Battle Royale (Batoru Rowaiaru, 2000) : Bisakah Anda Membunuh Sahabat Sendiri? 10

Rabu, 6 Apr '11 18:19

 

Masa depan makin suram saja! ya, inilah gambaran yang bisa kita lihat dari visi beberapa filmmaker yang memfilmkan masa depan. Hal yang sama juga tergambar dalam postingan 20th Century Boys yang saya posting beberapa hari yang lalu di blog saya, dan kali ini Battle Royale juga menggambarkan hal yang sama pula, Masa Depan keliatannya semakin suram. Walaupun cerita yang diusung Battle Royale dan 20th Century Boys masing-masing berbeda, namun masih memiliki kesamaan. Dan film-film ini sama-sama berasal dari Jepang. Oh ya, sekedar info, masih banyak sekali film-film dari Jepang khususnya yang memiliki visi yang tak jauh berbeda. Hmm, mungkinkah masa depan yang diprediksi akan semakin canggih justru begitu suram??

Jepang pada awal milenium tengah mengalami krisis dan benar-benar kacau. 15% persen penduduk tak dapat pekerjaan, yang berarti ada 10 juta pengangguran. Ada 800.000 siswa yang tak bersekolah, yang menyebabkan kenakalan remaja jadi memuncak. Hal ini berakibat pada hilangnya rasa kepercayaan Orang Dewasa pada para remaja dan takut pada remaja yang berpendidikan. Dan akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah program, Battle Royale Act : Survival Program. Battle Royale Act merupakan sebuah program yang diciptakan oleh pemerintah untuk "mengurangi" jumlah remaja. Dengan semakin berkurangnya jumlah para remaja, maka bisa dipastikan kekhawatiran orang dewasa akan berkurang.

Siapa yang bisa ikut dalam BR-Act? Tiap tahunnya akan dipilih sebuah kelas (III SMP) secara acak dari berbagai sekolah untuk ikut serta dalam program tersebut. Seluruh siswa akan dibawa kesebuah pulau terpencil dan HARUS ikut serta dalam permainan tersebut. Selama "permainan" berlangsung, peserta/siswa diharuskan untuk membunuh siswa lainnya agar bisa keluar dari program ini. Karena pada akhir permainan hanya ada satu siswa yang nantinya akan keluar sebagai pemenang, kalau ada lebih dari satu siswa yang selamat hingga hari ketiga, maka kalung yang ada dileher mereka akan meledak dan semua siswa mati. Lantas pertanyaan terbesar yang muncul dari setiap diri peserta adalah, bisakah mereka membunuh teman mereka sendiri?

Tahun ini, kelas yang terpilih adalah kelasnya Nanahara Shuya (Tatsuya Fujiwara), kelas III-B SMP Shiroiwa. Ketika sedang bertamasya, mereka semua dibius saat perjalanan dan ketika membuka mata, mereka semuanya telah berada dalam sebuah kelas di pulau terpencil lengkap dengan kalung di leher masing-masing. Sebelum program dimulai, Sang Guru, Kitano (Takeshi Kitano) pun menjelaskan tata-cata permainan, dan sebelum para siswa "dilepas" ke alam bebas, mereka akan dibekali oleh sebuah tas yang berisi makanan, dan senjata. Senjata yang ada didalam tas itu pun diberikan secara acak. Program dimulai tepat saat siswa pertama keluar dari kelas dan mencari tempat teraman si belantara pulau itu, dengan demikian perjuangan Nanahara dan teman-teman satu kelasnya pun dimulai.

Ide cerita yang diusung Battle Royale (Batoru Rowaiaru, バトル・ロワイアル) memang benar-benar berbeda. Entah apa yang ada dibenak Koushun Takami saat membuat novel yang menjadi inspirasi utama dalam pembuatan film ini. Pastinya, film ini benar-benar berbeda. Tak hanya mengusung kesan sadis, tapi Battle Royale juga mampu mengajak penontonnya untuk ikut kedalam timeline permainan yang menegangkan tapi tak ketinggalan unsur drama yang ada. Dan sang Sutradara, Kinki Fukasaku boleh dikatakan berhasil merangkul penontonnya agar merasakan sensasi tersebut.

Ketegangan yang muncul sudah pasti didapatkan dari aksi kejar-kejaran, bunuh-bunuhan menggunakan pistol, clurit, parang, pedang, bom, dan lain sebagainya. Tapi apakah semuanya semudah yang terlihat? tentu saja tidak, membunuh bukanlah hal yang gampang layaknya anda makan, jadi beberapa siswa juga terlihat tidak mau membunuh karena tau hal itu merupakan sesuatu yang tabu dan berdosa. Disinilah letak konflik yang diramu oleh Sutradara yang berkolaborasi dengan penulisnya Kenta Fukasaku. Siswa yang terlihat ketakutan tidak mau membunuh, tapi karenan tuntutan mereka dengan terpaksa harus membunuh. Disisi lain, permainan ini menyebabkan suasana menjadi semakin panas dan menyebabkan kondisi semakin parah. Kesalahpahaman kecil bisa berakibat sangat fatal! Padahal kalau dipikir-pikir, jika sedari awal para siswa bekerja sama, mungkin mereka akan menemukan cara untuk bisa menyelesaikan permainan tanpa ada yang terbunuh. Namun apa mau dikata, di awal saja kondisi sudah tegang dan berakhir dengan terbunuhnya teman baik baik Nanahara, yang menyebabkan kondisi jadi semakin tak terkendali.

Walaupun ada sesuatu yang janggal, yaitu saat beberapa siswa terlihat begitu menikmati melakukan pembunuhan yang rasanya sangat tidak tidak pantas untuk dilakukan oleh siswa sekolah, paling tidak beberapa diantaranya memiliki latar belakang mengapa mereka begitu menikmati membunuh orang lain. Dan ekspresi para peminnya juga cukup meyakinkan. Perlu diketahui juga bahwa dari 42 orang siswa yang menjadi peserta, memang tidak semuanya akan melakukan bunuh-bunuhan. Karena tidak sanggup dalam menjalani permainan ini, ada juga yang melakukan bunuh diri! #spoiler. Momen-momen ini juga memberikan ruang bagi adrenalin untuk berhenti sejenak, karena sehabis adegan-adegan ini juga nantinya darah akan mengucur kembali melihat ketegangan yang ada.

Entah ini perasaan saya saja, atau memang dari sananya, Tatsuya Fujiwara yang memerankan peran Nanahara sepertinya kurang all-in dalam film ini, sebelumnya saya melihat aksinya dalam Death Note sebagai peran Light, dan kesan yang sama juga saya dapatkan darinya. Yah paling tidak aktingnya yang biasa saja itu bisa tertutup oleh Chiaki Kuriyama (Chigusa) yang sadis, Takashi Tsukamoto (Mimura), Masanobu Ando (Kiriyama), dan jangan lupakan aksi si Kitano Takeshi yang sebelumnya pernah kita lihat berwara-wiri sebagai Takeshi dalam acara Benteng Takeshi!

Disturbing moment while you watch this movie! #Spoiler (kalo pengen baca silahkan dibaca, bagi yang belum nonton bagusnya jangan baca! silahkan skip)

  • Saat Chigusa menikam-nikam area selangkangan salah satu siswa laki-laki, rasanya scene ini benar-benar mengganggu.
  • Ketika Kiriyama melempar potongan kepala manusia dengan bom yang melekat di mulut-nya dan, BOOM!
  • Dan banyak adegan-adegan berdarah lainnya!

Yah, sebagai akhir kata, film ini memang tak sesadis film-film Gore kebanyakan, tapi buat yang nggak suka film beraliran Thriller atau Gore, mendingan jangan nonton deh, karena film ini mendapat Rated-R! Walaupun apa yang terjadi ada di film ini sesuatu yang mustahil untuk saat ini, tapi tak ada yang tau kedepan nantinya. Tapi paling tidak, rasa kebersamaan bersama sahabat harus disyukuri bagi kita semua, tak lupa juga dengan hidup yang kita miliki saat ini!

Copas dari blog saya : http://bit.ly/hC71Pe

 


Tag: thriller, jepang

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

angrynerdrock 0 0
wuih, salah satu film favorit saya.

kalau buat saya pribadi sih keliatannya ini kritik terhadap "orang tua", kan di BR II gantian "orang muda" membalas dengan menyatakan perang melawan "orang tua"

ditunggu review BR II -nya : )
adhari 0 0
Dan film ini juga menjadi salah film terbaik saya untuk dekade 90an, benar-benar fresh aja sih. ^^

Tapi BR II nggak sebagus yang pertama sih kalo menurut saya, mungkin karena sekuel jadinya agak gimana gtu, hehe.
modernballroom 0 0
salah satu film kesukaan saya juga.. akting tatsuya fujiwara emang selalu standar, tapi terlepas dari itu film ini layak dinikmati. betul sekali, film ini memang mengkritik generasi "orang tua", tentang betapa gampangnya mereka mengambil keputusan untuk membiarkan "generasi muda" bertarung, hanya karena ego mereka sendiri terluka.
alakazam 0 0
battle royal jadi salah satu manga favorite saya, begitu juga dengan novelnya. Tapi sayang saya belum pernah menonton film live action-nya.

bagi yang penasaran dengan versi manganya, silahkan klik http://www.mangaf…no_warning=1
itsmaudy 0 0
Salah satu film favoritku juga! Terlepas kekurangannya (setuju, akting tatsuya), tertutupi oleh betapa kerennya skrip dan filmnyaaaa. Paling suka dengan Chiaki Kuriyama. dapet banget aura psycho-girl nya. keren.
#spoiler paling greget pas adegan teman2 natsuya yang bisa meng-hack sistem komputer dan berhasil melepaskan kalung dari leher mereka, tinggal sedikit lagi eh.... mati -_-

blum nonton sekuel ke 2. tapi biasanya sih kalau udah dibikin sekuel, ga bakal seseru yang pertamanya : )
ZIY 0 0
Sudah cukup lama menunggu Review film Battle royale..

Battle royale memang pantas menjadi film kontroversial pada masanya.
tapi ada yang lebih menjadi perhatian saya selain akting tatsuya yang kurang maksimal..
pas ADEGAN...

Kiriyama (transfer student) melawan kawada (kalo gak salah)..sudah cukup berharap bakalan ada pertarungan habis habis di adegan itu..tiba tiba kiriyama nya mati gitu aja..jujur akan lebih dramatis kalo kawada dan kiriyamanya gak pake senjata api di adegan itu..mungkin hasilnya akan lain...
terlepas dari semua itu film ini almost perfect..
adhari 0 0
Wah, terimaksih semua atas responnya.

kayaknya semua rada setuju ya ama aktingnya si tatsuya, tapi ya terlepas dari itu, paling gak film ini emang berkesan dan termasuk jajaran terbaik di tahunnya.
Chrysalis 0 0
manganya jauh lebih bagus dari filmnya, jalan ceritanya juga beda.. : )
toRa 0 0
Jngan baca manganya kalo nggak kuat gore, just a freindly reminder. Highly graphic soalnya.
adhari 0 0
Hmm, Gore mah, oke-oke aja aja buat saya ^^

Ntar dicari ahh.. jadi penasaran....

Silahkan login untuk memberikan pendapat