Film dan Becak... 0

Rabu, 23 Mar '11 19:58

Udah lama banget gw ga nulis apa2, kecuali berita (yg gw rasa juga kurang “berita”) yg gw tulis di Harjo untuk urusan job training cetak. Jadi, please, kali ini izinkan gw sekedar corat-coret ga penting.

 

Semua dimulai dari Becak

Pasti bingung ada apa dengan becak? (sepertinya judul yg bgs u menyaingi Ada Apa dengan Cinta). Kisahnya gw ngobrol tentang banyaknya angkot di Bandung dengan Pakde gw.

 

Di rumah Pakde, Ngaglik Sleman, Jogjakarta, kita ngobrol tentang muter2 angkot sambil di dapur (?). Dan kita sepakat untuk hal2; angkot di Bandung suka seenaknya nurunin penumpang, suka berenti di tengah jalan, juga suka melakukan manuver dewa.

 

(manuver: dari tengah tiba2 menukik jadi ke pinggir jalan, gw rasa cuma angkot dan dewa yg bisa manuver gituan, ckckck...).

 

Lalu Pakde bilang, kalo angkot di Jogja ga demikian, mereka sopan2, (istilah yg patut dipertanyakan). Trus gw nimpalin, untung juga di Jogja angkotnya cuma sedikit yah Pakde, jadi ga bawa masalah. Dan Pakde bilang:

 

“Tapi di sini yang suka seenaknya itu becak, kalau belok sembarangan, juga suka ganggu jalan, bikin macet aja,”

 

Entah kenapa, secara naluriah gw mempertanyakan pernyataan tersebut. Karena dari dalam hati gw yg cetek, gw merasa kedua hal itu “berbeda”, masalah angkot dan becak. Ga tau kenapa, gw seperti ga nerima becak dipersalahkan.

 

Gw bukan keluarga supir becak, juga bukan anak bandar becak, apalagi jadi goesan becak, tapi bisa jadi gw reinkarnasi becak. Yg pasti, hal itu mengganjal. (Hidup BECAK!!!)

 

Geser, Makan Tempat, dan “Menyingkir!!!”

Pernyataan Pakde di dapur tersebut kepikiran terus seharian. Lalu di atas motor di tengah gerimis gw menyadari satu hal. Perbedaan antara kasus angkot dan becak, juga persamaan antara becak dengan film.

 

Gw senang memperhatikan, maka sejak lama gw memperhatikan jalan di kota Jogja ini. Jalannya kecil2, tapi ga sepadat Bandung. Di sini sangat jarang angkutan umum, yg banyak kendaraan pribadi, yg mendominasi adalah motor.

 

Hanya sedikit di sana ada delman ataupun becak. Delman pun cuma ada di kawasan Malioboro, becak juga banyaknya di sana, tapi jangkauan wilayah becak lebih luas.

 

Lalu gw berpikir, seperti apa jalanan ini 10 tahun yg lalu, semasa gw kecil. Lengang. Jalanan ini sudah aspal namun sangat lengang, di sana juga ada becak.

 

Orang2 senang melihat becak, dan sering gw liat ibu2 naik becak ke pasar, atau dari pasar, atau anak2 sekolah naik becak, kebanyakan anak SD, ada juga anak SMP, tapi gw ga inget ada anak SMA.

 

Lalu gw berpikir lebih jauh, seperti apa jalanan ini 30 tahun yg lalu, saat Ibu masih berpacaran dengan Ayah lewat surat. Seperti apa jalanan ini 40 tahun yg lalu, saat Ibu masih anak kecil yg lucu. 60 tahun yg lalu, atau 80 tahun yg lalu, sebelum negara ini merdeka.

 

Apakah ada becak di sana. Apakah orang2 menyukai becak, tersenyum ke arah becak, senang menaiki becak, manggil becak sambil nyanyi seperti manggil abang tukang bakso mari-mari sini?

 

(Sotoy). Saat itu, gw membayangkan, semua orang menyenangi becak, juga becak menyenangi semua orang. Bahkan orang membuat lagu tentang becak, (becak...becak... di dinding...), walau gw bingung bagaimana becak bisa sampai di dinding. (ga usa dibahas)

 

Lalu dimana “kita”, dimana kendaraan2 bermesin yg memuja kecepatan, dimana “pengkondisi udara” yg egois itu, orang2 yg menilai dunia di dalam kotak sedang di luar bukan urusannya.

 

...

 

Kita belum sampai di sini. Kita belum menjajah mereka...

 

Film...

