all.

Seriously, film ini memang usahanya Hanung untuk memberikan sudut pandang yang 'berbeda' dari kebanyakan film religi. Serius deh, untuk salah satu film yang membuat attempt pertama dalam menggambarkan konflik ini, film ini jauh di atas cukup.

Ya, film ini emang PSA. Anggap aja sekelas si Unyil yang jelas-jelas promosi P4. Tapi bukankah jauh lebih baik membuat sesuatu yang disesuaikan dengan target market?

Apakah (kebanyakan) remaja indonesia "bodoh" "goblok" atau "mau digurui"? Maaf-maaf saja, jawabannya: YA. Pendeatan semacam ini memang pendekatan yang paling efektif yang bisa dipakai supaya filmnya bisa dimengerti masyarakat luas.

Aria Kusumadewa juga sering mengangkat tema serupa dengan pendekatan yang lebih "pintar" dan "multiinterpretasi" dan lihat bagaimana nasib film2nya dia?

Ya maaf kalau sebagian penonton sinema Indonesia tidak sepintar Rijon dan tidak punya ekspektasi yang sama tingginya. Tapi serius deh.

It's a "religious movie". How can it NOT be preachy when the main point of a religion is preaching?

It's a start. Kalau diibaratkan kebanyakan penonton film sini masih di SD terus dicekokin buku pelajaran SMA, apa nggak malah pada puyeng?

Don't think everybody as smart as you are. Seriously, you don't look smart, you just sounded like a elitist jerk.
dez 0 0
saya baru nonton film ini. saya suka, walaupun byk kekuarangan sana-sini khas film indonesia, yah kira-kira seperti yang sudah dipaparkan om Taruma di atas.
yg ingin saya tanyakan soal adegan patriotisme soleh, mengapa tidak lapor dulu dan sebagainya, apakah pada kejadian asli nya (banser rianto alm,) jg spt itu? tidak punya pilihan lain?
jujur, scene tersebut membuat saya hampir menangis membayangkan kejadian aslinya, bagaimana banser rianto berkorban. dan walaupun reza (soleh) sudah berakting dgn cukup baik disitu, tetap saja menurut saya ada yang kurang, untuk menggambarkan adegan yang seharusnya paling dramatis dalam film itu. yah, tapi toh tetap membuat saya menangis juga : )
toRa 0 0
toRa: *an elitist jerk.
Taruma 0 0
aibii: tugas ustadz kan memang begitu, wajar-wajar saja ah. walaupun jadinya malah boo-moment. haha. : )

iyah heboh. ampe liat di infotaintment dibahas-bahas, padahal filmnya biasa ajah. : ) tapi layak tonton. : )

Rijon: tidak bisa menjadikan sebagai refleksi? oh itu masalahnya di lingkungan anda dan pribadi anda sendiri loh. karena refleksi hanya dipengaruhi oleh individunya. Bagi saya, film ini kurang lebih menunjukkan kehidupan yang saya alami walaupun tokoh dan posisinya berbeda. mungkin, kehidupan anda begitu sempurna jadinya tidak pernah mengalami konflik mengenai agama.

saya berkuliah dimana teman-teman saya kebanyakan berbeda agama dengan saya, orang tua saya sempat takut loh masalah kristenisasi padahal apa sih yang ditakutkan. Masa saya berteman dengan orang kristen, apa nantinya saya jadi orang kristen, bahkan pindah agama. Yah, kurang lebih seperti itu, jadi saya bisa menjadikan film ini sebagai refleksi, dan layak tonton banget untuk orangtua saya. hehehe. tontonan keluarga yang pas menurut saya.

ah, soal doktrin dan dogma sih, waktu kecil juga sudah dilakukan kekita oleh semua orang. nantinya juga, kalau sudah dewasa berpikir lebih maju. ingat loh, ini sebuah film, tidak bisa meruntuhkan sebuah iman atau apalah. Yang memang tujuannya untuk hiburan. bagi yang merasa diajari sih, bisa dibilang anda terlalu sensitif terhadap masalah suap-menyuapi, dan masalah orang lain lebih pintar. Lagian, sebuah ide yang diberikan di film ini dikembalikan ke individunya, apakah mereka percaya atau tidak? apakah mereka suka atau tidak? kalau suka, oke, kalau enggak, oke juga.

Saran saya, jangan terlalu berharap tinggi terhadap sebuah film, sekalinya mengecewakan inginnya malah lempar tomat busuk. hahaha. *pengalaman Tebus dan Lost in Papua*

toRa: hmm. setuju dengan pendapatnya. : )

dez: kalau masalah relevansi dengan kejadian nyata, saya juga kurang tahu kali yah.

yup, Masih ada yang kurang yah? saya juga ngerasa kok, yaitu karakter solehnya sendiri yang porsinya kurang banyak. adegannya masih kurang banyak tuk flashback. walaupun segitu juga sudah cukup bagus, buktinya? hampir menangis kan? hehehe. ini film diinspirasi dari kisah nyata, bukan remake dari kisah nyata loh. tapi, gak tau juga sih kalau masalah aslinya. saya juga tahu masalah rianto alm. dari inpotainment. hehehe. jadi, informasinya masih simpang siur.
dez 0 0
Taruma : ya, walaupun saya ingin sebenarnya scene di malam natal itu dibuat se perfect mungkin dan diperpanjang, tapi yah film ini toh tidak sekedar hanya menceritakan tentang kisah alm.rianto, melainkan masalah toleransi beragama secara umum, jadi bisa saya maklumi kalau bagian itu masih kurang 'ngena' dengan baik hehe..

oya, bagian yang kurang lagi dalam film ini, benar, soal pindah agama. tapi bukan hanya karakter Hen saja yang saya pertanyakan, tapi juga utk karakter yang diperankan Endhita (lupa nama nya dalam film).
Jujur, entah apakah saya yang kurang memperhatikan, tapi memang saya belum mendapat alasan Endhita pindah agama.
Pada scene di gereja, saat dia berbagi cerita dengan teman pria berkacamata itu, menurut saya dialog nya kurang dan juga kurang penghayatan.
Padahal menurut saya, seharusnya itu poin penting bagi karakter Endhita itu, karena dia karakter pertama dalam film yang penonton tahu pindah agama.
Kisah yang dibagi teman pria nya itu juga terasa 'kurang', entah karena cara bicara nya yang terkesan cuek padahal sedang membicarakan hal paling penting dalam hidup nya, atau karena memang cerita nya yang terlalu singkat.
Well, agak susah saya jelaskan dalam tulisan, tapi menurut saya pada scene itu memang terasa 'kurang' : p
Rijon 0 0
toRa:

[It's a "religious movie". How can it NOT be preachy when the main point of a religion is preaching?]

Dude, go see Yasmin Ahmad's movie? [Sadly, came from our beloved neighbor: Malingsia]

How could you said I am thinking everybody as smart as I am? In fact, am I ever said "I am smart"? The question is: Am I a jerk when saying from the bottom of my heart "I didn't like this movie"?

Aku cuma mereply Taruma yang dari tadi mempermasalahkan "ketidaksukaanku" dengan film ini. Bukankah aku punya hak untuk tidak suka yang sama dengan hak untuk sukanya kamu?

Taruma: Aduh Om, gak usah jauh-jauh deh nanggepin komentarku. Simpe-simpel aja, Om sendiri yang bilang tentang "berpikir simpel."

Yang kumaksud gak bisa menjadikan film ini sebagai refleksi, ya karena au sudah emosi duluan nontonnya. Sudah enggak menikmati.

