The Social Network (2010): Nasib ditolak cewek 2

Rabu, 30 Mar '11 17:29

Saya lebih suka nonton telat biar gak bias sama Golden Globe dan Academy Award. Meskipun biasanya lebih penasaran pada list nominasi Academy Award setelah pemenangnya diumumkan. Kebanyakan review menempatkan film ini sebagai film jempolan, patut ditonton. Bagus di mata kritikus, dan bagus juga secara box-office.

Barangkali karena itu, saya menikmati film ini dengan ekspektasi yang begitu tinggi. Biasanya kalo ekspektasi terlalu tinggi memang cenderung kecewa. Kesimpulan pertama yang dirasakan adalah datar. Ya memang mau bagaimana lagi kesan yang didapatkan tentang cerita seorang geek. Yang minat hidupnya saja tidak terlalu menarik bagi banyak orang. Meskipun kehidupan saya sehari-hari tidak jauh dari dunia yang dilakoni Mark Zuckerberg.

Tentu saja pemilihan casting yang baik akan meningkatkan kualitas film. Jesse Eisenberg yang didapuk memerankan Mark Zuckerberg sang kreator Facebook, punya banyak kemiripan: gaya rambut dan darah Yahudi (eh, rasis dan gak penting sih). Tapi dengan komposisi pendiri Facebook yang memang aslinya berdarah Yahudi, tentu saja fakta ini tidak boleh dikesampingkan sama sekali. Entah berpengaruh atau tidak kepada film, tapi barangkali lebih berpengaruh kepada penonton untuk lebih yakin saat menikmati film yang didasarkan pada kisah nyata ini. Saya lebih suka menceritakan film dengan membandingkan kisah aslinya.

Gak konsen berhadapan dengan pengacara

Sebuah skenario film yang baik katanya perlu sebuah konflik. Sisi manakah dari Facebook yang memiliki konflik berkualitas? Film ini berangkat dari tuntutan hukum yang dihadapi oleh Mark Zuckerberg ketika Facebook telah sukses.

Tuntutan pertama tentu saja dari sekelompok investor yang punya ide mirip Facebook dan butuh programmer. Setelah Mark Zuckerberg berhasil meretas komputer kampus untuk membuat aplikasi Facemash (sebagai cikal bakal Facebook), investor tersebut tertarik merekrutnya untuk mewujudkan ide mereka. Sayangnya investor ini memang tidak punya kemampuan teknis yang bagus, jadi wajar saja kalo Mark Zuckerberg dengan mudah 'menipu' mereka. Ketimbang menyerahkan hasil kerja kerasnya kepada para investor yang memang niatnya juga gak jelas, mending dipake sendiri. Setelah Facebook sukses dan memang memanfaatkan beberapa ide yang pernah dilontarkan oleh para investor ini, tentu saja mereka meradang dan menganggap Mark Zuckerberg melakukan wanprestasi. Menurut film sih dasar perjanjian atau kontrak dengan Mark Zuckerberg sendiri memang tidak jelas. Dalam film, Zuckerberg digambarkan hanya mengiyakan begitu saja permintaan para investor tersebut tanpa menanyakan kompensasi dan rincian lainnya.

Tuntutan kedua yang menjadi kunci jalannya cerita, datangnya justru dari sahabat terdekat Mark Zuckerberg yang juga teman sekamar, Eduardo Saverin. Dengan latar belakang dan minat bisnis, Eduardo Saverin sejak awal terlibat dalam pembuatan Facebook sebagai penyandang dana. Semua kebutuhan dana yang diminta Mark Zuckerberg disuplai oleh Eduardo. Dengan investasi awal yang tidak terlalu besar, tentu saja otak bisnis Eduardo berputar dan berharap keuntungan lebih besar.

Awalnya, Facebook dibuat sebagaimana lazimnya perusahaan startup, yakni pengembangan hobi dengan teman-teman terdekat. Namun hubungan kedua sahabat ini kemudian merenggang ketika Mark Zuckerberg berkenalan dengan Sean Parker, sang tokoh antagonis yang dalam dunia nyata memang pernah merengguk sukses dengan Napster (Italian Job juga menggambarkan salah satu anggota timnya sebagai pembuat Napster). Pasca penutupan Napster, tentu saja kehidupan Sean Parker bukan lagi menjadi jutawan dengan uang segunung yang bebas membelanjakan uangnya. Bahkan dia mengakui (dalam salah satu adegan) bahwa dirinya sedang bangkrut. Kedatangan Sean Parker yang bangkrut dan (gosip) kecanduan obat terlarang sangat dibenci Eduardo Saverin. Eduardo menganggap Sean Parker hanya akan menjadi batu sandungan bagi bisnis karena profilnya yang buruk. Sebaliknya bagi Mark Zuckerberg sebagai ABG dan gila  komputer justru mendewakan Sean Parker. Apalagi banyak ide Sean Parker yang cocok dengan jalan pemikiran Mark Zuckerberg. Sedangkan ide Eduardo Saverin justru banyak tidak sejalan dengan pemikiran Mark Zuckerberg.

Eduardo menginginkan pengembalian investasi (alias Return of Investment--ROI) atas Facebook dengan cepat karena potensi penggunanya yang begitu besar. Sedangkan Mark Zuckerberg lebih senang bahwa Facebook dibiarkan sebagai hal yang mengasyikkan (cool) dan tidak terlalu peduli pada potensi keuntungan materi. Ide Eduardo sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Semua konsultan investasi pasti akan berpikiran sama untuk menangguk keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat. Mark Zuckerberg pun makin terbuai pada pemikiran Sean Parker yang memang tidak punya tujuan yang jelas terhadap Facebook, kecuali (barangkali) ingin mencicipi keuntungan materi dari Facebook tanpa perlu bertanggung jawab langsung.

Cerita pun bergerak ketika Mark Zuckerberg menuruti saran Sean Parker agar Facebook berkantor di Silicon Valley, California ketimbang di kampus mereka Boston. Dengan kesibukan Eduardo yang ditawari magang di New York, maka Sean Parker dan Mark Zuckerberg pun makin akrab. Setelah Facebook berhasil menggaet investor kakap untuk membuat kantor yang lebih besar berkat jasa lobi Sean Parker. Eduardo Saverin yang tidak banyak terlibat di Facebook pun mulai gelisah. Dari sisi bisnis, posisinya tersingkir karena tidak banyak terlibat dalam keputusan bisnis Facebook. Dari segi persahabatan, Mark Zuckerberg pun lebih dekat pada Sean Parker.

Puncak konflik adalah ketika porsi kepemilikan Facebook dari Eduardo Saverin (hampir) dinolkan. Sebagai pebisnis, Eduardo tentu tidak ingin investasi awalnya diabaikan begitu saja. Apalagi Mark Zuckerberg pernah menyatakan bahwa pembagian kepemilikan Facebook adalah 70:30. Eduardo Saverin mendapat jatah 30%. Jika tiba-tiba dinolkan, tentu saja dia marah.

Dari sini dapat dipahami mengapa hanya tokoh Mark Zuckerberg saja yang terlihat otentik dan tidak jauh dari aslinya. Sementara diperlukan dramatisasi pada tokoh Sean Parker dengan gaya flamboyan sebagaimana akting Justin Timberlake. Hal ini agar penonton lebih paham untuk  menekankan bagaimana tokoh Sean Parker bisa didewakan oleh Mark Zuckerberg. Meskipun aslinya wajah Sean Parker tidaklah seganteng Justin Timberlake. Berkacamata dan suka meretas komputer sebagaimana minat Mark Zuckerberg. Film ini sendiri memang tidak menjelaskan secara rinci bagaimana tokoh Sean Parker bisa menjadi begitu flamboyan, dikelilingi wanita cantik dan kecanduan narkotika, mirip kelakuan selebritis Hollywood. Padahal Napster sendiri sudah lama ditutup dan secara materi Sean Parker tidak mendapatkan keuntungan signifikan dari Napster.

Dengan sponsor Sony (pemilik distributor Columbia Pictures), tidak aneh kalo film ini menampilkan beberapa produk Sony Vaio. Mark Zuckerberg memang tidak dikenal sebagai Apple fanboy atau fanatik produk Apple. Makanya tidak masalah ketika salah satu adegan menampilkan Eduardo Saverin membanting Macbook Pro milik Mark Zuckerberg untuk mengungkapkan kemarahannya. Toh Mark Zuckerberg memang lebih suka menggunakan Linux (yang digambarkan cukup otentik dalam film) ketimbang MacOSX.

Tsn7a.jpg

Jadi di luar fenomena Facebook yang mengguncang dunia, film ini memang jelas-jelas (harus) memanfaatkan tren Facebook untuk keuntungan komersial. Karena toh Mark Zuckerberg hanyalah pehobi komputer yang cukup cerdas untuk membuat Facebook dengan bantuan teman-temannya yang sebenarnya tidak kalah cerdas pula. Bahkan salah satu teman sekamar Mark Zuckerberg turut menyukseskan kampanye Barack Obama di dunia maya. Hal ini menunjukkan bahwa ide dan konsep Facebook tidak 100% murni milik Mark Zuckerberg. Dramatisasi dan konflik penting dibesar-besarkan agar skenarionya berjalan lancar. Meskipun beberapa tokoh asli menganggap film ini kurang akurat. Tapi toh protes itu tidak terlalu bergema karena faktanya mereka kecipratan sukses menjadi milyuner berkat Facebook.

Untuk latar musik yang menurut banyak orang begitu bagus, menurut saya biasa-biasa saja. Tapi barangkali tidak menonjol dan sukses mendukung cerita sehingga fokus penonton tetap pada cerita bukan pada latar musiknya.

Dengan tema Facebook pada manusia sebagai makhluk sosial yang bersifat universal dan mudah dipahami banyak orang, akan lebih mudah menjadikan The Social Network menjadi film sukses ketimbang film lain yang berlatar teknologi dan anak muda, seperti Anti Trust. Bahkan Die Hard 4 kelihatannya malah merosot setelah mengambil tema teknologi.

Nasib Mark Zuckerberg sebenarnya cukup tragis dalam hal ditolak cewek. Sehingga membuat Mark Zuckerberg begitu obsesif untuk membangun Facebook dan sukses secara material, tapi kekosongan jiwa dan luka patah hati memang sulit diobati. Kartu namanya yang terkenal dengan menyebut, "I'm CEO, bitch" baru menggambarkan penyaluran kemarahan tapi belum mencapai berdamai dengan hati.

Sebagaimana Bill Gates yang sukses jadi orang terkaya dengan berbagai trik bisnis yang agak manipulatif kalo gak bisa disebut nyolong atau curang dan mencoba pensiun sebagai filantropis. Tampaknya memang berbeda dengan Steve Jobs yang masa mudanya sudah puas dengan berbagai petualangan berupa kenakalan hingga kematangan spiritual. Nama yang terakhir tidak perlu menjadi filantropis (karena memang belum jadi orang terkaya meskipun berpenghasilan lebih dari cukup) atau berhasrat bergaji tertinggi atau saham terbesar. Hasratnya cuman satu: menaklukkan dunia.

NB:
retas = hack


Tag: Justin Timberlake, jesse eisenberg, andrew garfield, mark zuckerberg, facebook, social, network, Eduardo Saverin

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
buseeeet... hasratnya cuma satu tapi sangar banget!!
dan kalau yg satu itu tercapai, selesailah sudah... hahhaha...
Obbye 0 0
Yeah bener banget ni headlinenya... "nasib di tolak cewe"
Pelarian yang sempurna...ckckckck

Silahkan login untuk memberikan pendapat