Potret Ganjil "Kebebasan" Amerika dari Coen Bersaudara 4
Senin, 14 Mar '11 00:21
Karya Coen bersaudara teranyar diawali dengan sebuah cuplikan ayat Injil, "Orang fasik lari walau tidak ada yang mengejarnya" (Amsal 28:1). Adakah maksud lain dari penempatan ayat tersebut dalam permulaan kisah? Mungkinkah Coen bersaudara kembali mengangkat topik religiusitas?
Sebelum menyelesaikan proyek "True Grit" awal tahun ini, kita ingat bahwa duo sineas sedarah itu membesut "A Serious Man". Sebuah film tentang kegagalan bertubi seorang profesor Fisika Yahudi-Amerika dalam kehidupan pribadi maupun karir. Setiap scene dalam film tersebut penuh aforisma-aforisma yang kental terinspirasi oleh nilai-nilai Perjanjian lama, bahkan leih jauh memarodikannya. Dalam beberapa hal, dapat dikatakan pula, bahwa "A Serious Man" merupakan film mereka yang paling "religius" sejauh ini. Wajar bila kita setidaknya mempersiapkan pemikiran serupa ketika berhadapan dengan sajian pembuka "True Grit".
Coen bersaudara kali ini melakukan hal di luar kelaziman, memproduksi ulang sebuah film klasik dari genre "western" yang dahulu disutradarai oleh Henry Hathaway dan dibintangi John Wayne, sang model "American Man" lintas zaman. Mengingat sikap artistik Joel dan Ethan Coen, para penonton sebaiknya memang mempersiapkan diri pada interpretasi khas mereka, walaupun kini kita "hanya" menghadapi sebuah film dengan status remake.
Sepanjang kisah, kita akan menemui beberapa ramuan klise genre "western". Balas dendam, penegakan hukum, serta adu tembak para "cowboy". Matie Ross (diperankan dengan apik oleh aktris muda Hailee Steinfeild), seorang anak usia empat belas tahun dari pedesaan Yell County mengurus pemulangan jenazah ayahnya yang mati ditembak penjahat kelas teri bernama Tom Chaney. Ketika semua orang memintanya ikhlas menerima kepergian sang ayah, Ross bersikeras memburu si penjahat dan mengupayakan balasan setimpal baginya.
Untuk itu, ia tak segan menagih hak ayahnya pada pengusaha kuda, mitra bisnis si ayah bernama Col. Stonehill, guna mendapatkan sejumlah uang. Dalam adegan tawar menawar penyelesaian utang piutang keduanya, kita akan mendapatkan gambaran utuh karakterisasi Ross. Perempuan muda tegas, cenderung dewasa sebelum waktunya, kalau tidak bisa dibilang keras kepala dan cerewet. Satu hal yang pasti, kita akan menyadari bahwa Ross merupakan gadis tanpa rasa takut sedikitpun.
Dari uang yang berhasil didapatnya, Ross menyewa jasa Marshall liar dan gemar membunuh buruan bernama Rooster Cogburn (diperankan dengan apik pula oleh Jeff Bridges). Permintaan Ross pada Cogburn yang utama, menyeret Chaney (Josh Brolin hadir sempurna menjadi seorang penjahat pandir) ke tiang gantungan di Fort Smith, kota di mana ayahnya terbunuh. Hanya saja, Ross bersikeras ikut serta dalam perburuan tersebut, karena khawatir Cogburn si pemabuk berat tidak melaksanakan tugas, lantas lari membawa kabur uangnya.
Masalah bertambah pelik, ketika rupanya Chaney juga diburu oleh Texas Ranger Laboeuf (Matt Damon yang kesulitan menghapus dialek Bostonnya), karena pernah membantai orang di wilayah hukum Texas. Perburuan tadi makin ramai saat terungkap fakta Chaney dilindungi oleh sekawanan bandit pimpinan Lucky "Ned" Pepper.
Selebihnya, kita akan menemui sekumpulan shoot indah menggambarkan lanskap alam liar Amerika, kejar-kejaran dengan kuda, serta tembak menembak yang memang sudah menjadi pakem genre ini. Tidak terlalu banyak dialog-dialog absurd a la Coen Bersaudara yang biasa mewarnai skenario mereka berdua. Secara garis besar, "True Grit" merupakan film paling ramah dari duo sineas itu untuk penonton awam, melebihi komedi romantis "Intolerable Cruelty" yang rasanya masih cukup absurd.
Hanya saja, beberapa hal cukup mengganggu sepanjang film ini. Coen bersaudara tak pernah menjelaskan kepada para penonton selama cerita berlangsung, bahwa Rooster pernah memiliki hubungan (entah berupa rivalitas atau lainnya) dengan gembong bandit Ned Pepper. Padahal dalam beberapa adegan, terutama saat penyergapan malam hari dari atas bukit, Cogburn menjelaskan panjang lebar ciri-ciri Ned pada Ross. Ganjalan lain juga tampak saat duel antara Ned dan Cogburn terjadi.
Penonton dapat menyimpulkan sendiri bahwa sebetulnya Cogburn menerima tawaran Ross bukan karena niat tulus membantunya, namun lebih karena ambisinya untuk menyelesaikan sebuah urusan dengan Ned Pepper yang kebetulan sedang bersembunyi dan sekaligus melindungi si pesakitan, Tom Chaney. Bolong plot tadi, walaupun tak penting-penting amat, tetap berpontensi membingungkan penonton memahami karakter Cogburn dan segala motivasi tindakannya.
Selebihnya, seusai kredit akhir tampil di layar, terasa sekali jika Coen bersaudara, melalui "True Grit, melanjutkan upaya artistik yang telah mereka upayakan selama ini". Judul itu dapat diartikan secara harfiah sebagai "ketangguhan sejati". Bermula dari situ, serta dikaitkan dengan beberapa dialog serta kutipan Injil di permulaan film, yakinlah saya bahwa film ini sedang mewacanakan sesuatu yang lebih "besar". Apakah yang dimaksud "ketangguhan sejati" tadi berarti sikap ksatria Cogburn membantu Ross membalaskan dendam? Boleh jadi. Mungkin juga, "True Grit" yang dimaksud Coen Bersaudara terpatri dari karakter Ross yang tak berhenti memperjuangakan keadilan bagi mendiang sang ayah.
Bila kita amati lebih lanjut, Matie Ross tampaknya seorang gadis penganut Kristen taat. Di awal film, voice over Ross tegas berkata bahwa "kamu harus membayar segala sesuatu di dunia ini, dengan cara apapun" (mengomentari kaburnya Chaney), atau saat bercakap-cakap dengan pemilik hotel tempat almarhum ayahnya, Ross mengutip kisah Lazarus yang bangkit dari kematian. Kengototannya untuk menyeret Chaney ke tiang gantungan, juga menggambarkan kepercayaan Ross pada hukum positif. Dari dua kombinasi tadi (religius sekaligus taat hukum sekuler), sifat Ross melambangkan nilai-nilai "Americana ". Jenis kepercayaan konservatif khas WASP (White, Anglo-Saxon, Protestan) bahwa tatanan agama sekaligus penegakan hukum, merupakan jalan ideal mewujudkan Amerika yang sejati.
Namun, rasa-rasanya, ada kontradiksi antara wacana "ketangguhan" di permukaan dengan yang tergambar sepajang film. Dalam pengistilahan berbeda, ada upaya dari Coen Bersaudara untuk menggoyang stabilitas nilai-nilai ideal khas Amerika itu. Selama perjalanan membalas dendam, Ross mendapati dirinya berhadapan vis-a vis dengan segala kondisi kontras dari kepercayaan yang ia anut. Dalam dunia "wild-west", gambaran Amerika paling murni, rupanya hanya terpampang kekerasan dan instabilitas.
Ross yang hidup di pedesaan, terpaksa menyadari bualannya bahwa "pengacara keluarga saya, J. Noble Dagett dari Dardenelle, Arkansas akan berurusan dengan anda" tak ada harganya di alam liar. Mengamati cara hidup Cogburn maupun Labeouf, Ross menyadari bahwa ia berurusan dengan sekumpulan manusia bebas yang tidak terikat aturan hukum baik yang dijiwai semangat sekuler ataupun Biblikal. Hanya ada satu jenis hukum bagi orang-orang tersebut, yaitu" hukum" mereka sendiri.
Situasi-situasi semacam ini tergambar jelas saat Ross dan Cogburn menurunkan seorang jenazah dari pohon tinggi, maupun cara tak lazim Cogburn menginterogasi sepasang begundal untuk mendapatkan jejak Ned Pepper dan kawanannya. Ataupun saat Cogburn memperdebatkan hal remeh terkait kemampuan menembak sasaran dengan LaBeouf. Sehingga dapat disimpulkan, kutipan injil dan dialog-dialog dengan referensi Injil pada awal film, berfungsi sebagai perantara bagi penonton untuk selanjutnya ikut mengalami konflik batin Ross. Semacam momen transisional sebelum kita beralih pada kehancuran nilai-nilai tradisional sepenuhnya di duapertiga bagian kisah.
Mengutip pendapat Begawan kritik sastra Harold Bloom dalam buku babon The Western Canon, "genre 'western' merupakan jenis narasi paling polos dalam memperbincangkan nilai-nilai fundamental Amerika, sebab kisah 'western' akan selalu berpusat pada benturan keteraturan (order) dan kekacauan (disorder)." Hanya dalam budaya Amerika lah, kisah tak hanya berporos pada tragedi maupun komedi, tapi juga peneguhan oposisi biner order (penegak hukum, sheriff, dan sebagainya) berhadapan langsung dengan agen disorder, yaitu mereka para bandit, pembunuh, ataupun jagal. Dari segala varian perenungan wacana soal "western" tadi, Coen Bersaudara secara jitu menyasar entitas yang tak pernah terjebak dalam pola oposisi biner tersebut, orang -orang bebas (wild men).
Penonton yang menyempatkan diri menyimak karya-karya Coen Bersaudara sebelumnya, akan mendapatkan sebuah benang merah penghubung. Mereka berusaha menampilkan perenungan patologi khas Amerika (dalam wujud kekerasan dan upaya tanpa akhir untuk mendefinisikan moralitas) melalui penggambaran karakter wild men. Sebagaimana Pram menyibak akar patologi "negara bangsa" bernama Indonesia melalui novel sejarah Arok Dedes serta Arus Balik, maka Coen Bersaudara, melalui "True Grit", memberi latar belakang pseudo-historis, mengapa mereka kerap menampilkan tokoh ganjil yang seakan lepas dari segala tatanan sosial.
Sepertinya juga, terungkap alasan mengapa mereka memproduksi ulang film adaptasi novel Charles Portis tersebut. Sebab sub-teks yang melandasi "True Grit" akan melengkapi narasi sebelumnya yang telah hadir lewat "No Country for Old Men" (yang juga merupakan adaptasi, dari novel berjudul serupa karya Cormac McCarthy). Pesan kedua sineas itu jelas, tokoh semacam Cogburn merupakan prototipe wild men di masa sebelum Amerika modern terbayangkan (imagined).
Cogburn mewakili jenis manusia yang berusaha memaknai kebebasan di tanah baru, dengan jalan mengupayakan jalan hidup berbeda, lepas dari pengaruh tradisi judeo-Kristen maupun dasar moral aufklarung Eropa, walaupun melalui kekerasan sekalipun. Karena, dalam sudut pandang narasi Coen Bersaudara, kini setiap manusia "lari" walau tak dikejar siapapun, bukan hanya mereka yang "fasik".
Asumsi saya terbukti seturut jalan, dalam film-film mereka yang menggunakan setting Amerika kontemporer. Joel dan Ethan Coen sepertinya menyadari bahwa era wild-men sudah usai. Orang-orang bebas itu telah berubah semakin korup, menjadi psikopat (sebagaimana tergambar dari karakter Anton Chigurgh "No Country for Old Men") kalau tidak menyadari kebuasannya (terekam pada tokoh pembunuh berdarah dingin dalam film "Fargo"). Kisah-kisah "wild men" yang diupayakan Coen Bersaudara tajam mengupas sisi kelam Amerika, sekaligus pula modernisme. Ketika kekerasan yang pada mulanya hanyalah katarsis, dalam dunia modern menjadi nilai hidup tanpa disadari.
Kebebasan yang dibayangkan Amerika rupanya memiliki cacat sejak kelahirannya, sebab selama ini, ide tersebut hanya bisa diatasi oleh model kekerasan (pembantaian suku Indian, maraknya bandit, dan adu tembak) dan penegakan hukum dengan basis moral lepas dari belenggu tradisi lama. Sepanjang yang saya ketahui, selain Coen Bersaudara, hanya sastrawan William Faulkner dan Cormac McCarthy yang konsisten membicarakan perenungan tersebut memanfaatkan genre "western".
Tapi, upaya Coen Bersaudara kali ini sepertinya sedikit bernuansa cerah. Lewat sikap bebal memperjuangkan keadilan (walau dia sendiri tak yakin apa itu "keadilan" sejak ikut dalam perburuan) di sosok Mattie Ross, kita disodori tipe pencarian makna hidup tanpa akhir, jauh dari final, yang sepertinya terpengaruh semangat pencarian Paus (metafora 'makna hidup') dalam novel klasik Herman Melville "Moby Dick". Nuansa ending "True Grit" lebih netral, tak seperti "No Country for Old Men" yang terasa menuntaskan segala pertanyaan dengan memenangkan nihilisme.
Semua penemuan ini menjelaskan argumen sebelumnya, bahwa Coen Bersaudara konsisten menggarap sub-teks senada di tiap-tiap filmnya. Bahkan sepertinya, sub-teks itu lebih tegas lagi menjadi narasi besar bila kita mengelaborasi film ini dengan karya-karya mereka sebelumnya. Untuk konsistensi sikap artistik tersebut, bolehlah kita sebut, Coen Bersaudara juga memiliki "True Grit", "Ketangguhan sejati" dalam konsep berkesenian, yang kini semakin hilang dari banyak sineas-sineas asal Amerika Serikat kontemporer.
Tag: kekerasan, americana, hukum, Coen Bersaudara
Terkait:
-
Sedikit Tafsir Mengenai Adegan Pembuka "A Serious Man"
Selasa, 15 Mar '11 23:47 -
Merayakan Sadisme ala Kick-Ass
Kamis, 27 Mei '10 10:27
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Box Office
-
sabai: Box Office
-
Taruma: Good Take
-
Haris Fadli: Good Take

Komentar:
satu menyesal, satu bergeming, orang ketiga lgsg ditutup kepalanya sblm sempat ngomong...karena dia org indian
saya suka bikinan coen bro. terutama millers crossing.
jadi inget duo Coentjaraningrat dan Coentowijoyo. ahahahaha...
Silahkan login untuk memberikan pendapat