Dan ketika aku bilang soal dogma, atau pesan, atau idealisme yang ingin disampaikan oleh sutradara film ini, aku ngga suka cara penyampaiannya yang menceramahi. As simple as that kok. Gak usah sampai jauh ke mana-mana nanggepinnya.
Taruma 0 0
Rijon:

sejauh apa sih? perasaan saya nanggepin semua komentar dalam konteks. : p

hahaha. tenang, saya juga pernah emosi seperti anda kok. khalayak saya menonton film Lost in papua dan Tebus. Itu semua cuman gara-gara satu hal, "ekspetasi terlalu tinggi". Saran saya sih, jangan terlalu berharap atau berekspetasi terhadap film deh, ntar kalo jelek, malah dijelek-jelekin. tapi, berhubung, anda gak pernah nonton film jelek, yah jadinya susah juga sih.

ohh, dari awal saya ngerti kok, bahwa anda tidak suka dengan gaya berceritanya. cuman, anda baru memperjelasnya sekarang. maklum, saya kan masih harus disuapin, masih remaja. : p
Taruma 0 0
dez: kalau saya sih, ngena-ngena ajah sih. mungkin, saya juga gak jauh berbeda dengan posisi mereka. : )

Mungkin sengaja, filmnya tidak menceritakan secara gamblang, dan sengaja membiarkan para penonton berspekulasi. tapi, ngapain juga repot-repot melihat kekurangan detail film ini, toh ada makna lain dari film ini. hehehe. : ) kalau mau dibeberin kekurangan sih, gak cuman itu doang, buanyak. : )
dez 0 0
Taruma 'ga jauh berbeda dengan posisi mereka' ? : )

yap, benar sekali, saya setuju soal utk apa melihat kekurangan2 kecil pada film yang jelas-jelas lebih banyak hal-hal bagus nya. Tapi karena sudah terlanjur dibahas, rasanya gatal juga jika tidak ikut berkomentar. Namanya juga penonton, pihak yang susah puas : D
toRa 0 0
Rijon: You have right to say this movie is bad as same as I have the right to say that you deliver it like a jerk.

Try to re-read your comment and see if you treat this movie any justice for its effort and quality. To be honest, you treat this movie as if this movie is just another "film kelas kancut" nya Nayato atau KKD while in fact it's not. Not at all.

Again, soal Preaching. Udah nonton "Sang Pencerah"? Ig you watched it and put your bar waaay above it, it's your own mistake.
Rijon 0 0
toRa: Have I ever said that I put this "Tanda Tanya" on the same level as KKD/Nayato stuffs? For the love of God, I didn't like this movie. What do you expect? Me, praising this thing that I didn't like at all?

Blackribbon 0 0
Menurut saya, film bukan hanya sekedar hiburan. Film bisa digunakan untuk menyampaikan pesan, menanamkan sebuah pemikiran, dan menyebarkan ide. Dan dari keseluruhan tema film '?' ini jelas sekali -seperti kata Hanung- untuk menyebarkan Pluralisme. Ingat pluralisme artinya menyamakan seluruh agama. Dan perbedaannya dengan toleransi saya rasa sudah jelas, ada batas2 dalam bertoleransi.
sabai 1 suka | 0
Posting ini dan seluruh komentarnya layak dinobatkan sebagai posting paling meriah di BicaraFilm!! horee..... tepuk tangan!
Rijon 0 0
sabai: Horeee!! *Plok Plok*
Taruma 0 0
sabai: *ikut bertepuk tangan*

harusnya yang Lost in Papua kemarin dong, paling heboh. hahaha. : )
Fu2 0 0
Hihihi, menarik lihat diskusi Rijon ama Taruma, seru. Berhubung belum nonton jadi nggak bisa ikut sumabng suara. Btw, kenal Rijon sejak dari jaman Ruang Film samapi sekarang emang paling banyak perbendaharaan filmnya, kadang bikin ngiri.

IMHO, Hanung emang jago buat film kontroversial, tapi biasanya eksekusinya jelek, paling benci lihat Get Married dan AADC, heran koq bisa box office? Jadi "?" deh, hehehe...
Fu2 0 0
Tapi tetap pengen lihat film ini : )
toRa 0 0
Rijon: it's not the matter of "like" or "dislike" only. It also the matter of judging by unfair subjectivity.

Read yourself:

[ Kerasa sekali pingin berkontroversi-biar-dikata-berani (film "pinter" gituh); keliatan dari muslim memerankan Yesus, murtad, penikaman pastur, restoran babi, dll. Tapi pingin pula beceramah-ceramah ria (biar serasa relujius). ]

Tell me that didn't sounds judgemental. Seolah-olah ini semua cuma sekedar cari popularitas aja, while in fact neither of us know. Hanung said this movie is made with good intention to raise the pluralism issue, percaya nggak percaya ya terserah, cuma ngehakimin begitu aja kayak gitu ya juga nggak fair.

[Have I ever said that I put this "Tanda Tanya" on the same level as KKD/Nayato stuffs?]

No, but like I said above, lo menuliskan kalau film ini cuma "jual kontroversi" dan nggak menuliskan satupun sisi baik seolah-olah film ini adalah film kelas kancut yang nggak pantas dipuji dan halal di-bash.

It's not good as in GOOD, but it's also obviously not the worst thing ever. What, "you never said that"? Then you should try learn how to deliver your messages better because that's what it sounded like.
dez 0 0
terus memantau perkembangan komen di posting ini : D
*ikut tepuk tangan juga* : p
toRa 0 0
Tapi kalau rating pribadi dari gw, mungkin 3/5, karena dasarnya gw emang nggak suka genrenya : D.
Taruma 0 0
dez: di kampus sih dah plural, dari agama A sampai Z kayaknya ada, tiap hari ketemu, menyapa dan biasa ajah. : p makanya, langsung ngeh pas nontonnya, kok bisa-bisanya ribut cuman masalah begituan. hahaha.

kalau masalah hal yang bagus, dari kekuatan detail filmnya masih banyak yang bisa ditembak. sayangnya, saya dah menganggap film ini refleksi jadinya, filmnya bukan untuk di-?-kan. jadi, review saya terhadap film ini bagus. : )

Blackribbon: kalau menurut saya tujuan utama film sejenis tanda tanya adalah menghibur, yah tujuan lainnya bisa dijadikan pengajaran, dll. kalau dokumenter kebalikannya, tujuan utamanya memberi tahu, bukan tuk menghibur. : p

Fu2: film kontroversial? ah, menurut saya sih film ini biasa-biasa ajah. mungkin, saya di kampus dah plural, jadinya biasa-biasa ajah.

yah, sayang, kalau dah nonton kan bisa makin rame diskusinya. : )

toRa: wew, gak suka karena apanya? temanya kah? hmm....
Rijon 0 0
toRa: Astaga, Om, ketika saya gunakan kata "kontroversial," bukan berarti saya ajukan ke arah negatif. Bisa saja itu berupa pujian. Film-film tentang agamanya Yasmin Ahmad juga mengangkat tema kontroversial (atau kalau bahasa halusnya: "banal").

Jangan disamakan level kontroversial yang saya maksud dengan kontroversialnya KK Dheeraj atau Nayato. Dan memang yang diangkat Hanung banal kan?
Rijon 0 0
toRa: Wah, saya gak bilang "jual kontroversi." Astaga bener.

Jangan salah paham dulu, saya suka film-film yang berani mengangkat materi kontroversial (atau banal). Dan "tema kontroversial" jangan selalu disejajarakan dengan KK Dheeraj dan Nayato.

OMG!!!
Rijon 0 0
dez: & Taruma: Anyway, buat saya pribadi, "menggurui," "preachy," dan "mendikte" bukan kekurangan kecil film ini. Karena cara tersebut dibawa dari awal sampai akhir film.

Dan saya sama sekali enggak suka film-film yang memosisikan penontonnya sebagai orang dungu yang cuma bisa diceramahi tanpa diberi kelapangan untuk memutuskan sendiri. Itu film yang membodohi, buat saya. Dan saya bicara bukan tentang pluralismenya, tapi cara menyampaikannya.

Ketimbang memberi pesan moral, Hanung lebih mirip mengkultivasi. Mendoktrin. Sampai dialog-dialognya pun harus menceramahi.

Saya lebih suka film yang memberikan saya pengalaman, sekalipun temanya kontroversial, ketimbang disuapi pesan ke dalam mulut.

Itu bukan detil-detil kecil, buat saya.

Film-filmnya Yasmin Ahmad juga sarat akan tema kontroversif semacam ini, tapi tidak ditampilkan dengan cara menceramahi. Melainkan membuat penontonnya turut merasakan sendiri. Dan pada akhirnya mampu memutuskan sendiri. Itu baru film yang bisa dijadikan refleksi, buat saya.

Film-film seksualnya Catharine Breillat, Pier Paolo Pasollini (dan sutradara-sutradara seksis lainnya) juga termasuk kontroversial. Tapi lebih menarik ketimbang yang menggurui seperti ini. Karena lebih sarat nilai-nilai kehidupan yang bisa dipelajari tanpa harus diceramahi.