Mereka begitu integral bagi eksistensi kita sehingga sulit membayangkan bagaimana kita akan mengatur hidup kita tanpa mereka”, Kel O'Neill dan Eline Jongsma.

 

Ga bisa bohong, gw salah satu pecinta “film bagus” (istilah temen gw Yudi), dan karena saat ini mayoritas film bagus itu dari luar, jadilah gw banyak nonton film luar, (much better ketimbang pocong-perawan).

 

Dan gw sangat sedih tentang ngambeknya Hollywood kemarin, terutama kekesalan sangat kepada Dirjen Pajak. Apa sih sebenernya mau mereka, ga jelas maksud tiba2 bikin kebijakan yg ga bijak. Klo gw bilang kemarin, seakan2 mereka ga pengen liat rakyat seneng.

 

Banyak film yg gw tunggu tahun ini. Spiderman, Pirates of Carribean 4, Transformer 3, X-Men, dan masih banyak lagi. Dan sangat disayangkan kalo gw mesti nonton bajakannya Spiderman, gw slalu nnton dy d bioskop.

 

Tapi gw menyadari becak dan film (lokal) memiliki kesamaan nasib. Tanpa sadar kita menjajah sendiri film-film kita. Dan menjadikan proses penjajahan itu adalah sesuatu yg sangat biasa. Memuja film luar itu biasa, memuji film lokal itu heboh.

 

Gw ga bicara siapa benar dan siapa salah, (tapi jelas bagi gw Dirjen Pajak yg salah).

 

Tapi gw merasa, saat kita menangisi kepergian film Hollywood, rasanya seperti mengomel kepada becak yang menghalangi jalan karena lambat.

 

Bukan tempat gw untuk ngomelin becak, karena gw “pendatang”, sedang mereka sudah ada di sini sejak Indonesia belum merdeka.

 

Film asing masuk ke negara kita sebagai pendatang, dan ia adalah tamu, dan kini tamu itu pulang, mungkin sebentar, mungkin lama, mungkin selamanya. Toh, dia hanyalah tamu.

 

Jujur gw sangat muak dengan film Indonesia, tapi sedih hanya sebatas itu yg bs gw lakukan, “muak”. Tidak ada yg lain, dan hal itu membuat gw semakin mual.

 

Fabel...

Belum lama gw baca kumpulan fabel dari Tan Swie Hyan. Dan dia tidak hanya memfabelkan hewan, melainkan semua benda bernyawa dan tidak bernyawa.

 

Lalu saat ini gw membayangkan film lokal adalah gadis Jawa yg sangat manis (sebut saja Ayu), sedang film Hollywood adalah model cantik seksi ala Megan Fox, atau mungkin Megan sendiri.

 

Udah lama gw menyukai Ayu. Lalu perlahan Megan datang, menyita perhatian gw, dan Ayu pun terbengkalai.

 

Karena kurang perhatian, kini Ayu jadi jarang dandan, rambutnya awut2an ala shot2 sinetron, bajunya compang-camping ala pocong-perawan, dan dia pake lipstik di jidat kaya kaya pocong-ngesot-kejedot.

 

Hal itu membuat gw makin muak ngeliat Ayu. Walau kadang gw liat, ada bagian2 dari diri Ayu yg merasa ingin bangkit, ingin menyenangkan gw. Tapi cuma berhasil di lirikan2 kecil gw. Gw ga sepenuhnya melihat dia, hanya lirikan2 kecil.

 

Lalu kini setelah sekian lama Megan mampu memuaskan gw (amien...), Ayu sedikit terlihat lebih bersih. Walau belum seperti dulu, namun kini dia berusaha tampil rapih di depan gw. Terlihat dari usaha kerasnya membuat film2 di luar “pocong” dan “perawan”.

 

Ketika Ayu terus berusaha keras menarik perhatian gw, Megan minggat, dan gw kaget. Gw menyembah2 supaya Megan jangan pergi, tapi sepertinya dy akan pergi juga, dan gw menangis >.<

 

Tapi di sana. Bukan gw yg menangis paling sedih. Bukan gw yg hatinya paling remuk. Tapi Ayu... walau saat ini ia diam dan tidak banyak bicara. Walau begitu ia mendekati gw, sedikit berjongkok, lalu berkata,

 

“Kita bisa bangkit lagi, mari kita perjuangkan bersama,” dengan senyum manis ketimuran.

 

Saat itu gw menyadari, kalo gw sangat kekanakan. Dan di sana, Ayu sudah terlihat cukup dewasa.


Tag: film, Film Indonesia, film Indonesia vs film Hollywood

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat