Sedikit Tafsir Mengenai Adegan Pembuka "A Serious Man" 2

Selasa, 15 Mar '11 23:47

 

 

"Tapi, kau  tidak mungkin memahami fisika tanpa memahami matematika. Matematika yang mampu menjelaskan bagaimana segala sesuatu terjadi. Itulah kenyataannya." ~ Larry Gopnick, A Serious Man

 

 

I

 

 Bagi beberapa kawan yang merasa kesulitan memahami kaitan antara adegan awal "A Serious Man" dengan keseluruhan sisa cerita, semoga pendapat saya ini membantu. Tapi mungkin juga hasilnya malah jauh dari itu. Jadi saya harap ada diskusi susulan lebih lanjut. Oh, sebelum kelupaan, bagi yang belum nonton, semoga ulasan ini tidak terlalu membocorkan keseluruhan kisah. :)

 

Pertama-tama, kita perlu ingat bahwa Larry Gopnik si tokoh utama, profesor pecundang yang kesulitan bersosialisasi itu, adalah seorang Yahudi-Amerika. Faktanya, tidak ada etnis Yahudi asli berdiam di benua tersebut sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Oleh karenanya, saya berasumsi bahwa sepasang suami istri yang bercakap-cakap di musim dingin itu, kemungkinan besar, buyut si Larry (sekali lagi mungkin).

 

Kalaupun tidak, menilik begitu kentalnya usaha dari Coen Bersaudara mengungkap renik-renik kehidupan khas Yahudi, barangkali, sepasang suami istri tadi menggambarkan mentalitas seorang Yahudi secara keseluruhan. Apalagi, Coen Bersaudara merupakan jenis sineas yang tergila-gila dengan metafora. Bisa kita saksikan kecenderungan itu dari keseluruhan karya-karya mereka, sehingga dapat kita buat asumsi dasar sebagai berikut: adegan pembuka tersebut pasti ada gunanya.

 

Untuk mengungkap lebih lanjut makna adegan tadi, mari kita runut lagi permasalahan awalnya yang memantik rasa ingin tahu di awal. Kebingungan penonton, serta saya juga tentunya, kemungkinan besar memang akan terjadi karena diskontinuitas plot secara mendadak. Adegan pembuka bertempat di sebuah desa Eropa, ketika musim salju, dan latar waktunya sekitar beberapa abad sebelum cerita utama dimulai. Mendadak, setelah scene penusukan tamu - orang tua yang dianggap oleh sang istri sebagai arwah jahat -  terjadi, scene segera berpindah ke Minnesota, Amerika Serikat, tahun 1967. Tokohnya pun berbeda secara signifikan.

 

 

II

 

David Ball, dalam bukunya "Backwards and Forwards", memberi sedikit panduan pada kita untuk mengatasi perkara diskontinuitas tadi. Muncul rasa ga nyambung dalam diri penonton, kemungkinan besar, karena kita terbiasa dengan pola narasi "kausalitas". Maksudnya, sebuah adegan (sebut saja adegan "A"), hadir untuk memberi landasan atau memicu peristiwa pada adegan "B".

 

Ball mengistilahkannya sebagai "Trigger-Heap connection" (hubungan antara pemicu dan onggokan "fakta" lanjutan).  Masalahnya, logika penceritaan bahkan sejak zaman Aristoteles dan aturan drama tiga babaknya, seakan mengisyaratkan bahwa hanya pola cerita kausalistis yang dapat kita sebut cerita "baik dan benar".

 

Kesan baik dan benar tersebut muncul, sebab nalar kita sangat terbantu dalam mencerna makna-makna dari setiap adegan apabila muncul kausalitas dalam setiap adegannya. Sebagaimana hidup seringkali dimaknai oleh manusia, kita merasa bahwa antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, sebetulnya terdapat hubungan, atau benang merah. Biasanya kita sebut kebetulan, takdir, karma, dan semacamnya.

 

Dalam aplikasi yang lebih bersifat teknis, drama tiga babak Aristotelian menganjurkan adanya "rising action" atau eskalasi konflik. Dari Babak pertama cerita, berisi perkenalan semua tokoh penting, maka babak kedua "seharusnya" muncul peristiwa yang menyulitkan protagonis. Alur yang sifatnya selalu meninggi tersebut, nantinya, berpuncak pada klimaks. Barulah, tensi cerita "diperbolehkan" menurun.Mungkin karena karya sastra pilih tanding klasik, seperti "Odyssey", "Mahabarata", maupun "Beowulf" juga memanfaatkan pola seperti itu, jadilah pendapat Aristoteles ditahbiskan sebagai konvensi cara bercerita tak resmi.