Kalau saya butuh ceramah, lebih baik saya ke masjid, ketimbang ke bioskop.
Rijon 0 0
Tambahan: Saya pernah mendengar istilah "Seni itu menyampaikan pesan secara tersirat."

Kurasa itulah yang membedakan antara "seni" dan "ceramah."
Taruma 0 0
Rijon: hal suap menyuapi tergantung individunya. kamu bisa bilang film ini menyuapi, saya bisa bilang film ini tidak terlalu menyuapi, masih dalam batas wajar. rasanya, anda tidak perlu memberikan referensi film yang bukan menyuapi untuk lebih lanjut, terlebih lagi referensi filmnya belum saya tonton. jadinya, otak saya gak nyambung.

lagipula, kalau ketemu ustadz, biasanya juga diceramahin. atau ketemu orang yang merasa lebih tahu pastinya juga berceramah meskipun orang yang mendengarnya juga males. wajar-wajar saja. toh kenyataannya memang begitu. saya sih tipikal orang yang gak begitu mempermasalahkan dia berceramah atau tidak. yang penting bagi saya dalam menonton film, saya bisa menikmatinya. : )

film ini, menurut saya, tetap mendidik. cuman dikemasnya yah memang lebih simpel, gak dibuat tersirat. masalah tersirat atau tidak, itu kembali ke masalah pribadi. "Suka gak sih sama yang tersirat?" Kalau saya jawabannya, bisa suka bisa tidak, yang penting menurut saya saat menonton film, bisa menghibur dan bisa dinikmati.

Ibarat, makanan cireng isi yang isinya bermacam-macam, tapi bentuknya sama. bagaimana kita tahu itu isinya keju, sapi, ayam. yah, dengan dicoba. bagi saya sih, gak apa-apa. toh rasa keju, sapi, dan ayam enak. jadi, selama masih bisa dinikmati saya sih, oke-oke ajah menebak isi cirengnya. : ) bayangkan kalau isinya dibungkus sama cireng busuk. belum sampai isinya pun, saya berhenti memakannya. Makan isinya saja? namanya bukan makan cireng isi dong. : p

*baru goreng dan makan cireng isi sih. jadinya ibaratnya cireng isi. hehehe*
dez 0 0
Rijon: kalo soal ceramah dan menyuapi, saya rasa banyak film yang seperti itu, terutama film religi. Tapi kalo untuk saya sendiri, selama saya suka inti dan maksud ceritanya atau karakter-karakter yang ditampilkan, tidak masalah. Soal 'ceramah' nya yg seakan-akan 'menyuapi' saya, kalo saya tidak suka, ya tidak saya ambil pusing, dan saya tidak akan menjalani kehidupan saya sesuai dengan 'suapan ceramah' yang diberikan film itu : p
tapi kalo ternyata saya suka apa yang 'disuapi' itu, ya saya nikmati saja : )
untuk film ini sendiri, menurut tidak semua nya 'disuapi'. dan dari hal-hal yang 'disuapi' itu, ada yang saya telan, ada juga yang tidak saya telan sama sekali : )

ya, lagi-lagi kembali ke selera sih menurut saya : )
sepertinya kamu suka film-film yang mengandalkan kekuatan berpikir penonton : )
senang juga baca komentar-komentar kamu, dan sepertinya referensi-referensi film kamu bagus-bagus. akan saya coba cari : )

Taruma: awalnya saya juga pikir, dgn judul '?' saya pikir akan sesuatu yang benar-benar akan menjadi pertanyaan besar penonton dan akan terus 'mengganggu' hati dan otak penonton setelah selesai nonton, pulang ke rumah, sampai berhari-hari setelah nya hehe : D
ternyata tidak sampai seperti itu.. sedikiiiiit kecewa iya, tapi toh saya tetap suka film ini, dan tetap menganggap nya bagus : )
Rijon 0 0
Taruma: & dez: Yang Yasmin Ahmad memang contoh (atau referensi) film religi yang tidak menyuapi. Film-film religi dari timur tengah, juga film-film tentang toleransi dari Perancis (Monsieur Ibrahim et le fleurs du coran, contohnya) juga tidak perlu berceramah ria. Tidak perlu memosisikan penontonnya sebagai subyek ceramah yang cuma bisa "nerima" tok.

Oh, Om Taruma, yang film-film seksis itu nggak referensi kok. Cuma mau bilang, "Mending nonton film seksisnya Pasolini, ketimbang film ceramah."
Rijon 0 0
dez: [sepertinya kamu suka film-film yang mengandalkan kekuatan berpikir penonton : )]

Nggak juga, aku suka film-film komedi-komedi ringan. Terutama yang datang dari Charlie Chaplin dan Billy Willder. Aku cuma lebih suka film yang membuat penontonnya "turut merasakan dan memetik sendiri pada akhirnya," ketimbang "menceramahi bulat-bulat."

"Turut merasakan dan memetik sendiri pada akhirnya" bukan berarti harus membuat penonton berpikir keras-keras.
dez 0 0
Rijon: hmm, film spt itu ga bikin terasa 'ngambang' akhirnya? maaf, soal nya referensi film saya memang belum banyak : )

Charlie Chaplin memang 'dewa' ! : D
Rijon 0 0
dez: Film seperti apa dulu? Ada yang ngambang ada yang enggak. Tergantung bagaimana si sutradara mengemasnya tanpa perlu berceramah-ceramah ria. Gak semua film yang berakhir ngambang buruk, juga sebaliknya. Film-film seksisnya Breillat kebanyakan berakhir ganjil, ganjil yang dahsyat tapi. Terutama "Fat Girl" dan "The Last Mistress." Pasolini juga. Film-film tentang Agama bikinan Yasmin Ahmad juga brilliant, tanpa perlu berceramah-ceramah ria.

Ada yang bagus ada yang jelek. Gak semua tipikal film yang kusebut itu pasti kusuka. Agaknya, kalau pertanyaannya cuma "film seperti itu," susah menjawabnya.

Walaupun begitu, tetep lebih milih "ngambang" (seburuk apapun itu "ngambang" nya), ketimbang "film yang menceramahi."
dez 0 0
[Walaupun begitu, tetep lebih milih "ngambang" (seburuk apapun itu "ngambang" nya), ketimbang "film yang menceramahi."]

sebuah kalimat yg berani : )

wah jujur saya belum pernah menyentuh film-film itu, makasih buat masukan referensi nya, jd ga sabar untuk segera nonton : )
jim96 0 0
widih rame bgt yah.

Lost in Papua kalah rame karena eksekusinya kurang mateng sehingga lebih mudah dianggap jelek.

kan jelek itu absolut, kalo cakep itu relatif ... wkwkwk

ceramah, pembodohan, penonton dungu itu biasanya mencerminkan kedangkalan informasi. tidak mudah untuk mendapatkan pendalaman (pengetahuan) yg memadai untuk dijadikan pijakan yg kokoh

yasmin ahmad dan karyanya (blom nonton sama sekali), tapi dengan (semangat pukul rata alias generalisasi) ... sepertinya yasmin ahmad memiliki kedalaman informasi yang memadai untuk mengangkat tema agama dalam filmnya.

secara tidak langsung saya mau mengatakan bahwa kemampuan (dan pendalaman) hanung memang baru segitu levelnya.

kalo yg cukup dalam sebetulnya pada film 3 hati 2 dunia 1 cinta. penulis novelnya punya kedalaman informasi (bahkan pengalaman) tentang budaya etnis arab yang mayoritas muslim. eh, tapi kedalaman ini tidak lantas membuat filmnya juga memiliki kualitas yang memuaskan. *ngeles cari aman* ... kikikkkk
toRa 0 0
Taruma: gak suka film drama in general, I'm a grindhouse guy : D.

Rijon: quoting myself:

[What, "you never said that"? Then you should try learn how to deliver your messages better because that's what it sounded like. ]

Honestly, it's pointless to held a discussion if one keep on putting personal taste as standard. Like I said, I don't like drama, but I can watch this movie without laughing for the whole wrong reason.

Like say... when I watched "Dalam Mihrab Cinta". Dear God, that movie could have potential.

Anyways, if I have to sum this movie up (males nulis artikel):

Good Cha:

Surya.
I don't know why, I love seeing an adult in santa outfit crying on the roadside. His quirky character is enjoyable. And a moslem actor playing Jesus happened before, Rijon *lirik bokap sendiri*. It's not rare, back in my elementary school, I played in easter play too.

I also like his love story at first. Makin ke belakang jadi nggak menarik lagi sayangnya.

Ping Hen.
If one pay enough attention, he didn't convert to Islam because of the book itself. He already have conflict inside before, and Hanung didn't give him enough screen time to do him any justice. Sadly. Padahal konflik dia sendiri aja udah bisa jadi satu film yang cukup menarik. Terutama bagian "keluar ngebir nggak selamanya maksiat" : )).

Oh yeah, my girlfriend approved his and his friend's accent, but I dunno, belum pernah ke Semarang.

Pastur.
I dunno, I just like him for some strange reason.

Soleh.
He's a whiner and annoying as a man. Even after his death, I can't feel any sympathy for his character. But to be honest... I met this kind of guy way too much in my life, so I can tell that sadly, this whiner is realistic.

Ibu Kos.
Read Soleh's part.

Bad Cha:

Revalina.
No, seriously. She just being herself and still sound too "Jakarta" for her character. And not interesting anyway.

Pembantu cowok pas bokapnya Ping Hen pingsan.
This is very nitpicking, But him screaming with his hands wide open is just plain hilarious. Bad acting at its finest. As bad as...

The Director at the beginning.
Yes. BAD. Tommy Wiseau bad.

Glenn Fredly.
Not bad, just... bland.

Ustadz.
Too overplayed to be natural, but not as bad as it could be. So yeah... kinda like 50-50 for me.

The UPS.

Peririsan masing-masing karakter, I like it. Personal taste sih, not much I can deliver.

The quirky moments (kebanyakan isinya Surya sih).

Scene that shows "religion" isn't always be the reason of "religious conflict". Sometimes it's plainly just a woman. This is one of the not-so-preachy part, IMO. And this also one of the part showing the "fairness" of this movie about the religion itself. Hanung played safe here, and it's cool for me.


Santa Claus scene.
Typical, but I laughed when I feel like wanna cry at some point.


Apa yah? Banyak yang udah lupa sih, I usually forget the big parts and sticking on small unnecessary details.


The DOWNS.

Ending.
It sucks and blow like a professional pornstar. Especially the "Pasar Soleh" part and the [s]Katy Perry[/s] fireworks part. And most of it sih sebenernya. That bomb didn't kill Soleh only, but also the charm of this movie died too.

If only Hanung give the ending 10 more minutes, it could be executed way much better.

The director at the beginning.
Yes, I hate him that much.

The vague Ping Hen conflits.
HE NEEDS MORE SCREENTIME, DAMMIT.

The explosion.
The CG sucks. And the aftershock is waaaay too sinetron-ish. Mungkin karena muka Revalina di sana, I dunno.

Auk ah, ngantuk. Ntar mungkin lanjut lagi.
aibii 0 0
waduh baru ditinggal sehari udah membludak yang komen. tapi tetep si rijon mendominasi. haha... btw lagi gak punya something buat dikomentarin jadi liat aja bacotan bacotan kalian wkwk

buat bang taruma minta cirengnya dong, baru tau kalo ada cireng isi.
Taruma 0 0
aibii: loh, di bandung, cireng isi sudah banyak yang jual. ini juga beli di toko swalayan. : )
Taruma 0 0
dez: haha. mengecewakan yah. saya sih biasa ajah, toh saya dah pernah hidup di dunia pluralisme jadinya, gak diambil pusing dan biasa ajah. tapi, saya juga tetap menganggap film ini layak tonton. : )
dez 0 1 tidak suka |
hahaha, kalau mau memperhatikan detil nya, saya banyak setuju sengan uraian @toRa di atas, walau ga semua nya : D
Rijon 0 0
toRa:

[What, "you never said that"? Then you should try learn how to deliver your messages better because that's what it sounded like. ]

QUOTING MYSELF:
[Dan "tema kontroversial" jangan selalu disejajarakan dengan KK Dheeraj dan Nayato.]

--------------

[Honestly, it's pointless to held a discussion if one keep on putting personal taste as standard. Like I said, I don't like drama, but I can watch this movie without laughing for the whole wrong reason.]

[1]
Om, siapa yang ngajak diskusi? Aku cuma bilang "nggak suka film ini" (beserta alasannya). Lantas Om Taruma: mengomentari, salahkah kalau aku balas mengomentari? Gak ada niat ngajak diskusi dari awal. Cuma sekedar bilang "enggak suka," gak boleh?

[2]
Karena duduk permasalahan awalnya "ketidaksukaan aku," wajar dong kalau kembali ke selera personalku. Ya karena yang dipermasalahkan ketidaksukaanku terhadap film yang menggurui, menceramahi -- preachy.

Paham?
jarwadi 0 0
saya baru menonton film ini kemarin, pada awal film ada tulisan yg menjelaskan bahwa setting film di Semarang pada awal tahun 2000 an. beberapa menit setelah film di mulai saya bertanya tanya, itu kok ping hen (anak pak tan) mainan blackberry, saya tidak tahu ada tipe bb apa di indonesia pada tahun 2000-an. memang film ditutup dengan lebaran 1431 H dan tahun baru 2011. kalau memang film itu berlangsung 10 tahun, kok anak rika ngga tambah gede secara signifikan. apa yang dimaksud hanung bramantyo awal tahun 2000 an itu adalah tahun 2007. cmiiw

salam
jarwadi 0 0
review sementara saja ada di http://jarwadi.wo…tanda-tanya/ entar kalau filmnya sudah turun dari layar bioskop, mudah mudahan ga lupa menulis resensi yg lebih lengkap, sementara mantau diskusi teman teman sisini
Taruma 0 0
hampir semuanya sependapat dengan toRa btw, jeli juga dan hebat masih hapal. saya ajah dah lupa lagi. hahaha.

jarwadi: wew, detail sekali, saya sih malah gak tau settingan tahunnya. makanya, saya bisa menikmatinya sehingga masalah munculnya hape itu gak begitu bermasalah. : )


=======

FYI, ada wawancara ekslusif Hanung loh di filmoo : linknya : http://www.filmoo…-tanda-tanya
Blackribbon 0 0
Taruma : Itu kalau menurut anda, kalau menurut Hanung kan untuk menyebarkan pluralisme. Kalau anda orang islam pasti tahu kan kalau pluralisme tidak diperbolehkan. Bahkan kristen dan Buddha melarangnya karena pluralisme dianggap melucuti kepercayaan dari agama. Dan kalau dilihat secara keseluruhan film ini sangat memojokkan Islam, menggampangkan pemurtadan si tokoh yg diperankan Endhita. Bukan toleransi.
bitterjoy 0 0
Blackribbon:
"Dan kalau dilihat secara keseluruhan film ini sangat memojokkan Islam"

Naa,ini yang saya maksud film ini jadi tendensius : )
Taruma 0 0
Blackribbon: saya sih, masih bingung dengan istilah memojokkan. saya hidup di dunia beraneka agama. saya rasa fine-fine ajah film ini. film ini bisa diambil positif dan negatif. terserah siapa saja, untuk mengambil positifnya atau negatifnya.

yah, saya tunggu ajah ulasan para "ahli" untuk membahas film ini berdasarkan ilmunya.
Taruma 0 0
Blackribbon: saya islam, saya baru denger tuh kalau pluralisme tidak diperbolehkan.
Taruma 0 0
bitterjoy: itu hanya satu pandangan. pandangan saya malah biasa-biasa ajah. saya jadi bingung kenapa harus merasa terpojok?
Jarwadi Mj 0 0
Taruma: iya, ada banyak sekali adegan yg ngga presisi jadi sedari awal saya sudah sulit untuk menikmati film ini
Blackribbon 0 0
@Bitterjoy : Yep, makanya aneh sekali kalau film ini disebut toleransi.
Taruma 0 0
Jarwadi Mj: contohnya seperti apa.
Blackribbon: alasannya dong. saya masih kurang jelas. dibuat serinci mungkin, karena saya masih kurang nangkep maksud memojokkan dan menggampangkan (tentang filmnya loh).
Blackribbon 0 0
Taruma : Mungkin Taruma bisa baca2 artikel cendekiawan muslim tentang pluralisme di internet, contohnya Adian Husaini. Seperti anda, saya pun bersahabat baik sama teman saya yang kristen. Kita juga gak pernah saling menghakimi atau mendoktrin. Di lingkungan saya pun gak ada yang tusuk-menusuk karena beda agama. Ya itulah toleransi, tapi di film ini Hanung terkesan lebay dengan menggambarkan umat Islam yang sepertinya gak mau menerima perbedaan. Sepertinya muslim lah sumber masalahnya.
Taruma 0 0
Blackribbon: owh, maksud saya, ambil salah satu adegan yang ada difilm biar saya lebih mengerti. takutnya, ini gak ada hubungannya dengan filmnya. : p

kalau saya sih nangkepnya beda, malah saya lihat keharmonisan perbedaan agama, masalah? pasti ada, tapi, akhirnya kan teratasi dan disadari. disana kan ada tokoh yang menerima perbedaan, ada yang tidak. ada yang good & bad.
toRa 0 0
Blackribbon: Mari kita telaah : ).

Apakah Islam disudutkan di film ini? Saya berani jawab: TIDAK. Malahan bisa dibilang, sangat dibaguskan. Kenapa saya berani bilang begitu, coba kita review.

Penusukan pastur.
Tendensius memang, seolah ini menggambarkan bahwa Islam keji dan semacamnya. tapi apakah begitu? Apakah anda merasa disindir dengan adegan itu? Coba diingat-ingat, apakah di adegan itu dinyatakan bahwa yang menusuk adalah seorang Muslim?

Dan juga, apakah kejadian ini bukan kejadian nyata? Ingat kejadian penusukan Pendeta HKBP kan?

Apakah semua yang menghina-hina agama lain di film ini hanya orang Islam?
Tidak. Coba lihat siapa yang di-Antagoniskan emnjadi "pembenci Islam"? Ping Hen. Di awal dia menghina agama ketika papasan dengan sejumlah orang yang mau ke masjid, dan ketika lebaran juga, dia memaksa membuka restoran yang menjual babi itu.

Dan dia berakhir masuk Islam dan menjadi orang yang lebih baik. Apakah ini menghina Islam?

Coba pikirkan lagi, apakah film ini "menggampangkan pemurtadan" atau "menggambarkan pertaubatan"? Saya rasa ini semua cuma masalah sudut pandang.

Dan Surya dan Menuk juga bisa menjadi bagian dari komunitas agama lain, memisahkan ajaran agama dan profesi. Menunjukkan kalau Islam tidak membuat seseorang menjadi anti dengan agama lain.

Apakah ini memojokkan Islam?

Masalah penghancuran restoran.
Di sini yang sangat jelas. Hanung menggambarkan bahwa serangan yang "berbau agama" ini BUKAN didasari oleh agama, melainkan oleh kecemburuan.

Kalau ini bukan pembelaan untuk ajaran Islam, saya nggak tahu apa namanya.

Jelas-jelas kok digambarkan bahwa meskipun yang menyerang orang Islam dan yang diserang bukan Islam, dasarnya itu bukan agama, melainkan manusianya sendiri.

I mean, come on.

Apalagi dengan ending meninggalnya Soleh karena bom.

Dan coba ditelaah lagi, apakah bom itu (di film ini) dikatakan kalau dilakukan oleh seorang muslim? No. Cuma "dicurigai" yang menjadi alasan Banser menjaga gereja, bukan?

Mereka "teroris", tapi Hanung tidak pernah menyebut mereka "Islam". Dan korban dari teror itu juga seorang "Islam".

Jujur, selepas film ini, saya justru merasa film ini tidak se'berani' itu. Makanya saya bilang berkali-kali, Hanung bermain aman di sini.
Rijon 0 0
Aku setuju sebagian dan tidak setuju sebagaian dengan Blackribbon:. Dalam kbbi:

plu·ra·lis·me n keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya);
-- kebudayaan berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dl suatu masyarakat

Kalau pluralisme yang dimaksud itu ya hidup rukun antar umat beragama dalam satu wadah masyarakat, ya saya tidak keberatan. Setahu saya, dan ajaran guru agama ketika saya duduk di bangku sekolahan dulu, ada toleransi antar umat beragama di dalam Islam. Toleransi. Tapi jelas sekali bukan pluralisme seperti itu yang dimaksud Hanung Brahmantyo di sini. Tapi pluraisme yang seperti ini:

"Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama: mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan." [Narasi awa film]

Tentu ada perbedaan yang sangat jelas antara "toleransi" dan "menyamakan (semua) agama (Tuhan)." Kalau memang "toleransi" lah yang dikejar-kejar Hanung Brahmantyo, rasanya tidak perlu lah arahan yang seperti di narasi awal itu dilakukan. Tidak perlu setendensius itu. Cukup lah memotret carut marut atau harmoninya toleransi itu. Lain ceritanya kalau Hanung mengejar poin-poin filosofis teologis tertentu (yang "pluralisme" itu). Dan untuk urusan itu, Hanung malah menggampangkan masalah. Membandingkan agama yang satu dengan agama yang lain bukan urusan sepele, apalagi kalau sudah berani mengugkapkan "satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan."
Rijon 0 0
Tambahan, jangan salah paham, aku gak masalah seidealis apa film Hanung. Dan sekontroversial dan serentan apa idealis di film Hanung itu, tapi maaf saja, tidak dengan cara yang menggampangkan (kalau sudah berani sebanal itu).
Diah Fanny Amalia 0 0
Baru aja nonton film ini. Dan film ini bener-bener bisa bikin kita miris, seneng, terenyuh, semuanya campur aduk. Setelah nonton film ini, saya jadi merasa seneng dengan indahnya keragaman beragama :')
Taruma 0 0
telaah yang dilakukan toRa saya setuju dengan pendapatnya. dan menurut saya, hal negatif muncul karena perbedaan sudut pandang melihat film ini. WAJAR. Ada yang bilang film ini menarik, membuat senang, ada juga yang bilang film ini terlalu memojokkan, terlalu bodoh, dlsb. semua itu wajar. karena penilaian sudut pandang tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh penonton tersendiri.

Rijon: menurut saya, sih film ini lebih kebanyakan mengajarkan toleransi dibanding pluralisme. gak ada bagian dimana pluralisme ditunjukkan sebagai inti cerita.
Taruma 0 0
Diah Fanny Amalia: saya juga senang menontonnya, dibandingkan nonton Tebus. -__-
Blackribbon 0 0
Tora mengatakan kalau konflik terjadi karena kecemburuan, dan kalau soal penusukan yang diangkat dari kisah nyata. Yakni kejadian dengan Hkbp. Sebaiknya anda baca sendiri deh artikelnya disini Http://m.voa-isla…kbp-sendiri/
Selama ini media selalu timpang dalam pemberitaan, media langsung memberitakan akibat tanpa menelusuri sebab sebenarnya. Demikian juga Hanung, dia tidak menjelaskan sama sekali siapa dan apa motif insiden tersebut. Publik akan langsung 'ngeh' siapa yang tertuduh. Tora sendiri langsung berfikir kalau insiden tersebut adalah insiden HKBP bukan?
toRa 0 0
Blackribbon: lho, sama dengan kejadian yang 'katanya menginspirasi', sampai sekarang juga nggak jelas kan siapa yang salah? Adegan penusukan itu juga, sekali lagi, tidak dijelaskan siapa yang menusuk. Penonton otomatis bertendensi bahwa itu adalah seorang muslim karena yang ditusuk adalah seorang Pastur.

Itu kan maksud anda?

Berarti yang salah mindset penonton atau filmnya yang ambigu? Kenyataan di luar filmnya juga ambigu kok sampe sekarang. Masalah persepsi dan kepercayaan aja : D.

