Review: TEBUS (2011) 16
Kamis, 31 Mar '11 19:41
...
"Film yang sungguh MEGAH setelah Lost in Papua"
ALERT!! NEGATIVE REVIEW!
Bagi yang gak suka review saya silakan rating tulisan ini dengan memilih JEBLOK tak perlu menyudutkan salah satu pihak secara langsung ataupun tidak langsung. INGAT! Komentar yang anda berikan tidak bisa dihapus. Oleh karena itu berpikir terlebih dahulu sebelum memberikan komentar!
Sinopsis film :
Rony Danuatmaja tega mengorbankan supirnya, Joko, dihukum mati demi kehormatan keluarga dan nama besar Danuatmaja. Joko diminta Alaric, putra sulung Rony untuk mengambil pesanan di rumah salah satu sahabatnya. Ternyata pesanan itu berupa 5 gram kokain yang membawa Alaric meninggal akibat overdosis. Akal sehat Rony paham bahwa Joko tidak tahu apa-apa dalam kasus tersebut namun ia memilih mengorbankan Joko. Permohonan Sukatmini, Ibu Joko beserta adiknya, Sulis dan Jiman yang mengiba tidak membuat Roni bergeming sedikitpun.
Kematian Alaric meruntuhkan semua harapan pada imperium keluarga Danuatmaja yang sejak lama dirintisnya. Kekecewaan bercampur amarah terhadap keadaan yang dihadapinya saat itu membuat dia gelap mata. Sulis yang memohon agar Rony meringankan hukuman terhadap kakaknya, malah menjadi tempat pelampiasan. Rony memperkosa Sulis di ruang kerjanya. Tidak ada yang tahu tragedi tersebut kecuali Jiman, 15 tahun, yang tidak berdaya.
Setelah kematian Joko, Sulis dan Jiman hengkang dari rumah tersebut dan kembali ke kampung. Karena merasa telah kotor akhirnya Sulis nekat bunuh diri. Kematian dua anaknya membuat Sukatmini terguncang dan akhirnya tidak sanggup untuk bertahan dan meninggal dalam kesedihannya. Tinggalah Jiman sebatang kara karena kekejaman seorang pria yang dulu pernah dihormatinya. Hati Jiman dipenuhi dendam. Dia pun menyusun sebuah rencana balas dendam . Jiman merasa saatnya menagih penebusan dosa. Semua terjadi saat keluarga Roni Danuatmaja tersebut berlibur di sebuah vila yang cukup terpencil.
~ Cerita : Ceritanya memang menarik dan jauh lebih baik digarap dibandingkan film Lost in Papua. Dengan membawa konsep balas dendam, ceritanya semakin menarik dengan membawa kita ke masa lampau yang terkait dengan masalah masa kini. Yah, jujur saja, saya suka dengan ceritanya, sayang tuk yang lain saya tidak suka.
~ Naskah : BAD, BAD, BAD! 1 jam pertama (serius) bosen! 1 jam berikutnya, saya cuman berharap film ini cepat selesai. Semuanya dah kelihatan jalan ceritanya. Yah, gak apa-apa sih kalau keliatan juga. Tapi, yang gak suka itu, sudah kelihatan membosankan lagi. Plot-nya seenak udel loncat. Maen flashback seenak jidat! Belum lagi adegan yang disiksanya yang bisa menghabiskan waktu lebih dari 10 menit (Ditonjokkin gak mampus-mampus (yah setidaknya pingsan lah)). Yang ada di pikiran saya saat menonton film ini: "Nih, orang kapan mampusnya?" Banyak hal yang gak masuk akal. Gak dialognya, gak situasinya. Misal dialog antara kakak dan adik yang sedang di kamar. "Handphonenya mati". Yah kalau mati tinggal di cas lah. Mungkin maksudnya sinyalnya gak ada, tapi pemilihan kata "HPnya mati" kelewat bodoh. Sinyal atau baterai handphone sih? Belum lagi adegan balas dendam, kalau saya jadi penjahat, terutama mau membunuh orang yang punya senjata api, masa penjahatnya gak punya senjata api juga. Ah, dan banyak lagi hal yang gak masuk akal di film ini (sampai saya lupa yang mana ajah). Tambah lagi, si Ibunya dapet celurit dari mana coba? Kan dah digusur terus-terusan? Terus waktu lari kok asmanya gak kambuh? Tiba-tiba sembuh? AH, NGACO!
~ Pemain: MALES AH NGOMENTARINNYA, naskahnya ajah dah begitu, saya kok berani-beraninya ngomongin aktingnya. Yang pasti, biasa ajah dan gak konsisten. Kadang bagus, kadang buruk sekali. Males-males-males liatnya.
~ Audio: Saya bingung maksud sound effect yang selalu menemani film ini tiap detiknya. Mau menutupi suara yang berisik? Yah waktu syuting suruh diem ajah yang berisik. Risih dengerin sound effect yang terus-terusan. Mixing? Yah lumayan sih, semua percakapannya jelas. Musik? Biasa ajah, malah cenderung terlalu kebanyakan atau terlalu berlebihan lagunya. Pemilihan lagunya juga suka gak masuk akal. Yang dah nonton you-know-it-so-well lah pokoknya.
~ Visual: BOSAN juga, mau ambil settingnya di indoor kek, outdoor kek, sama-sama membosankan. Artistiknya gitu-gitu melulu malah terkesan membosankan. Saya suka karena saya cukup jelas melihat para tokoh-tokohnya meskipun dalam rumah dan dalam situasi gelap. Yah, gak begitu mengganggu lah untuk sinematografinya. Ohyah, untuk editing, saya gak begitu suka, masa tidak ada perbedaan signifikan flashback dan masa sekarang (gak apa-apa sih. Toh, semua orang juga ngerti bahwa adegan itu flashback). Ohyah, tuk make-up kayaknya okelah, darahnya juga oke.
~ Overall: IMO, Film ini tak ada bedanya dengan film Lost in Papua. sama-sama membosankan. bedanya ceritanya lebih baik dibandingkan film Lost in Papua. Menarik ceritanya, walaupun tuk eksekusinya tetep ajah parah. Berloncat ria, Membosankan sekali, Jenuhh.
Saya rate 1/5. Film buruk. JANGAN PERNAH BILANG KE SAYA, "Film ini kan lebih baik daripada film sampah lainnya". Sedikit informasi bagi anda, bagi saya, tidak ada film sampah, penggunaan kata buruk pun karena tidak memenuhi ekspetasi saya sama sekali. Saya tetap menghargai jerih payah pembuat film. Yah sayangnya, bentuknya cuman dalam saya merelakan waktu saya untuk menonton filmnya bukan memuji filmnya (terlepas dari bohong atau tidak).
Layak tonton di Bioskop? Ah, nonton beginian enaknya di laptop, bisa dimaju mundurin. bosen sih! Menghibur? Tidak. Mikir? Tidak. Mencekam? Tidak. Ah, lebih baik nonton film yang kata orang lain sampah, kan lebih entertaining. tujuan ke bioskop kan hiburan.
UNTUK SEMENTARA INI, saya belum melakukan review lebih jauh tentang tulisan yang saya post di bicarafilm. Mohon mengingatkan saya jika ada salah-salah kata. Terima kasih sebelumnya.
PERTANYAAN YANG MUNGKIN AKAN DITANYAKAN:
Q: Siapa anda? A: PENONTON!
Q: Kenapa membandingkan dengan Lost in Papua? A: Jawabannya mudah. Karena dua-duanya membuat saya memberikan facepalm.
Q: Tapi banyak yang bilang loh film ini bagus, masa anda mau jelek sendiri? A: Selera mereka yah mereka, saya yah saya. Gak suka jawaban saya? Silakan baca ratusan komen di artikel Review: Lost in Papua.
Q: Apa hak anda untuk menulis review ini? A: Saya sudah menontonnya, saya berhak menulisnya karena saya bisa menulis.
"BECAUSE I HAVE A VOICE!!" ~ Prince Albert, Duke of York / King George VI; "The King's Speech"
Apalagi yah?
Btw, saya gak emosi kok nulis ini, malah lagi hepi. :)
Tulisan ini hanya ada di @filmoodotcom dan @bicarafilm
Tag: review, 2011, tebus, Negative Review
Terkait:
-
Review: "?" ("Tanda Tanya")
Kamis, 7 Apr '11 20:17 -
100 Juta untuk "Negative Review" TEBUS
Senin, 4 Apr '11 18:56 -
TEBUS : An Eye For An Eye
Jumat, 1 Apr '11 05:05
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
jim96: Mencekam
-
tnt: Informatif
-
kniwe: Mencekam
-
FikryAyubRaka: Good Take
-
Deli Putra: Informatif

Komentar:
memang untuk menikmati suatu karya film yang dibuat dengan benar saja sulit. apalagi bagus.
Wakakakak...(2jt x). Banyak amat epilog review na ka Taruma. Jd kya smacam penangkal hama (ups, just kidding).
Jd penasaran it "The King of Art" masih berani nongol d post ka Taruma ga yah?
Sy uda lama ga nongton bioskop nih. Adalah skitar 2 minggu. Pengen ntn tp liat2 21cineplex ga ad yg mnarik prhatian.
Sy lg dJogja, agak lama, n dsni cm ad 2 biji 21.
Mnta rekomendasi kakak2 dsni dunk, baiknya ntn ap?
Tq so much...
sama, saya 2 minggu terakhir lagi males nonton ke bioskop. lagi males nonton film barat lohh. 2 minggu terakhir ini cuman nonton skandal dan tebus. *terlihat sekali, bagaimana saya cinta produk lokal*. hahaha.
sekarang saya lagi menanti film tanda tanya-nya hanung. *duh, saya jadi aneh sendiri, kenapa sekarang saya jadi suka film lokal. mungkin gara-gara bentakan di posting sebelumnya*. hahaha.
klo tuk yang produk impor. hmm, bebas deh, pilih ajah action biar mantep sound nya.
Eh, ada Buried, tonton ajah tuh. 4/5 dari saya loh.
Tp kesal krna d bioskp ad yg cerewet nyeletuk mulu, ngomentarin jelek2 mlu spanjang film. Bhkn dy so' komen script na jelek. Please lah, kya dy ngerti aj ap it script.
Oke, deh cb virgin 3 ah...
saya pernah nonton di Ciwalk, nonton Life As We Know It, disebelah kanan saya ada penonton yang badannya gak bisa diem (kaki dinaikkin ke atas bangkunya, digerak-gerakin), dan sebelah kiri ada 2 cewek yang banyak omong (dikomentari tiap scene, nerangin ke temennya). 15 menit berlangsung, saya langsung keluar. Keliatan banget gak pernah ditegur ato dikritik jadinya keterlaluan deh. Males ngingetin karena orangnya dah keliatan orang tolol yang kayaknya susah diajak adu argumen tuk tutup mulut dan suruh diem. hahaha.
Yah, berhubung di bioskop yogya cuman ada 2 yang film lokal, yah tonton ajah 2-2nya. belum ada yang bagus banget menurut saya tuk film lokal. mungkin, munculnya pas musim liburan.
but this is a bad review after all
ADA HADIAHNYA LOH BAGI YANG MEMBERIKAN REVIEW JELEK. BACA :
http://www.tabloi…0-juta-.html
100 JUTA LOH!
Silahkan login untuk memberikan pendapat