 

Padahal, bagi Ball, ada pola cerita lainnya, yaitu pola cerita "kolektif". Seiring realisme merebak di Eropa pada medio abad 19, muncul upaya-upaya untuk menggambarkan kenyataan melalui narasi, agar tampil "apa adanya" sebagaimana kenyataan sendiri tercipta. Ditambah pula, pemikiran-pemikiran formalis Rusia dan pemikir strukturalis awal Roman Jakobson, Mikhail Bakhtin, Vladimir Propp, maupun Tzvetan Todorov, tercipta beragam penyelidikan tentang narasi. Tak ayal, pola kausalitas, sedikit banyak mulai diusik.

 

Variasi cara bercerita kolektif sendiri merebak setelah revolusi industri, saat muncul narasi drama yang meskipun terdiri dari tiga babak misalnya, tidak perlu saling berhubungan antara satu sama lain. Pola penceritaan ini sering juga disebut pola eksperimental (pada masanya). Tapi, bukan berarti antara satu adegan tidak berhubungan dengan adegan berikutnya. Pakem itu tetap saja ada untuk beberapa bagian.

 

Biasanya, sebuah pola naratif disebut sebagai narasi kolektif (collective storytelling), ketika penonton (atau pembaca)-lah yang perlu secara kreatif menggabungkan atau mencari benang merah antara dua cerita yang seakan tidak berhubungan itu. Pendek kata, kausalitas sebetulnya masih ada, hanya saja, tidak tampil kentara, atau lebih bersifat asosiatif. Ball menambahkan, biasanya narasi kolektif bertumpu pada seorang protagonis utama (meski tidak selalu seperti itu).

 

 

III

 

"A Serious Man" bagi saya merupakan usaha Coen Bersaudara untuk menggabungkan dua macam pola penyusunan plot tadi. Adegan awal, menampilkan suasana penuh prasangka, serta jalan buntu. Maksud dari prasangka tentulah sikap tak simpatik istri si petani yang mencurigai suaminya telah berjumpa dengan dybbuk, hantu dalam tradisi Yahudi, secara harfiah berarti "jiwa lepas dari neraka".

 

Secara sekilas, mungkin terlintas tebakan di kepala, bahwa adegan awal lebih bermakna kekalahan rasio atas spiritualitas, sang suami yang menolak anggapan istrinya bahwa orang tua yang telah membantu dirinya mengangkat gerobak di tengah malam bersalju, adalah orang yang telah mati lebih dari tiga tahun lalu.

 

Kita saksikan, si istri menang, walaupun sedikit memaksa, sampai-sampai menusuk si orang tua. Ketika si suami berteriak "kau telah membunuh tetangga kita", sang istri menjawab ketus, "omong kosong!" Uniknya sudut pandang penonton, tidak diarahkan untuk terus mengikuti sepasang suami istri Yahudi tadi, namun malah keluar, seiring kepergian si tua tertuduh dybbuk tersebut, dengan akhir adegan berupa pintu tertutup. Bagi saya, pintu tadi merupakan simbol serupa jalan buntu tanpa jawaban memadai. Kita tidak tahu apakah si tetangga tua mati, serta bagaimana pula suami-istri tadi meneruskan perdebatan. Dua wacana itu, menurut saya pantas dielaborasikan dengan kisah utama si Larry Gopnick.

 

Tokoh utama kita ini merupakan parodi Ayub di Kitab perjanjian lama. Ayub sebetulnya orang baik, namun ia mendapat cobaan beruntun, kehilangan segalanya, baik itu keluarga, harta, maupun kebahagiaan. Sama persis dengan yang dialami Larry. Hanya saja, dalam kisah Ayub, Tuhan hadir memberi penjelasan personal baginya di akhir cerita, bahwa karena ia Tuhan, maka ia dapat melakukan apapun yang menjadi kehendakNya.

 

Hal yang sama tidak dialami Larry. Bedanya ada pada beberapa hal berikut. Larry seorang rasionalis tulen. Ia memahami fisika, tapi tidak tahu bagaimana caranya menjaga keutuhan rumah tangga (lihat persamaan Larry pada titik ini dengan sikap si petani di adegan pembuka yang juga rasional - dan jangan lupa, baik hati pula). Kembali ke perbandingan Larry dan Ayub, maka kita harus ingat, Ayub mengupayakan banyak hal agar jawaban ia dapatkan. Terutama soal mengapa ia mendapat begitu banyak cobaan. Kitab Ayub di Perjanjian Lama menggambarkan dia bertanya pada tiga orang kawan yang ia anggap bijaksana untuk mendapatkan pencerahan. Sementara Larry tidak pernah mengupayakan apapun.

 

Ia mendatangi Rabbi untuk minta bimbingan, tapi nasehat-nasehat yang ia terima tidak dilaksanakan. Ia bermimpi selingkuh dengan tetangganya, tapi itupun tidak ia wujudkan. Ia hanya selalu mengeluh dan berkata, "padahal aku tak melakukan apapun." Itulah faktanya, ia memang tidak melakukan satu pun tindakan guna mengubah nasib. Jadilah segala kesialan membentuk dirinya. Larry tidak mengendalikan nasibnya, ia lebih memilih berperan sebagai penumpang gelap dalam kehidupan. Banyak adegan menggambarkan betapa Larry takut mengambil keputusan, sebab ia gentar berhadapan dengan konsekuensi buruk bila ia nekat melakukannya. 

 

Satu-satunya tindakan Larry (bukan karena dipaksa keadaan), hanyalah mengubah nilai mahasiswanya yang tidak lulus ujian dan menyogoknya dengan segepok uang. Seketika itu pula, nasib buruk mencapai titik kulminasi. Larry mendapat telepon mengenai kesehatannya (sepertinya buruk), dan anaknya terjebak di sekolah saat badai menghantam. Rasionalitas murni tanpa tindakan untuk mengubah keadaan tidak dapat menghindarkan manusia dari cobaan hidup (persis seperti si petani yang tidak melakukan apapun melihat istrinya menusuk tetangga mereka). Itulah sisi parodinya, dan juga titik pertemuan antara cara bertutur kolektif tadi.

 

sepasang suami istri "biang masalah" yang perannya membingungkan penonton sepanjang film.

 

 

IV

Adegan awal berguna untuk menggambarkan secara ringkas keseluruhan "moral" cerita, semacam pemberi firasat akan ada sesuatu serupa ini terjadi. Sementara parodi kisah Ayub - dalam kisah lengkap Larry -  menjadi pelengkap simbolisme pintu tertutup di adegan awal. "A Serious Man" kemudian menjadikan dirinya salah satu representasi karya posmodern. Nalar modernitas mewarisi kepercayaan lama sitz im leben sebagaimana diucapkan oleh teolog Kristen dari Jerman, Hermann Gunkel. Bahwa tidak ada "teks tanpa konteks". Proyek filsafat Immanuel Kant misalnya, masih meneguhkan kepastian rasionalitas atas segala sesuatu, walau sedikit mendamaikannya dengan empirisme.

 

Tidak dengan corak pemikiran posmodern. Dalam pemikiran ini, yang ada hanyalah kepastian yang saling bersaing. Setiap pandangan merasa benar, dan mereka bersaing membuktikan kebenarannya. Sehingga, tidak ada "keberanan" mutlak, satu-satunya kebenaran, jika ada untuk saat ini, hanya persaingan narasi soal kebenaran itu sendiri. Bahkan, saat diperbandingkan dengan kisah Ayub, Larry tidak mendapat apapun, termasuk itu jawaban Tuhan, atas derita yang ia rasakan. Ketidakpastian menjadi kunci memahami dunia dalam alam pikir posmodern.  

 

Itulah sebabnya pintu tertutup bersifat substitutif dengan badai di akhir cerita. Sama-sama melambangkan jalan buntu, kebingungan, ketidakpastian. Adegan pembuka dan keseluruhan cerita di film "A Serious Man" bukan sebuah cerita yang berhubungan secara tradisional. Mungkin lebih tepat, kita sebut keduanya asosiatif, mencoba menjelaskan hal yang pada prinsipnya serupa. Saat masing-masing berakhir, ada sebuah hubungan kausalitas dalam tataran wacana. Dari narasi kolektif (adegan pembuka dan cerita utama), tercipta narasi lain dengan pola kausalitas klasik. Menurut saya, dua kisah tak terkait itu merupakan gambaran situasi yang memungkinkan kebuntuan muncul.      

 

Bukan sebuah film dengan permukaan mulus, tapi yakinlah, menggugah keingintahuan seketika kita bersedia meluangkan waktu menikmatinya, selapis demi selapis. Serta, ketika merenungkan hidup dengan cara sedemikian rumit, semoga anggapan saya bahwa Coen Bersaudara menciptakan sebuah film "religius" melalui "A Serious Man", tidak salah-salah amat. Semoga.  

 

 

Referensi:

Ball, David. 1983. Backwards & Forwards: A Technical Manual for Reading Plays. Southern Illinois University.

 


Tag: Coen Bersaudara, Collective Narration, Posmodernisme

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

lazione budy 0 0
Nice one!
Telaah yang bagus.
artspidey 0 0
berat, jujur terlalu berat untuk bisa dimengerti oleh saya. tapi terimakasih...

Silahkan login untuk memberikan pendapat