Dan tolong deh, itu link berita yang dikasih juga nggak netral sumbernya : )).
Taruma 0 0
Blackribbon: lohh, yang terinspirasi dari kisah nyata kan sifat patriotisme (katanya) bukan soal tusuk-menusuk.

waktu saya nonton, saya gak "ngeh" loh, itu insiden HKBP. bahkan saya gak peduli, siapa yang nusuk. intinya, ada yang tertusuk di gereja. dan untuk mencegah terulang kembali insiden tersebut (terlepas siapa pelakunya) banser menolong menjaga keamanan gereja.

saran saya sih, kalau nonton film yah jangan suka kaitkan dengan kasus yang ada terkecuali filmnya memang diangkat dari kasus tersebut (semisal Fair Game).
bitterjoy 0 0
Taruma: memang gak fair mengaitkan film dengan kasus yang ada,tp menurut saya yang dipermasalahin disini adalah semangat hanung di balik film ini,apa tujuannya

dan saya rasa komen Rijon: sudah cukup jelas menggambarkan hal tsb.
Taruma 0 0
bitterjoy: saya sih tipikal yang tidak berburuk sangka terlebih dahulu terhadap semua film. jadinya, saya gak begitu peduli film ini dibuat tuk apa kek, yang penting hasilnya bagus atau enggak. dan saya rasa, film "?" merupakan film yang baik dalam hal eksekusinya maupun ceritanya. : )

Urusan curiga film ini untuk masalah A. untuk masalah B, itu mah masalah pribadi/individual. termasuk saya. saya bilang film ini layak tonton, dan itu ditujukan untuk pribadi saya sendiri. Tapi, terkadang juga, banyak teman saya yang mengikuti selera saya (entah kenapa).

Lagipula, setelah membaca wawancara eksklusif antara Hanung dan Filmoo, rasanya, tidak ada niat buruk dari hanungnya sendiri.

http://www.filmoo…-tanda-tanya

Seandainya, film ini dilempar ke festival luar negeri dulu, dan misalnya dapet official selection bahkan penghargaan, pasti disambut dengan baik filmnya setelah masuk ke indonesia. : )
Rijon 0 0
Taruma: Yang kutangkap malah "pluralisme" nya, atau "pluralisme" berkedok "toleransi." Upss. Sudah jelas sekali kok. Buat apa narasi awal itu kalau yang ingin disampaikan murni cuma "toleransi"? Mubazir saja kan? Asap nggak tiba-tiba muncul kalau tidak ada api. Hohoho.

Ah, Hanung terlalu sombong membandingkan dirinya dengan Andrei Chekhov dan Teguh Karya. Masih jauh, Bung.
Rijon 0 0
Taruma: Kebalikan Om Taruma, kurasa "Tanda Tanya" malah film buruk baik dari segi eksekusi maupun ceritanya. : D

Buatku, Menceramahi itu tidak filmis.
Taruma 0 0
Rijon: owhh. jadi alasan film ini disebut pluralisme gara-gara narasinya saja?

mungkin maksud dari narasi tersebut, mau menunjukkan bahwa di indonesia, agama tidaklah satu. semuanya bertuju ke kedamaian.

tapi, memang sejak awal (kalau tidak salah) Hanung hanya ingin mengenalkan pluralisme bukan untuk membahas pluralisme. wajar saja filmnya bisa dibilang kurang kritis bagi yang sudah mengenal istilah pluralisme.

Kok saya malah lucu yah lihat kalimat terakhir anda yang menjudge hanung. but, whatever, its your problem.
Rijon 0 0
Taruma: Yang mana yang menjudge? Yang ini: [ Ah, Hanung terlalu sombong membandingkan dirinya dengan Andrei Chekhov dan Teguh Karya. Masih jauh, Bung. ]

Ah, memang Hanung masih belum seberapa dibandingkan dua nama itu. Kurasa aku nggak perlu memberikan alasan kenapa aku menulis seperti itu, aku yakin Om Taruma sendiri tahu. : )

Pertama-tama, itu narasi awal Om. Opening sebuah film. Gerbang film. Kalau gerbangnya saja sudah begitu? Salahkah saya berpikiran begitu? Dan, tidak, tidak hanya dari narasinya. Isinya pun terlihat sekali bau-bau pluralisme yang disebut di narasi. Kurasa aku tidak perlu menjelaskan lagi bukan? Salah satu adegan (yang kurasa tidak perlu kujelaskan lagi juga, Om Taruma -- yang sepertinya ngefans berat sama film ini) sangat ketara sekali bau-bau pluralismenya. Gak masalah, kalau memang itu idealisme yang mau disuapi Hanung di sini. Oh, Hanung malah menggampangkan.
Rijon 0 0
Taruma: Kalau memang narasi itu mengarahkan ke "kedamaian" kenapa harus menggunakan kata "Tuhan"? Ketimbang semakin jelas, malah semakin rancu dan ambigu. Kata "Tuhan" punya efek yang jauh lebih kuat dari "kedamaian." Hasilnya bukan tidak mungkin yang ditangkap malah jauh dari "kedamaian."

Dan ya, apa yang saya saksiskan selanjutnya malah lebih mendekati artian "Tuhan" ketimbang "kedamaian."
Taruma 0 0
Rijon: Hmmm.. berhubung saya sewaktu awal gak menerka film ini ttg pluralisme jadi pikiran saya ke toleransi. maklum, saya tidak sepintar anda.

iyah deh, saya dibilang ngefans berat sama film ini. saya kan jauhhhuhuhuhuhuhuhuhuhhhhhh beda sama anda yang ... you-know-lah suka film yang gak disuapin. : )

*komennya mo ampe seratus nih. horee*
Rijon 0 0
Taruma: Wah pas baru duduk di bioskop pun (layar masih hitam legam dan diisi lagu-lagu), aku pun menyangka bakal disuguhi film tentang toleransi. Tapi pas melihat openingnya, buyar sudah.
Taruma 0 0
Rijon: mungkin saya terlewat kali yah bagian openingnya. gak begitu hapal sih. biasa, repot ngurus cemilan. *ketahuan deh..* hahaha.
toRa 0 0
Kata "judgemental" di sini sudah sangat lucu. Apalagi kalo ditambah kata "pelabelan" akan jauh lebih lucu; )).
Taruma 0 0
toRa: mari tertawa bersama-sama. hahaha. : ) #halah #gakpenting

*makan martabak manis lagi nih*
Taruma 0 0
*sambil makan martabak*

ohyah, saya tahu alasan kenapa film ini lebih "menggurui" dan lebih "verbal":

http://filmindone…ng-saya-tahu

Kutipan jawaban hanung sesuai situs filmindonesia.or.id :

"Ada pesan-pesan yang memang bisa disampaikan dengan cara yang canggih bentuknya. Tapi kecanggihan itu bisa juga membuat pesannya tidak sampai pada penonton umum. Penyampaian yang saya pilih sangat verbal. Kalau harus memilih, saya lebih baik menyampaikan pesan kepada kalangan luas dibanding hanya segelintir orang saja."

Saya menyimpulkan, Hanung memang sengaja memberikan model film yang dibenci sama Rijon. betul kata toRa, "Sometimes it's better to sounds preachy than not speaking after all."

saya rasa juga, orang sekelas hanung bisa buat film yang canggih sesuai selera Rijon. sayangnya, pasar yang ditargetkan oleh Hanung bukan segilintiran orang seperti Rijon atau beberapa komentator disini, tapi lebih khalayak umum. Makanya, saya juga gak mempermasalahkan masalah guru-menggurui.

"Buat saya sebuah karya mendapat tafsir dan tanggapan yang beda-beda, itu lumrah. Saya tidak perlu ngotot apalagi memperpanjang. Biarkan film saya yang bicara. My movie is my statement." ~ HB

=== ckiiiit...... *ceritanya ngerem*

btw, saya kok keliatan anak buahnya hanung atau fans-nya yah. Padahal nyatanya tidak. FYI, saya gak begitu peduli siapa yang beraksi dibalik layar, saya cuman lihat karyanya saja. maka karena itu, saya gak punya prasangka buruk sebelum menonton film. Termasuk film "sampah" yang sering-sering disebut oleh beberapa kalangan. Makanya, saya suka TAKJUB sama orang yang tahu siapa sutradara, aktor, dll dari sebuah film (bukan sarkasme). Serius. Saya ajah suka lupa dan gak peduli siapa sutradara, produser, aktor dll dari sebuah film. #curhat

#Terus kalau gak peduli ngapain capek-capek "membela" si Hanung?

Saya tidak berusaha membelanya, tapi berusaha mengerti masing-masing pihak. : )

#Terus kalau dah tahu statementnya hanung jadinya apa?

Yah, semuanya bisa rukun kembali seperti di film ?. Berantem diawal-awal sampai mecahin kaca orang gak apa-apa, yang penting happy ending gituhh loch.

#Terus kalau happy ending?

Yah, setidaknya bisa saling memahami pluralisme dalam artian kita tuh majemuk, berbeda tapi tujuan kita sama kok... untuk nongol di bagian komentar artikel-keren milik taruma kan?

#Terus kok kamu jadi sombong sih?

Eh, emang keren kan, buktinya? komennya banyak..

#Terus ...

Terus! terus! terus! memangnya saya lagi markir mobil!? Terus, terus, terus...

====

(Lelucon garing selagi memakan martabak)
john907 0 0
Taruma: hahahaha *ngakak*
Bagi donk martabaknya : p
john907 0 0
Taruma: hahahaha *ngakak*
Bagi donk martabaknya : p
john907 0 0
wah ampe dobel, mungkin saking ngilernya liat martabak ..
toRa 0 0
Horee, lewat seratus : )) #emanginitujuanketawatadi
Titiw 0 0
Buahahahahaha.. Duh, jadi pengen ketawa liat2 komen di sini. Buat om (eh tapi katanya remaja ya?) dek rijon.. Emang bener sih, film ini bs dianggap cheesy buat orang2 yang terlalu sering nonton film2 bajakan cap bintang 4-nya roepert & ebert. Tapi mau tdk mau, sy hrs setuju dgn tora, gmn ini film gak mau terkesan preachy ketika film ini sendiri adalah film ttg agama?

Padahal udah mo krosposting tulisan dr curipandang.com kemari ejadi deg2an deh.. Takut dibombardir jg sama komen2nya.. : ))

PS: om penulis, reviewnya byk spoiler! X D Hahahaha..
Taruma 0 0
Titiw: ahhh masa sih. banyak spoiler yah.. yah, padahal berusaha mungkin tuk gak spoiler.. tapi, masih banyakan spoiler di ratusan komen ini. dikupas ampe abis dah. : ) hahaha. : )

sengaja dikasih spoiler biar makin penasaran, berhubung ini film drama, gak usah takut dikasih spoiler karena bakal beda rasanya kalau nonton dan dihayati. : )

btw, thanks infonya. dah saya tempel SPOILER ALERT-nya. Telat sih.

Ah saya juga suka nonton bintang 4-nya ebert tapi masih nganggep film ini layak kok. Saya sih suka pesan dari film ini, pesannya layak ditontonkan. semuanya tergantung personal taste. imo.

seperti yang saya bilang di komentar sebelumnya, hanung memang sengaja membuatnya preachy, agar lebih dimengerti sama penononton pada umumnya dan tentunya lebih komersil. hehehe.

toRa: *keprok-keprok*

john907: martabak manis memang mantap. makan rasa keju lagi. yummy. : )
Rijon 0 0
Titiw: Wah gak percaya saya masih remaja? Ya terserah sih, memang masih remaja? Aneh kalau saya bilang masih remaja? : )

[Buahahahahaha.. Duh, jadi pengen ketawa liat2 komen di sini. Buat om (eh tapi katanya remaja ya?) dek rijon.. Emang bener sih, film ini bs dianggap cheesy buat orang2 yang terlalu sering nonton film2 bajakan cap bintang 4-nya roepert & ebert. Tapi mau tdk mau, sy hrs setuju dgn tora, gmn ini film gak mau terkesan preachy ketika film ini sendiri adalah film ttg agama?]

[1]
Mbak, ralat ya, saya lebih sering download langsung bajakannya ketimbang beli bajakan. Film-film favorit saya malah jarang ditemukan bajakannya. Dan gak selalu film yang dicap 4 bintang atau dikasi label "Two Thumbs Up!" itu bakal saya suka. : )

[2]
Film tentang agama harus preachy? Oh really? Sudah berapa kali saya sebut nama Yasmin Ahmad (sutradara Malaysia) di sini? Pernah nonton film-filmnya Tahmineh Milani (Iran)? Pernah nonton "Babette's Feast" (Denmark, 1987) "Diary of a Country Priest" (Perancis, 1951), "The Gospel According to St. Matthew" (Italia, 1964)?

Oh maaf, film-film dari sutradara yang saya sebut itu emang jarang sih muncul di lapak-lapak bajakan (apalagi orisinal) lokal.

Taruma 1 suka | 0
Rijon: daripada anda capek-capek menyebutkan sutradara Yasmin Ahmad, Yasmin Ahmad, Yasmin Ahmad, kenapa tidak menyebutkan bagaimana cara Yasmin Ahmad membungkus film bertema religi? dan saya mohon untuk tidak melakukan dengan cara memberi referensi film (lagi) melainkan dengan memberikan penjelasan seperti apa filmnya, bagaimana eksekusinya, dll. Itupun kalau anda sudi memberikan penjelasan. : )

Saya baru tahu juga kalau film Muallaf itu buatan Yasmin Ahmad (baru googling tentang Yasmin Ahmad), saya dah nonton jauh-jauh hari (sebelum nonton Tanda Tanya). Saya rasa, sama-sama saja. Saya suka kedua-duanya, Muallaf dan ?. Rating yang saya berikan tuk film Muallaf juga sama-sama 4/5. Yah, berarti saya bisa mematahkan statement "Orang yang suka disuapin bukan berarti tidak bisa suka film yang tidak disuapi". : ) tapi, saya lihat sih, masih ada adegan menyuapi di film Muallaf tapi masih dalam batas wajar. : )
Rijon 0 0
Taruma: Wah, kalau nggak mau bikin saya capek, jawaban pertanyaan itu bisa diambil dari komentar-komentar saya sebelumnya.

Oh, no, Muallaf nggak menceramahi. It's more about the experience, than the idealism (doctrine).
warm 0 0
sejak hanung bikin ayat2 cinta dgn make kacamata dan sudut pandangnya sendiri hingga esensi ceritanya jd samar, jujur saya males liat filmnya lg yg terkait soal agama,

film hanung fave saya tetep lah JOMBLO : D
kakilangit 0 0
politikana kok bekgronnya item gini ya?
I wrote SYN not Tragedies 0 0
idem sama warm jomblo still the best


walo film ini saya masukan ke list bakal nonton ahhh


: )
maharrani 0 0
kakilangit: : )) *ngakak guling-guling*
maharrani 0 0
Menurut gue, balik aja dulu.
Film "?" itu targetnya siapa sih?
Apakah kamu masuk targetnya?
Kalau bukan target ya wajar aja kalau miss..
Dudududu...
Taruma 0 0
Rijon: Muallaf sama ajah, kutip dari kitab. sama saja preachy. tapi kalau disuruh milih ? dengan Muallaf. tentu saya lebih milih Muallaf karena, filmnya bisa saya rasakan. Beda kalau ? yang lebih ke sudut pandang orang ketiga (gak bisa ikut terjun, makanya so preachy). tapi, rating tuk kedua filmnya saya kasih 4/5. Bagus dan menarik untuk diikuti/ditonton. : )

warm: Yup. setuju JOMBLO emang mantep. nunjukkin sipil banget. haha.

Kalau ayat-ayat cinta sih saya gak suka. suka males ngikutin film drama-romantis. durasinya juga lama banget dah. hahaha.

kakilangit: hahaha. ini "filmtikana"

I wrote SYN not Tragedies: silakan ditonton. jangan lupa sharing pendapatnya disini yah. kalau gak, buat artikel lagi. : )

maharrani: targetnya orang umum (mungkin remaja), keliatan kok dari film yang "menceramahi"-nya.
Rijon 0 0
Taruma: Wah kalau begitu batasan preachy, tendensius, dan pretensius kita berbeda. Yasmin Ahmad lebih ke experience (pengalaman) penontonnya ketimbang mendoktrin dan mendikte. Preachy, tendensius, dan pretensius itu gak sekedar dinilai dari dialog-dialog yang mengutip dari kitab, tapi keseluruhan filmnya, atmosfir filmnya, penyampaian pesannya (idealismenya). Sekian. Terima kasih.
Taruma 0 0
Rijon: memang berbeda tiap orang menyebut preachy. tapi, saya sih mau preachy atau tidak, selama filmnya bermanfaat dan bermakna saya tidak mempedulikannya karena saya tidak menilai film dari ceramah-atau-tidaknya.

saya tidak menilai musik dari bagaimana dia memainkannya melainkan dari hasil musiknya. Sekian, Terima Kasih.
Fu2 0 0
Makin panjang neh perdebatannya, hehehe, but semua kembali pada soal selera.

Saya juga nggak suka film yang terlalu preachy, but some people like it. Mau ngomong gimana lagi?

For me, film Hanung terbaik itu Catatan Akhir Sekolah, selainnya lebay dan overrated.
Rijon 0 0
Fu2: Couldn't agree more!!!
Kecuali tentang Catatan Akhir Sekolah, karena belum nonton.
Taruma 0 0
Fu2:
perdebatan? yahh, saya sih bilangnya diskusi biasa. haha. baca komentar-komentarnya membuat saya sadar akan plural-nya dunia film. #halah

saya juga tidak begitu suka film yang kebanyakan ceramah, tapi kalau menilai film yah pandangan tidak suka terhadap film ceramah saya buang. : ) tapi tidak suka KALAU muncul anggapan bahwa penyuka film preachy adalah bodoh. : p kalau lohh, kalau lohh..

*Teman-teman (?), kemarin kan martabak manis. sekarang mau goreng pempek... yuk mari makan.. eh goreng maksudnya*
aibii 0 0
gue suka perdebatan kali ini dibanding perdebatan bullshit di film LOST IN PAPUA yang oh please.. gak mutu..

gini kan lebih variatif dan bisa diambil hikmah2nya #apaanseh?
Taruma 0 0
aibii: perdebatan lost in papua? #ohkenangan....
aibii 0 0
setuju ayat-ayat cinta film apaan sih dan catatan akhir sekolah boleh juga. gak menye-menye banget
aibii 0 0
Taruma: kenangan sampe dicari akun twitter yah haha aku baca lo bang
toRa 0 0
aibii: tapi endingnya "?" sama CAS itu setipe banget. Banget deh, seriusan. I like CAS tho', reminds me a lot with my highschool : )).
yropian 0 0
Komentar Anda...ini film kayanya bagus juga untuk ditonton!biar kita bisa belajar kemajemukan dlm hidup yang semakin terkotak kotak ini!
jamur 0 0
*gelar tikar
jamur 0 0
kakilangit: [politikana kok bekgronnya item gini ya? ] : )) : )) : ))
summoning @bocahanteng @Tuvok
dez 0 0
wah wah wah.. beberapa hari ga buka situs ini, ternyata makin bejibun aja komen2 disini, berarti film ini memang masih 'panas' di otak dan hati orang-orang : D

kebanyakan saya setuju sama komen-komen nya @toRa .
dan kalau membahas soal 'memojokkan', well, menurut saya kalau mau bawa sifat yang mudah tersinggung sih, ya semua agama dan budaya yang terlibat dalam film ini bisa saja tersinggung.

orang kristen bisa saja ersinggung karena kok sepertinya kehidupan beragama mereka ga aman banget kalo melihat scene penusukan pastor dll. org islam bs saja tersinggung kalau melihat scene awal saat ping hen memaki beberapa pemuda muslim. orang china bisa saja tersinggung melihat scene tersebut jg, dan masih banyak lagi scene-scene lain nya yg bisa bikin tersinggung banyak pihak.

saya sih, sekali lagi, tetap melihat dampak positif yang saya dapat dari film ini yaitu toleransi. dan saya senang, karena mendapatkan nya. kalo orang lain tidak mendapatkan apa yang saya dapat setelah menonton film ini, ya mau gimana lagi, beda sudut pandang, tidak bisa saya paksakan jg.

tp komen-komen di trit om Taruma ini emang oke-oke.. : )
khieriek 0 0
saya sampai gabung ke bicara film karena seru baca komentar2nya : )

just to make things clear here, to rijon, banal itu bukan berarti kontroversial ya, justru artinya tidak orisinal dan membosankan. tidak percaya? silahkan cek di kamus.

kalo buat saya, film ini mudah dicerna dan temanya juga mengena. saya setuju kalo cara penyampaiannya disederhanakan (kadang terlalu sederhana sampai tidak masuk akal) supaya pesannya bisa diterima semua kalangan. Saya sengaja menggunakan kata semua kalangan supaya tidak ada yang tersinggung dianggap remaja, atau macam-macam lagi yang sudah disebutkan diatas.

kalau saya boleh memilih, saya lebih suka film yang membiarkan penontonnya menafsirkan sendiri makna/pesan dari film tersebut. Namun ada kalanya misi dari si sutradara bukan membuat art house movie, tapi lebih untuk general audience. Ini mungkin karena sutradara tersebut merasa misi utama dari film tersebut adalah penyampaian pesan yang harus sampai kesemua lapisan.

Kita boleh suka, boleh tidak. Itu hak kita sebagai penonton.

Rijon boleh menyampaikan ketidaksukaannya pada film ini, cuma ada kesan patronizing dari komentar2 anda dan beberapa responnya terbaca negatif untuk orang yang tidak setuju dengan pendapat anda.

Saya sudah lihat blog anda, dan menurut saya film2nya menarik (beberapa film yang anda rekomendasikan kebetulan juga film favorite saya). Pesan saya supaya tidak mudah terpancing emosinya kalo ada orang yang tidak seselera, atau merasa above them all karena referensi film yang banyak dan tidak masuk di tempat jual dvd bajakan disini. Ini akan merusak sensitifitas anda dalam menilai film secara objektif.

peace out

Rijon 0 0
khieriek: #
ba·nal a kasar (tidak elok)
(http://pusatbahas….go.id/kbbi)
khieriek 0 0
Rijon:
ba·nal a kasar (tidak elok); biasa sekali: beberapa sajak yg lemah, ya malahan sangat -- sekali
http://pusatbahas…bi/index.php
Taruma 0 0
khieriek:

banal : ( trite; not new ) banal; biasa; basi; tidak baru; tidak menarik.

terus maksud kata banal diatas apa dong?
toRa 0 0
Taruma: Biasa Aja, Nggak Asoy Lah : D: D: D
Taruma 0 0
toRa: asoyyyyy... asoy geboy.. #gakjelas #ngelantur
khieriek 0 0
Taruma:

Ya kalo mengacu pada arti bahasanya sendiri, banal berarti tidak baru, tidak orisinal. jadi tidak sesuai dengan maksud kontroversial yang disebut rijon sebelumnya.

kenapa saya angkat? cuma untuk mengingatkan rijon saja agar tidak terlalu emosi kalo ada orang yang tidak sependapat. Juga supaya tidak sepotong-sepotong dalam mengutip informasi. Misalnya dalam pengutipan arti banal di link yang rijon berikan (tidak hanya sampai "kasar" karena dibelakang kata kasar itu ada arti biasa sekali)

Kalo saya baca review2 filmnya rijon juga sudah baik dan film rekomendasinya menarik. Objektifitas dan ketepatan pemilihan kata juga harus dipertahankan supaya bisa jadi reviewer yang baik, apalagi kalo nantinya mau dijadikan profesi.

ini saran lho : )

Rijon 0 0
khieriek: & Taruma: Maksudku sebelumnya cuma mau menyangkal pendapat seseorang yang menyamakan "tema kontroversial" dengan "KK Dheeraj."

khieriek: Wah, aku masih jauh dari menentukan profesi.
dez 0 0
btw, dulu ada yg pernah menyoalkan setting waktu film ini dan gadget yg dipake ga? soalnya waktu sy nonton ulang film ini (karena dibayarin temen : D ) , satu-satu nya 'waktu' awal yg dipampang di layar adalah 'semarang, awal 2010'. makanya ga jd masalah kan soal kehadiran Blackberry disitu? : D
tapi mungkin saya yg salah atau masih kurang cermat mengamati, karena kalo ga salah ada yg bilang film ini setting waktu nya semarang jaman dulu gitu, jd ga nyambung kl ada BB disitu.. *saya masih bingung *mohon dikoreksi kalo salah : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat