Perempuan Kedua (Indonesia.1990) 5
Senin, 21 Mar '11 12:36
Dir : Ida Farida
Cast : Sophan Sophiaan, Widyawati, Ida Iasha, Deddy Mizwar, Bella Esperance, Zainal Abidin, Novia Kolopaking, Hengky Sulaiman
Beruntung masih ada kesempatan menonton film produksi 1990 ini, Kineforum memutarnya dalam rangka Bulan Film Nasional 2011 untuk segmen “warna-warni perempuan” dengan menampilkan pasangan abadi dalam perfilman Indonesia, Sophan Sophiaan dan Widyawati. Ida Farida mengarahkan dua bintang ini dalam sebuah kisah sederhana para pria hidung belang yang masih saja ‘mencari’ wanita-wanita lain yang lebih segar dan muda dari istri-istri mereka di rumah. Ida merupakan salah satu sutradara wanita Indonesia, cukup produktif pada era akhir 80-an ini memaparkan dengan ringan, tanpa beban, jauh dari provokasi, tidak ingin bermain-main dengan isu-isu kontroversi yang berlebihan dan lebih memilih untuk membuatnya memihak pada kaum wanita yang selalu menjadi korban,sosok lelaki ditampilkan sebagai korban dari keteledoran dan kesalahannya karena berlaku tidak adil terhadap istrinya.
Tidak secara jelas gamblang Ida Farida membuat laki-laki menjadi objek penderita dalam film ini, diperlihatkan dengan berbagai masalah yang muncul, berbagai sebab dan akibat, bermula hanya dengan niat baik dan komitmen pada pekerjaan, terjebak dengan rasa dan selanjutnya terjadi begitu saja sebuah perselingkuhan dibebankan pada karakter dengan disamarkan pada kebetulan-kebetulan yang terjadi, dimainkan dengan bijak sekaligus rapuh oleh Sophan Sophiaan.
Karakter wanita dalam film ini mendapat porsi peran yang kuat, latar belakang yang jelas, berpendidikan baik, berpikiran maju, tidak takut bertindak tegas, berani mengungkapkan pendapat dan berani mengambil resiko atas semua sikap dan tindakan kepada karakter wanitanya yang tentu mendorong karakter tersebut menjadi antagonis untuk film ini, untungnya kekuatan naluri wanita juga menjadikan film ini benar-benar Ida persembahkan untuk pada wanita yang berjuang menghadapi suami-suami tak setia dan wanita-wanita simpanan yang berjuang menuntut statusnya. Peran wanita yang kuat tersebut berhasil dibawakan dengan baik oleh Widyawati yang berperan sebagai Rani dan Ida Iasha sebagai Patricia, yang meskipun tampak sangat berseberangan tetapi memiliki tujuan yang sama dalam hidup yaitu menuntut haknya untuk mendapatkan cinta secara adil dan jujur, yang dalam hal ini juga ditampilkan dengan cara yang masing-masing juga sangat bertolak belakang.
Yanuar (Sophan Sophiaan) adalah seorang dokter yang berkomitmen tinggi pada keluarga dan pekerjaan, hidupnya hanya antara rumah dan ruang praktek di RS. Kehidupan rumah tangganya dengan Rani (Widyawati) tampak rukun dan bahagia, dan bahkan bagi adik Rani (Bella Esperance) yang seorang jurnalis berniat untuk menulis kisah Rani dan Yanuar menjadi kisah inspirasi wanita dalam berumah tangga. Sebuah bentuk tekanan datang dari lingkugan tempat Yanuar bekerja, kesetiaan pada istri ini justru membuatnya tidak memiliki wibawa dihadapan rekan-rekan sesama dokter karena selalu menjadi bahan olak-olakan tidak berani untuk melirik wanita lain hanya untuk sekedar iseng atau main-main. Sampai kemudian hidup dimasuki oleh Patricia (Ida Iasha) dan Natalia (Novia Kolopaking), dua pasien wanita yang kemudian menjadikan hari demi hari selanjutnya dalam hidup Yanuar menjadi berbeda sama sekali dan menjadi sebuah pembuktian sebuah teori umum bahwa lingkungan menjadi faktor kuat seorang bisa terpengaruh pada sesuatu hal.
Natalia yang berusia belasan beberapa kali bolak balik minta pertolongan Yanuar untuk mengugurkan kandungannya, karena dia takut kedua orang tuanya akan mengetahui hal itu, dengan bijak Yanuar menolak permintaan Natalia dan memintanya untuk berterus terang kepada kedua orang tuanya, Natalia yang ketakutan meminta Yanuar merahasiakan kehamilannya yang justru berbuntut panjang terhadap Yanuar. Berbeda dengan Natalia, hubungan yang terbentuk dengan Patricia justru lebih mengarah pada sesuatu yang selama ini tidak pernah dirasakan Yanuar, hatinya begitu digetarkan setiap berhadapan dengan Patricia.
Yanuar tidak kuasa menahan perasaannya pada Patricia, sehingga dia melampiaskannya pada Rani sang istri, Rani yang melihat gelagat tidak baik pada Yanuar mulai curiga, karena tingkah Yanuar sangat berbeda. Tanpa bukti yang jelas Rani menuduh Yanuar berselingkuh dengan tidak memberikan Yanuar kesempatan untuk menjelaskan. Tanpa bisa banyak melakukan apa-apa, Yanuar iklas menerima tuduhan istrinya tersebut, karena rasa bersalah menghantuinya diam-diam memiliki perasaan yang tidak semestinya.
Yang cukup menjadi poin penting film ini adalah sub-plot yang menjadi bagian film yang tampak berdiri sendiri dari film ini, menjelang film berakhir ternyata disiapkan dengan rapi untuk menjadi sebuah twist karena kemudian membaur pada inti cerita film ini.
Ida Farida seperti tidak begitu ingin film ini menjadi semacam kisah perselingkuhan yang sarat dengan emosi, kebencian, tindak kriminal, sex dan tentu saja isu perceraian yang begitu kuat menjadi inti film-film bertema serupa. Selingkuh tidak menjadi komoditas yang disalahkan, tetapi lebih menjadi sebuah bentuk pengalihan atau hanya sekedar keterjebakan dalam kondisi yang belum bisa dikendalikan dan terlalu berat menguasai diri, dan menjadi termaklumi karena karakter utama berhasil dibangun dengan pribadi yang selalu bertindak berhati-hati pada setiap masalah, begitu sederhana, lugu dan terlalu baik untuk dicap sebagai seorang yang sanggup mengkhianati istri dan keluarganya (bahkan pada beberapa scene terasa begitu naif).
Tidak ingin terjebak dalam drama-drama perselingkuhan yang berakhir klise dan memuakkan, Ida Farida membawa film ini pada fase ‘thriller’ untuk penyelesaiannya, dengan tidak terlalu lama bermain-main dengan isu perselingkuhan dan isu poligami, film membawa kita pada babak akhir dimana karakter Yanuar harus mendapatkan ‘hukuman’ akibat perbuatannya, dalam hal ini adalah karma bertubi-tubi dan terasa agak berlebihan dan terlalu berkebetulan.
Terlepas dari itu, film dengan tema sensitif yang berjalan di zona aman ini cukup berhasil memberikan pengertian pada penonton bahwa mensyukuri cinta kita miliki dan menjaganya dengan baik lebih bijaksana dari pada hidup dengan melihat bahwa ‘rumput tetangga selalu tampak lebih hijau’ karena percaya atau tidak karma yang lebih besar akan hadir sebagai resiko dari penyelewengan terhadap cinta yang telah diikrarkan.
Tag: Deddy Mizwar, Zainal Abidin, Widyawati, Ida Farida, Sophan Sophiaan, Ida Iasha, Novia Kolopaking, Hengky Sulaiman, Bella Esperance
Terkait:
-
HI5TERIA : A LITTLE BUT GOOD SHOP OF HORRORS
Jumat, 30 Mar '12 04:01 -
THE PERFECT HOUSE : PERFECT ELEMENTS IN THE HOUSE NOT SO PERFECTLY BUILT
Sabtu, 12 Nov '11 17:43 -
DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH : 'LOVE STORY' GOES TIME MACHINE
Jumat, 26 Agu '11 02:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Taruma: Good Take
-
jim96: Informatif
-
Haris Fadli: Good Take
-
sabai: Good Take
-
kniwe: Box Office
-
Deli Putra: Good Take

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat