May (2008) 2
Sabtu, 26 Mar '11 20:46
Ditengah keringnya produksi film lokal layak tonton akhir-akhir ini, tidak ada salahnya jika kita melongok kebelakang dan memberi perhatian kembali pada film-film yang sebenarnya sangat pantas untuk mendapat perhatian lebih namun disayangkan kurang bergaung saat dalam peredarannya. 'May' adalah salah satu film yang dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Film arahan Viva Westiyang rilis di tahun 2008 ini memang tidak tayang terlalu lama yang tampaknya dikarenakan miskinnya apresiasi penonton kita pada film yang cukup berkualitas ini.
Okelah, mungkin Viva Westi sudah mengecewakan kita dengan film-film horor kampungan seperti 'Suster N' (2007) atau 'Pocong Keliling' (2010), akan tetapi setelah membantu Garin Nugroho di 'Serambi' (2005) (seharusnya) dia merupakan salah satu sutradara muda yang dapat diperhitungkan. Keyakinan saya terbayarkan sesudah menyaksikan film 'May' ini. Sebuah drama dengan penanganan yang lumayan menarik dan subtil, sehingga meski bertema melodrama dalam esensinya, namun 'May' tetap mempunyai kelas tersendiri yang dapat membedakan dengan kebanyakan film Indonesia akhir-akhir ini.
Dengan mengambil latar belakang kerusuhan di bulai Mei di tahun 1998 yang lalu, 'May' bercerita tentang May (Jenny Chang), seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang terpaksa menghadapi tragedi dalam hidupnya, karena sang kekasih, Antares (Yama Carlos), seorang sutradara dokumenter pemula, terlambat menjemputnya dari sebuah audisi. Tepat pada tanggal 13 Mei itu, May harus mengalami penderitaan tak terperikan karena diperkosa oleh sekelompok orang tak dikenal.
Cik Bing (Tuti Kirana), ibu May sangat kebingungan akan nasib May, namun karena situasi yang tidak memungkinkan, maka ia dengan berat hati mengungsi ke Malaysia dengan mengorbankan sertifikat rumah satu-satunya kepada Gandang (Lukman Sardi), seorang petugas laundry hotel tempat Cik Bing mengungsi. Gandang sebenarnya terpaksa melakukan hal tersebut karena istrinya (Ria Irawan) tengah hamil tua dan membutuhkan banyak biaya. sedang May kemudian diselamatkan oleh seorang jurnalis asing dan dibawa ke Malaysia. Ternyata May hamil, namun ia tidak sudi untuk memelihara anak tersebut. Sepuluh tahun kemudian, May, Antares, Cik Bing dan Gandang menjadi sosok-sosok yang bebeda. Namun takdir mempertemukan mereka kembali dan memberikan mereka kesempatan untuk menebus segala perbuatan mereka di masa lalu.
Jika ditarik garis lurus dari intisari cerita diatas, maka pada dasarnya 'May' adalah melodrama. Fakta yang tidak terbantahkan lagi. Namun tampaknya Viva Westi tidak ingin filmnya bercerita secara linear, yang hanya akan membuat filmnya tampak tipikal dan klise. Maka dengan memakai alur maju-mundur, ia dapat menjaga suspensi dalam cerita dan menarik ulur emosi dan ketertarikan penonton untuk tetap mencerna isi cerita.
Viva juga berhasil mengeksekusi salah satu sejarah kelam bangsa ini sebagai sebuah latar belakang yang kuat dan mampu menjadi pilar yang kokoh untuk struktur ceritanya. Dengan piawai adegan kerusuhan tidak digambarkan dengan secara berlebihan apalagi vulgar, namun tetap dapat menangkap atmosfir kelam dan mengerikan dari peristiwa tersebut. Juga, dengan memasukkan sub-plot karakter Gandang didalamnya, maka film pun dapat menjadi kontemplatif tanpa harus menggurui kemudian. Dengan dialog-dialog yang cukup bernas, semakin menambah nilai positif untuk film.
Yang menjadi masalah justru adalah kedua aktor utamanya. Yama Carlos telah bermain dibeberapa film dan sinetron dan ini adalah film keduanya sebagai leading. Sementara Jenny Chang memang benar-benar baru di ranah tersebut. Keduanya telah berupaya memberikan penampilan terbaik mereka, namun sayangnya tidak benar-benar kuat untuk kemudian menjadi believeablemenjadi May dan Antares. Bukan berarti keduanya bermain buruk, namun dengan dukungan bintang-bintang papan atas seperti Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo dan Tuti Kirana, menyebabkan akting mereka terlihat sangat rata-rata.
Sisi kurang menyenangkan lainnya adalah pada beberapa bagian, perpindahan adegannya agak kurang halus. Juga sub-plot karakter Gandang yang rasanya terlalu panjang sehingga mencuri perhatian dari kisah utamanya. Mungkin porsinya harus lebih kecil? Entahlah.
Apakah kemudian film akan berakhir dengan happy ending yang telah menjadi tipikal bagi film sejenis? Sekedar wanti-wanti yang kurang penting; jangan tertipu dengan adegan akhirnya. Pada hakikatnya apa yang terlihat tidak sama dengan apa yang tersurat!
Pada akhirnya, 'May' adalah sebuah drama komersil dengan unsur kontemplatif yang cukup dalam. Viva Westi cukup berhasil membangun jalinan cerita melodramatis yang intens namun tidak lantas menjadi cengeng. Untuk dekade 2000-an, 'May' jelas adalah salah satu film Indonesia yang menarik untuk disimak.
PS: sungguh sayang, sampai sekarang belum ada tanda-tanda kalau film ini akan dirilis dalam bentuk DVD, padahal cukup layak untuk menjadi salah satu koleksi home-video kita.
Tag: Indonesia, 2008, viva westi, may
Terkait:
-
Lomba Cipta Video Klip Garuda Pancasila 2012
Sabtu, 5 Mei '12 23:53 -
Cartoon Network Hadir dalam Format HD
Senin, 23 Apr '12 22:49 -
I Love Indonesia II : Sebuah Refleksi Akhir Tahun
Selasa, 27 Des '11 14:21

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat