TEBUS : An Eye For An Eye 7

Jumat, 1 Apr '11 05:05

 

TEBUS

Sutradara : Muhammad Yusuf

Produksi : Skylar Pictures, 2011

 

         Indonesia memang suka yang ajaib-ajaib. Dan adalah sesuatu yang ajaib ketika saya mengakses halaman wiki, tentang film yang menjanjikan dari promonya yang kuat dengan kontes poster berhadiah iPad pula. Disitu tertera, entah tulisan siapa, entah memang tujuannya promosi atau apa, bahwa Tebus adalah film seru Indonesia yang bla, bla, bla.. Oh, ternyata Indonesia tak hanya punya genre seks, tapi juga genre seru. Luar biasa. Ah, anyway. Let's move on to this next movie from Muhammad Yusuf. Pernah nonton Jinx? If you're into an indie filmmaking, Anda pasti tak bakal terlalu mencaci maki film salah kaprah ini. Saya percaya bahwa Jinx adalah sebuah proyek ambisius yang dirancang dengan gebrakan tertentu untuk suatu pembaharuan dari keterpurukan tema film-film, ya, sampah, di perfilman kita. Namun konsep saja tentu tak cukup. Seperti orang yang baru membuat sebuah karya bernama film, tak perduli betapa 'terang-benderang'nya pikiran Anda dengan sebuah naskah yang dirancang sedemikian rupa dengan kesinambungan adegan yang diracik melalui skenario, pemilihan untuk menyusun puzzle-puzzle itu pasti sesekali jatuh ke selera paling subjektif, yang belum tentu berarti banyak bagi penonton yang hanya menyaksikan penyelesaian utuhnya tanpa ikut di proses produksi. Jinx pun lantas jatuh ke sebuah karya ambisius yang tersusun tanpa kejelasan yang runtut atas banyaknya sempalan adegan (yang saya percaya disukai secara pribadi oleh si pembuat) yang tak berguna. Seperti puzzle yang salah pasang. Seperti standing comedian yang tak mampu membuat orang tertawa. But however, cara penceritaan Yusuf yang inovatif sudah terlihat dari sana. So, kegagalan Jinx tampaknya dipelajari betul olehnya, sehingga naskah beralur maju mundur yang ada dalam filmnya ini, bisa tergelar dengan rasa sedikit unik, seperti penyusunan puzzle yang lebih pas. Paling tidak, dalam standar film-film kita kebanyakan. Dan mari tak melebih-lebihkannya sebagai suatu twist untuk kemungkinan-kemungkinan tak terjawab yang mengarah ke spoiler. Sinopsis-sinopsis press releasenya saja sudah membeberkan semuanya secara detail. Jadi, flashback-flashback itu hanyalah sebuah jalan yang dipilih penulisnya untuk menjelaskan karakter dan latar belakang konflik masing-masing, yang diceritakan secara unlikely, tapi rapi.

         Reputasi keluarga Danuatmaja sebagai keturunan entrepreneur sukses mendadak dirusak oleh kematian sang putra mahkota, Alaric (Revaldo), akibat overdosis. Kepala keluarga itu, Rony (Tio Pakusadewo) pun seolah menyimpan kegalauan mendalam bersama istrinya Siska (Chintami Atmanagara) dan dua orang putri yang tersisa (Sheila Marcia & Luna Sabrina). Di sebuah liburan saat mereka menyepi ke villa sunyi di tengah hutan, semuanya memuncak. Mereka disatroni oleh tiga orang bertopeng dengan sebuah tujuan. Tebusan atas kesalahan masa lalu yang gelap itu.

         Tebus, pada dasarnya bukanlah sebuah 'film seru' walaupun melibatkan adegan terjun bebas di air terjun, baku hantam dan gantung-menggantung dengan sling yang lumayan rapi. Ini adalah sebuah thriller, yang memang merupakan genre yang masih jarang tersentuh kemauan produser-produser film kita. Masih senada dengan Jinx, Yusuf memulai gelaran plotnya dengan shot-shot dan adegan lambat, namun kali ini cukup sukses mengarahkan keingintahuan penontonnya. Alur maju mundur itu pun lantas dimulai dengan pengenalan satu-persatu karakternya, masih dengan cukup efektif, kecuali di segi editing yang makin parah menuju bagian-bagian klimaks yang harusnya bisa lebih menegangkan. Sering sekali, adegan itu di mark-in kelewat cepat sehingga yang kita saksikan adalah pemain-pemain yang berdiri diam cukup lama sebelum bergerak, itupun dengan lamban. Saya tak tahu apakah ini adalah kesengajaan, tapi yang jelas, lumayan mengganggu. Belum lagi dialog-dialognya yang seperti biasa, ala film kita kebanyakan, tertinggal mubazir dengan sempalan obrolan yang sebenarnya tak terasa mendukung penceritaan. Saat konflik yang memuncak itu mulai dibuka Yusuf satu-persatu dari karakter-karakter baru yang sudah muncul sekilas sebelumnya, semuanya menjadi semakin parah. Pertama, saya tak mau menyebutnya tak relevan. Boleh-boleh saja memilih latar belakang, tapi melihat yang dimunculkan sebagai bangunan konfliknya lagi-lagi adalah masalah narkoba dan akhirnya ditimpali perkosa-perkosa dengan patokan karakter yang klise terhadap kejahatan kaum besar atas kaum kecil yang selalu lemah namun solidaritasnya selangit, saya jadi sedikit lemas. Meski ini mutlak menjadi pilihan penulis cerita, namun sebagai penonton yang sudah dicekoki pakem sejenis dari tahun jebot sampai sekarang, unsurnya jadi tak lagi terasa fresh. Kedua, bangunan adegan-adegan 'seru' yang menekankannya dalam genre thriller, malah terkesan agak kacau-balau. Sudah tak menggambarkan kondisi medis yang benar atas sempalan masalah medis yang disinggung cukup penting, kejar-kejarannya juga tak terlalu thrilling. Hal paling parah ada di motivasi tindakan balas dendam yang tak terlihat se-kuat kedalaman latar konflik yang dituangkan, termasuk tarik ulur tali gantungan dan pukul-pukulan bolak-balik yang seperti orang kebingungan dan reaksi-reaksi tak relevan lainnya. Dan ini semakin kacau lagi ketika Yusuf menyisipkan adegan-adegan gore di tengah pengambilan gambar yang sama sekali terkesan tak bisa menambah intensitas ketegangannya. Namun, untungnya, masih ada kelebihan yang harus dicatat dari karya keduanya ini. Di sisi akting, hampir semua pendukungnya bermain cukup wajar tanpa harus mengeluarkan ekspresi serta mimik teatrikal keterlaluan seperti yang biasa hadir di film-film kita. Tak ada hentakan gigi, muka berkerut seribu menahan nafas sesak, jatuh dibuat-buat serta teriakan-teriakan kebakaran jenggot sebagai reaksi dari konflik yang dihadirkan. Cukup dengan ekspresi simpel dan silent, Tio Pakusadewo sudah mampu memberi kesan terluka di sebuah adegan yang kalau di film-film lain sudah dipenuhi teriakan 'tidaaaaakkkkk' sambil cengengesan. Dan adegan gantung diri serta hukuman mati itu, harus diakui, cukup menambah intensitasnya di sela banyak shot-shot yang belum cukup mewakili tadi. And so, dibalik semua kekurangan dan kelebihan itu, Tebus agaknya bisa jadi segelintir peserta genre thriller yang masih cukup layak buat disimak, dan saya akan memilih cara penceritaan Yusuf dengan alur maju mundur yang cukup efektif itu sebagai highlight terdepannya. (dan)

 

 

 

 

 


Tag: thriller, review, Tio Pakusadewo, resensi, tebus, chintami atmanagara, jinx, luna sabrina, muhammad yusuf, narkoba, perkosa, revaldo, sheila marcia, skylar pictures

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Taruma 0 0
kalo kata saya sih, nasibnya kayak Lost in papua, yang inti ceritanya cuman didapet di akhir film. sebelumnya cuman maen-maen doang. bosenin pula. : p

hehehe. btw, good review. : )
danieldokter 0 0
kalo saya nyamain-nya satu mas, msh ga bs lepas dari perkosa2 : ). tipikal indonesia sekali. penelusuran masalahnya dari jaman jebot masih itu ke itu terus.
Taruma 0 0
danieldokter: jaman "jebot"... hahaha. : )
saya sih kurang tahu kalo jaman jebot kayak gimana, saya baru ngikutin film lokal dari september tahun lalu. : )
sabai 0 0
duuuh...paragrafnya panjang-panjang bener kakak.... pegel di mata....
danieldokter 0 0
: ). i've always split it into three parts, introduksi, sinopsis dan reviewnya, makanya untuk yg komentarnya panjang paragrafnya juga jadi panjang bgt.
FikryAyubRaka 0 0
Saya nonton film ini sangatlah amat sangat kecewa karna film ya cerita dari awalnya kaga ada jalan cerita ya tau2 si.joko asal tembak mati aja di.LP Cipinang...!!! Menurut saya ini film sutradara ya asal bikin aja..!! Masa penjahat ya tau2 mati2 semua dan pemeran utama y ngebunuh istrinya sendiri...nih mah harus ya judul ya pembunuhan keji
Taruma 0 0
danieldokter: mungkin dibagi lagi jadi beberapa paragraf biar lebih asik liatnya. tapi, tetep menarik dibacanya, terlebih lagi saya sudah nonton filmnya. lumayan nambah referensi. : )

FikryAyubRaka: biasakan untuk film lokal jangan memberikan ekspetasi terlalu tinggi. selalu saja ada kekurangannya ini itu.

saya sih udah gak tertarik, semenjak tahu si penjahatnya adalah orang-orang bodoh yang kurang cerdas bunuh orang. hahaha. : ) ngebunuhnya juga rada gak masuk akal. ngapain digantung coba? ngapain juga diintrogasi dulu coba? ngapain terror dulu coba (emangnya ini pembunuhnya psikopat yang suka melihat mangsanya kebingungan dan kesakitan)? tiba-tiba ada kayu lah. tiba-tiba ada celurit lah. tiba-tiba gak asma lah. tiba-tiba nyampe ke tempat tujuanlah. dan masih banyak kekurangan detail yang lainnya.

palingan kalau ditanya masalahnya, paling dijawab biayanya.

intinya cuman bisa didapet pas bagian belakang yaitu "nama lebih penting daripada nyawa".

hahaha. tapi, jujur, saya cukup terhibur nontonnya, yah memang hiburan bagi saya sekarang yaitu BLOOPER. Blooper is a new funny. : ) ditambah saya nontonnya berdua. haha, makin lucu ajah. : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat